Pulang

Pulang
Teman Baru


__ADS_3

Renjana Kanya


Aku tidak memahami lukisan sebaik Araz yang bisa berkomentar tentang banyak hal. Entah komposisi warnanya yang kurang pas, bagian yang masih bercelah, hingga tentang banyak hal lainnya. Setiap kali melihat lukisan, aku hanya bisa menatapnya berlama-lama karena kagum, sebab aku paling lemah dalam perkara satu ini. Namun, entah mengapa sejak menemukan sebuah lukisan di Griya Panca Warna yang bukan lukisan Mas Altar, aku mulai tertarik mencari tahu sosok pelukisnya.


Sebenarnya saat aku mengatakan tentang dua idola yang memiliki nama hampir sama, aku sudah tahu jika nama pelukis yang lukisannya dipajang di Omah Kayoe itu adalah Rinjani. Mbak Senjani pernah mengatakannya padaku saat kami ke Griya Panca Warna. Hanya saja aku tidak menyangka jika akan bertemu dengan orangnya secepat ini.


Mulanya aku hanya stalking di media sosial siapa sebenarnya sosok Rinjani ini. Dalam dunia seni rupa tanah air, dia mendapat julukan sebagai Ibu Bumi karena ketekunannya mengangkat isu perempuan dan kerusakan alam melalui karyanya. Namun, semakin aku mencari tahu, semakin banyak berita yang bermunculan tentang Rinjani. Prestasi perempuan yang kutaksir seumuran Mbak Senjani itu, cukup banyak. Kariernya melejit setelah pameran tunggalnya sekitar tiga tahun lalu meraup kesuksesan.


Dari sebuah wawancara, aku juga tahu jika Mas Altarlah yang mengorbitkan Rinjani menjadi pelukis. Mungkin itu sebabnya salah satu lukisan Rinjani juga dipajang di Griya Panca Warna. Bukan untuk dijual, melainkan sebagai monumen kalau Mbak Senjani bilang.


Sosok Mbak Rinjani yang ramah membuat kami cepat akrab. Banyak hal yang kami bicarakan, mulai dari ketertarikannya melukis, sampai mengapa memilih perempuan dan alam sebagai objeknya.


"Oh ada tamu rupanya. Oke lanjutkan dulu. Aku tunggu di kantor ya."


Tiba-tiba seorang laki-laki menyapa kami yang masih asyik bercerita. Mbak Rinjani yang pertama kali menoleh ke arahnya. Lalu tersenyum pada lelaki itu.


"Gabung dulu yuk, Mas. Jadi ini Kanya, bilangnya tertarik sama lukisan-lukisan yang aku buat. Makanya dia sempatin ke sini. Dan yang ini Araz. Pacarnya."


Pipiku terasa menghangat saat Mbak Rinjani menyebut Araz sebagai pacarku. Aku tahu, tanpa melihat pun, pasti mukaku sudah berubah merah. Apalagi saat laki-laki yang duduk di sampingku itu, tersenyum lebar ketika menangkap perubahan di wajahku.


"Ih, dia malu loh. Ya ampun, imut banget sih. Mas Araz nemu di mana sih anak lucu kayak gini?"


Komentar Mbak Rinjani membuatku semakin menunduk. Sedangkan laki-laki yang baru saja datang ikut tersenyum bersama Mbak Rinjani dan Araz. Mereka menertawakan perubahan raut wajahku yang kini pasti semakin memerah.

__ADS_1


Ih, apaan sih mereka. Sumpah, bikin makin malu saja deh.


"Limited edition sih ini, jadi cuma ada satu di dunia dan nggak bakal ditemuin di mana pun kecuali dia," jawab Araz sambil menahan senyum. Sial, dia bahkan lebih suka menggodaku ketimbang menyelamatkanku dari situasi menyebalkan ini.


Jika itu Araz, sepertinya memang tak mungkin terjadi. Di sepanjang perjalanan dari Juanda pun dia lebih banyak menggodaku dan membuat jengkel. Apalagi sekarang, ketika dia memiliki teman yang bisa membuatnya menggodaku sampai puas.


"Ya ampun, manis banget deh kalian," imbuh Mbak Rinjani dengan mimik gemas seperti ingin mencubitku. Sedangkan aku masih mencoba menguasai bagaimana caranya agar tidak tersipu malu.


