
Renjana Alcatraz
Jakarta, Juli 2015
Arez memaksaku bertemu di sebuah kafe tak jauh dari kampusnya tempat biasa kami bertemu, jika aku di sekitar daerah Grogol. Ada hal penting yang harus dibicarakan, begitu pesannya lewat chat yang ia kirim. Kayaknya gue lagi jatuh cinta deh Bang. Sama temen serumah gue. Makanya, plis kita ketemu ya. Tulisnya lagi menyusul pesan yang belum sempat kubalas.
Lewat telepon atau VC nggak bisa emang? Gue ada tugas yang mesti kelar malem ini, Boy. Balasku menawar ajakan Arez.
Namun ia begitu antusias saat bercerita tentang teman perempuan yang tinggal serumah dengannya dan tetap bersikeras tidak mau menceritakannya lewat telepon. Arez tetap memaksaku untuk bertemu, meski sudah kubilang padanya jika ada hal yang harus kukerjakan. Sialnya aku selalu tak bisa menolak permintaan lelaki itu. Apalagi jika ia sudah memasang wajah sok imut yang membuatku ingin sekali memukul kepalanya.
Saat itu aku belum tahu apa yang menyebabkan Arez sakit. Ia tak bercerita padaku meski lelaki itu sudah tahu jika ada kelainan dengan jantungku. Tak adil bukan? Namun aku tak bisa memaksanya untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Toh aku mengiyakan saja ketika ia menebak apakah ada yang tidak beres dengan jantungku di awal pertemuan kami.
Lelaki itu sudah duduk di salah satu kursi di lantai dua saat aku sampai. Di depannya terhidang creamy truffle mushroom fettuccine - salah satu yang menjadi hidangan favorit Arez saat kami nongkrong di sini - yang sudah tersisa separuh. Sedangkan secangkir kopi dengan sedikit creamer yang biasa ia pesan sesuai takarannya sendiri, diganti dengan secangkir teh beraroma chamomile. Wajahnya berbinar saat melihatku datang.
"Jadi apa yang mau kau ceritakan wahai Tuan Muda, sampai memaksa hamba datang ke mari?" tanyaku sambil membungkuk seolah memberi hormat pada orang penting. Arez tertawa terbahak melihat sikapku.
"Apaan sih lo, Bang. Norak banget."
"Permintaan lo udah kayak Putra Mahkota tau nggak."
"Hahaha... Sori deh Bang. Soalnya ini penting banget. Menyangkut masa depan dunia."
"Mau jadi pahlawan lo?"
"Bukan, tapi mati untuk berguna."
"Ini kenapa bahas mati sih? Bukannya kamu mau cerita tentang... siapa namanya, teman satu kontrakan lo?"
"Bang, ini lebih penting. Sebelum gue cerita tentang Kanya."
__ADS_1
"Bahas lainnya lah, jangan ngomong soal kematian sama gue. Atau lo mau denger cerita gue. Hari ini gue ngalamin kejadian lucu..."
Kalimatku terhenti. Senyum yang semula kupertahankan agar Arez menganti topik pembahasan tak lagi berpengaruh.
Aku menghela napas. Terasa sesak. Dari semua pembahasan, aku paling benci mendengar apa pun itu tentang kematian. Seperti halnya diriku yang selalu khawatir dan ketakutan setiap kali menjelang tidur. Masihkah ada hari esok? Masihkah ada kesempatan membuka mata dan menyapa matahari pagi? Kalaupun tidak, apakah ada peristiwa yang membuatku mati mendadak?
Sungguh, dari semua kemungkinan itu, tak ada satu pun yang kusuka. Termasuk ketika Tuhan memanggilku kembali saat beribadah sekalipun. Tetap saja, mati membuatku selalu takut dan aku benci jika harus membahasnya. Seolah terlihat begitu putus asa. Yah, walaupun kematian itu pasti terjadi.
Kupandangi raut serius Arez saat mengucapkan kalimat itu. Tak ada senyum jahil yang sering menghiasi wajahnya. Bahkan kedua matanya seolah mengatakan "aku serius Bang!".
"Harus banget kita bahas ya? Ini malam minggu dan lo ngajak gue ketemu mau bahas soal kematian. Apa kita seputus asa itu perkara mati?"
"Gue hanya mempersiapkan diri kalau sampai hal buruk terjadi. Sekalipun nggak sekarang, mungkin di masa depan."
Lagi-lagi aku menghela napas. Kuperhatikan wajah Arez yang masih menunjukkan keseriusan. Lantas memandangi lalu-lalang kendaraan yang semakin ruwet di jalan depan kafe tempat kami bertemu. Waktu sudah menjelang mahgrib. Volume kendaraan pasti akan meningkat dua kali lipat.
Refleks aku menoleh ke arah Arez yang seolah tanpa beban ketika mengucapkan kalimat itu. Ia bahkan terlihat semakin serius yang membuatku yakin jika tidak salah mendengar ucapannya. Aku bahkan tak tahu harus memberi tanggapan seperti apa. Haruskah marah atau sedih.
Aku kehilangan kata. Wajah Arez semakin tampak serius menatapku.
Memang selama ini aku sudah menunggu pendonor yang cocok dengan tubuhku. Serangkaian tes sudah berkali-kali dilakukan setiap kali ada orang yang mendonorkan organnya. Namun belum ada satu pun yang cocok. Bahkan hampir setengah hidupku kugunakan menanti jika suatu saat ada seseorang yang memiliki kecocokan dengan jantungku. Terkadang aku pun semakin putus asa ketika menjalani serangkaian tes, tapi hasilnya tetap nihil.
