Pulang

Pulang
Me? Salam Kenal Aku Alcatraz


__ADS_3

Renjana Alcatraz


Melihat senyuman Kanya menghiasi wajah perempuan itu, membuat hatiku mengembang. Memunculkan efek bung-bunga mekar dan kupu-kupu terbang di dasar perutku. Tak mudah mengubah mood Kanya membaik setelah hampir menjelang siang wajahnya cemas serta khawatir akibat memikirkan Almira. Perempuan itu tanpa sengaja telah berbuat masalah hingga menjadikan Almira harus dilarikan ke Rumah Sakit. Ia baru bisa melemaskan ujung bibirnya ketika bercerita tentang batik khas kota asalnya.


Seperti tujuan awal, kami berencana liputan ke daerah penghasil kain batik yang memiliki keterikatan dengan peninggalan budaya Cina. Sebelumnya aku sudah berkunjung ke Cirebon, Solo hingga Lasem untuk melengkapi bahan tulisanku. Terakhir, Tuban jadi rujukan utama saat ide menulis tentang Lokcan tiba-tiba muncul. Hanya sosok Kanya yang kupikirkan saat itu dan bagaimana cara mendekatinya.


Kupikir hari ini akan menjadi sempurna. Wajah Kanya tak lagi suntuk ketika pulang. Perempuan itu tertawa lepas saat sepanjang perjalanan aku bercerita tentang kesialan Hanung. Sepertinya bagaimana Hanung sering kali dihukum guru ketika SMA akibat tidak mengerjakan PR atau kenakalan-kenalan remaja pada umumnya.


"Jadi pernah 'kan, Hanung berniat ngerjain guru Sosiologi karena nggak bikin PR. Dia nekat datang pagi-pagi ke rumah guru itu cuma demi ngempesin ban motornya. Kurang kerjaan 'kan. Ngapain nggak ke sekolah trus nyalin PR. Nah ini ribet ke rumah guru trus ngempesin ban motor."


"Lah trus gimana tuh?"


"Dia nggak tahu kalau guru itu punya anjing. Belum sempat masuk halaman, anjing guru itu udah menyalak dan ngejar dia karena memang nggak dirantai. Eh sialnya pas dia lari dari kejaran anjing itu, malah dia kecebur selokan. Kebayang 'kan gimana wujudnya setelah masuk air comberan."


"Hahaha... Pasti dia malu banget tuh, Mas."


Tawa Kanya terdengar renyah di telingaku. Dalam hati aku menggumamkan permintaan maaf pada Hanung karena telah menceritakan kisah memalukan itu, demi membuat Kanya tertawa. Kalau sampai Hanung tahu aku menceritakan kisah ini, aku yakin dia tak akan mau membantuku untuk dekat dengan Kanya lagi.


"Iya, sialnya lagi dia tetep dapat hukuman karena nggak sempat bikin PR. Udah gitu selama satu minggu dia dibuat bahan bercandaan satu kelas karena insiden kecebur got."


"Duh nggak nyangka kalau Mas Hanung pernah ngalamin hal memalukan. Bisa kubuat bahan ancaman nih kalau dia semena-mena sama aku."


Namun, tawa itu tak bertahan lama saat seorang laki-laki yang mengantarnya pulang tadi malam sudah berdiri di depan teras rumah Almira. Dia sepertinya baru saja bertemu tuan rumah dan memutuskan pergi ketika orang yang dicari sedang keluar.


Lagi-lagi, jantungku berdebar kencang hingga membuatnya terasa nyeri. Apa lagi saat laki-laki itu bersikap kasar pada Kanya. Dia mencengkeram pergelangan tangan Kanya hingga membuat perempuan itu meringis.


Awalnya aku tak ingin ikut campur, tapi melihat Kanya kesakitan aku jadi tidak tega melihatnya. Aku mendekati mereka dan meminta baik-baik agar melepaskan tangan Kanya. Laki-laki itu justru memasang badan di depan Kanya. Menghalangiku agar tidak mendekat.


