Pulang

Pulang
BAB 11 Adhikari


__ADS_3

Setiap orang mempunyai cara sendiri untuk mencintai dan melupakan. Ada yang dengan mudah mencintai, ada yang susah. Begitu juga dengan melupakan. Ada yang susah melupakan dan ada yang mudah. Aku termasuk kepada yang susah. Susah mencintai dan susah melupakan.


Dulu, aku berpikir akan lebih baik jika aku bisa mencintai dengan mudah. Dengan begitu, aku akan lebih bahagia. Akan tetapi, kebahagiaan tidak diukur dengan seberapa mudah kamu mencintai dan melupakan. Melainkan, cara orang yang kamu cintai mencintaimu meskipun waktu yang dimiliki sudah selesai. Kamu akan bahagia meskipun hanya mengingat perkataannya saja. Kamu akan jatuh dan jatuh lebih dalam. Karena cinta tidak mengenal waktu.


Hari yang aku habiskan di masa lalu ini penuh dengan kebahagiaan. Aku sudah tidak ragu lagi menunjukkan perasaanku pada Putra. Begitu juga sebaliknya. Dia selalu memberikan aku susu kotak dan roti setiap pagi. Dia juga selalu duduk di kursi May atau berdiri di samping mejaku setiap aku sampai di kelas. Kami juga akan pergi ke kantin bersama. Mengobrol dan tertawa bersama. Setiap pulang sekolah, kami akan menonton drama atau bermain bulutangkis bersama. Dia juga tahu aku sangat menyukai bulutangkis. Atau kami sekedar jalan-jalan di sekitar kota. Mengobrol dan bermain game. Aku bahagia. Aku sangat bahagia. Hal-hal yang ingin aku lakukan dulu bersamanya kini dapat aku lakukan. Semakin hari, aku semakin serakah dengan waktu. Aku ingin waktu lebih banyak. Tetapi Tuhan tidak suka dengan orang-orang yang serakah. Tinggal menunggu saja. Aku atau dia yang meninggalkanku lebih dulu. Karena pada akhirnya salah satu dari kami harus tetap pergi.


Aku sedang menatap langit pagi dari teras kelas. Aku sengaja datang lebih pagi hari ini. Langitnya masih ditutipi embun. Ada beberapa burung bermain di sana. Burung-burung tersebut menarik perhatianku. Aku iri kepada mereka karena mereka bisa lebih dekat dengan langit. Sedangkan aku hanya bisa menatapnya. Aku juga ingin lebih dekat dengan langit. Bagaimana pun bentuknya, aku tetap menyukainya. Langit.


“Lap dulu air liurnya. Netes itu,”ucap seseorang yang aku tunggu kedatangannya.


Aku tidak membalasnya, tetapi aku memasang raut wajah kesal kepadanya. Dia tertawa kecil melihat ekspresiku. Hari ini dia memakai baju pramuka rapi, rambutnya bermodel spike, tas ransel di punggungnya, dan gitar? Dia membawa 2 gitar.


“Kok bawa gitar?”tanyaku.


“Karena hari ini kau akan belajar main gitar,”jawabnya sambil berjalan kearahku.


Dulu dia juga sengaja membawa 2 gitar karena aku bilang aku ingin bisa bermain gitar. Dia sangat jago bermain gitar. Suaranya juga bagus. Setiap pulang sekolah, aku akan belajar bermain gitar bersamanya.


“Kok bingung gitu mukamu? Kan kau memang belajar main gitar sepulang sekolah,”lanjutnya.


“Nggak bingung. Aku terharu aja,”balasku sambil mengambil salah satu gitarnya dan membawanya ke kelas. Putra menyimpan kedua gitar tersebut di atas loker. Lalu, dia menyimpan tasnya di laci mejanya. Tak lupa dia mengambil kantong plastik dari sana. Isinya adalah susu kotak dan roti. Ia memberikannya padaku.


“Kau nggak capek kasih susu kotak dan roti samaku tiap pagi?”tanyaku.


“Nggaklah. Beli doang mana capek itu,”jawabnya.


“Makasih banget loh. Seriusan makasih,”balasku.


Dia membalasnya dengan anggukan, lalu tersenyum padaku. Aku juga membalas senyumnya. Dia terus memperhatikanku memakan roti yang diberikannya. Aku merasa mukamu memerah dan jantungku juga berdegup tidak beraturan. Kenapa dia melihatku seperti itu?


“Jangan diliat terus. Ntar suka,”ucapku bercanda.


“Kan udah,”balasnya.


“Ntar makin suka.”


“Udah juga.”


