Pulang

Pulang
Menemukan Kehangatan


__ADS_3

Renjana Kanya


Selama makan malam, begitu banyak obrolan yang terjadi. Mulai Mas Hanung yang mendadak melow karena Mbak Sinta yang berprofesi sebagai pilot itu, harus tugas penerbangan ke luar negeri saat dunia dihebohkan penemuan virus baru, sampai pada kegelisahan-kegelisahan Araz tentang perempuan pekerja yang dijumpainya ketika meliput batik di daerahku. Obrolan mereka begitu hangat sampai aku yang hanya sebagai pendengar tidak merasa bosan.


Sesekali mereka menanyakan pendapatku tentang apa yang mereka obrolkan. Seperti bagaimana tanggapanku tentang perempuan pekerja, hingga kasus-kasus yang menjadi tren akhir-akhir ini. Tak luput isu-isu yang mulai merebak tentang penyelenggaraan Oscar dan siapa kira-kira calon pemenangnya. Juga film-film yang akan rilis tahun ini dan masih didominasi oleh wajah salah satu aktor terbaik negeri ini. Siapa lagi kalau bukan Reza Rahardian.


Ya, se-random itu obrolan kami tentang banyak hal. Termasuk masalah banjir yang selalu menjadi langganan ibu kota setiap tahun, sampai kesenjangan sosial yang terjadi antara si kaya dan si miskin saat bencana hidrometeorologi melanda daerah khusus ibu kota itu. Kini pun beberapa daerah di Jakarta masih terendam banjir dan membuat pekerjaan si juru warta makin menumpuk.


"Ibu kota udah geser ke Kaltim, Nya. Move on dong lo," komentar Mas Hanung tiba-tiba saat aku menyebut Jakarta sebagai ibu kota. Aku hanya tertawa saja.


Ah, aneh rasanya mengetahui fakta bahwa ibu kota dipindahkan ke Borneo. Meski pemindahan ibu kota sudah resmi diputuskan dan desain pembangunan sudah ditentukan dengan konsep Nagara Rimba Nusa melalui hasil sayembara, aku masih beranggapan Jakarta dengan segala isinya tetap menjadi pusat tata surya di negara ini. Ya, semacam matahari.


Setelah makan malam, Mas Hanung mengajak berpindah tempat di depan televisi. Abi mulai mengantuk setelah makan malam dan mendengar obrolan tiga orang dewasa - atau mungkin dua (sebab aku tidak sedewasa kelihatannya), yang membahas tentang negara dengan segala polemiknya. Sementara Araz sibuk dengan adonannya membuat churros. Saat aku menawarkan bantuan, lelaki itu justru mengusirku dari dapurnya.


"Jangan lihat, aku pakai sihir kalau masak. Nanti sihirku ilang kalau sampai ketahuan orang," canda Araz sambil tersenyum hangat. Ia mendorong tubuhku keluar dapur.


"Wah, pakai mantra apa tuh Mas? Ada sihir buat lupain mantan nggak?" godaku balik, tapi justru membuat wajah Araz berubah sendu.


"Ada, kamu perlu mantra sianida atau semacamnya," kata Araz jutek tak lagi hangat seperti sebelumnya. Ia kembali sibuk dengan adonan churros-nya.


"Hah, mati dong?"


"Ya emang itu gunanya mantan, harus mati sejak dalam pikiran kalau cuma nyisain kenangan menyakitkan."


"Itu sih kata-kata Pram, Mas. Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apa lagi perbuatan. Bumi Manusia. Kenapa jadi mantan?"


"Ya kan situ yang tanya duluan."


Bukannya menuruti permintaan Araz, aku justru duduk di kursi ruang makan depan lelaki itu dan mengamatinya membuat churros. Wajahnya yang putih, tapi tidak cenderung pucat terlihat menawan saat fokus dengan peralatan dapurnya. Tanpa sadar aku tersenyum saat mengamati ciptaan Tuhan yang begitu memesona itu.


