
Renjana Putra
Gawai di atas nakas samping tempat tidur Putra, terus berdering. Nama Sukma muncul di layar berukuran enam inchi itu. Sebermula, Putra tidak berniat mengangkat panggilan telepon dari ibu sambungnya. Wanita itu pasti bisa menebaknya jika Putra tidak sedang baik-baik saja hanya dengan mendengar suaranya. Untuk itu, Putra tidak berminat menjawab panggilan telepon Sukma. Perkara hal itu, entah mengapa intuisi ibu sambungnya lebih peka.
Pun jika telah terjadi sesuatu pada Kanya. Sukma sering kali tampak merenung di beranda rumah dan menyebut nama anak gadis semata wayangnya itu. Putra beberapa kali melihatnya saat pulang ke rumah Sukma atas permintaan Eka – papanya. Hanya saja, gengsi wanita itu cukup tinggi. Meski sebenarnya begitu rindu, ia hanya akan berkirim pesan singkat pada Kanya. Berharap anak perempuannya itu bakal membalas pesannya.
Dan, seperti yang Putra tahu, Kanya tidak pernah membalas semua pesan yang dikirimkan oleh ibunya. Mereka sama-sama keras kepala. Sama-sama memiliki gengsi yang tinggi untuk mengakui jika masih saling terikat dan membutuhkan. Sedangkan Putra terlalu malas berurusan dengan hal rumit yang bahkan ia sendiri pun belum tahu bagaimana cara menyelesaikannya.
Hingga pada suatu hari setelah momen perdamaiannya dengan Kanya, Sukma menelepon dan bercerita tentang banyak hal. Tentang bagaimana menyesalnya Sukma. Tentang bagaimana wanita itu merindukan anak semata wayangnya. Tentang bagaimana egoisnya dia dengan mendorong Kanya pergi dari rumah. Juga tentang begitu serakahnya dia sebab tidak bisa melepaskan Eka, sebagai syarat yang diajukan Kanya jika memang Sukma ingin anaknya pulang.
Untuk pertama kalinya, Putra mendengar dengan begitu tulus penyesalan seorang ibu yang telah dengan sadar melukai hati anaknya. Bahkan, ibu kandungnya sendiri pun tak pernah bertanya bagaimana kabarnya hingga saat ini. Namun, Putra sudah biasa menerima luka itu sejak kecil. Jadi, semua dianggapnya biasa saja. Berbeda dengan Kanya maupun Sukma. Meski hubungan keduanya memang sering kali diwarnai perdebatan, tetap saja mereka pernah saling mengisi dan melengkapi. Putra pernah menjadi saksi.
Bagaimana tidak, delapan tahun mereka sebagai pasangan kekasih. Banyak hal yang sudah mereka lalui bersama. Termasuk kebiasaan Sukma yang hanya menelepon Kanya saat benar-benar ada hal penting. Seperti ketika ayahnya sakit atau hal lain yang mendesak dan meminta Kanya pulang saat masa kuliah dulu. Selebihnya Sukma hanya akan berkirim pesan.
Mengingat kebiasaan wanita itu, membuat Putra berubah pikiran pada akhirnya. Apalagi kini dering telepon sudah berbunyi ketiga kalinya. Putra menekan tombol hijau di layar gawai dan mengatur suaranya sebaik mungkin agar terlihat sedang baik-baik saja.
"Putra, dari mana saja kamu? Papa telepon dari tadi malam nggak ada respon sama sekali."
__ADS_1
Laki-laki itu mengerutkan keningnya saat mendengar bukan Sukma yang berbicara dari seberang telepon, melainkan Eka. Tapi, mengapa Eka menggunakan nomor Sukma untuk meneleponnya? Pikiran Putra semakin tidak tenang. Sebelum papanya bertanya macam-macam mengenai mengapa ia tidak menjawab telepon dari semalam, Putra lebih dulu bertanya.
"Kenapa Papa telepon Putra pakai nomor, Mama Sukma? Mama Sukma nggak sedang kenapa-kenapa kan?"
"Kanya sudah cerita sama kamu?" Eka justru balik bertanya pada Putra. Sedang anak semata wayang laki-laki menjelang setengah baya itu tak sabar mendengar jawaban sang papa.
