
Suasana tegang di antara ketiga orang tersebut, membuat Araz semakin salah tingkah dan memutuskan untuk pamit kembali ke ruangan.
Namun, dengan tidak tahu malunya, Hanung tiba-tiba muncul dari ruangannya dan mencegat Araz yang melewati sang kepala redaksi itu.
"Gue yang pilihin tempat makan siangnya ya? Lo kan pasti sibuk, mana sempat cari tempat makan segala," ucap Hanung penuh makna.
Kanya yang mendengar percakapan tersebut tahu pasti apa maksud ucapan laki-laki itu. Sama artinya dengan,"Biarkan aku yang cari tempat makan, atau rahasia kalian nggak akan aman."
Itu trik yang digunakan Hanung agar tidak terdengar seperti ancaman. Tapi, bagi Kanya yang sudah bekerja lebih dari empat tahun bersama Hanung, tahu pasti setiap makna yang tersembunyi di balik ucapan laki-laki itu.
Tentu saja Hanung sedang bermaksud mengambil keuntungan dari Araz karena merasa telah memegang rahasia sang kekasih Kanya itu.
Ingin rasanya dia membantah ucapan laki-laki itu dan membela Araz yang tampak tak berdaya. Memang uang bukanlah masalah bagi Araz. Meski begitu, cara Hanung memperalat sahabatnya kali ini cukup kelewatan.
Dia tidak mungkin bakal memilih restoran yang harganya masih bisa dinalar. Jelas Hanung akan memanfaatkan momen tersebut untuk makan enak sesuai hobi laki-laki itu. Kanya tahu pasti kelicikan sang kepala redaksinya.
Tapi, situasinya saat ini bukanlah kondisi yang tepat untuk membantah perkataan Hanung.
Bagaimanapun dia juga tetap ingin rahasianya aman terkendali di tangan laki-laki itu.
"Maafkan aku, Mas Araz," ucapnya dalam hati.
Kanya tidak bisa menyampaikan hal itu secara langsung pada sang kekasih. Selama Destia masih tak melepaskan tatapan penuh rasa curiga pada perempuan itu.
"Iya deh, atur aja. Gue balik ke ruangan," ucap Araz yang masih tampak salah tingkah.
Sementara Hanung tersenyum penuh kemenangan. Dia melirik ke arah Kanya dengan senyuman penuh makna sebelum kembali ke ruangan.
Setelah kondisi dirasa cukup aman, Destia menarik tangan Kanya hingga membuat perempuan itu duduk di kursinya. Sementara dia sendiri menarik salah satu kursi yang berada di samping meja kerja Kanya.
"Jujur, apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Destia tanpa basa-basi.
"Ha?"
"Nggak usah berlagak bego. Gue tahu udah terjadi sesuatu di antara lo sama Pak Araz. Iya kan?" desak Destia dengan sorot mata menyelidik.
"Haha..." Kanya tertawa garing. Jelas saja itu sangat terlihat dan semakin membuat Destia yakin dengan instingnya.
"Udah deh, ngaku aja. Lo pasti ada apa-apa kan sama Pak Araz?" desaknya sekali lagi.
Tak mudah bagi Kanya untuk mengelak. Terutama di hadapan Destia.
__ADS_1
Pertemanan mereka terbilang cukup unik. Berawal ketika Destia terjebak dalam kamar mandi akibat tidak membawa pembalut. Perempuan itu terpaksa menunggu di kamar mandi sampai seseorang masuk dan meminta pertolongannya.
Namun, tidak mudah menemukan orang baik di antara enam belas perempuan - jumlah karyawan perempuan MediaPena tidak termasuk Destia (jika dihitung dengan Destia, maka berjumlah tujuh belas orang) - yang keluar masuk ke kamar mandi pada hari itu.
Dari enam orang yang masuk ke kamar mandi, tidak satu pun yang menolong Destia. Mereka justru bersikap tak acuh dan bersikap seolah tidak tahu jika ada orang yang berada di balik bilik kamar mandi dan membutuhkan pertolongan.
Hingga akhirnya, Kanya merupakan orang ketujuh yang masuk ke kamar mandi pada hari itu. Destia hampir putus asa dan tak berniat meminta pertolongan lagi. Dia hanya akan pasrah menunggu di dalam kamar mandi sampai jam pulang kerja berakhir.
Namun, justru Kanyalah yang pertama kali mengetuk pintu bilik tempat Destia mengurung diri. Perempuan itu mendengar gemericik air dari dalam bilik tersebut. Namun, dia tidak mendengar tanda-tanda jika ada orang di dalamnya.
"Halo, ada orang?" tanya Kanya waktu itu.
Saat itulah, Destia merasa memiliki secercah harapan dan kembali meminta pertolongan.
"Sori, lo bawa pembalut nggak? Gue lagi mens, tapi persediaan pembalut gue habis," ucap Destia dengan suara serak. Dia lelah menunggu di dalam bilik kamar mandi yang entah sudah berapa lama.
"Eh? Ya ampun, lo udah berapa lama di dalam?"
