
Renjana Kanya
"Gimana, udah lebih baik sekarang?" Araz bertanya sambil mencubit ujung hidungku.
Senyumku mengembang. Bersama Araz selalu membuatku merasa baik-baik saja. Sekalipun dalam hati bergemuruh menahan amarah, benci, kecewa, maupun lara. Araz selalu membuktikan jika bersamanya, aku bisa menjadi lebih baik dan banyak tersenyum.
"Udah, Mas. Makasih ya," ucapku tulus.
Semakin hari, aku semakin menyadari jika Araz mampu melengkapi jiwaku yang rumpang. Lantas bagaimana bisa aku mengabaikan kehadirannya yang begitu nyata? Toh, kita sedang sama-sama berusaha bukan? Untuk menjadi semakin baik.
"Nah, gitu dong. Senyum. Kan cakep kalau senyum gitu."
"Iya, makasih ya Mas Araz gombalannya. Kenyang aku," balasku sambil bercanda.
Kami sedang duduk bersebelahan di meja makan sambil menikmati coklat panas dan semangkuk mie kuah dengan toping telur setengah matang. Araz yang memasaknya. Padahal aku yang berencana membuatkannya, tetapi justru laki-laki itu mengambil alih saat tahu keadaanku tak sedang baik-baik saja.
Selepas menikmati semangkuk mie kuah dan segelas coklat panas, kami berbincang di ruang keluarga sambil membiarkan televisi tetap menyala. Meski tatapan kami fokus mengunci satu sama lain dan memperbincangkan banyak hal. Aku hanya tidak suka dengan kesunyian menjelang dini hari.
Sebenarnya, aku sudah meminta Araz untuk istirahat lebih dulu. Pasti lelah setelah perjalanan panjang dari Jakarta - Juanda, berlanjut Juanda - Surabaya baru balik ke Tuban. Namun, laki-laki itu memaksa untuk berbincang denganku. Aku tahu, rasa rindu kami belum tuntas tersalurkan. Padahal jika mengutip judul novel Eka Kurniawan "seperti dendam rindu harus dibayar tuntas" bukan? Maka kami akan membayar tuntas rindu yang melambai kumal di depan mata kami.
"Sori kalau aku tanya ini sekarang, tapi aku ke sini juga bawa misi dari Hanung. Gimana, kamu 'kan gabung sama MediaPena?" tanya Araz tanpa basa-basi setelah kami menanyakan kabar masing-masing dan menanyakan bagaimana dengan media cyber yang baru beberapa jam lalu diluncurkan.
"Duh, harus banget ya dibahas sekarang."
"Ya makanya tadi aku minta maaf duluan 'kan. Jadi gimana?"
"Menurut Mas Araz, gimana?"
Laki-laki itu tampak termenung. Pandangannya menerawang seperti akan memutuskan sesuatu yang sulit. Aku tersenyum menatap wajah seriusnya. Dia pun susah untuk menentukan apakah aku harus bergabung dengan MediaPena atau tidak, apalagi aku yang menyangkut dengan masa depanku. Bagaimanapun, aku ingin karierku cemerlang di dunia yang aku geluti sekarang. Dan jelas itu tidak bisa diputuskan dengan sembarangan.
"Aku sebenarnya kurang setuju kita jadi rekan kerja. Asli, pasti bakal ganggu banget dan bisa jadi bakalan canggung. Sekalipun pada praktiknya kamu bakal jadi anak buah Hanung. Tapi kan tetap saja kamu juga bakal jadi anak buahku. Rasanya pasti bakal nggak nyaman tiap kali mau menegur. Tapi ... ."
__ADS_1
Araz mengantungkan kalimatnya. Dia meluruskan kakinya yang semula ditekuk di atas sofa. Badannya yang jangkung dia bongkokkan ke kiri dan ke kanan hingga tulangnya bergemeretak. Lantas tertawa lebar ke arahku.
"Mas Araz mending istirahat deh. Udah hampir pagi juga ini," kataku sedikit memaksa kali ini.
"Bentar, aku tuntaskan pembicaraan kita tadi."
"Soal MediaPena? Udah, itu kita bahas besok aja. Ya, Mas? Mas Araz butuh istirahat. Asli ini, Mas Araz butuh istirahat. Mata Araz juga tuh, udah kayak aset negara Cina yang dilindungi."
"He, aset negara Cina yang dilindungi?"
"Iya."
"Maksudnya?" Sepasang alis tebal milik Araz bertautan saat bertanya apa maksudku menyebutnya aset negara Cina yang dilindungi.
"Ya itu, panda."
Tawa Araz lepas. Aku buru-buru membekap mulutnya sebelum tawanya membangunkan orang satu rumah. Apalagi Victor. Bayi laki-laki yang belum genap satu bulan itu, begitu sensitif dengan suara bising sekecil apa pun.