Mungkinkah Dia sedang berbahagia ketika menciptakan Araz? Mengapa segala bentuk kesempurnaan hampir melekat kepadanya? Bagaimana tidak, wajahnya rupawan, sikapnya begitu hangat, cerdas, urusan dapur pun oke, dan saat membaca kitab mampu menggetarkan hati orang yang mendengarnya. Semacam paket spesial di pilihan menu warung makan. Apa lagi yang kurang?


"Pacar Mas Araz pasti seneng ya, bisa tiap saat dimasakin. Rasa bintang lima pula," celetukku membuat fokus lelaki itu teralihkan. Senyum mengembang di wajahnya.


"Gimana, kamu mau coba jadi pacarku biar bisa aku masakin tiap hari?" tanya Araz tanpa beban sedikit pun saat mengucapkannya.

__ADS_1


"Eh?"


"Haha... Kamu tuh lucu deh Nya, tiap kali ditanya hal yang agak serius pasti langsung kikuk. Aku bercanda Nya, tapi ajakan tempo dulu itu serius loh. Kalau kamu mau tahu."


Ajakan tempo dulu? Yang mana nih maksudnya? Ah...


Wajahku terasa panas saat menyadari maksud ucapan Araz. Sialnya lelaki itu hanya tersenyum sambil menatapku. Bagaimana bisa semua yang dia ucapkan begitu santai seolah tanpa beban? Sedangkan aku hanya mampu salah tingkah dan tak tahu harus berbuat apa.


"Haha... Sumpah, kamu lucu banget sih. 'Kan waktu itu udah kubilang, masih banyak waktu buat mikir ajakanku Nya. Santai aja. Toh, kita belum saling kenal kan? Jadi santai aja kali."


"Eh, btw gimana ceritanya sih Mas Araz bisa suka masak?" tanyaku mengalihkan suasana yang mendadak canggung. Lelaki itu masih sibuk dengan adonan churros-nya yang kini mulai dimasukkan ke penggorengan.


"Udah kebiasaan sejak kuliah karena tinggal sendirian. Papa sama Ama pindah ke Bandung waktu aku semester tiga. Ya, mau nggak mau harus bisa dong kalau pengen hemat."


"Hemm... Bukannya Mas Araz pernah cerita kalau orang tuanya tinggal di Solo ya?"


"Eh, kamu ingat?" tanya Araz sambil menoleh ke arahku. Aku hanya mengangguk menanggapi pertanyaannya. "Kupikir kamu nggak tertarik waktu aku cerita. Emang aku pernah tinggal di Solo sih, tapi waktu itu nggak tinggal sama Papa dan Ama. Papa selalu berpindah-pindah tugasnya. Jadi aku dititipkan di rumah Paman - adiknya Papa, sampai SMP. Aku nggak mau ikut pindah-pindah trus."


Araz menatapku yang fokus pada gerakannya menggoreng churros. Tangan Araz begitu cekatan menggunting adonan kue yang berasal dari Spanyol itu dalam penggorengan. Lalu melanjutkan ceritanya.


"Papa Mas Araz polisi?"


"Ya, begitulah."


"Hemm, apa nggak sering debat tuh pas Mas Araz masih di surat kabar harian?"


Lelaki itu tertawa. Seperti mengingat hal lucu saat aku bertanya kepadanya tentang hubungannya dengan sang ayah.


"Setiap hari. Bahkan sebelum kerja di surat kabar juga tiap hari pasti debat. Apa lagi waktu masih jadi mahasiswa. Biasalah, anak muda yang sok jadi aktivis."


"Wah, gimana kalau demo tuh? Mas Araz nggak disuruh pulang sama papanya?"


"Haha... Pernah dong, waktu demo kebetulan Papa ikut ke lapangan buat pengamanan. Kami saling berhadap-hadapan. Dia sebagai aparat dan aku mahasiswa yang menyuarakan jeritan rakyat. Saat keadaan mulai rusuh, aku orang pertama yang ditangkap Papa dan dibawa ke pos polisi. Dia juga yang mengintrogasi aku dengan cara militer."