Aku tidak membalasnya. Karena jika aku membalasnya, aku takut hal ini akan berubah menjadi serius. Aku hanya sementara di sini dan hubungan ini tidak boleh menjadi serius. Ketika aku pergi, semuanya akan kembali ke sedia kala.


“Aku pasti bakalan kangen samamu,”ucapnya lirih.


“Hah? Apa?”tanyaku. Aku tidak mendengarnya dengan jelas.


“Nggak. Aku cuman ngomong nggak jelas,”jawabnya.


Aku tidak menanyakannya lebih lanjut lagi karena ia memang sepertinya menggumam tidak jelas. Dia mengambil sebuah kertas dari tasnya. Teman-teman yang lain sudah berdatangan. Kelas juga sudah mulai rame. Aku kembali ke mejaku karena Malik sudah datang. Aku melihat May juga sudah duduk di kursinya. Ah iya. Aku belum menyelesaikan masalahku dengan May. Aku akan menyelesaikannya hari ini. Tekadku.


*****


Putra sudah mengatur tempat latihan kami di bagian belakang kelas. Aku permisi ke toilet sebentar padanya. Akan tetapi, sebenarnya aku sedang mencari May. Dia masih ada di kelas ketika aku mengobrol dengan Ami sebentar. Dia memang sengaja menghindariku. Dia juga memilih untuk duduk bersama Malik sekarang. Pada akhirnya, dia dan Putra bertukar tempat duduk. Putra mengerti kekecewaanku pada May dan berusaha menenangkanku dari tadi. Dia bahkan berniat untuk berbicara dengan May, tetapi aku melarangnya. Aku yang harus menyelesaikannya. Besok harus berhasil.


Putra mengajariku dengan sabar. Tanganku kaku sekali dan aku tidak bisa menahan senar gitarnya dengan kuat sehingga suaranya yang muncul tidak bagus. Dia juga sering memperbaiki posisi jariku karena sering lupa kunci yang diajarkannya. Padahal dia baru saja mencontohkannya.


“Udah ah. Nyerah aku. Susah kali buat kuncinya. Jariku juga udah sakit,”ucapku kesal karena tidak bisa mengikutinya dari tadi.


Dia tertawa melihatku. “Hahahaha. Ya pasti sakit jarinya. Namanya juga belajar. Aih.. gitu aja udah nyerah kau,”balasnya.


“Kau ajalah yang main gitar sambil nyanyi juga,”pintaku.


“Aku yang main gitar, kau yang nyanyi,”balasnya.

__ADS_1


“Nggak ah. Suaraku jelek.”


“Bagus kok suaramu. Kan aku pernah bilang suaramu bagus.”


Aku ingat sekali dia pernah mengatakannya. Kejadiannya terjadi ketika kami kelas X. Dia selalu menjadi orang pertama yang sampai di kelas dan aku menjadi orang yang kedua. Saat itu, aku tidak akrab dengannya. Meskipun kami sering datang lebih awal, kami tidak akan saling sapa. Kami seperti orang asing. Saat itu, aku sedang menyanyikan lagu Vierra yang berjudul Dengarkan Curhatku. Lagu itu populer sekali saat itu. Tiba-tiba saja dia mengatakan suaraku bagus dan dia suka suaraku. Aku tidak membalasnya karena kami canggung dan tidak pernah mengobrol dengannya. Aku akui aku memang tidak ramah dan cuek.


“Heh. Bengong lagi kau,”ucapnya sambil menepuk bahuku pelan.


“Siapa yang bengong? Kau ajalah yang nyanyi. Ya ya ya ya ya,”pintaku.


“Oke lah,”katanya sambil tersenyum.


Dia mulai memainkan senar gitarnya. Dia menyanyikan lagu “Dear God”. Ini adalah salah satu lagu kesukaannya. Dia sering mendengarkannya dan menyanyikannya. Sehari sebelum dia pergi meninggalkan kami, dia memintaku untuk membawa laptop dan mengunggah lagu ini untukku. Aku sudah membawa laptopku, tetapi hari itu juga dia pergi meninggalkan kami. Dua hari kemudian, aku mengunggahnya dan membaca liriknya. Dia seperti berpamitan kepadaku melalui lagu itu. Makanya, lagu itu sangat berarti bagiku.


