
Kanya baru saja selesai mandi saat Jenna masuk ke kamar tamu yang disediakan untuknya. Gadis berparas manis dengan lengkung mata sipit menyerupai Araz itu, meminta izin pada Kanya agar diperbolehkan tidur bersamanya. Kanya yang pada dasarnya tidak keberatan dengan teman sekamar, hanya mengangguk mengiyakan. Menurutnya justru hal baik jika Jenna sekamar dengannya malam ini. Dia bisa menjadikan gadis itu untuk menggali informasi lebih banyak tentang Araz. Mungkin juga tentang keluarga kekasihnya itu. Sebab, meski Araz sudah menceritakan kisah hidupnya pada Kanya, tetap saja perempuan itu masih penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang Araz.
"Aku nggak percaya kalau kalian benar-benar diikat oleh tali jiwa," kata Jenna mengawali pembicaraannya dengan Kanya. Gadis itu duduk bersila di atas kasur dan mengamati Kanya yang sedang mengerikan rambutnya yang basah sehabis keramas.
"Maksud kamu?"
"Loh, Kak Araz nggak cerita sama Kak Kanya kalau kalian itu sudah ditakdirkan bertemu lewat tali jiwa?"
"Maksudnya gimana sih, aku nggak ngerti," kata Kanya bingung sekaligus penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Jenna. Gadis manis itu tersenyum. Mata sipitnya semakin menghilang saat garis lengkung di bibirnya tertarik.
"Jadi, Bibi dulu pernah pergi ke tukang ramal, karena Kak Araz sakitnya makin parah dan bukannya membaik. Peramal itu tidak hanya mengatakan soal penyakit Kak Araz, tetapi juga membicarakan soal jodohnya. Katanya jodoh Kak Araz sudah ditentukan oleh ikatan yang tak mudah dipatahkan. Ibaratnya, jiwa kalian sudah terikat satu sama lain. Dan, yang dikatakan peramal itu benar-benar terjadi. Kak Araz akan sembuh lewat ketulusan hati seseorang yang juga akan mengingkatnya pada sang jodoh. Bibi lalu menyebut istilah tali jiwa untuk orang yang bakal menjadi jodoh Kak Araz. Memang Kak Araz nggak ada cerita sama Kak Kanya?"
Kanya menggeleng. Memang tidak semua yang diceritakan Jenna telah Araz ceritakan padanya. Terutama pada bagian yang menyebutkan soal ramalan ataupun tali jiwa. Sebab bagi Araz, pertemuannya dengan Kanya serupa kutukan dari Arez yang begitu dia nikmati. Kutukan yang juga menjadi berkah di saat yang bersamaan atau entah apa pun Araz menyebutnya.
"Kata Bibi, orang yang sudah diikat oleh tali jiwa nggak akan bisa meninggalkan satu sama lain. Pasti bakal sakit jika ada yang berusaha memisahkan mereka. Tapi, aku penasaran, apa Kak Kanya dan Kak Araz sudah pernah melewati momen kayak gitu?"
Kening Kanya berkerut. Ia tidak memahami apa maksud gadis itu saat menyebutkan soal momen itu.
"Ish, itu loh, berantem."
__ADS_1
"Ya kalau berantem sih, tadi sebelum ke sini kita juga lagi musuhan," kata Kanya apa adanya, tapi wajah Jenna justru menunjukkan raut gemas.
Kanya semakin tidak memahami maksud perkataan Jenna. Apa kaitannya berantem dengan momen yang dimaksud gadis itu sebelumnya? Dan apa pula kaitannya dengan tidak ingin meninggalkan satu sama lain? Gadis remaja akhir yang duduk di atas ranjang itu, benar-benar membuat Kanya bingung.
"Maksud aku, berantem sampai salah satu dari kalian ingin menghindar dan nggak pengen ketemu, tapi nggak bisa karena rasa sayang kalian terlalu kuat dan justru makin menyiksa kalau berpisah. Semacam kayak gitu loh, Kak."
Mendengar ucapan Jenna, Kanya mengangguk-angguk meski tidak memahami betul apa yang diucapkan gadis itu. Kanya hanya tidak ingin membuat Jenna menjelaskan detail maksud gadis itu, tetapi justru membuatnya bingung. Terlebih, Kanya belum merasakan berada di posisi yang dimaksud Jenna. Atau sebenarnya sudah, meski dengan perkara yang sama sekali berbeda?
Ah, Kanya tiba-tiba ingat dengan apa yang telah terjadi siang tadi. Memang, bukan Kanya yang merasakan seperti apa yang diucapkan oleh Jenna, tetapi bisa saja Araz yang merasakannya. Terbukti laki-laki itu sempat mengabaikan Kanya dan tiba-tiba muncul dengan wajah cemberut yang susah dijelaskan. Jika memang demikian, Kanya sepertinya memahami apa yang dimaksud oleh Jenna. Hanya saja, memang dia belum pernah merasakannya terhadap Araz. Yah, mungkin dengan kisah yang telah usang, Kanya pernah merasakannya.
Dengan begitu, lantas apakah perlu istilah tali jiwa? Pikir Kanya, apa yang diibaratkan Jenna, semua orang bisa merasakannya tanpa perlu ikatan yang kuat sekalipun. Sebab, jika mencintai seseorang keinginan kita memang cenderung untuk selalu ingin bersama dengan orang yang dicintai. Bukankah itu suatu hal yang wajar? Hanya saja, Kanya tidak ingin mematahkan pendapat Jenna, sementara ia sendiri pun belum pernah benar-benar merasakan begitu ingin bertemu dengan Araz saat mereka sedang bermusuhan.
