Pulang

Pulang
Jejakmu Pun Terhapus Hujan


__ADS_3

Renjana Kanya


Peresmian acara yang dihadiri oleh presiden berserta para menterinya sudah selesai sejak tiga jam yang lalu. Aku bahkan sudah mengirim naskah kepada kepala bagian editor dan kini menikmati waktu luang yang tersisa. Mumpung di Kota Kembang aku berencana sejenak melepaskan penat. Selain itu aku juga berencana mengunjungi alamat yang diberikan oleh Damar saat aku pulang. Jika kemarin Mas Hanung tak mengingatkanku soal urusan di Bandung, mungkin aku juga akan melupakan apabila masih memiliki tugas untuk memastikan bagaimana kabar Arez.


Namun sebelum aku beranjak dari kedai kopi yang kutemukan secara random, gawaiku berdering. Menunjukkan nama Mas Hanung di layar enam inchi itu. Ada apalagi lelaki itu meneleponku? Sudah sejak semalam ia menerorku dengan berbagai macam hal yang tak boleh aku lewatkan. Mulai mengingatkan pertanyaan receh hingga berbobot yang tentu sudah kusiapkan sebelumnya. Ia bahkan sudah membaca draft pertanyaan yang kukirimkan.


Padahal, ini bukan tugas pertamaku meliput kegiatan presiden. Heran, dia bisa sebegitu tidak percayanya pada anak buah. Meski di lain sisi dia begitu mengandalkan timnya. Tetap saja ia akan dengan galak mengingatkan ini itu dan lain hal.


"Halo, ada apa, Mas?" sapaku sebelum Mas Hanung memberikan ceramah yang tak bisa dipastikan kapan berakhir, jika ia diberi kesempatan berbicara lebih dulu.


"Di mana lo sekarang?"


"Kedai kopi, deket hotel. Abis kirim naskah. Ada apa sih?"


"Belum ke tempat Araz?" pertanyaan Mas Hanung membuatku mengerutkan kening.


"Lah, siapa yang mau ketemu Araz, Mas?"


"Jadi lo bukan mau ketemu Araz? Trus kemarin waktu kita ngobrol, lo kayak happy banget waktu gue ingetin kali aja lo ada keperluan di Bandung?"


"Dih, gimana sih? Emang dari awal gue bilang kalau mau ketemu Araz? 'Kan nggak? Mas Hanung aja yang seenaknya nyimpulin gue mau ke mana. Lagian gue mau ketemu temen, bukan Araz."

__ADS_1


Ngapain gue mesti ketemu orang sengaja ngilang tanpa pamit? Lagian siapa gue sampai cari dia di mana? Lagian bisa-bisanya Mas Hanung mikir kalau gue bakal ketemu Araz? umpatku dalam hati.


"Sekalian deh Nya, mumpung lo di sana. Ketemu Araz gih. Nanti gue kirim alamatnya." Mas Hanung masih memaksa sebelum mengakhiri sambungan telepon. Tak lama lelaki itu mengirimkan sebuah pesan melalui layanan chatting.


"Niat banget sih ni orang," kataku menggerutu.


Seribu kali pun Mas Hanung memintaku ke tempat Araz, aku tetap tak akan mau. Dia yang memilih untuk pergi, kenapa aku harus susah-susah menghalangi. Toh hubungan kami tidak pada tingkatkan di mana harus saling mencari. Sungguh aku lelah mengorbankan hatiku pada sesuatu yang tak pasti. Aku bahkan bersyukur, Araz menghilang saat hatiku belum benar-benar mengizinkannya untuk tinggal.


Gerutuanku teralihkan saat seorang lelaki yang kutaksir seusia Mas Hanung, berhenti di depanku dengan jaket khasnya yang berwarna hijau. Lelaki itu tersenyum ramah dan bertanya apakah aku yang memesan ojek online atas nama Kanya. Aku hanya mengangguk dan membalas senyum seperlunya saat lelaki itu menyerahkan helm padaku.


Ketika sopir ojol itu bertanya sekali lagi tentang tujuanku apakah sesuai aplikasi pun, aku hanya mengangguk saja. Padahal biasanya aku akan dengan senang hati membalas obrolan mereka yang terkadang justru curhat tentang masalah ini dan itu. Apalagi saat tahu, aku seorang reporter di surat kabar harian yang cukup terkenal di negeri ini. Mereka tak sungkan menitipkan keluh yang sudah tak sanggup didengar para pemilik kebijakan. Hanya saja aku sedang malas berbasa-basi saat ini akibat ulah Mas Hanung yang sangat menyebalkan.


"Sudah sampai, Mbak."