A lonely road, crossed another cold state line


Miles away from those I love purpose undefined


While I recall all the words you spoke to me


Can't help but wish that I was there


And where I'd love to be, oh yeah


Dear God the only thing I ask of you is


To hold her when I'm not around


When I'm much too far away


We all need that person who can be true to you


But I left her when I found her


'Cause I'm lonely and I'm tired


I'm missing you again oh no


Once again


There's nothing here for me on this barren road


There's no one here while the city sleeps


And all the shops are closed


Can't help but think of the times I've had with you


Pictures and some memories will have to help me through, oh yeah


Dear God the only thing I ask of you is to hold…


Suaranya bagus sekali menyanyikan lagu ini. Aku bahagia aku bisa mendengarkannya secara langsung. Dia mengambil sesuatu dari tasnya setelah ia selesai menyanyikan lagu tersebut. Dia memberikan kertas tersebut padaku.


“Sketsa rumah?”tanyaku.


“Iya. Sketksa yang pertama kukasih nggak terlalu bagus. Aku buat yang baru,”jawabnya.


Aku memperhatikan sketksa tersebut dengan hati-hati. Sketsa ini berbeda dengan sebelumnya. Sketsa ini digambar lebih detail, juga memiliki halaman yang luas. Sketsa yang pertama, dia hanya menggambar rumah saja. itu juga bagian depan saja.


“Untukku?”tanyaku.

__ADS_1


“Iya. Gimana?”


“Bagus. Bagus kali. Makasih,”jawabku.


Dia tersenyum puas dengan jawabanku. “Kau suka?”tanyanya lagi.


“Banget,”jawabku. Cahaya-cahaya di mataku bersinar menatap matanya.


“Kenapa kau suka buat sketsa rumah?”tanyaku.


“Karena rumah selalu menjadi tempat kembali. Kemana pun pergi, pasti akan kembali ke rumah. Kau juga bilang tempat yang paling nyaman adalah rumah. Aku setuju,”jawabnya.


“Kau benar. Rumah adalah tempat kembali,”balasku.


“Ra... apa yang kau lakuin kalau kau kangen samaku?”tanyanya tiba-tiba. Dia menatap mataku. Dia serius dengan pertanyaannya.


“Ummm melihat langit,”jawabku. “Kalau kau? Apa yang kau lakuin kalau kangen samaku?”tanyaku balik.


“Melihat bintang,”jawabnya.


“Alasannya?”tanyaku.


“Karena aku suka bintang,”jawabnya.


“Dih nggak asyik,”balasku.


“Seriusan loh. Aku paling suka bintang. Cantik dan membuat nyaman. Sama kayak kau.”


“Gombal aja terus,”balasku.


Dia tertawa, lalu mengacak-acak rambutku. Kebiasannya yang satu ini memang susah diubah. Aku sudah bilang berapa kali sampai mulutku berbusa juga tidak dihiraukannya. Alhasil, aku biarkan saja. Jujur, aku juga suka dia mengelus kepalaku. Aku merasa aku orang yang istimewa.


“Kau tau nggak apa arti namamu?”tanyaku.


“Nggak. Aku nggak pernah nanya. Emangnya kau tau?”tanyanya balik.


“Tau. Putra Adhikari artinya putra yang istimewa,”jawabku.


“Adhikari artinya istimewa?”tanyanya.


“Iya dari bahasa Sansekerta,”jawabku lagi.


“Waah keren juga ya artinya. Baru tahu aku.”


“Makanya nanya dong ke ortu.”


“Tapi aku beneran istimewa nggak? Buatmu aku istimewa nggak?”tanyanya.


Aku sengaja tidak langsung menjawabnya. Aku pura-pura berpikir. Wajahnya terlihat penasaran dengan jawabanku. Aku menikmati ekspresinya itu. “Iya. Kayak martabak atau nasi goreng,”jawabku.


“Dih, nggak lucu,”balasnya. “Terus arti namamu apa?”tanyanya.


“Nggak ada,”jawabku.


“Masa nggak ada? Aira Putri nggak mungkin nggak ada artinya,”balasnya kesal.


“Seriusan nggak ada. Aira nama artis kesukaan ayahku. Terus Putri ya karena anak perempuan. Nggak istimewa kayak kau.”


“Kau adhikari kok, adhikari. Buatku kau adhikari,”balasnya berusaha melucu.


“Dih, nggak lucu,”balasku.

__ADS_1


“Ayo pulang kau sekarang. Kemaren aja kau kena marahi karena pulangnya lama,”ajaknya.


Langit indah sekali sore ini. Biru dan jernih. Cahaya matahari membuat langit tersebut menjadi lebih indah. Aku mengulurkan tangan kananku ke sinar matahari tersebut. Merasakan kehangatannya kembali. Hari ini, aku mengakhiirinya lagi dengan bahagia. Semoga besok juga akan berakhir bahagia.


__ADS_2