
Renjana Kanya
Obrolanku dengan Araz masih berputar di benakku selama kami dalam perjalanan kembali menuju Jakarta menjelang petang.
"Kanya, bagaimana jika aku memang kenal siapa cowok yang kamu sebut? Apakah kamu akan menerimaku jadi pendamping hidup atau justru membenciku?"
"Apa maksudnya? Mas Araz beneran kenal sama Arez?"
"Jawab aja pertanyaanku. Apa kamu akan membenciku jika kuceritakan tentang hidupku yang mungkin berkaitan dengan cowok itu? Atau mungkin justru sebaliknya?"
"Ya tergantung. Hal itu nggak bisa disamaratakan, Mas. Soal perasaanku ke Mas Araz. Atau mungkin juga tentang Arez."
"Kalau gitu, aku akan buat kamu jatuh cinta sama aku lebih dulu."
"Mas, aku udah lama kehilangan kontak sama dia. Ada hal di antara kami yang berakhir tanpa perpisahan. Jadi kalau aku boleh tahu, apa hubungan kalian sebenarnya? Kenapa aku rasain hal yang sama tiap kali bareng Mas Araz?"
"Maka anggap aja aku bayangan Arez."
"Mana bisa gitu. Jelas kalian dua orang yang berbeda."
Sunyi. Pembicaraan kami berhenti. Lelaki itu tak menanggapi pernyataanku. Sedangkan aku sibuk menerka-nerka tentang mereka. Tentang Arez ataupun Araz.
Jadi apa maksud pertanyaan itu? Apakah memang benar Araz mengenal Arez? Apakah mereka saudara atau hanya sebatas saling mengenal saja? Jika memang demikian mengapa Araz tak langsung memberi tahuku?
Lelaki itu justru lebih banyak diam sekembalinya dari Sukabumi. Tak menjawab pertanyaanku tentang hubungan mereka sebenarnya. Meski aku setengah memaksanya untuk bercerita.
"Setiap orang memiliki lukanya sendiri, Kanya. Begitu juga denganku. Aku akan cerita saat sudah yakin kamu nggak akan ninggalin aku. Karena Putra ataupun Arez," katanya terakhir kali sebelum benar-benar terdiam dan hanya fokus pada kemudi.
Aku tak bisa memaksanya. Araz memiliki hak untuk berbagi kisah perihnya atau tidak. Namun entah mengapa aku justru merasa sesak saat mengetahui fakta bahwa ia menyembunyikan lukanya dariku.
Padahal aku selalu menumpahkan kesal bahkan tangis padanya. Aneh, kami bahkan baru kenal dua pekan. Awalnya pun aku merasa tak nyaman berada di dekatnya, tapi sekarang aku justru lebih nyaman dengannya. Berbagi keluh bahkan pelukan yang tak bisa kulakukan dengan sembarang orang.
"Mas Araz beneran nggak mau kasih tahu aku?" tanyaku sebelum turun dari mobil. Lelaki itu hanya tersenyum sambil menggeleng.
"Kalau kamu besok mau pergi kencan sama aku, mungkin aku bisa berubah pikiran. Nanti aku kirim chat buat tagih jawaban kamu," katanya sebelum meninggalkan aku di depan gedung apartemen.
Wajahku terasa panas. Entah mengapa aku sering kali tersipu jika berhadapan dengan Araz. Bahkan rasanya sangat tidak nyaman saat ia sungguh-sungguh tak mau bercerita tentang hubungannya dengan Arez.
"Huuffttt... kenapa sekarang gue jadi melankolis gini gara-gara Araz?"
Aku mengeluh sebelum menuju ke unit apartemenku di lantai lima.
***
Sabtu Malam
Harusnya sejak sejam yang lalu aku sudah keluar bersama Araz, tapi lelaki itu membatalkannya limabelas menit sebelum waktu janjian dengan dalih ada urusan yang tak bisa ditinggalkan.
Aku tersenyum kecut saat membaca ulang pesan yang dikirim oleh Araz. Sangat singkat dan cukup menancapkan perih dalam hati.
__ADS_1
Alcatraz
Sori Kanya, ada hal yang nggak bisa aku tinggalkan. Mungkin lain kali.
Hufftt... masih ada ya lelaki yang batalin janji sebelum waktu janjian? umpatku kesal dalam hati.
