Pulang

Pulang
Give Me a Chance


__ADS_3

Renjana Putra


Air mata membasahi wajah Putra yang masih tampak kusut. Ia masih memarkir mobilnya di tepi jalan dan memandang Laut Jawa yang dingin. Tanpa riak, apa lagi ombak. Bahkan angin pun bisu seolah mendukung hatinya yang pilu. Memikirkan Kanya selalu membuat lelaki itu sentimentil. Terlalu banyak luka yang tak mungkin sembuh sekali basuh.


Hal yang membuat Putra semakin terluka, Kanya tak pernah memberinya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Meski ia sendiri pun sebenarnya ragu, kesalahan apa yang membuat Kanya begitu membencinya. Bahkan ketika Eka - papanya - dan Mama Kanya memutuskan menikah, Putra juga termasuk orang yang menderita. Ia telah berusaha dengan caranya agar pernikahan itu tidak terjadi. Namun Kanya justru lebih memutuskan pergi.


Selama ini, Putra pun tak pernah tinggal diam. Dia selalu mencoba mencari jejak Kanya di mana pun perempuan itu berada. Seluruh teman yang Putra punya tak pernah luput ia tanyai. Bahkan ia sempat membuat pengumuman di media sosial atas kepergian Kanya. Perempuan itu tetap tak kembali.


Sementara orang tua mereka tetap melangsungkan pernikahan dengan dalih calon bayi yang ada di dalam perut Sukma harus memiliki figur seorang ayah. Tak peduli jika ada dua hati yang patah dan satunya memilih menghilang. Tidak heran jika perempuan itu pun tak pulang saat pernikahan ibunya. Sekalipun Putra bersikukuh tak bergerak dari tempat duduknya, semata-mata hanya demi menunggu kemunculan Kanya.


Seandainya saja aku bisa


Hentikan waktu untuk dirimu


Tak akan kubiarkan luka sakiti hatimu


Maafkanlah diriku yang tak mampu


Berikan bahagia hanya untukmu


Percayalah hanya kau satu dalam hati


Kasih berikanlah aku waktu


Untuk bisa pahami dirimu


Kembali rajut kisah kita yang dahulu


Apakah aku tak lagi berarti bagimu

__ADS_1


Hilang kah sudah cinta itu padaku


Kumohon...


Tetaplah tinggal jangan kau beralih dariku


Sebuah lagu yang diputar di radio lokal membuat tangis Putra semakin berderai. Ia ingat hari di mana dirinya menciptakan lagu itu. Berbekal aplikasi di handphone pintarnya dengan tangan masih terinfus, ia menciptakan lagu itu dengan kilat. Lalu merekam seadanya.


Di hari yang sama ketika Kanya memutuskan pergi, ia mengirimkan lagu itu sebelum nomor Kanya tidak aktif selamanya.


Putra menyusut air mata dari wajahnya. Lelaki itu mengambil gawai dari saku celananya dan mencari nama yang selalu berada di urutan paling atas daftar favoritnya. Setahun yang lalu ia berhasil memaksa Almira untuk memberikan nomor Kanya yang dapat dihubungi. Meski berhasil mendapatkan nomor perempuan itu, Putra tetap saja tidak bisa menyentuh hatinya.


Terdengar nada sambung. Namun seperti sebelum-sebelumnya, telepon selalu berakhir dengan nada tuuttt... yang menandakan panggilan diakhiri.


Lelaki itu membuka ruang obrolannya dengan Kanya. Hal yang sering ia lakukan selama satu tahun ini, tapi selalu berakhir pada pesan yang menumpuk tanpa pernah mendapat balasan. Kali ini pun Putra tak berharap lebih ketika mengirimkan pesan pada Kanya.


Beri aku kesempatan untuk menjelaskan semua yang terjadi. Setelah itu apa pun keputusanmu, aku akan terima.


Belum ada tanda-tanda pesan yang dikirim Putra akan dibalas perempuan itu. Bahkan dibaca pun tidak.