"Mana ada Putra tanya Papa, kalau Anya sudah kasih tahu. Sebenarnya ada apa sih, Pa? Nggak mungkin nggak ada apa-apa 'kan kalau Papa sampai telepon. Pakai nomor Mama Sukma pula."
Hening. Eka tak langsung menjawab pertanyaan anaknya. Hal itu membuat Putra semakin yakin jika ada hal yang tidak beres telah terjadi dan Eka bingung bagaimana cara menyampaikannya. Putra tahu betul kebiasaan papanya itu.
"Pa, plis. Kasih tahu, Putra. Percuma juga Papa diam saja, padahal Putra tahu pasti kalau ada hal yang nggak beres sudah terjadi. Iya 'kan?"
“Astaga Papa, kalau sudah tahu kondisi Mama Sukma sedang hamil kenapa masih dikasih izin membersihkan kamar atas sih. Bukannya ada Mbak Ratih? Terus gimana keadaan Mama Sukma saat ini?”
Lagi-lagi Eka menghela napas panjang. “Kamu yang paling tahu, kalau itu cuma alasan Mama Sukma biar bisa lama-lama di kamar Kanya, Putra. Bagaimana bisa Papa melarangnya? Sekarang kondisinya semakin menurun. Saat masih siuman tadi, Mama Sukma sempat bilang kalau ingin bayi dalam kandungannya diselamatkan jika memang hal buruk sampai terjadi padanya.”
Giliran Putra yang kini menghela napas panjang. Ternyata urusannya dengan Kanya lebih mudah diselesaikan ketimbang urusan ibu dan anak yang sama-sama keras kepala.
__ADS_1
“Papa sudah kasih tahu gimana keadaan Mama Sukma sama Anya?”
“Sudah. Papa minta Kanya pulang hari ini.”
“Anya bilang gimana?”
“Papa nggak tahu pasti, tapi sepertinya Kanya masih berat buat pulang. Putra, bisa tolong Papa buat bujuk Kanya pulang? Papa tidak berharap banyak, tapi setidaknya kalau Kanya mau pulang siapa tahu bisa mengubah keputusan Mama Sukma buat menyelamatkan bayi dalam kandungannya. Papa lebih baik kehilangan bayi kami dari pada harus kehilangan Mama Sukma, Putra. Papa nggak sanggup lagi melewati kehampaan hidup. Mama Sukma melengkapi Papa, Putra. Papa minta tolong, bujuk Kanya agar dia mau pulang. Papa minta tolong sama kamu, Putra.”
“Bakal Putra coba, Pa. Mudah-mudahan Araz bisa bantu dan bujuk Kanya pulang.”
“Araz?”
“Ada, pacar Kanya. Sedikit banyak dia sudah tahu keadaan Kanya sama Mama. Nanti Putra minta tolong sama dia buat bujuk Kanya pulang ya, Pa. Papa tenang saja. Semua pasti bakal baik-baik saja kok.”
“Iya, Putra. Papa benar-benar minta tolong sama kamu buat bujuk Kanya pulang.”
Suara Eka tenggelam oleh tangis. Laki-laki itu terisak. Sedang Putra tak sanggup melakukan hal lain selain membesarkan hati papanya. Sementara pikiran Putra masih tertuju pada Kanya. Hati perempuan itu lebih keras dari apa pun. Luka yang telah merajam hatinya membuat sikap hangat perempuan yang pernah ia cintai itu membeku. Ada hal-hal yang tak sanggup Putra sentuh setelah peristiwa yang mengubah kehidupan mereka. Kanya bukanlah lagi sosok yang ia kenal dulu, meski keduanya sudah saling bicara.
__ADS_1
Sekalipun, ada satu hal yang tidak pernah berubah. Bagaimanapun Kanya menyembunyikan luka itu, sesungguhnya dia bukalah seorang aktor yang baik. Sebisa mungkin dia terlihat baik-baik saja, tetapi dia tidak sanggup membohongi dirinya sendiri jika dia tidak setegar batuan karang. Justru Kanya adalah orang paling rapuh yang pernah dikenal Putra.