Mengetahui fakta bahwa Arez berniat mendonorkan jantungku, entah mengapa membuatku merasa keberatan. Aku tidak berharap lelaki itu mendonorkan jantungnya padaku. Aku justru mengharapkan kesembuhannya. Jauh dari dalam lubuk hatiku, aku ingin Arez mewujudkan semua cita-citanya.
"Rez..."
"Gue nggak mau denger bantahan lo ya, Bang. Gue udah mikirin ini jauh-jauh hari. Lagian gue udah 20 tahun dan berhak mengambil keputusan buat diri gue sendiri."
"Ya lantas bukan berarti lo gegabah ambil keputusan, Rez."
__ADS_1
"Ini udah lama gue pikirin, Bang. Sejak gue kecelakaan dan mengalami cedera otak yang cukup parah. Mungkin gue sekarang keliatan baik-baik aja, tapi ada bom waktu dalam kepala gue yang siap meledak kapan aja. Gue nggak ada harapan hidup lebih lama. Kondisi gue bukan semakin baik, justru makin memburuk. Terapi yang gue jalani selama ini cuma memperlambat kematian, bukan menyembuhkan."
Arez tampak menahan gejolak emosi di balik dadanya. Sejak mengenal lelaki itu, aku sama sekali tidak tahu apa yang membuatnya sering bolak-balik ke rumah sakit. Ia sama sekali tak pernah bercerita. Sekali bercerita ia memutuskan hal yang tak mudah kuterima begitu saja. Bahkan saat kami sempat dirawat bersamaan secara tak sengaja akhir tahun lalu pun, aku tetap tak mengetahui apa yang menyebabkan penyakit Arez.
"Tetep aja lo nggak bisa ambil keputusan ini semudah itu, Rez."
"Kematian bisa kapan aja datang tanpa permisi. Gue lebih berisiko mati batang otak daripada lo. Lo tahu, Tuhan sesayang itu sama lo. Sekalipun lo harus bertahan dengan kondisi tubuh yang lemah, setidaknya Dia masih kasih kesempatan lo hidup sampai sejauh ini."
"Lo nggak pernah bisa menebak takdir, Rez."
"Tapi gue bisa menyiapkan apa yang kemungkinan terjadi. Toh kita sama-sama nggak tahu siapa yang bakal mati lebih dulu 'kan?" tanya Arez dengan mengulas senyum di bibirnya.
"Gue nggak bisa. Sori. Gue kenal sama lo dan mau jadi akrab bukan karena pengen manfaatin keadaan lo."
"Bang, ini gue yang mau."
"Rez, lo..." Aku menghela napas panjang sebelum melanjutkan kalimatku. "Lo masih punya orang tua yang harus tahu keputusan lo. Lo nggak bisa seenaknya ngambil keputusan, sekalipun itu untuk diri lo sendiri."
"Justru gue ambil keputusan ini karena mikirin mereka, Bang. Gue lahir sebagai anak tunggal. Lo bisa bayangin 'kan, gimana sedihnya mereka kalau gue suatu saat ninggalin mereka. Gue pengen mereka tetap memiliki anak-anak lain yang terhubung melalui jantung, ginjal, atau bahkan bagian organ gue yang lain," kata Arez semakin membuatku merasa tertampar.
Sisi sensitifku sebagai manusia tak mampu kupertahankan. Air mata diam-diam mengumpal di ujung mataku. Jika aku berada diposisinya sanggupkah aku melakukan hal yang sama? Bahkan hubunganku dengan ayah tak juga membaik setelah aku membangkak dan memutuskan hidup mandiri di Jakarta. Padahal aku tahu pasti, lelaki yang mengabdikan separuh hidupnya dengan berprofesi sebagai kepala polisi itu, tak ingin kehilangan anaknya untuk kedua kali.
"Beri gue waktu buat pikirin permintaan lo, Rez. Jujur ini bukan sesuatu yang mudah. Oke, gue berharap ada yang mau mendonorkan jantungnya buat gue, tapi orang itu nggak harus lo juga. Gue..." Aku menjeda kalimat. Ada yang nyeri di balik dadaku. "...gue udah anggep lo kayak adek. Gimana bisa justru adek yang berjuang buat kakaknya. Gue udah pernah kehilangan Adhyaksa. Gue nggak tahu kalau harus kehilangan lo juga."
"Bang, gue idup di dalam diri lo. Gue nggak bakal ke mana-mana kok. Ya, lo harus terima tawaran gue. Lagian ini nggak gratis, Bang. Ada banyak tanggung jawab yang harus lo pikul selama jantung gue masih berdetak dalam tubuh lo."
Kupandangi wajah Arez yang tak tampak bercanda sedikit pun. Hari itu aku berharap semua pembicaraanku dengan Arez hanyalah candaan untuk memperingati 1 April. Heh, tapi apakah hal semacam itu pantas dianggap candaan?
Sepanjang malam, aku memikirkan kalimat Arez. Hingga satu minggu ke depan, ia terus menanyakan hal yang sama, apakah aku mau menerima tawaran lelaki itu. Aku hanya membaca semua pesan yang dia kirim tanpa berniat membalasnya.
__ADS_1