"Jan, udah dong. Lihat tuh, Kanya semakin malu 'kan kamu godain."


"Ya habis, dia lucu banget sih, Mas. Bisa manis banget gitu sifatnya. Jadi pengen cubit pipinya."


"Sori ya, Kanya. Istriku lagi hamil. Terkadang suka kelewatan kalau lagi bercanda. Apalagi kalau ketemu sama orang yang mudah tersipu kayak kamu. Oh ya, kenalin, aku Miko. Pemilik kafe sekaligus pemilik Rinjani yang sah." Laki-laki itu mengalihkan perhatian dan mengulurkan tangan kepadaku. Demi mengusir kecanggungan atas sikapku, aku meraih uluran tangan Miko.


"Beneran deh Nya, baru kali ini aku ketemu perempuan seumuran kamu yang masih malu-malu gitu kalau digodain. Soalnya nih, cewek-cewek yang ke sini tuh lebih sering godain laki orang sambil kedip-kedip genit gitu. Jadi ngerasa terhibur kalau ketemu kamu yang masih sepolos ini," cerita Mbak Rinjani membuat Mas Miko yang sekarang duduk di sebelahnya menjadi kikuk. Sungguh, Mbak Rinjani sesuai dengan image yang dia ciptakan. Tidak suka basa-basi, tegas dan apa adanya.


"Ya tapi kalau godain aku jangan kelewatan juga dong, Mbak."


"Jadi pengen deh punya adik perempuan kayak kamu, Nya," komentar Mbak Rinjani kemudian. "Sumpah, gemes banget aku sama kamu. Boleh cubit pipi kamu nggak sih?"


Bibirku otomatis cemberut saat mendengar ucapan Mbak Rinjani. Apa pipiku semacam bakpou yang bisa dicubit seenaknya? Perempuan itu justru tertawa melihat perubahan ekspresiku. Tangannya refleks mencubit pipiku tanpa aba-aba.


"Aww ... sakit, Mbak."

__ADS_1


Protesku memancing tawa perempuan itu. Sungguh, bertemu Mbak Rinjani seperti sahabat yang sudah lama tak saling menyapa. Bukan seperti orang yang baru kami kenal beberapa waktu lalu.


"Yang, kamu tuh. Kasihan Kanya tahu dicubit gitu."


"Ya, tapi Kanya gemesin banget, Yang. Boleh nggak sih Mas Araz, Kanya biar di sini saja."


"Eh, gimana ceritanya kok bisa Kanya ditinggal sini? Terus aku gimana dong? Kan jadinya sepi kalau nggak ada dia."


Araz menanggapi pernyataan Mbak Rinjani dengan nada bergurau yang justru membuatku salah tingkah. Sedang perempuan itu kembali tertawa.


"Mas Araz, bisa nggak sih nggak usah iseng gitu. Malu tahu," ucapku tak menghentikan tawa Mbak Rinjani.


"Duh sumpah deh, Nya. Kamu lucu banget. Sering-sering main sini ya. Biar aku ada hiburan."


"Mbak Rinjani ih, dikira aku lagi topeng monyet, bisa jadi hiburan?"


"Topeng monyet nggak selucu kamu, Nya. Kamu tuh lucunya natural. Imut gitu. Beneran deh. Kalau anak aku kelak cewek, aku berharap dia bakal seperti kamu. Sikap pemalunya bikin gemas."


"Duh, sudah dong Mbak Rinjani. Ngambek nih aku," kataku sambil pura-pura memanyunkan bibir. Gerakanku itu justru memancing gelak tawa sampai orang-orang di sekitar kami menoleh.


"Hahaha ... beneran deh, Kanya. Kok bisa sih kamu tuh lucu banget."


"Mbak Rinjani, plis deh! Kita tadi lagi ngobrolin karya Mbak Rinjani, loh. Kok malah jadi ngebully aku sih? Nggak bener nih. Harusnya kan kita bahas tentang Mbak Rinjani."

__ADS_1


Aku berusaha mengalihkan perhatian. Namun, keriuhan mereka masih saja terfokus padaku. Sampai membuat orang-orang di sekitar kami ikut tertawa melihat keseruan yang mereka cipta. Dalam hati aku pun lega. Sebab hari ini begitu banyak kebahagiaan yang terlahir dari sebuah tawa.


__ADS_2