
Akhirnya hari ini datang. Aku tidak bisa tidak pergi ke sekolah lagi. Apalagi aku sudah makan banyak juga semalam. Aku juga kelihatan sehat. Keluarga Ami akan curiga jika aku tidak masuk sekolah. Mereka mungkin akan mengira Ami ada masalah di sekolah. Lagi pula, aku sudah tidak bisa menghindar. Aku pasti akan bertemu dengannya.
Aku sengaja berangkat pagi-pagi sekali agar sampai di sekolah lebih awal. Aku ingin menghindari orang-orang sebisa mungkin. Terlebih Ami juga sangat populer. Aku mungkin akan banyak menjawab pertanyaan hari ini. Banyak orang akan membuatku terkejut dan mungkin aku akan mengejutkan beberapa orang.
Aku sudah sampai di depan gerbang sekolah. Aku berhenti di sana. Tidak ada yang berubah. Warna gerbang sekolah yang masih biru, halaman sekolah yang luas, dan ruang-ruang kelas yang dicat putih. Di sebelah kananku terdapat koperasi, ruang kepala sekolah dan tata usaha, ruang guru, dan laboratorium bahasa. Sedangkan, di sebelah kiriku terdapat UKS, kelas X IPA 1, X IPA 2, X IPA 3, sebuah lorong menuju aula, kelas XII IPS, XI IPS, dan XI IPA 1. Halaman di bagian depan sekolah sangatlah luas. Kami melakukan upacara di sana. Sedangkan, di bagian belakang sekolah terdapat kelas-kelas, lapangan basket dan volly, lapangan lompat jauh, mesjid, kantin, cafe, lapangan futsal, dan parkir. Aku tidak tertarik dengan semua fasilitas yang diberikan sekolah kala itu. Aku lebih suka menghabiskan waktuku di belakang pintu kelas sambil menulis. Aku memang suka menulis puisi dan cerpen. Terkadang aku pergi ke depan gerbang sekolah untuk jajan. Di sana banyak sekali jajanan anak sekolah, seperti mie gulung, roti bakar, jus, bakso bakar, dan roti. Mie gulung dan roti bakar adalah kesukaanku. Aahh aku rindu sekali dengan sekolah ini.
Aku berjalan sambil menunduk menuju kelasku yang tidak jauh dari gerbang sekolah. Tidak sampai 2 menit juga sudah sampai. Pintu kelas sudah terbuka. Aku pun memasuki kelas. Aku menghentikan langkahku dan menatap 2 orang yang sudah di kelas sepagi ini. Sekolah masuk pukul 7 pagi dan sekarang sebenarnya pukul 6.40. Aku melihat seorang gadis yang duduk di barisan depan sudut sebelah kiri. Dia sedang membaca sebuah novel sambil mengunyah permen karet. Dia sangat fokus sampai tidak terusik dengan kehadiranku dan laki-laki yang sedang mengerutkan keningnya kepadaku karena aku tak kunjung melangkah menuju meja Ami. Gadis itu adalah aku. Begitu polos dan penyendiri, juga misterius.
Aku mengalihkan pandanganku pada laki-laki yang berada di baris ketiga belakang. Semuanya ada 5 baris. Dia masih mengerutkan keningnya padaku. Dia mungkin bingung mengapa aku terus berdiri di depan kelas. Aku menuju kursi Ami yang berada di depan kursi laki-laki itu.
Dia... adalah sosok yang aku rindukan. Aku tidak menyangka bisa melihat wajahnya lagi. Aku bahkan hampir lupa dengan senyumnya karena aku tidak bisa melihatnya lagi di dunia nyata. Mataku sudah berkaca-kaca. Aku menunduk untuk menghapus air mataku sekilas dan berusaha menahannya. Aku tidak tahu apakah ini berkah untuk kembali ke masa lalu. Namun, aku ingin berterima kasih kepada Tuhan karena sudah memberikan kesempatan ini. Aku ternyata sangat merindukan laki-laki ini.
“Mau diri sampai kapan di sana?”tanyanya.
“Lupa duduk di mana?” lanjutnya.