Aku merebahkan tubuhku di sofa ruang tamu dan meraih salah satu buku dari rak pembatas. Norwegian Wood karya Haruki Murakami itu bergeser dari tempat semula ketika aku menyimpannya. Apa mungkin Araz yang mengambilnya kemarin?
Araz.
Nama lelaki itu membuatku merasa sesak saat mengingatnya. Bayangan sikapnya yang hangat dan ramah itu, menguap begitu saja ketika aku ingat bagaimana ia membatalkan janji tiba-tiba. Apa yang bisa kulakukan sekarang? Aku bahkan sudah menolak ajakan Vina untuk keluar demi menepati janji dengan Araz.
"Arrgh... kesel gue, ngapain coba malming di rumah aja," teriakku mengusir penat. "Apa gue telepon Almira aja ya? Lama juga nggak ngobrol sama bumil itu."
Aku meraih gawai yang tergeletak di atas meja dan melakukan panggilan pada Almira. Tak lama perempuan itu menyapaku dengan Damar di sampingnya.
"Tumben video call duluan? Gabut lo, Buk?" sapa Damar bahkan sebelum Almira sempat bersuara. "Kenapa lo, nggak mungkin kalau kangen sama kami."
"Hahaha... gampang banget ketebak sih gue. Eh lo berdua apa kabar?"
"Bosen, basa-basi. Udah, mau apa lo VC kita? Nggak mau pinjem duit kan?"
"Astaga mikir buruk aja lo sama gue. Itu kenapa Almira diem aja?" tanyaku saat menyadari Almira hanya diam saja sejak tadi.
"Oh, kami barusan ngomongin lo. Eh langsung nongol aja orangnya." Alisku bertautan menanggapi pernyataan Damar. Apa yang mereka bicarakan tentang aku? "Nggak usah sok tersakiti, kami nggak bicarakan yang jelek-jelek kok. Cuma ngobrolin aib lo aja."
"Jadi gini Nya, temen-temen SMP bikin grup chat. Trus mereka minta aku buat share nomor kamu. Nah, sebelum itu, kayaknya Alfian cari tahu alamat apartemen kamu deh ke Audya," cerita Almira membuatku merangkai peristiwa yang terjadi kemarin saat tiba-tiba Putra muncul di lobi apartemenku.
"Oohh... pantes dia bisa tahu di mana gue tinggal. Awalnya gue pikir lo yang kasih tahu. Ternyata Audya."
"Tumben jawaban lo datar banget," komentar Damar. "Padahal Almira udah was-was lo bakal ngamuk kalau Putra sampai muncul di apartemen lo."
Aku tersenyum sinis. Ya, karena memang pada kenyataannya aku belum bisa berdamai dengan rasa sakit akibat ulah lelaki itu. Namun sampai hari ini, Putra tak muncul dihadapkanku dan itu membuatku cukup lega.
"Syukur deh kalo gitu. Kalau gue boleh kasih saran, udah deh Nya. Berhenti lari dari Putra. Selesaikan masalah kalian sekarang. Udah bukan waktunya kalian saling bermusuhan. Mau sampai kapan lo betah sendirian?"
Tawaku berderai mendengar petuah Damar yang sudah berulang-ulang disampaikan. Namun aku masih saja tetap bebal. Pada kenyataannya tak mudah berpaling dari cinta yang sudah membekas bukan?
"Gimana Aldo? Nggak keluar lo malming gini?" Damar masih menguasai pembicaraan kami. "Masa kalian belum jadian juga sih?"
Wajahku berubah murung. Teringat lagi ajakan kencan yang batal limabelas menit sebelum waktu janjian dan membuatku uring-uringan, sebelum memutuskan melakukan panggilan video dengan Almira dan Damar. Lagian aku pun heran, mengapa segitu kecewanya hanya karena batal kencan dengan Araz.
"Nya, kamu lagi baik-baik aja 'kan?" Pertanyaan Almira membuyarkan lamunanku. Aku hanya tersenyum paksa. Almira memang selalu peka dengan apa yang terjadi dengan orang di sekitarnya. "Udah Nya, kamu tinggal bilang mau aja kalau Mas Aldo ngajak nikah."
"Hah? Apaan, dia aja batalin janji mau ketemu malam ini?"
