Pulang

Pulang
Season 2 #Pesona Sang Kekasih II


__ADS_3

Araz mereguk saliva Kanya dengan rakus. Dia tak bisa berhenti dan terus menuntut lebih.


Bibir Kanya terasa lembut dan basah. Juga bercampur sensasi manis dari liptint yang dipakai perempuan itu.


Sejak awal, Araz sudah tak mampu menolak pesona sang kekasih. Perempuan itu terlalu menggoda. Meski tubuhnya tertutup rapat dan tak ada bagian sensitif yang terlihat sedikit pun. Kecuali bagian leher.


Meskipun begitu, tetap saja Araz tak sanggup mengalihkan perhatian dan terus terjatuh dalam pesona sang kekasih.


Kanya terlihat seksi bukan karena bentuk tubuhnya saja. Melainkan juga proporsi wajah dan bibirnya yang pas. Araz justru terpikat pada bibir perempuan itu ketimbang bentuk tubuhnya.


Walaupun tak bisa dimungkiri jika bentuk tubuh perempuan itu pun cukup seksi dan menggoda. Namun, tetap saja, hal yang tak bisa mengalihkan perhatian Araz adalah bibir perempuan itu.


Ciuman mereka semakin panas dan menggebu. Araz tak bisa lagi mengendalikan diri dan melewati batas-batas norma yang selama ini dia pegang teguh.


Pun demikian dengan Kanya. Perempuan itu terlalu terpikat dengan paras sang kekasih hingga membuatnya lupa pada janji yang pernah terucap dalam hati. Bahwa dia tidak akan mengulang kesalahan yang sama.


Pesona Araz terlalu kuat. Dia benar-benar tak sanggup mengalihkan perhatian.


Apalagi setelah bibir Araz mengunci bibir Kanya dan ********** dengan ganas. Perempuan itu tak sanggup lagi menghindar.


Kanya sudah sepenuhnya terjatuh dalam pesona sang kekasih.


Sedangkan tangan laki-laki itu mulai bergerak nakal di pinggang sang kekasih yang padat dan berisi, tapi tetap ramping.


Dia tak bisa berpindah dari sana dan terus memainkan jari-jarinya di tempat itu. Membuat tubuh Kanya menegang menerima sentuhan nakal Araz di pinggangnya.


Sementara ia mulai kewalahan mengikuti ritme ciuman laki-laki itu yang semakin panas. Otaknya tak sanggup lagi berpikir jernih. Bahkan seluruh tubuhnya tunduk pada permainan Araz yang memabukkan.


Kanya tak tahu lagi caranya untuk menghindar. Seluruh bulu halus di tengku perempuan itu meremang. Tidak hanya itu, seluruh tubuhnya mulai terasa disengat listrik dalam voltase sedang.


"Ah...."


******* lembut lolos dari mulut Kanya ketika tangan Araz mulai bergerilya semakin ke atas di balik kemeja sang kekasih yang sudah terkoyak sebagian.


Kini Araz tak hanya mencium bibirnya dengan ganas dan menuntut. Tapi juga memainkan area sensitif Kanya di balik kemeja.


"Ah...Mas Araz," desah perempuan itu berakhir dengan memanggil nama Araz.


Bukan untuk memancing keganasan Araz. Namun, memberikan peringatan pada sang kekasih untuk menyudahi permainan yang memabukkan ini.

__ADS_1


Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Mendengar desah lembut sang kekasih, Araz justru semakin terpicu.


Tangannya dengan lihai memainkan ujung sensitif milik Kanya yang mulai menegang. Reaksi seluruh tubuh Kanya yang tak bisa berbohong, menjadikan Araz semakin tertantang.


Ciuman laki-laki itu kini beralih menyusuri leher Kanya. Berhenti di sana dan memberikan kecupan yang meninggalkan bekas merah.


Tubuh perempuan itu kian menegang. Ia tak sanggup lagi menolak serangan Araz yang masih tak ada niat untuk berhenti.


"Ini gila. Berhenti sekarang sebelum kamu mengulang kesalahan yang sama di masa lalu, Kanya!" perintah otak perempuan itu dalam sisa batas kesadarannya.


Namun, tubuh Kanya tak bisa diajak berkompromi. Perempuan itu semakin blingsatan ketika gerak jemari Araz kian lihai membuatnya melayang.


Araz benar-benar piawai memperlakukan Kanya.