Suara itu. Aku juga merindukan suara itu. Aku tidak menjawab pertanyaannya dan melangkah menuju tempat duduk Ami. Aku melihat ke arah Aira dan ia juga sedang menatapku. Apa yang sedang dipikirkannya saat ini?
“Udah sehat kau? Sakit apa?” tanyanya lagi.
“Pusing dan demam,” jawabku seadanya.
Aku ingin menyembunyikan getaran suaraku karena rasanya aku ingin menangis sekarang.
“Udah sehat belum?” tanyanya lagi.
“Udahlah. Kalau belum kan nggak masuk sekolah,” bentakku.
“Galaknyaa. Biasa aja jawabnya,” balasnya.
Aku pun diam. Dari tadi aku belum berani menatap wajahnya. Aku meletakkan kepalaku di atas meja. Aku harus bagaimana sekarang? Menatap wajahnya saja aku tidak bisa. Aku pasti akan menangis.
Kelas sudah mulai ramai. Teman-temanku sudah berdatangan. Mereka menanyakan apakah aku sudah sehat dan aku menjawabnya pendek. Sudah dan iya. Aku tidak ingin bersikap aneh, tetapi sepertinya aku sudah melakukannya. Aku biarkan saja gitu ya? Toh aku juga tidak akan selamanya di tempat ini? Menjadi diri sendiri mungkin lebih baik. Pemikiran itu terus berjalan-jalan di kepalaku. Tiba-tiba sebuah suara mengejutkanku.
“Ami! Alhamdulillah kau udah sehat.” Suara itu adalah milik Heri. Si narsis kelas sebelah yang selalu merasa semua cewek suka padanya. Mendengar suaranya tiba-tiba membuatku mual. Aku harus menghindarkan Ami dari orang ini. Cuek sajalah. Pura-pura tidak dengar.
“Kok nggak dijawab? Aku khawatir, say,” ucapnya dan sekarang berjalan menuju kursi Ami.
“ Kau nanya aku? Kirain yang lain. Udah udah. Udah sehat,” jawabku.
“Ini susu buat kamu biar makin sehat. Bye...,” ucapnya dan pergi meninggalkan kelas.
Rasanya ingin aku ingin balas dengan umpatan saja. Dia sebenarnya cukup tampan. Warna kulit yang kecoklatan dengan tinggi 175 cm. Rambutnya hitam lebat disisir ke samping. Matanya bulat dan alis matanya tebal. Hidungnya juga mancung dan terdapat belahan di dagunya. Badannya juga tegap. Andai saja tingkahnya tidak seperti itu pasti banyak cewek yang suka. Dia terlihat lebih baik jika sedang tidak melakukan apa-apa.
“Hahahaha”
Aku tahu siapa yang tertawa. Senang sekali sepertinya melihat aku menderita. Ami maksudnya. “Senang kali sepertinya anda,” kataku sambil menatapnya sinis yang terus tertawa.
“Manis kali bah si Heri. Dikasih susu biar makin sehat,” balasnya dengan sisa-sisa ketawanya.
“Minum nih susu,” kataku sambil meletakkan susu itu di atas mejanya.
“Nggak ah. Samamu aja.”
“Takut ada peletnya.”
Dia tertawa semakin keras. “Terus kalau ada, jadi akulah yang suka samanya.”
“Biarin. Kan cocok,” balasku.
“Jijik.”
“Sama.”
“Aku masih suka sama cewek, loh,” katanya sambil meminum susu yang dikasih Heri.
“Katanya jijik tapi tetap diminum,” ucapku dengan raut wajah mengejek.
“Mubazir. Udah baca doa dulu tadi sebelum diminum.”
Aku tertawa kecil mendengar jawabannya. Sudah lama tidak bercengkarama seperti ini dengannya.
“Dia juga dapat susu kotak itu,” ucapnya.
Aku melihat arah pandangannya. Aira juga mendapatkan susu kotak. Ia masih asyik membaca novelnya.
“Yakin sahabatan? Setiap hari dikasih susu kotak,”lanjutnya.
“Siapa yang ngasih?” tanyaku.
“Siapa lagi? Disini sahabatnya Aira siapa?”
“May”
“Selain itu?”