"Aku berharap nggak pernah mengalami hal kayak gitu ah, Jen. Serem bayanginnya aja. Lagian kenapa kamu tanyanya begitu sih?"
"Hemmm ... itu sih karena jiwa kalian yang sudah terikat nggak mudah dipisahkan. Makanya kalian bakal ngerasa kayak gitu. Tapi yah, namanya juga ramalan sih, Kak. Bisa saja kan itu cuma akal-akalan orang yang Bibi temui buat cari uang. Lagian ramalan yang orang itu bilang bukan sesuatu yang buruk tentang kalian. Justru sesuatu yang baik malah."
"Jadi, aku mesti seneng, khawatir, atau gimana nih?" tanya Kanya pada akhirnya. Dia menahan senyum saat melihat tingkah Jenna yang tampak menggemaskan saat memakan keripik kentang yang semula dibawanya dari dapur.
"Harus seneng dong, Kak. Jarang-jarang ada pasangan yang diramalkan baik. Apalagi oleh peramal yang dikunjungi, Bibi."
__ADS_1
"Eh, jadi gimana dong, katanya itu cuma sekadar ramalan yang bisa jadi cuma akal-akalan orang yang ditemui Tante buat cari uang."
"Duh, pokoknya gitu deh. Nanti Kak Kanya tanya Kak Araz aja buat cerita lengkapnya. Aku sih cuma mau bilang aja ke Kak Kanya, kalau Kak Kanya nggak boleh nyakitin Kak Araz atau ... ." Jenna merendahkan suaranya dan berbisik di telinga Kanya. Katanya,"Aku bakal rebut Kak Araz dari Kak Kanya. Sekalipun kita sepupu, kita masih sah kalau menikah."
Kanya tersedak salivanya sendiri saat mendengar ucapan Jenna. Entah gadis itu bercanda atau mengucapkan keinginannya paling tulus dari hati yang paling dalam. Hanya saja, Kanya merasa keberadaan gadis itu, sewaktu-waktu bisa mengancam hubungannya dengan Araz bila ada hal yang dianggap tidak tepat oleh Jenna. Gadis itu, ternyata tipikal yang merangkul musuhnya dengan ikatan persahabatan yang kuat, hingga membuat lawannya terjerat dan merasa seolah tak berdaya.
"Bukan perkara yang mudah menyerahkan Araz begitu saja buat kamu. Perjuangan buat mendapatkan dia juga nggak mudah. Enak aja kamu mau asal rebut," kata Kanya terpancing juga dengan ucapan Jenna. Gadis itu tertawa.
"Kak, aku bercanda soal merebut Kak Araz dari Kak Kanya. Memang aku cewek apaan. Sama Kak Kanya aja nih, dia lebih cocok buat dijadiin paman. Apalagi sama aku? Tapi nggak apa-apa deh, berkat itu, aku jadi tahu kalau Kak Kanya serius sayang sama Kak Araz. Bagaimanapun, aku sayang sama Kak Araz. Dia yang mengajarkan aku soal banyak hal. Jadi, mana mungkin aku menghalangi kisah cinta kalian kalau Kak Kanya yang Kak Araz butuhkan. Hari ini aku mengetahui satu hal menarik, wajah Kak Araz benar-benar terlihat sehat dari terakhir kali aku ketemu sebelum jadian sama Kak Kanya. Dia nggak lebih dari mayat hidup yang hidup segan, mati pun tak mau. Tapi ketika dia mengumumkan kalau resmi jadian sama Kak Kanya, aura kehidupan terpancar dari wajahnya," jelas Jenna panjang lebar.
Wajah Kanya memanas. Ia tersipu malu sebab sudah merasa dipermainkan oleh anak yang bahkan belum genap 20 tahun.
"Ngomong-ngomong, ayahku itu adik ibu Kak Araz. Masih ada satu saudara sepupu lagi dari Paman, kakak sulung keluarga Lee. Aku nggak bermaksud menakuti Kak Kanya atau membuat Kak Kanya merasa terbebani, hanya saja, Cassandra itu bukan orang yang ramah. Saat tahu pacar Kak Araz ada di sini, dia pasti akan segera menyusul malam ini juga dan akan membuat ulah. Dia itu, agak terobsesi sama Kak Araz. Tapi, Kak Araz sama sekali nggak pernah menganggap keberadaannya. So, buat menghadapi nenek lampir itu, lebih baik kita tidur lebih awal."
"Yah, kalau sudah dengar cerita kamu, yang ada aku makin penasaran dan nggak mungkin bisa tidur dong."
Jenna memutar bola matanya saat menanggapi pernyataan Kanya.
"Ini demi kebaikkan, Kak Kanya. Kita harus tidur sekarang. Butuh tenaga ekstra untuk menghadapi ratu drama Cassandra meski semua orang juga sudah tahu bagaimana ulahnya. Serius, Kak Kanya nurut dan percaya sama aku kalau soal nenek lampir satu itu."
__ADS_1
"Ya, oke. Aku bakal nurut sama guardian angel-ku," kata Kanya pada akhirnya. Toh, dia pun sudah lelah dan ingin merehatkan fisik juga pikirannya.