Sialnya, tindakanku justru membangkitkan sesuatu yang lain. Gelak kupu-kupu mulai usil di dasar perutku saat kulit tanganku menyentuh bibir ... sensual milik Araz. Ya Tuhan, bagaimana bisa bibir laki-laki itu begitu lembut bahkan hanya dengan tersentuh telapak tanganku?
***
Pukul 09.00 pagi.
Mataku baru saja melek setelah merasakan guncangan di tubuhku yang cukup keras. Tidak ada orang lain yang berani melakukannya selain Mama. Dan memang benar jika wanita itulah yang melakukannya. Wajahnya yang sudah semakin membaik - meski baru kemarin diizinkan pulang - tampak galak ketika menatapku yang masih bergelung di dalam selimut. Tidak hanya itu, Mama memukul punggungku saat aku tak juga bangun.
"Ma, masih ngantuk."
"Siapa suruh ketawa cekikikan sampai larut malam."
Tubuhku otomatis menegak saat mendengar pernyataan wanita itu. Meski aku dan Araz tidak selalu tertawa tadi malam, tetap saja aku jadi siaga saat mendengar komentar Mama. Apakah jangan-jangan beliau mendengarkan dari kamar utama yang memang terletak di lantai dasar?
__ADS_1
Araz?
Aku menepuk jidat. Segera ingat jika ada laki-laki itu di rumah ini. Apakah dia sudah bangun?
"Dia bahkan sudah lari pagi sama kakak kamu. Ini anak gadis masih aja ngebo," kata Mama menjawab pertanyaan dalam kepalaku. Dan, aku terkejut saat memahami maksud perkataan Mama.
"Apa?"
Aku berteriak kencang saat Mama menyebutkan dia sedang lari pagi dengan kakakku. Dengan Putra maksudnya 'kan? Astaga. Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin terjadi? Araz dan Putra lari pagi bersama?
Tanpa berpikir panjang, aku bangun dari kasur dan mengganti baju tidurku dengan pakaian yang lebih pantas. Tak kuhiraukan Mama yang memanggil namaku. Dengan tergesa aku menuruni tangga. Bahkan aku melompati dua anak tangga sekaligus agar cepat sampai lantai satu. Aku tak boleh membiarkan Putra dan Araz sampai bertengkar.
"Hei Putri Tidur. Nyenyak amat jam segini baru bangun?" sapa Putra dari ruang keluarga saat aku melewatinya. Senyumnya begitu cerah. Sangat cerah sampai aku curiga jika telah terjadi sesuatu padanya. "Nggak usah mikirin yang aneh-aneh deh. Aku nggak seburuk yang kamu kira."
"Lo, tadi ... kata Mama ... ."
Aku kehilangan kata-kata. Putra memang masih memakai pakaian olahraganya. Badan serta wajah lelaki itu bahkan masih berkeringat. Namun, aku tak melihat Araz di mana pun. Lantas siapa yang tidak curiga jika begitu keadaannya.
"Araz ada di kamarnya. Tadi Mama suruh dia mandi terus sarapan. Kamu nggak mikir aneh-aneh sama aku 'kan?"
Pertanyaan Putra membuatku salah tingkah. Tak bisa kupungkiri jika aku membayangkan mereka beradu kekuatan dan tidak bisa menyikapi permasalahan dengan kepala dingin. Mengingat betapa marahnya Putra tadi malam saat aku dan Araz sampai menjelang tengah malam.
"Sori, gue ... ."
"Ya wajar sih. Sori, aku yang kelewatan. Aku janji nggak bakal kayak gitu lagi," kata Putra sambil berjalan ke arahku. Sebelum dia menaiki anak tangga, laki-laki itu mengacak-acak rambutku. "Nggak usah khawatir, aku nggak bakal mengingkari kesepakatan kita kok."
"Kesepakatan apa, Kak?" tanya Mama tiba-tiba. Wanita itu sudah berdiri di dasar anak tangga dan menatap tajam ke arah kami.
"Kesepakatan yang nggak boleh diingikari, Ma. Kalau aku bakal jagain Mama, Kanya dan juga si baby Victor."
Putra berjalan ke arah Mama dan memeluk wanita itu. Tanpa ada perasaan canggung. Seperti layaknya ibu kandungnya sendiri.
__ADS_1
Aku tersenyum lega. Setidaknya harapan Putra untuk memiliki ibu yang menyayanginya bisa terkabul.
Semoga lo bisa segera sembuh, Putra. Gue sayang sama lo. Meski perasaan sayang itu kini sudah berbeda. Lo harus segera sembuh.