“Malik”
“Yap”
Aku terdiam dan memutar memoriku kembali. Aku dan Malik memang bersahabat. Malik selalu memberikanku susu kotak karena ayahnya bekerja di pabrik susu. Awalnya dia juga memberikannya pada May, tetapi May tidak suka susu. Malik juga tidak terlalu suka susu. Sedangkan, aku sangat suka susu. Jadilah, dia selalu membawakanku susu karena banyak stok di rumahnya. Bukan berarti Malik suka padaku. Kami pure sahabat bahkan sampai lulus sekolah dan bahkan sampai dia pergi. Ahh, aku juga rindu sahabatku itu.
“Mereka sahabat lah. Malik juga temanan sama si May,” kataku.
“Tidak ada namanya sahabat antara laki-laki dan perempuan,” ucapnya sambil menatap mata Ami. Kalau sudah seperti ini. Dia pasti serius.
“Kenapa tak ada? Kau sahabatan sama Ami,” balasku sambil menatap matanya.
“Kau. Kau kan Ami.”
Ah iya. Aku adalah Ami sekarang. “Iya. Kau kan sahabatan samaku. Jangan bilang kau suka samaku?”tanyaku. Sebenarnya, aku takut dengan jawaban yang akan aku dengar. Bagaimana kalau dia menjawab ‘iya’?
“Ya nggaklah. Kau kan tau siapa yang kusuka,” jawabnya.
“Siapa?” tanyaku.
“Harus diulang lagi? Masa kau lupa?”
“Iya. Lupa. Siapa emangnya?”
“Kau ini aneh hari ini.”
Gawat. “Aneh gimana? Biasa aja pun.”
__ADS_1
“Biasanya, kau pasti godain aku pake nama cewek yang aku suka itu. Hampir setiap hari. Hari ini tidak. Kau biasanya tidak menatap mataku kalau aku bicara serius, tetapi hari ini kau tatap mataku. Kau juga biasanya tidak bisa diajak bercanda, tetapi hari ini kau balas candaanku,”jelasnya panjang.
“Itu karena aku udah nyaman samamu,”balasku berusaha setenang mungkin agar kecurigaannya tidak bertambah. Anak ini memang selalu teliti dan peka.
“Alah. Selama ini nggak rupanya? Jangan-jangan...”
Mukaku sepertinya sudah pucat sekarang. Jantungku juga berdetak lebih cepat. Mataku menghindar matanya. Aku pasti ketahuan ini.
“Apa?” bentakku.
“Kan kan kan. Kau juga membentakku sekarang. Kau salah minum obat ya?”
“Nggak.”
“Kau masih sakit kayaknya.”
“I’m fine.”
“Nggak. Kau nggak sehat. Sejak kapan kau pake bahasa Inggris? Kau kan paling nggak suka bahasa Inggris,”tanyanya. Dia menutup mulutnya tidak percaya karena aku memakai bahasa Inggris.
Duh Raraaa. Kalau gini dia pasti makin curiga. Kan Ami nggak suka bahasa Inggris sama sekali.
“Nggak suka bukan berarti nggak bisa. Kalau dasar aku masih bisa kali,”balasku.
“Nggak usah berlipat gitu mukanya. Ntar si Heri nggak suka.”
“Bagus lah”
“Tapi aku lebih suka kau yang kayak gini sih. Jujur dan nggak jaim.”
“Maksudnya selama ini aku munafik?”
“Iya.”
Brengsek bener nih si Putra. Diperhalus gitu bisa kali.
“Kalau suka bilang suka. Kalau nggak bilang nggak. Jangan pura-pura. Selama ini kan kau nggak suka sama sikap si Heri, tetapi kau pura-pura biasa saja. Padahal kau ingin menghindar. Alasannya takut buat orang sakit hati. Padahal dia kayaknya bakalan biasa juga kalau kau cuek,”lanjutnya dengan nada menasehati.
“Ntar kalau aku berubah jadi jujur, kau suka lagi?” tanyaku usil.
“Nggak akan. Kau yang suka samaku sih mungkin. Tapi jangan. Kau akan sakit hati,” balasnya sambil mengambil buku gambarnya.
“Ishh. Yakin kali kau.”