"Tolong, kamu harusnya nggak berbuat kasar sama perempuan. Lepaskan tangan, Kanya!" pintaku dengan suara tegas.


"Gue perlu bicara sama dia!" kata laki-laki itu tak kalah tegas tanpa melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Kanya meski perempuan itu meringis menahan sakit. Kulitnya bahkan hingga memerah.

__ADS_1


"Setidaknya lo bisa menghargai posisi Kanya! Lo nggak lihat dia kesakitan?" Aku mencoba meraih tangan Kanya, tapi tetap dihalangi lelaki itu. Membuat jarak antara aku dan Kanya. "Oke, gue nggak akan ikut campur urusan kalian, tapi kalau Kanya sampai terluka, gue akan bikin perhitungan sama lo."


"Gue nggak mau ngomong sama lo. Lagian apa lagi sih yang perlu kita obrolkan? Nggak ada, Putra. Lepasin tangan gue!" teriak Kanya. Ada nada kesal dalam suaranya. Ia tetap berusaha melepaskan cengkraman laki-laki itu dari pergelangannya. Matanya menatapku seolah meminta pertolongan.


Aku kehilangan kendali. Dengan gelap mata aku mendorong tubuh lelaki itu. Namun justru tubuhku yang terpental ke belakang.


Akhirnya Kanya mengalah dan mengikuti permintaan laki-laki itu untuk berbicara dengannya. Namun mata Kanya tak pernah lepas menatapku. Hingga entah apa yang terjadi lelaki itu mendorong tubuh Kanya hingga membentur gerbang dengan suara cukup keras.


Tanpa tahu apa yang kulakukan, aku meraih genggaman tangan lelaki itu dari kerah kaus Kanya dan menonjok mukanya hingga berdarah. Tidak terima dengan perlakuanku, dia balas menonjok pelipisku. Seketika kepala pusing dan bercak noda darah membasahi kaus yang kugunakan. Kami masih saling adu kekuatan meski Kanya berteriak histeris memisahkan kami. Bahkan ia hampir nekat melindungiku dari pukulan lelaki itu jika tidak segera dilerai oleh Pak Pras dan Damar.


"Kalian apa-apaan sih? Sadar nggak kalau ini tuh rumah orang, bukan lapangan apa lagi ring pertandingan," teriak Kanya dengan suara bergetar.


"Sori," kataku saat menyadari ucapan Kanya dan memilih masuk dalam kamar. Jika tidak segera meredam emosiku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Bisa saja aku kembali gelap mata dan menonjok lelaki itu hingga dia tak sanggup berdiri.


Aku tidak bercanda dengan ucapanku. Dulu aku dikenal sebagai premannya SMA Garuda. Hampir setiap minggu menjadi langganan ke ruang BK perkara tawuran antar pelajar. Tidak jarang juga kerena merasa sok jagoan atau belagak sok jawara dan mengajak tanding siapa pun tanpa pandang bulu. Jika masa-masa itu terulang lagi, aku justru takut Kanya akan menjauh. Tidak akan bersimpati lagi padaku. Parahnya dia bisa saja membenci diriku.


"Arghh... Sial! Udah lama lo nggak kepancing perkara sepele, Raz. Bisa-bisanya lo murka sampai hilang kendali kayak tadi."


"Dia memang udah dapat pelajaran setimpal. Itu akibat udah nyakitin perempuan," gumamku demi meredam emosi yang masih saja meluap. Yang ada aku justru semakin kesal dan meninju tembok kamar bertepatan ketukan pintu dari luar.


Sekali, dua kali, tiga kali, ketukan itu masih terus berlanjut. Aku menghela napas berkali-kali. Mengatur pernapasanku agar tidak meledak seperti tadi.


Kanya berdiri di depan pintu bersama Almira sambil membawa kotak P3K dan kantong es batu.


