
Renjana Putra
Pertemuan dengan Angel yang akan menjadi calon manajer Nada Sumbang membuat mood Putra hancur berantakan sejak awal. Pasalnya dia tahu betul siapa perempuan muda yang sedang mengobrol bersama mereka di satu meja. Dia perempuan yang dijumpainya saat di bandara dan rumah sakit beberapa waktu lalu.
Sepajang obrolan, Putra lebih banyak dan memperhatikan Angel. Sesekali dia tersenyum sinis saat mengetahui fakta jika Angel lebih banyak tahu tentang Nada Sumbang. Bahkan perempuan itu mengaku jika mengenal Nada Sumbang jauh sebelum band yang sedang naik daun itu, debut bersama label besar dan mengeluarkan single perdana.
Hehh, pertama kali ketemu sok nggak tahu siapa gue, buktinya diam-diam jadi fans gue.
Laki-laki itu tak tahu apa yang membuatnya begitu marah pada Angel. Dia juga sering menjumpai orang-orang yang tak mengenal siapa dia. Namun, saat Angel yang melakukannya, perasaannya begitu marah. Entah perkara apa yang membuatnya marah. Putra hanya ingin marah saja.
Apalagi saat mengingat bagaimana perempuan itu mengerjainya di rumah sakit beberapa waktu. Putra tak sanggup menyembunyikan wajah malunya saat dia masuk ruangan dan menanyakan ciri-ciri perempuan itu pada penghuni kamar. Perempuan lanjut usia yang menempati ruangan itu mengatakan jika tidak ada sosok seperti yang dimaksud Putra.
Perasaan Putra semakin buruk saat anggota Nada Sumbang yang lainnya justru terlihat asyik mengobrol dengan Angel. Sifat periang yang ditunjukkan perempuan itu membuat suasana mengalir dan hangat. Bahkan Alfian yang lebih banyak diam di acara meet and great ataupun acara live lainnya yang mengundang banyak orang, malam ini cukup antusias menanggapi obrolan Angel.
Putra semakin tidak suka dengan situasi ini. Dengan kesal dia keluar ruangan diikuti Kanya yang justru marah-marah padanya. Sampai perjalanan pulang pun, sikap Kanya tidak berubah dan itu menjadikan mood Putra semakin buruk. Bahkan setelah Kanya menepikan mobil di tepi pantai dan dirinya memutuskan turun untuk menatap ombak pun, belum juga membuat perasaannya lega.
Laki-laki itu justru semakin kesal karena Kanya membiarkannya sendirian. Meskipun perempuan itu yang paling tahu jika dia ingin sendirian. Namun, Putra butuh seseorang yang menenangkannya dan bukan mendebat pendapatnya. Sialnya, Kanya melakukan itu sejak dia menyerukan keberatannya tentang Angel.
"Ayo, pulang," ajak Putra pada Kanya setelah dia merasa lebih baik. Laki-laki itu memberi tanda agar Kanya bergeser dari tempat kemudi. Sebab selama perjalanan pulang dari D'Caffe tadi, Kanya yang mengendarai mobil.
__ADS_1
Diam perempuan itu, membuat suasana hati Putra makin tak menentu. Dia ingin mengawali obrolan dengan Kanya, tetapi dia malas jika harus membahas tentang Angel. Dan, tipikal Kanya, tak mungkin mengubah pembicaraan jika pembahasan sebelumnya belum tuntas.
Putra hanya diam-diam melirik perempuan yang duduk di sampingnya dengan ekor mata.
Kenapa semuanya jadi semakin rumit sih? Kenapa juga mesti gue yang dipilih buat ngejalanin peran ini? Dikira enak apa semobil sama mantan yang sekarang jadi saudara tiri? Udah gitu, tiap hari ketemu dan mesti nahan hasrat buat nggak jatuh cinta lagi. Heh, gimana mau jatuh cinta lagi, kalau kenyataannya gue emang masih cinta?
Suara ribut dalam kepala Putra semakin menjadikan laki-laki frustrasi. Gagal sudah rencana yang disusun sejak sebelum berangkat tadi. Dalam hati kecilnya, Putra berharap Kanya sedikit membuka hatinya untuk mengulang kisah lama. Meski itu telah melanggar keputusannya untuk menerima Kanya sebagai saudara tiri. Sesungguhnya, Putra benar-benar tidak bisa melupakan Kanya sebagai cinta yang pernah mengisi relung hati laki-laki itu selama delapan tahun. Belum terhitung dengan cinta monyetnya saat sekolah dasar.