"Wow, aku nggak bisa bayangin kejadian itu. Trus sekarang, Papa Mas Araz masih tugas?"

__ADS_1


"Nggak, Papa udah pensiun sekarang, dan mereka milih tinggal di Bandung. Lebih dekat juga sama makam adik aku."


"Oh, sori, aku nggak tahu kalau..." ucapanku terhenti saat melihat wajah Araz yang berubah mendung saat bercerita tentang adiknya.


Namun lelaki itu segera kembali tersenyum dan mengulurkan piring berisi churros kepadaku setelah menawarkan toping gula halus atau selai coklat. Aku memilih selai coklat.


"Gimana, enak nggak?"


"Kalau kubilang enak, boleh lainnya buat aku?" tanyaku dengan menunjukkan wajah penuh harap.


"Ambil gih semua. Nanti aku kasih toples buat tempat."


"Serius? Makasih Mas Araz."


Araz tertawa. Matanya semakin menyipit dan membuatnya begitu memesona di mataku. Apa lagi garis-garis halus di sekitar matanya semakin terlihat ketika ia tertawa. Tiba-tiba aku teringat ucapan Almira dan tawaran lelaki itu saat di D'caffe beberapa waktu lalu. Sudahkah aku siap menyerahkan kunci hatiku pada orang lain dan mengizinkannya melihat betapa hancur tak berbentuknya hatiku?


Cepat-cepat aku mengusir pikiran itu dari benakku. Aku bahkan belum mengenal Araz lebih dekat. Jikalau memang lelaki itu kelak yang bisa menyembuhkan luka dalam hatiku, aku tidak ingin ia hanya sekadar pelarian. Sebab masih ada satu nama yang harus kusingkirkan dengan permanen.


"Kalian makin akrab aja nih, sampai lupa kalau masih ada orang lain. Mana bagian gue?" Suara Mas Hanung membuat kami secara bersamaan menoleh ke arahnya. "Eh buset, bahkan noleh aja udah kompak lo pada. Gimana Nya, pantes nggak dia jadi calon suami lo? Gue jamin track record-nya nggak ada yang cacat. Yah paling ketika dia ditolak pas zaman SMA sampai punya julukan Aldo sih."


"Eh Monyet, gue perlu bikin perhitungan sama lo ya. Enteng banget lo cerita sama Kanya soal panggilan Aldo."


"Lah lo sendiri yang bodo, kenalan bukannya nyebut nama malah nyebut julukan. Emang salah gue kalau Kanya manggil lo Aldo?"


Aku tertawa melihat pertengkaran antara Araz dan Mas Hanung. Sedang aku lebih asyik menikmati churros. Sesekali tertawa saat perseteruan mereka semakin seru.


"Kamu juga Nya, kenapa nggak konfirmasi dulu ke aku soal kebenaran ceritanya sih? Ini malah mau disebarin ke orang lain," protes Araz hampir membuatku tersedak.


"Kok aku ikutan kena sasaran juga sih?"


"Ya kamu 'kan wartawan, masa dapat info nggak dikonfirmasi dulu, tapi udah dipercaya gitu aja," kata Araz bersungut-sungut. Jelas sekali jika dia sebal ketika diingatkan peristiwa menyebalkan asal-usul panggilan Aldo. Ekspresinya begitu menggemaskan ketika cemberut. Bukannya merasa bersalah, aku justru tertawa. "Eh malah ketawa nih bocah. Anak buah lo gini banget sih Nung. Nggak jauh beda sama bosnya."


Gerutuan Araz disambut pelukan oleh Mas Hanung yang segera didorong lelaki itu.


"Jauh-jauh lo dari gue," kata Araz semakin kesal. Sedang Mas Hanung tertawa kian lebar.

__ADS_1


Aku mengulum senyum. Berada di antara dua lelaki ini membuatku merasa menemukan kehangatan. Diam-diam menjadi energi positif yang membuatku ingin terus bergerak maju. Bahkan sisa-sisa penyesalan dan lara yang kemarin sempat menguat, mulai terkikis sedikit demi sedikit.


__ADS_2