Pulang

Pulang
Sebuah Nama, Sebuah Rasa


__ADS_3

Renjana Putra


Tubuh Kanya masih gemetar saat Putra menuntunnya menuju mobil. Mereka sama-sama terdiam. Sebenarnya Putra sengaja melakukan itu agar Kanya bisa merenungi perasaannya. Lelaki itu tahu, Kanya tak akan mudah menceritakan apa yang dia rasakan meski sampai menangis histeris.


Sejujurnya Putra tak pernah melihat Kanya menangis begitu pilu. Ada perasaan luka yang tertahan hingga hanya tangis lah yang mampu mengambarkan betapa tersiksa batin perempuan itu. Mungkinkah ini berkaitan dengan Araz atau siapa pun itu namanya?


Jika dipikir-pikir, Putra tak pernah melihat lelaki itu lagi sejak pertemuan mereka di suatu pagi tiga minggu lalu atau mungkin lebih? Apakah sesuatu terjadi padanya? Kalaupun mereka bertemu mungkinkah Putra bisa bersikap biasa saja seolah tak terjadi apa pun di antara mereka? Sebab tak dapat dipungkiri mereka telah menebar permusuhan sejak awal bertemu.


"Gue udah baikan, cari makan yuk. Istirahat makan siang hampir selesai." Ucapan Kanya membuyarkan lamunan Putra. Lelaki itu menoleh ke arah Kanya yang sudah tersenyum cerah seperti semula.


"Dih, sok baik-baik aja. Kebiasaan deh kamu tuh. Jangan dipendem sendirian Nya, kalau kamu sakit nggak ada yang bisa nolong."


"Ada, ntar gue bilang Kak Noah dong."


"Nggak usah pura-pura tegar gitu deh. Nyebelin tahu nggak."


Kanya hanya terdiam menanggapi pernyataan Putra. Perempuan itu memang tak pandai berbohong jika berhadapan dengan mantan kekasihnya. Putra seolah membaca pikiran Kanya meski dulu lebih sering didasari perasaan curiga. Namun tak jarang kecurigaan Putra yang meleset. Hanya saja Kanya lebih suka menghindar jika tebakan Putra dapat memicu pertengkaran. Membiarkannya berlalu begitu saja tanpa pembahasan.


"Nya, gimana aku bisa bantu kalau kamunya diam aja?" Pertanyaan Putra justru membuat air mata Kanya mengalir lagi. "Gitu yang kamu bilang baik-baik aja? Selama ini selalu kamu yang nyembuhin luka aku, Nya. Kali ini biar aku yang sembuhin luka kamu."


"Kamu tahu nggak sih Kak, dia juga bilang gitu sebelum ngilang. Dia minta aku cerita tentang kamu, tentang kita biar beban yang aku rasain berkurang. Tapi apa kenyataannya? Bukan cuma beban aku yang berkurang, tapi dia juga ikut ngilang. Entah ke mana."


"Araz?"


Putra tersenyum melihat Kanya hanya menangis dan tak menanggapi pertanyaannya. Ingatan lelaki itu melayang jauh ke belakang saat mereka masih berpacaran. Putra bukannya tidak tahu jika Kanya tergoyahkan dengan kehadiran cowok lain. Hanya saja lelaki itu dulu menghadapinya dengan emosi yang meledak-ledak hingga membuat Kanya justru membisu. Meski Putra sudah memancingnya dengan satu nama. Arez.


Itulah sebabnya Putra tidak pernah percaya dengan teman serumah Kanya. Lelaki itu sanggup menghancurkan hubungan mereka yang sedang rapuh. Apalagi jarak sering membuat mereka jadi salah paham.

__ADS_1


Seandainya Kanya tahu, sikap perempuan itu saat ini begitu mirip saat ia berusaha menyembunyikan nama Arez dari Putra waktu itu.


"Ayolah, kamu bisa cerita sama aku dan nggak mungkin ngilang. Gimanapun dia juga bakal jadi adik aku 'kan?"


"Bodo, males gue bahas soal dia."


"Nih, gini nih kebiasan kamu dari dulu. Suka ngehindar dari masalah. Bukannya gimana-gimana Kanya, tapi kamu juga yang bakal ngerasa sakit. Jadi, sejak kapan kamu suka sama dia?"


Kanya melirik tajam mendengar pertanyaan Putra. Perempuan itu memasang wajah jengkel yang membuat Putra semakin yakin dengan tebakannya tentang Araz. Lelaki itu tersenyum sambil menepuk pelan pucuk kepala Kanya sebelum mengemudikan mobilnya keluar dari basement gedung apartemen yang baru saja mereka kunjungi.