"Bilang stop, J*l*ng! Lo mau sampai kapan terpengaruh permainan gila ini?!" Benak Kanya mendapatkan kesadarannya. Tapi tidak dengan tubuh perempuan itu. Yang makin pasrah dengan permainan Araz.


"Nya, bilang stop sekarang!" ulang perintah itu dalam benak Kanya.


Namun lagi-lagi, Kanya hanya bisa pasrah dan tak sanggup melakukan apa pun. Tubuh perempuan itu terlalu mendamba sentuhan dan Araz bisa memberikan apa yang dia butuhkan.


Kanya baru bisa benar-benar mendapatkan seluruh kesadarannya ketika tangan Araz bergerak ke bagian bawah tubuh perempuan itu.


Dengan kuat Kanya mencengkram tangan laki-laki itu sebelum menyentuh milik Kanya.


Meski begitu, Araz menghiraukan panggilan Kanya dan masih berusaha menyentuh bagian bawah milik perempuan itu. Sementara bibir laki-laki itu sudah beralih pada bongkahan kembar di dada Kanya.


"Mas, stop!" teriak Kanya cukup keras.


Sekuat tenaga perempuan itu berusaha mendorong tubuh Araz yang sudah melompat sebagian dari jok di belakang kemudi. Namun, lelaki itu tak mau dengar dan kembali beralih pada bibir Kanya dan justru kian menuntut.


Membuat perempuan itu tak bisa menghindar dan kembali terhanyut.


"Kenapa bisa jadi gini sih?! Berhenti sekarang juga, Kanya!" Suara dalam kepala Kanya kembali terdengar.


Mendorong perempuan itu untuk bersikap rasional. Namun, tetap saja tubuhnya lemah terhadap ciuman sekaligus permainan jemari Araz di tubuhnya.


"Mas Araz," ulang perempuan itu dengan napas tersengal.


Ia berhasil mengambil jeda di antara ciuman Araz yang tak juga memberinya kesempatan untuk bernapas.

__ADS_1


Mendengar namanya dipanggil untuk kesekian kali, lelaki itu tersadar. Araz mengambil jeda sesaat dan menatap lurus pada sepasang mata milik Kanya. Tatapan yang sangat mendamba.


Seketika Kanya terjatuh lagi dalam tatap sang kekasih yang begitu memikat. Bibir mereka kembali bertemu setelah sebelumnya sempat terhenti atas panggilan Kanya.


"Goblok! Kenapa terpengaruh lagi!?" suara itu semakin keras dalam kepala Kanya.


Perempuan itu tersentak seketika. Ia tidak hanya mendorong tubuh Araz, tapi juga menjauhkan tubuhnya sendiri.


"Kita, nggak bisa melakukan ini," ucap perempuan itu dengan napas kian terengah.


Tenaganya serasa habis terkuras. Seluruh tubuhnya lemas akibat pertarungan yang bahkan baru permulaan.


"Kita nggak bisa melakukan ini!" ulang Kanya lebih tegas dari sebelumnya.


Seketika Araz tersentak. Refleks dia menjauhkan tubuhnya dari Kanya.


"Astaga! Nya...sori, aku...." Araz tergagap.


Laki-laki itu menyadari kesalahan yang sudah dia lakukan. Wajahnya menunjukkan rasa bersalah.


"Aku, nggak bermaksud...maaf, aku benar-benar...minta maaf." Suara Araz gemetar akibat menahan malu.


Bisa-bisanya dia melakukan perbuatan yang memalukan. Padahal selama ini dia mampu mengendalikan diri.


Kenapa justru membuat kesalahan di hadapan Kanya?


"Aku...benar-benar minta maaf, Nya," ucap laki-laki itu sekali lagi.


Tatapannya tampak salah tingkah. Laki-laki itu tak sanggup lagi berpikir jernih, sekaligus malu. Dia tak berani menatap Kanya.


"Aku...."


Dua-duanya saling bungkam. Mereka tak sanggup lagi berkata-kata. Menanggung malu sekaligus hasrat yang menggebu.


"Bodoh, padahal lo udah janji kalau nggak bakal melakukan hal bego kayak gini! Kenapa bisa khilaf sih!" runtuk Araz dalam hati.


Sekarang ia tak sanggup menatap Kanya yang tertunduk diam.


"Kalau udah gini, apa yang mesti gue lakukan?" ungkap laki-laki itu masih dalam benaknya.

__ADS_1


Ia melirik Kanya yang masih menunduk. Menyembunyikan wajah serta air mata yang turun diam-diam.


Suasana di antara keduanya mendadak terasa sunyi dan mencekam.


__ADS_2