
kedua lelaki itu terduduk di lantai dengan napas terengah-engah. Putra menahan kesal sekaligus geram. Araz menahan nyeri yang menyerang pipi serta rahangnya akibat pukulan dari kakak sambung Kanya.
Meski jarak di antara keduanya cukup dekat, tapi tetap saja aura dingin yang terpancar dari masing-masing lelaki itu masih terasa pekat. Terutama Putra. Lelaki itu tak bisa dengan mudah memaafkan Araz meski dia tidak sepenuhnya bersalah.
Sementara Kanya tak melepaskan sorot matanya dari Putra. Dia mengawasi sang kakak dengan sorot mata mengancam.
"Ayolah, aku ngaku kalau aku bersalah. Aku minta maaf. Jangan tatap aku seperti itu, Nya. Kamu sangat menakutkan." Putra berusaha meredam emosi Kanya yang tak terkendali.
Kalau saja perempuan itu tak terikat infus ataupun kondisinya tak seburuk saat ini, Kanya pasti akan membalas pukulan Putra pada Araz. Meski Putra melakukan hal itu untuk membela Kanya.
Percuma saja, karena perempuan itu pun pasti akan membela kekasihnya yang terluka.
"Mudah banget kamu minta maaf setelah mukulin orang sampai babak belur? Apa kau udah gila?" Kanya mengembalikan pertanyaan Putra dengan air mata tertahan di kedua ujung matanya.
"Itu karena aku cuma berusaha melindungi kamu, Nya?"
"Melindungi dari apa?"
Pertanyaan Kanya membuat Putra tak berkutik. Dia bahkan tak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan perempuan itu.
"Coba jawab, apa yang mau kamu lindungi dariku?" desak Kanya membuat Putra tak sanggup menjawabnya.
"Kamu bahkan nggak tahu mau melindungiku dari apa, tapi udah berlagak kayak jagoan. Apa itu sikap yang bisa kamu banggakan?" Kanya masih saja mengamuk.
Putra mendengarkan tanpa protes. Lelaki itu sengaja membiarkan semua perasaan kesal dalam hati Kanya diluapkan padanya.
"Kenapa lo diam aja? Bukannya tadi merasa sok paling jagoan?!" Semakin Kanya kesal, semakin perempuan itu tak bisa menjaga ucapannya pada Putra.
__ADS_1
Dia mulai menggunakan gue-elo, setelah sebelumnya berusaha menggunakan istilah aku-kamu.
"Gue benar-benar nggak tahu mesti gimana ngadepin lo, Putra. Lo kelewatan kali ini."
Putra sengaja tak merespon. Dia hanya melirik ke arah Araz yang sama bungkamnya dengan lelaki itu.
"Minta maaf nggak!" ancam Kanya dengan suara masih gemetar.
Perempuan itu cukup syok dengan perbuatan Putra yang tiba-tiba memukul Araz. Meski sudah meluapkan semua emosi yang bergejolak dalam hatinya.
Meski begitu, terlihat jelas jika Putra tak bermaksud meminta maaf kepada Araz. Dia justru menunjukkan wajah kesal.
"Kanya, cukup. Jangan marah sama Putra! Aku tahu Putra melakukan itu karena dia khawatir sama kamu." Araz berusaha meredam emosi perempuan itu.
"Mas Araz kenapa malah belain dia sih? Dia udah bikin Mas Araz babak belur gitu!" seru Kanya tidak terima.
Dia benar kali ini. Tolong, jangan marah sama dia lagi. Harusnya aku yang minta maaf karena sudah membuat kekacauan ini."
"Baguslah kalau kamu sadar diri!" ucap Putra memancing emosi Kanya yang sempat mereda.
Mendengar kalimat tersebut terucap dari mulut Putra, menjadikan Kanya kembali mengamuk.
"Baguslah kalau kamu sadar diri, lo bilang?! Harusnya yang sadar diri itu elo! Bukannya lo yang ngomong gitu ke Araz!"
"Kanya, tolong. Jangan sudutkan Putra. Jaga dirimu, jangan sampai banyak bergerak dan membuat luka di perutmu makin parah."
Peringatan Araz membuat perempuan itu menghela napas. Namun, tetap menatap tajam ke arah Putra.
__ADS_1
Melihat sang kekasih tak juga meredam emosinya, Araz memutuskan untuk bangkit dari posisi duduknya dan mendekati perempuan itu.
"Aku nggak apa-apa. Dibandingkan kamu, ini cuma luka kecil. Lebih baik, kamu istirahat. Biar lukamu cepat sembuh."
"Tapi ... "
"Tolong, Nya."
Permintaan Araz menggetarkan dada perempuan itu. Ia tak lagi membantah. Dengan kondisi miring dan mencari posisi yang nyaman, Kanya berusaha untuk memejamkan mata.
Sementara Araz mengajak Putra keluar ruangan ketika Kanya sudah tampak pulas. Sepertinya memarahi Putra memerlukan energi yang cukup banyak.
***
"Apa yang mau kau katakan?!" tembak Putra begitu kedua lelaki tersebut sudah berada di taman rumah sakit.
"Pertama, aku minta maaf. Aku benar-benar nggak sangka bakal kejadian hal yang kayak gini.
Aku nggak bermaksud membela sepupuku, tapi pada dasarnya dia bukan orang yang nekat seperti ini. Jadi, aku nggak pernah menduganya."
"Lalu, kalau sudah kejadian seperti ini, apa yang mau kau lakukan? Jelas kamu punya rencanakan?
Buat membalas perlakuan sepupu kamu, apa rencanamu sekarang?"
Araz menghela napas panjang. Lelaki itu membuang wajahnya ke arah lain sebelum kembali menatap Putra.
"Ya, aku sudah punya rencana buat membalasnya. Kamu nggak perlu khawatir. Persoalan ini pasti bakal cepat selesai!"
__ADS_1