"Ceritanya sambil makan ya. Mau makan apa kita?"


"MacD."


Tawa Putra berderai. Kebiasaan yang belum berubah. Perempuan itu masih saja memakan makanan junk food jika sedang badmood.


Setelah menghabiskan dua porsi besar beef burger dan kentang goreng, Kanya baru mau bercerita pada Putra tentang Araz. Perempuan itu menceritakan semuanya tanpa ada bagian yang terlewatkan. Termasuk bagaimana sesaknya perasaan perempuan itu saat ini ketika Araz menghilang tanpa kabar dengan meninggalkan berbagai pertanyaan yang tak juga menemukan jawabannya.


Jika yang duduk di depan Kanya adalah Putra yang dulu, atau setidaknya satu bulan yang lalu, lelaki itu pasti tak akan sanggup mendengarkan cerita Kanya sampai tuntas. Ia pasti lebih dulu terbakar cemburu. Apalagi saat Kanya menyebutkan jika Araz memiliki hubungan dengan Arez yang tak sanggup ditebak olehnya. Bisa dipastikan Putra sanggup berbuat di luar kendali.


Namun saat ini, Putra bisa mendengarkan cerita Kanya dengan tenang, meski tak dapat dihindari jika ia merasakan hatinya bergemuruh.


"Gue cuma nggak habis pikir aja, setelah bilang kalau mau buat gue jatuh cinta sama dia, eh ini malah ngilang nggak tau rimbanya. Kan ngeselin Kak."


Senyum Putra mengembang. Wajah Kanya yang menahan kesal terlihat lucu di matanya.


"Kamu sih udah jatuh cinta sama dia."

__ADS_1


"Nggak, mana ada gue jatuh cinta sama lelaki kayak gitu?"


"Semakin kamu menyangkal semakin keliatan kalau kamu tuh udah jatuh cinta sama dia, Kanya."


Kanya hanya mendengus kesal menanggapi pernyataan Putra yang tak masuk akal bagi perempuan itu. Bagaimana ia bisa menyukai lelaki yang bahkan lebih sering menggombal dengan gayanya yang slengekan. Apalagi sikapnya yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Jikalaupun dia memang sakit, kenapa tidak jujur saja dari awal.


"Kamu sadar nggak sih, kamu tuh selalu antusias kalau lagi ceritain orang yang lagi kamu suka. Inget gimana kamu cerita tentang Arez? Semangat kamu tuh sama persis. Inget gimana waktu kamu cerita tentang aku sama Almira? Ekspresi kamu sama sekali nggak berubah dari dulu. Dan itu juga yang kamu lakukan sekarang."


"Itu karena gue sebel sama dia, Kak!"


Senyum Putra semakin lebar. Alasan Kanya menunjukkan jika perempuan itu memang benar-benar jatuh cinta pada Araz. Hanya saja ia tak mau mengakuinya. Atau justru adik tirinya itu tak menyadarinya? Tidak mungkin kan?


Kanya perempuan dewasa yang jelas tahu mana pria yang menyukainya dan mana yang main-main. Sekalipun pada kenyataannya pria yang terlihat bersungguh-sungguh itu justru menghilang tanpa kabar. Meski begitu Putra tetap yakin, akan ada kisah di antara keduanya yang mungkin akan terjalin. Walaupun Putra belum bisa menerima sepenuhnya seandainya saja benar terjadi.


Namun bukankah setiap nama memiliki kisahnya sendiri? Bukankah setiap nama juga memiliki rasanya sendiri? Jika memang seperti itu, apa yang bisa diperbuat oleh Putra?


Lihat saja ekspresi Kanya saat menceritakan tentang Araz. Perempuan itu sudah bercerita menggunakan rasa pada sebuah nama. Lihat saja bagaimana Kanya begitu ringan memanggil Putra dengan sebutan kakak. Seolah mereka memang tumbuh bersama sejak balita.


"Sabar aja, mungkin dia sedang mengajarkan perkara rindu. Bisa juga tentang ketabahan saat jarak membentang."


"Males. Itu sih dianya aja yang emang nggak niat dari awal."


"Kalau nggak niat ngapain ngajakin nikah."


"Lah itu malah aneh. Baru kenal udah sok ngajakin nikah. Terbukti ngilang kan sekarang."


Tetap keras kepala. Begitulah Kanya. Putra hanya menggeleng menanggapi pernyataan adik tirinya itu. Ia akan menunggu berapa lama perempuan itu akan mengaku jika dirinya benar mencintai Araz.

__ADS_1


__ADS_2