"Ehm, aku boleh masuk? Sepertinya Anda butuh perawat," kata Kanya membuatku tersenyum. Mungkin memang itu yang aku butuhkan. Kehadiran Kanya untuk meredam emosi yang membakar hatiku. "Sori ya Mas Aldo, kamu jadi terluka karena


Aku hanya meringis menahan perih. Sepertinya luka yang ditinggalkan lelaki itu lumayan parah hingga wajahku memar-memar.


"Nggak apa-apa kok. Udah sewajarnya kayak gitu," kataku sambil meringis menahan perih, juga detak jantung yang semakin tak beraturan sebab posisiku yang terlalu dekat dengan Kanya.


Dari dekat aku baru bisa mengagumi wajah cantik Kanya yang terpahat sempurna. Wajahnya oval dengan potongan tulang pipi yang terlihat tegas. Ukuran hidungnya sesuai dengan wajahnya yang tidak terlalu mungil maupun lebar. Porsinya sangat pas. Sedangkan bola matanya berwarna coklat kehitaman selayaknya perempuan Jawa pada umumnya. Sepasang alis lebat menaungi matanya yang menyorot teduh, namun juga tajam di saat yang bersamaan.

__ADS_1


Bahkan aku bisa mencium aroma rambutnya yang baru saja dicuci tadi pagi. Aroma parfumnya yang campuran buah berry dan vanila itu begitu memabukkan. Seolah membawaku ruangan penuh anggur dan dipaksa untuk menghabiskannya. Membangunkan imajinasi liar dalam kepalaku. Hingga tanpa bisa kukendalikan, aku menempelkan bibirku di bibir Kanya dan melumatnya lembut.


Ia hanya menatapku tajam saat aku melepaskan ciumanku dan bertanya siapa aku sebenarnya.


"Kamu siapa?"


"Sori, Nya. Aku... Maaf menciummu, aku..."


"Nggak usah banyak alasan, jawab aja siapa kamu sebenarnya," kata Kanya dengan suara meninggi.


"Aku?"


"Jawab, siapa kamu sebenarnya?" tanya Kanya masih terus berulang. Matanya kini berlinang. Menahan tangis agar tidak tumpah begitu saja. Sementara aku tidak paham apa maksud perempuan di depanku itu. "Kenapa kamu mirip sekali dengan dia?"


"Dia?"


"Ya, dia. Temanku. Aku tahu kamu bukan dia, tapi kenapa ada hal yang ada dalam dirinya juga ada dalam dirimu. Jadi tolong, jawab aku. Siapa kamu sebenarnya."


Aku semakin bingung dengan ucapan Kanya. Maka yang kulakukan hanyalah mengulurkan tangan dan mengulangi perkenalkan dari awal. Dengan menyebut namaku yang sebenarnya.


"Aku Alcatraz Algol Sirius. Panggil aja Araz. Yah, sekalipun sering dipanggil Aldo, sebenarnya..."


"Bohong! Bagaimana dua orang bisa memiliki sorot mata yang begitu sama. Bahkan, bahkan bola mata kalian sama persis. Ci..."


Kalimat Kanya terhenti. Tanpa melanjutkan ucapannya, perempuan itu menaruh kotak P3K di atas tempat tidur dan berlari keluar kamar. Meninggalkanku yang kebingungan dan terus menebak apa yang sebenarnya terjadi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hei, Author Yoru di sini. Masih ada yang nungguin cerita ini up nggak sih? Hehe... tanya karena penasaran. Meski tidak ada ataupun ada tapi cuma dikit, nggak apa-apalah. Sebab saya percaya setiap tulisan punya takdirnya sendiri. Termasuk terasingkan di pojok ruangan. 😢


Sedikit informasi, setelah bab ini aku akan menulis secara bergantian dari sudut pandang Kanya, Araz/Aldo, Putra, dan Almira (sebagai pengamat serba tahu). Enjoy reading dan semoga ke depan tidak bingung dengan alur ceritanya. 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2