"Nggak tahu nih, sejam mungkin."
"Astaga. Gue kebetulan juga lagi nggak bawa sih. Tapi tunggu bentar ya, bakal gue beliin dulu."
"Serius lo mau cariin buat gue?"
"Makasih ya. Tadi juga banyak sih yang keluar masuk, tapi nggak ada yang mau nolongin gue." Destia mengeluh pada saat itu.
Namun, Kanya justru membalasnya dengan tawa.
"Halah, udah. Nggak usah dianggap manusia yang kayak gitu. Anggap aja mereka setan yang juga pake tempat ini," canda Kanya.
"Eh si Monyet," ucap Destia kelepasan. Namun, hal itu tidak membuat Kanya marah dan justru makin tertawa.
"Haha...udah deh, gue cabut dulu. Eh iya, CD lo gimana? Aman nggak?"
Destia tak langsung menjawab. Perempuan itu merasa segan. Dan hal itu membuat Kanya paham.
"Oke, gue bisa ngerti kok. Size M muat kan? Gue ada stoksih di loker. Tenang aja, masih baru kok. Gue belum pernah pakai. Aman."
"Makasih ya."
"Aman. Gue bakal balik secepatnya."
__ADS_1
Setelah itu, Kanya segera meninggalkan kamar mandi dan kembali tidak lama kemudian. Dia tidak hanya membawakan pembalut dan CD untuk digunakan oleh Destia. Tapi juga teh hangat untuk meredakan nyeri dan juga air mineral. Tidak lupa sebungkus roti mengingat perempuan itu sudah tertahan lebih dari satu jam di dalam kamar mandi.
"Makasih ya. Nggak perlu repot bawain ginian segala lagi," ucap Destia begitu perempuan itu keluar dari bilik kamar mandi. Wajahnya tampak pucat, tapi juga terlihat lega di saat yang bersamaan.
"Sama-sama. Udah, nggak usah sok. Lihat aja tuh wajah lo. Pucet banget gitu. Untung lo nggak pingsan di kamar mandi. Kalau sampe pingsan kan bakal makin susah." Kanya menanggapi dengan sok akrab.
Padahal biasanya dia paling malas berkenalan dengan orang baru.
"Oh ya, nama gue Kanya. Dari bagian redaksional. Anak buahnya Pak Hanung. Nih kartu nama gue. Ada nomor kontaknya juga. Kalau kejadian kayak gini lagi, telepon gue aja langsung. Nggak perlu minta tolong sama setan yang pakai kamar mandi ini," ucap Kanya memperkenalkan diri sambil menyerahkan kartu nama.
Perempuan itu tertawa sambil menerima pemberian Kanya.
"Gue Destia, dari bagian pemasaran," ujar perempuan itu balas memperkenalkan diri. "Ternyata rumor tentang lo sama sekali nggak bener ya. Sori, gue udah sempat termakan sama gosip murahan itu," imbuh Destia dengan tulus.
"Ck, biasalah itu. Orang juga bakal ngelakuin hal yang sama kalau belum kenal. Gue sih nggak heran."
"Sialan lo."
Sejak hari itu, hubungan keduanya menjadi cukup dekat. Mereka sering menghabiskan makan siang bersama. Selama Kanya tidak memiliki jadwal makan siang bersama yang lain.
Meski begitu tetap saja Kanya belum bisa sepenuhnya membuka diri pada perempuan itu. Bagaimanapun Kanya tetaplah perempuan dengan kepribadian tertutup dan tidak suka mengumbar tentang dirinya di hadapan banyak orang. Termasuk Destia meskipun hubungan mereka sudah cukup akrab.
"Eh, ni anak malah bengong. Makin ketahuan kan lo, kalau lo pasti ada apa-apanya sama Pak Araz," ucap Destia membuyarkan lamunan Kanya.
Perempuan itu tertawa. Dia sudah mulai bisa mengendalikan dirinya.
"Haha...gimana ceritanya orang lagi bengong malah ketahuan kalau ada apa-apa sama, Pak Araz. Jangan ngarang deh ah. Masih terlalu pagi buat ngehalu nih."
Destia melirik curiga.
"Gue yakin sih, lo nggak ngehalu kalau bisa dekat sama Pak Araz, sekalipun," ucap Destia tetap tak bisa memudarkan rasa curiganya.
"Haha...karangan apalagi sih ini, Des. Serius gue nggak ada apa-apa sama, Pak Araz." Kanya masih berusaha berkelit.
"Semakin lo menghindar, semakin keliatan kalo lo memang punya hubungan spesial sama, Pak Araz," desak Destia.
"Dahlah, males gue ngomong. Intinya apa pun jawaban gue, lo nggak bakal percaya."
"Lah, emang iya. Makanya kasih tahu dong."
"Nggak. Orang nggak ada yang perlu dikasih tahu kok," ucap Kanya mengeles.
__ADS_1
"Gue yang bakal cari tahu," goda Destia semakin membuat pipi Kanya bersemu merah.
Dia menyadari, wajahnya tidak bisa diajak berbohong kali ini.