“Iyalah. Aku cuman suka sama cewek yang lagi baca novel itu,”ucapnya sambil melanjutkan sketsa rumah di buku gambarnya itu.
Aku mengalihkan pandanganku ke sekeliling kelas melihat siapa yang sedang membaca novel sekarang. May? Atau aku? May juga sedang membaca novel sekarang. Aira juga membaca novel, tetapi aku sedang menatap langit dari jendela yang di sampingnya sekarang. Siapa sebenarnya yang dia maksud?
*****
Waktunya jam istirahat sekolah. Aku dan Putra pergi ke cafe sekolah. Setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis, sekolah memberikan jus, bubur nasi, dan bubur kacang hijau kepada siswa. Hari ini menunya adalah jus. Sebenarnya, aku malas untuk pergi ke cafe. Aku takut bertemu dengan penggemar-penggemarnya Ami, tetapi Putra memintaku untuk menemaninya. Aku juga lapar. Kalau terus ditahan, aku bisa-bisa pingsan di sekolah. Jadilah, aku pergi ke cafe bersamanya. Biarkan sajalah orang lain curiga.
Selagi menunggu jus, banyak teman-teman seangkatan kami dan kakak-kakak kelas yang menatapnya. Ada juga yang pura-pura berbicara keras dan manja untuk mengalihkan perhatiannya. Dia mungkin tidak sadar atau terlalu cuek? Dia memang populer di sekolah. Dia memiliki kulit kecoklatan dan rambutnya selalu disisir rapi. Matanya tajam dan tidak terlalu besar membuatnya terlihat dingin. Senyumnya indah sekali membuat kesan dingin tersebut hilang. Aku sangat menyukai senyum itu. Dia orang yang ramah dan suka bergaul. Hidungnya tidak terlalu mancung, tetapi cocok dengan fitur wajahnya yang tirus. Alis matany lebat seperti ulat bulu membuatnya terlihat seperti seseorang yang bijaksana dan pemimpin. Ia memang bisa memimpin. Ia bahkan sudah dijadikan sebagai calon pradana waktu itu. Padahal ia masih kelas X.
Ia sangat menyukai kegiatan-kegiatan di pramuka, seperti mendaki gunung dan camping. Tak heran jika kulitnya menjadi kecoklatan. Tingginya sekitar 175 cm. Dia sempurna. Hanya satu kekurangannya. Dia tidak suka belajar Sains, tetapi dia bisa. Dia sangat suka menggambar, khususnya rumah. Dia pernah memberikan salah satu hasil sketsa rumahnya padaku dulu.
“Bengong aja terus,”katanya sambil menjentikkan jarinya di depan wajahku.
“Maaf, maaf,”balasku sambil memfokuskan pandanganku ke jus yang sedang dibuat. Lama sekali.
“Nggak ada. Aku cuman ngantuk karena minum obat,”elakku sambil menerima jus yang diberikan bu kantin.
“Mau duduk di mana?” tanyanya.
“Di sana aja. Bareng Aira dan Malik,” jawabku. Aku rindu sekali dengan sahabatku itu. Dulu aku sering ke cafe atau kantin bersama Malik. Terkadang, kami juga pulang sekolah bersama-sama dulu. Putra tidak menolak dan berjalan ke arah Aira dan Malik.
”Berdua aja? May kemana?” tanya Putra sambil duduk di depan Aira.
“Puasa,” jawab Aira sambil memakan soto. Aku memang paling suka dengan soto di cafe ini. Aku juga ingin makan soto.
Putra tidak membalasnya lagi. Dia malah sibuk dengan jusnya sambil sesekali memperhatikan Aira yang memakan soto dengan lahap. Dia... tersenyum? Atau aku yang salah lihat?
“Pelan-pelan saja. Nggak akan ada yang makan juga,”ucap Putra sambil tersenyum.
“Hehe. Enak soalnya,” balas Aira. Ia terus menyeruput kuah sotonya.
“Udah sering makan itu, tetapi masih enak juga?” tanya Putra sambil memberikan tisu pada Aira.
“Umm,” gumam Aira mengiyakan pertanyaan Putra.