"Oh, jadi itu alasan kamu VC kami? Cuma buat membunuh waktu karena gagal kencan?" goda Almira setelah sekian lama membiarkan Damar menguasai pembicaraan.
"Ya nggak gitu juga Mir, ah lo nggak asyik ah. Gue tuh... tahu deh. Bingung gue harus gimana?"
__ADS_1
"Ciiee... yang bilang nggak tapi diam-diam mengharapkan. Udah mulai ada rasa nih sama Aldo?" Almira semakin gencar menggodaku.
"Bukan gitu, Mir. Gue tuh penasaran apa hubungan dia sama Arez. Semakin ke sini semakin banyak kemiripan mereka?"
"Oh ya? Gue diawal juga ngerasa gitu sih, tapi pas lo tanya, gue pura-pura aja nyangkal gara-gara kesel sama lo," protes Damar tak mau kalah. Ia benar-benar tak membiarkan aku dan Almira ngobrol berdua. "Jadi gimana lo punya kesimpulan kalau mereka kenal?"
"Jadi, kemarin gue abis dari Sukabumi sama Araz. Btw, namanya Alcatraz woi, bukan Aldo."
"Ngapain ke Sukabumi?" tanya Damar menginterupsi.
"Melarikan diri dari Putra. Dari dulu kalau ada masalah sama Putra - pas zaman kuliah sih, dia kan larinya ke Sukabumi. Syukur-syukur ada temennya, sampai ke Gede dia."
"Oh iya? Aku kok nggak pernah tahu sih, Sayang?"
"Kamu mana pernah pengertian sama Kanya. Arez tuh yang ke mana-mana jagain dia."
Damar dan Almira justru sibuk memperdebatkan tentang aku. Tanpa peduli jika keromantisan mereka membuatku geli sekaligus iri.
"Masih lama nggak kalian debatnya? Selesaiin dulu deh urusan kalian, baru gue cerita."
"Sori deh Nya, 'kan buat belain kamu juga." Almira tertawa menanggapi kalimat sinisku. Ia menghentikan guraunya dengan Damar dan kembali fokus padaku. "Jadi gimana soal Arez?"
"Jadi pas di Sukabumi, Araz sempat tanya aku gimana seandainya jika dia kenal sama Arez, apakah aku bakal benci dia atau justru sebaliknya?"
"Kenapa dia tanya gitu? Emang dia bunuh Arez?" tanya Damar membuat buluku mendadak merinding. Bagaimana jika memang kenyataannya begitu, makanya dia takut aku membenci lelaki itu.
"Dari mana lo dapat alamat Arez, Dam?" tanyaku memikirkan kenyataan yang mengerikan.
"Temen sekampus dulu. Beda jurusan sih, tapi lumayan akrab sama Arez. Kenapa?"
"Kapan dia terakhir ketemu sama Arez?"
"Dua tahun lalu. Kenapa sih emang? Lo nggak mungkin mikir Araz ngebunuh Arez 'kan?"
"Bisa jadi 'kan, Dam. Dia bahkan bilang gitu sama gue, trus mendadak batalin janji. Bisa aja dia mau ngaku, tapi takut. Bukan karena takut gue bakal benci dia, tapi takut dilaporin polisi."
"Yah dia kumat 'kan Yang. Gini nih kalau udah lama tinggal sendiri. Suka berlebihan paranoidnya."
"Ya kan semua kemungkinan bisa aja terjadi, Dam. Udah dua tahun, lalu apa? Kita semua nggak ada yang pernah tahu kabar Arez. Kalau lo lupa itu."
"Nya, plis!"
"Gimana kalau beneran, Dam?" tanyaku mulai panik membayangkan sesuatu yang mengerikan terjadi.
Sedang di seberang sana, Damar terlihat gemas. Kalau saja dia di depanku, pasti tak akan segan memukul kepala. "Oke, gue akan cari tahu, tapi apa pun hasilnya termasuk jika khayalan lo bener, lo nggak boleh lari lagi dari masalah ini."
Setelah mengucapkan salam perpisahan, dudukku di sofa ruang tamu menjadi gelisah. Aku sibuk menerka kira-kira apa yang terjadi di antara Arez dan Araz. Apa pula yang membuat Araz takut mengakui hubungan mereka padaku?
Hingga jatuh tertidur, aku masih belum menemukan jawabannya.
__ADS_1