Setelah mengucapkan terima kasih dan menyerahkan helm kepada si pengemudi ojek online, aku mengamati nomor rumah dengan alamat pemberian Damar secara bergantian. Memang sudah sesuai, tapi rumah itu tampak sepi seolah tak berpenghuni. Bahkan dedaunan kering di halaman semakin menegaskan jika rumah itu sudah kosong sejak satu atau dua minggu yang lalu.


Kuperhatikan sekali lagi rumah bergaya arsitektur jengki itu. Bangunan itu memiliki ciri khas rumah jengki pada umumnya dengan kedua sisi atap yang tak saling bertemu. Ruang di antara kedua atap sekaligus berfungsi sebagai ventilasi udara dan juga jendela yang dapat menjadi media sumber pencahayaan alami. Dindingnya dibuat sedikit miring untuk menghindari kesan kaku. Sementara pada dinding rumahnya terdapat ornamen batuan alami. Begitu juga pada teras di rumah itu. Bingkai beton pada bagian jendela dan pintu pun tak luput dari pengamatanku. Termasuk portico yang terdapat di samping rumah yang menghubungkan langsung dengan taman.


Apa benar ini rumah Arez? Tempat ia tumbuh hingga menjadi sosok yang... Bagaimana rupa lelaki itu saat ini? Bahkan aku sudah lupa bagaimana raut wajahnya ketika terakhir kali bertemu. Malam sebelum ia memutuskan pergi dan tak pernah kembali ke rumah kontrakan kami.


Pertanyaan yang muncul dalam benakku tak menemukan jawabannya. Lantas siapa yang bisa menjawab jika rumah itu pun sepi tak berpenghuni. Aku menyesal mengapa dulu tak pernah mau ketika Arez mengajakku pulang setelah menuntaskan perjalanan dari Sukabumi maupun puncak Gede. Atau dari mana pun yang melewati Kota Bandung.

__ADS_1


Sementara itu, alam seakan mendramatisir keadaan dengan mengumpulkan mendung yang segera menjadi rinai hujan. Menambah penyesalan dalam hatiku semakin kuat dan tak dapat kuhindarkan. Benar-benar komposisi yang pas bukan. Suasana mendukung untuk mengenang.


"Neng, cari siapa atuh?" pertanyaan seorang perempuan tengah baya mengagetkanku. Perempuan itu berasal dari rumah yang terletak di samping kanan rumah Arez.


"Yang punya rumah ini, ke mana ya Bu?"


"Oh, Pak Arman sama Bu Elis teh ke Jakarta. Sudah dua minggu yang lalu, Neng. Anaknya yang pertama sakit katanya."


Penjelasan perempuan itu memaksaku merangkai peristiwa yang pernah terjadi. Arez memang tak pernah bilang padaku jika dia memiliki kakak atau pun saudara yang lainnya. Bahkan ia hampir tidak pernah menceritakan tentang keluarganya kecuali ia berasal dari kota berjuluk Paris van Java ini. Dia selalu bilang akan mengenalkan aku dengan kedua orang tuanya secara langsung. Tidak hanya melalui kata-kata agar aku bisa menilai sendiri bagaimana mereka.


Tunggu, kenapa momennya bisa sama dengan kejadian ilangnya Araz? Apa mungkin... nggak mungkin 'kan?


Aku mengambil gawai dari saku celana dan mengecek alamat rumah yang dikirim oleh Mas Hanung. Aku hanya menduga-duga dan tak berharap jika hasilnya...


Sama.


Tubuhku gemetar. Aku tidak menyangka jika... Bagaimana mungkin mereka...


Seluruh tubuhku serasa lunglai. Seakan tulang yang menopang berat badanku kehilangan kekuatan. Sedang pandanganku mulai mengabur. Takdir apa yang sedang mempermainkan aku Tuhan?


"Neng, hujannya makin deras, mari sini mampir dulu," kata perempuan itu hanya kubalas dengan senyuman dan menolak halus tawarannya.

__ADS_1


Ada yang lebih basah dari hujan yang mengecup dedaunan. Ada yang lebih perih dari hujan yang mengkhianati langit dan memilih bumi. Hatiku basah. Langkahku menuju Arez terhalang jalan buntu. Sedang hujan semakin mengaburkan jejaknya yang sudah lama terlihat samar. Juga pada kenyataan yang membuat hatiku tidak sekadar basah, tapi juga tergores sembilu.


Air mataku jatuh perlahan. Bercampur air hujan yang semakin deras mengguyur seluruh tubuhku. Alam benar-benar tahu kapan harus bersikap dramatis.


__ADS_2