Putra merapikan poni rambut Aira yang sedikit berantakan seolah-olah itu sudah biasa ia lakukan. Aira juga tidak menolak dan membiarkan saja Putra merapikan rambutnya. Aku yang melihatnya pun terdiam.
Aku melihat kejadian yang biasa terjadi dulu padaku dengan sudut pandang orang ketiga. Dulu aku heran mengapa teman-teman satu angkatanku mengira kami sepasang kekasih. Aku pernah bertemu dengan salah satu teman pramukanya setelah lulus SMA. Aku terkejut karena ia banyak tahu tentangku, sampai aktor Korea favoritku waktu SMA pun dia tahu. Katanya, Putra yang memberitahunya dan bertanya alasan kami bisa putus. Padahal aku tidak berpacaran dengan Putra. Sekarang aku mengerti. Aku dan Putra sangat terlalu akrab untuk bisa dikatakan berteman. Dan aku masih berpikir kami tidak terlalu akrab dulu?
“Kau sakit apa kemarin, Mi?” tanya Malik.
Aku tidak menjawab. Aku masih mencoba menarik kesimpulan tentang potongan-potongan memori yang terjadi dulu.
“Bengong lagi kan kau,”kata Putra.
“Eh, kenapa kenapa?” tanyaku.
“Kau sakit apa?” tanya Malik.
“Pusing dan demam aja kok,” jawabku.
“Eh, kau lagi nggak sakit perut kan?” tanyaku pada Malik.
“Nggak. Kenapa?” tanyanya balik.
“Kemaren sakit?” tanyaku lagi.
“Nggak,” jawabnya.
“Pagi tadi ke kamar mandi?”
“Iya. Tapi nggak sakit perut.”
“Terus tadi sarapan apa?”
“Nasi dan sambal ikan.”
“Jangan sering-sering makan pedas ya. Makan mie juga nggak boleh sering-sering.”
__ADS_1
“Loh, kenapa?” tanya Malik heran.
“Pokoknya nggak boleh. Kalau kau ngerasa sakit perut, cepat berobat ya. Harus berobat pokoknya. Jangan ditahan. Itu bukan maag. OK?” Aku tidak sadar kalau aku berbicara terlalu cepat. Raut wajahku juga sangat khawatir. Aku melihat mereka bertiga memandangku penasaran. Aku tahu mereka akan menanyakanku banyak hal. Ami kan tidak pernah sekhawatir ini dengan Malik dulu. Saat ini, Ami dan Malik juga tidak dekat.
“Kau kenapa, Mi? Mukamu khawatir kali loh,” tanya Aira.
“Itu karena si Malik suka ngeluh sakit perut,” jawabku berusaha senormal mungkin.
“Aku nggak pernah ngeluh sakit perut pun,” elak Malik.
“Oh iya? Aku mimpi kali ya atau halusinasi gitu,”ucapku. Aku sudah tidak mampu memikirkan alasan yang lebih logis.
“Biarin aja. Hari ini memang aneh si Ami ini. Bengong terus dan cerewet. Udah sama kayak si Aira cerewetnya,”ucap Putra.
“Kapan aku cerewet?”elak Aira tidak menerima tuduhan Putra.
“Kau emang cerewet. Tiap hari ngomel.”
“Nggak ya. Kau yang cerewet.”
“Kau,” ucap Putra tidak mau kalah.
“Kau,” balas Aira.
“Kau”
“Kau”
“Udahlah. Kalian dua saama-sama cerewet. Nggak akan ada habisnya ini nanti,” lerai Malik.
Aira dan Putra mengentikan pertikaian mereka, tetapi masih saling menuduh tanpa suara. Mereka berdebat, tetapi tidak ada rasa benci di situ. Yang aku lihat adalah rasa nyaman satu sama lain. Aku kembali terpaku melihat kedekatan mereka. Apa aku memang sedekat ini dengannya dulu? Aku selalu berpikiran bahwa aku dan Putra tidak dekat. Dia lebih dekat dengan Ami dan May dibandingkan aku. Aku melihatnya seperti itu. Akan tetapi sekarang, aku baru menyadari aku juga dekat dengannya. Dekat sekali.
“Mau jus lagi, Ra?” tanya Putra.
