Pulang

Pulang
Merencanakan Pulang


__ADS_3

Renjana Alcatraz


Februari hampir purna, tetapi hujan masih kali kerap datang. Sejak pesta barbeque di halaman belakang sampai menjelang tengah hari, hujan seakan ditumpahkan dari langit. Bahkan hingga mendekati petang, hujan belum juga reda. Beruntung Nada Sumbang sudah pamit lebih dulu sebelum hujan turun. Jika tidak, mungkin mereka bakal gagal performance akibat terjebak hujan dan tidak jadi berangkat tour.


"Mas, mau cokelat panas?" tawar Kanya saat aku duduk di teras samping rumah. Menikmati rinai hujan yang belum ada tanda-tanda akan segera reda.


"Boleh,"


Sepertinya perempuan itu baru saja selesai mandi setelah hampir seharian bermain bersama Victor. Bayi laki-laki yang belum genap satu bulan itu, suka sekali tertawa jika melihat kakak perempuannya.


"Oke, aku buatkan dulu ya."


Kanya segera menghilang setelah mengucapkan kalimatnya. Di rumah ini, memang ada asisten rumah tangga yang membantu segala keperluan. Namun, meski begitu, semua hal yang bisa dilakukan sendiri tak akan dikerjakan oleh asisten rumah tangga. Mungkin oleh sebab itulah yang menjadikan Kanya begitu mandiri untuk keperluannya sendiri. Bahkan Tante Sukma juga lebih suka memasak sendiri di dapur ketimbang mengandalkan asisten rumah tangga.


Tak lama, Kanya kembali dengan dua gelas cokelat panas di tangannya. Perempuan itu ikut duduk di teras samping rumah yang menghubungkan langsung dengan taman.


"Hujan seharian bikin suasana jadi syahdu gini. Mas Araz nggak bosan?"


"Nggak sih. Gimana mau bosan kalau ditemani perempuan secantik kamu," kataku membuat Kanya memutar bola mata. Sepertinya rayuan mulai tak mempengaruhi perempuan itu.


"Jadi soal tawaran Mas Araz buat gabung di MediaPena. Kita belum bikin kesepakatan nih."


"Kamu mau bikin kesepakatan kayak gimana? Soal gaji, aku berani kasih kamu di atas tempat kerjamu yang sekarang. Tunjangan? Jangan khawatir, untuk urusan makan siang, kesehatan, BBM, hari raya, tahun baru, semua aman."


Kanya tertawa. Lembut. Begitu kontras dengan rinai hujan yang turun dengan lebatnya.


"Oke, deal kalau gitu."


"Deal." Aku mengulurkan tangan. Kami berjabat tangan guna kesepakatan telah disetujui satu sama lain. "Kita bisa langsung tanda tangan kontrak begitu sampai di Jakarta. Btw, Hanung juga sudah mengajukan surat pengunduran diri kamu di hari yang sama ketika dia memutuskan keluar."


"Apa? Kok Mas Hanung nggak ada bilang aku? Mas Araz juga kenapa baru bilang sih? Ih, kalian sengaja mempermainkan aku ya?"

__ADS_1


Aku tahu, reaksi Kanya pasti akan marah saat mendengar pengakuanku itu. Namun, aku sendiri pun lupa menyampaikan bagian terpentingnya saat menerima mandat agar merekrut Kanya dari Hanung.


"Sori, aku salah. Harusnya aku bilang dari awal, tapi aku benar-benar lupa soal ini. Karena ... yah, mungkin ini terdengar hanya mencari alasan. Aku benar-benar senang ketemu kamu dan ... aku lupa hal penting yang justru harus kusampaikan. Maaf sekali lagi."


Tawa Kanya justru semakin lebar saat mendengar pernyataan maafku.


"Nggak apa-apa lagi, Mas. Aku tadi cuma bercanda kok. Mas Hanung sebenarnya udah bilang sama aku kemarin. Cuma aku kesel aja sama kalian yang seenaknya sendiri ambil keputusan. Misal aku tolak tawaran kalian, aku bakal jadi pengangguran di negeri orang dong," ucap Kanya tak sepenuhnya membuat tawa itu reda. Dengan gemas aku mencubit pipi perempuan itu yang seketika membuatnya tersipu. "Mas Araz, plis deh. Aku bukan anak kecil loh. Bisa dicubit-cubit gemes gitu."