Rencananya sebelum berangkat tadi, Putra ingin mengajak Kanya kuliner malam di Perempatan Pegadaian saat pulang dari D'Caffe. Tempat yang dulu sering mereka kunjungi jika pulang kencan atau performance dari suatu kafe. Kata Kanya, makanan di kafe tak enak dan mahal. Dia lebih suka menahan lapar demi bisa makan nasi goreng ataupun tahu tek - semacam ketoprak jakarta, tetapi pakai lontong bukan ketupat - yang banyak dijual di sepanjang ruko di Perempatan Pegadaian.
Kini, Putra harus menelan kegetiran karena rencananya telah gagal. Apalagi begitu sampai rumah, Kanya buru-buru masuk kamar setelah mengobrol singkat dengan Eka - papanya.
"Baru jam sepuluh, Pa. Masih terlalu pagi buat pulang seharusnya." Putra menanggapi dengan tawa lebar. "Papa mau ke rumah sakit?"
"Iya, kasihan Mama kalau mesti sendirian."
"Cie, yang berasa muda lagi. Everything for you."
"Kak, mulai deh iseng. Udah, Papa berangkat dulu. Jaga adik-adik kamu ya, Kak."
__ADS_1
Panggilan Eka membuat senyum memudar di wajah Putra. Kini, laki-laki itu menyadari posisinya di rumah ini. Dia sekarang kakak, bukan lagi mantan pacar atau orang yang pernah disukai oleh Kanya. Pun sebaliknya.
"Iya, Pa. Hati-hati," ucapnya sambil mengantar keberangkatan sang ayah.
Setelah memastikan pintu gerbang dan pintu depan telah terkunci, Putra mengecek Victor yang sudah tertidur pulas di ranjang bayinya. Sementara sang babysitter duduk terantuk di samping ranjang Victor. Senyum Putra kembali terukir. Wajah pulas bayi yang belum genap satu bulan itu membuatnya gemas. Sebelum dia mencubit pipi gembulnya dan membuat Victor bangun, Putra memilih keluar ruangan tanpa berisik. Bayi mungil itu, sensitif sekali dengan suara bising sekecil apa pun.
Hufftt ...
Helaan napas Putra terdengar menggema di ruangan yang sunyi. Sesunyi hatinya yang terasa kosong. Amarah belum sepenuhnya reda, tetapi serasa ada kehampaan dalam relung hatinya. Bukan justru terasa penuh dan sesak sebagaimana dia saat marah seperti biasanya.
Tak ada hal yang menyenangkan untuk dilakukan, Putra memilih naik ke lantai dua. Masuk ke kamarnya yang tak kalah sunyi. Namun, suara tawa serupa genta dari kamar Kanya mengurungkan niat Putra. Dia menempelkan telinganya di daun pintu kamar Kanya. Sepertinya perempuan itu sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon.
Araz?
Nama laki-laki itu yang pertama kali muncul di benak Putra. Memicu amarah yang semakin bergemuruh di dalam dadanya. Namun, untuk apa amarah itu sekarang? Sudah tak mungkin mengubah keadaan bukan?
Langkah Putra gontai memasuki kamarnya. Di satu sisi dia senang bisa mendengar tawa Kanya meski bukan dia alasan perempuan itu tertawa. Namun, di sisi lain, dia tak sanggup menahan cemburu yang membakar hatinya. Kalau saja Putra sanggup memilih pada siapa harus jatuh cinta sedalam ini. Kalau saja Putra sanggup membaca masa depan dan tahu akan bagaimana akhir kisahnya bersama Kanya, Putra akan memilih untuk tidak pernah jatuh cinta pada perempuan itu. Apakah bisa?
Tidak. Putra tak mungkin sanggup. Jika dia terlahir kembali dan menjalani kehidupan yang sama, dia tetap akan jatuh cinta pada Kanya meski sudah tahu akan bagaimana akhir kisahnya. Setidaknya, semua hanya akan bermuara pada tawa lepas perempuan itu. Asalkan Kanya sanggup tertawa, Putra rela menjadi apa saja. Termasuk bayangan yang tak terlihat sekalipun.
__ADS_1