“Nggak” jawabku dan Aira secara bersamaan.
“Kirain bakalan nanya aku juga,”elakku cepat. Aku sedang memperbaiki keanehanku yang semakin lama semakin terlihat jelas saat ini. Kenapa juga harus aku jawab? Aku sekarang Ami bukan Aira.
“Kau kasih roti bakar ya semalam ke May?”tanya Aira ke Putra.
“Iya. Tau dari mana?” tanyanya balik. Wajah Putra sedikit tidak nyaman dengan pembicaraan ini.
“Tau dari dia lah,”jawab Aira. Tidak terlihat sama sekali rasa cemburu di wajahnya. Tetapi aku tahu, Aira sangat pintar dalam menyembunyikan rasa sakit, cemburu, dan bahagianya.
“Curhat?”
“Iya.”
“Semalam dia sms katanya lagi nggak enak badan dan pengen makan roti bakar. Aku juga nggak enak nolak apalagi rumahku juga nggak terlalu jauh dari indekosnya. Makanya, aku beliin aja,”jelasnya. Dia sangat berusaha membuatnya sejelas mungkin. Supaya Aira tidak salah paham?
“Nggak nanya juga huu. Mau sampai kapan PDKT terus. Kalau suka bilang suka terus tembak,”saran Aira.
“Kirain bakalan cemburu. Susah ya ternyata,”ucap Putra lirih. Dia seperti ingin menghindari topik ini dan tidak ingin membalas saran yang diberikan Aira.
“Hah? Cemburu kenapa?” tanya Aira.
“
Udahlah. Kacang arab nggak akan ngerti,”ucap Putra menyerah.
“Udah berapa kali kubilang jangan panggil aku kacang arab,”ucap Aira kesal. Aku ingat. Putra memang selalu memanggilku kacang arab dan aku sama sekali tidak tahu alasannya sampai sekarang.
“Lucu kok. Kan unik kedengarannya. Nggak ada loh nama panggilan orang kacang arab.”
“Aneh tau.”
“Kau juga manggil aku ‘begu’ (setan).”
“Itu karena kau yang mulai. Pokoknya ganti.”
“Ya udah. ‘Sayang’ gimana?”
Aku yang sedang meminum jus pun terbatuk-batuk mendengar ucapan Putra. Nih anak kayaknya udah stres. Bercandaannya nggak lucu sama sekali. Emang dia dulu pernah bercanda kayak gini? Kok aku nggak ingat sama sekali? Lama-lama Putra sama saja sama Heri.
“Lanjutkan, lanjutkan aja berantemnya,”ucapku. Aku mendengar kekehan dari Malik. Dia sepertinya sudah biasa melihat mereka adu argumen seperti ini. Dia tetap santai sambil memakan gorengannya.
“Ke May tapi ya?” ucap Aira.
“Mau sampe kapan jadi mak comblang teruuuss?” Itu bukan pertanyaan, tetapi seperti pernyataan untuk mengungkapkan kekesalan karena Aira selalu menjodohkan Putra dan May. Iya sih. Aku memang sering menjodohkan Putra dan May. Aku hanya ingin membantu May saja sebenarnya karena ia sangat menyukai Putra.
“Sampai ditembak,”balas Aira tanpa merasa terbebani sama sekali. Wajahnya tersenyum jail. Tidak menyadari bahwa ia juga bisa jatuh cinta dengan Putra nantinya jika ia terus menjodohkan mereka.
Putra terdiam. Aku melihat wajahnya. Ia seperti ingin mengungkapkan sesuatu, tetapi ia juga ragu. Ntah apa yang membuatnya ragu. Ia mengepalkan tangan kirinya yang berada di pahanya. Ia seperti menahan dirinya untuk tidak mengatakan sesuatu.
“Kalau aku bilang aku ngga suka, gimana?” tanya Putra sambil menatap mata Aira. Aku tahu ia sedang serius sekarang.
Aira membalas menatap matanya. “Nggak suka apa?”
Putra masih menatap mata Aira beberapa saat, lalu menundukkan kepalanya.
“Udahlah. Ayo ke kelas. Bentar lagi masuk.”