"Ya siapa suruh kamu gemesin. Jadi, kapan kita rencananya bakal pulang?"


"Pulang ke mana? Aku kan udah di rumah, Mas."


Kupandangi wajah Kanya yang kini jelas terlihat menggodaku. Aku meraih tangannya yang mulai berkeringat ketika sikapku tiba-tiba mulai berubah.


"Ke rumah kita, Kanya Gayatri. MediaPena selanjutnya akan menjadi rumah tempat kita pulang. Bukankah pulang bukan hanya perkara soal rumah? Bukankah rumah hanya bentuk fisiknya saja? Sedangkan kita bisa saja kan memaknai pulang dengan lebih luas dari sekadar bangunan saja?"


"Mas Araz bisa nggak, sehari aja tanpa bikin aku salting kayak gini?" tanya Kanya membuatku tersenyum di tengah momen yang serius kubicarakan dengannya. Memang sepertinya butuh waktu untuk membicarakan hal serius dengan perempuan itu.


Tawa Kanya berderai. Aku tahu ini berlebihan, tetapi melihatnya tertawa begitu lepas membuatku semakin ingin menjadikan lebih banyak tawa.


"Oke laki-laki flamboyan yang nggak bisa ditolak pesonanya, jadi kapan kita pulang?"


"Gimana kalau lusa? Kita bisa cari penerbangan hari ini untuk dua hari lagi. Setuju?"


"Yah, lebih cepat lebih baik sih. Aku rindu kamar apartemenku yang nyaman."


"Emang di sini nggak nyaman?"


"Ya nggak begitu juga, Mas. Beda aja rasanya. Di sana lebih merasa kalau itu tempatku."


"Kalau di sini?"

__ADS_1


Kanya tampak merenung sebelum menjawab pertanyaanku.


"Rumah yang penuh kehangatan. Rumah yang dituju ketika lelah, menyerah, dan ... entahlah. Mungkin tempat melabuhkan rindu."


Diam-diam aku bersyukur. Perempuan yang sebelumnya menolak ketika diminta pulang, kini telah menemukan sejatinya makna pulang.


Aku masih ingat, bagaimana Kanya berdebat dengan Almira dan Damar awal tahun lalu saat mereka memintanya pulang. Berbagai alasan yang mereka sampaikan seolah tak mampu menerobos benteng pertahanan yang dibangun oleh perempuan itu. Bahkan ketika Tante Sukma memintanya pulang pun, tak pernah dia hiraukan. Sampai suatu malam - hari di mana aku memukul Putra - perempuan itu mau menuruti kata ayah sambungnya. Dia rela pulang demi laki-laki yang pernah menjadi cinta pertamanya.


"Selamat ya Kanya, kamu udah bisa mengalahkan diri kamu sendiri. Mengalahkan keegoisan yang selama ini kamu pendam hingga menjadi dendam."


"Harusnya aku yang bilang makasih sama Mas Araz. Kalau saja hari itu Mas Araz nggak paksa aku buat pulang, entah apa yang bakal terjadi. Mungkin aku akan menyesal. Mas Araz yang udah menyadarkan aku pentingnya memaafkan. Terutama memaafkan diri sendiri yang itu justru bagian tersulitnya."


Ujung bibirku mengembang. Kugenggam lebih erat tangan Kanya yang kini menghangat dalam genggamanku.


"Kalau kamu nggak mau berjuang demi diri kamu sendiri, tentu aja semua yang aku lakuin nggak akan mengubah keadaan. Bagaimanapun kamu juga udah berjuang demi diri kamu sendiri."


Senyuman Kanya pun semakin lebar. Kami membicarakan banyak hal ditemani rinai hujan yang mulai memudar.


.


.


.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jadi, ini akan menjadi bab menjelang episode terakhir kisah Pulang.


Terima kasih buat kalian yang sudah mendukung dan membaca sampai sejauh ini. Semoga kalian diberkahi kebaikan. Mohon maaf kalau pada akhirnya ada kisah yang membuat kalian tidak puas atau semacamnya.


Sampai bertemu di kisah selanjutnya. Mungkin tentang Alcatraz Algol Sirius. Eh, nggak tahu juga ding, kita akan bertemu di kisah yang mana. 🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2