Putra bangkit dari kursinya dan pergi terlebih dahulu. Ia sedang menahan sesuatu. Aku tahu itu. Ia ingin mengungkapkan sesuatu, tetapi ia takut. Dan itu ada hubungannya denganku atau May. Aku menjadi merasa bersalah karena tidak bisa memahami perasaannya saat itu. Harusnya aku lebih pengertian dan berhenti menjodohkannya dengan May. Harusnya aku memang tidak ikut campur. Aku memang tidak bisa mengubah takdir kembali. Aku juga tidak tahu alasan aku kembali ke masa lalu. Namun, aku tahu, aku tidak akan mengubah apapun. Putra akan tetap meninggalkan kami.
“Selalu kayak gitu. Nggak pernah jelas kalau ngomong,” keluh Aira.
“Ayo ke kelas,” ajak Malik.
Aku, Aira, dan Malik pergi meninggalkan cafe. Malik dan Aira berjalan di depanku. Aku dan Malik juga dekat. Kenapa tidak ada yang beranggapan kami sepasang kekasih dulu? Malik juga tidak punya pacar bahkan sampai lulus SMA. Padahal aku merasa aku lebih dekat dengan Malik daripada Putra. Mereka berdua sama-sama sahabatku. Ini masih hari pertama di sekolah dan sudah cukup membuatku sakit kepala. Mencoba menarik kesimpulan, tetapi hasilnya menjadi dugaan-dugaanku saja. Ada apa sebenarnya di antara kami?
Aku, Aira, dan Malik memasuki kelas. Putra dan May sedang mengobrol. Tepatnya May mengunjungi meja Putra dan mengobrol. Aira melihat mereka. Aku melihat mata Putra mengikuti Aira sampai ia duduk di kursinya. Ia menghela nafasnya.
Itulah yang membuatku yakin Putra menyukai May dulu, begitu juga sebaliknya. Karena aku muncul di saat aku melihat mereka selalu berdua dan mengobrol. Obrolan mereka terlihat seru dan mereka terlihat senang dan nyaman. Itu yang membuatku menarik kesimpulan aku harus menyatukan mereka. Namun sekarang, setelah aku melihatnya dari sudut pandang orang lain, Putra sebenarnya khawatir. Ia memang merasa nyaman, tetapi terlihat berbeda. Dia tidak menunjukkan dirinya.
May berhenti mengobrol ketika melihatku (Ami) berjalan ke arah mejaku. Ia pun kembali ke mejanya. Aku mengambil buku bahasa Inggrisku dan buku tulis kosong. Aku ingin menuliskan apa yang aku alami hari ini. Aku takut aku akan lupa jika aku kembali ke masa depan.
Putra menendang kursiku dari belakang. Aku memasang raut wajah marah dan kesal. “Kenapa??”
“Dia nggak akan cemburu, kan? Dia kayaknya nggak akan pernah cemburu,”ucap Putra dengan raut wajah sedih.
“Siapa sih?” tanyaku kesal. Kenapa nih anak nggak nyebut merek aja sih siapa orangnya? Jadi tambah bingung nih.
Jawaban Putra pun tertunda karena Bu Nita sudah masuk ke kelas. Ahh Bu Nita. Beliau adalah guru kesukaanku di sekolah. Beliau cantik, baik, dan pintar. Aku juga dekat dengan beliau dulu. Disamping itu, aku juga sangat menyukai pelajaran bahasa Inggris. Kenapa? Karena aku bercita-cita untuk mempunyai suami orang luar. Aku juga bercita-cita untuk sekolah di luar negeri. Sayang, dua-duanya belum tercapai.
__ADS_1
“Bahasa Inggris, bahasa Inggris. Kesukaannya si Aira,” ucap Putra lirih tapi aku bisa mendengarnya.
Aku terdiam dan memproses apa yang aku dengar. Dia tahu. Dia tahu aku suka pelajaran bahasa Inggris. Aku kira dia tidak pernah tahu apa yang aku suka karena dia tidak pernah mengatakannya langsung dulu. Dia ternyata tahu. Dan kenapa diam saja? Aku merasa aku sebenarnya tidak mengenalnya. Kenapa dia memiliki banyak sekali rahasia?