Wajah Putra semakin terlihat frustrasi. Dengan cara apa lagi ia bisa menyentuh hati Kanya bahkan sekadar untuk meminta maaf. Jikalau Kanya memang memilih lelaki yang bukan dirinya di masa depan, Putra akan mencoba untuk rela. Namun jika perempuan itu tetap saja tidak mengacuhkannya tentu membuat hatinya terluka. Dan bagaimana bisa ia merelakan Kanya jika nama perempuan itu masih melekat permanen dalam hatinya.


Kanya. Nama perempuan itu seperti candu yang membuat Putra selalu sakau saat mengingatnya. Nama yang meninggalkan luka, tapi juga obat yang mampu menyembuhkan secara bersamaan. Nama yang selalu ia sebut saat mengigau, bahkan ketika ia bersujud paling rendah pada tanah.


Kanya. Nama yang bisa membuatnya tersenyum dan menangis secara bersamaan. Nama yang bisa menjadikan hidupnya berarti, tapi juga hancur di lain sisi.


Gawai Putra berdering. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat membaca sebuah nama yang tertera di layar handphone-nya.


Kanya.

__ADS_1


"Halo Kanya."


"Apa lagi yang mau lo jelaskan sih Put? Gue nggak butuh dan tolong jangan pernah ganggu hidup gue lagi."


"Kamu perlu tahu semua yang terjadi."


"Apa? Kenyataan yang mengharuskan gue ngalah sama orang tua gue sendiri karena dia udah keburu hamil? Fakta kalau dia keguguran karena terlalu stres dan membuat mereka semakin tak bisa dipisahkan? Atau kondisi saat ini di mana orang tua gue mengandung calon adik lo? Apa lagi sih yang mau lo jelaskan? Gue udah tahu semuanya, Put."


Suara Kanya bergetar saat menjelaskan pada Putra. Sedang lelaki itu sangat terkejut saat Kanya sudah mengetahui tentang segalanya. Bahkan lelaki itu tidak tahu jika Sukma kini tengah mengandung lagi.


Heh, betapa egoisnya orang-orang itu. Membiarkan dirinya dan Kanya hancur hingga ke titik nadir. Jika seperti ini, bagaimana dia bisa menyalahkan Kanya yang memilih pergi dari rumah?


Pada awalnya, Putra bertahan di rumah itu karena ingin menyambut jika Kanya memutuskan pulang. Ia ingin berada di tempat jika Kanya membutuhkan bahu untuk bersandar. Atau tempat melabuhkan segala penat. Namun kenyataan yang ada, benar-benar membuat Putra semakin terkoyak. Ia kini tak tahu lagi harus berbuat apa. Putra begitu malu dengan sikap Eka yang begitu mudah menghancurkan Kanya dan juga dirinya. Ia kecewa pada Sukma yang hanya memikirkan kebahagiannya dan mengorbankan perasaan anaknya.


"Kalau nggak ada lagi yang perlu lo obrolin, gue tutup."


"Tunggu. Bisa kita ketemu sekali saja? Benar-benar ada yang mau aku sampaikan sama kamu."


"Ck, lo keras kepala banget sih? Fakta apa lagi yang mau lo ungkap?"


"Semua yang kamu ceritakan nggak menjelaskan gimana perasaanku, Nya."


"Itu bukan urusan gue lagi. Di antara kita udah selesai, Put. Lo nggak bisa menyangkal itu."


"Aku sayang sama kamu, Nya. Dari dulu nggak pernah berubah."


"Dan kita terlalu pengecut untuk melawan arus yang terlalu deras. Biarkan saja gue atau lo tenggelam sekalian. Kita nggak bisa berenang bersama menuju tepi. Karena bagi gue udah nggak ada kita sejak gue memutuskan pergi."


"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua dari awal."

__ADS_1


"Memperbaiki apa lagi? Lo ngerti maksud omongan gue nggak sih?" Nada suara Kanya meninggi. Emosinya selalu terkuras ketika ia berbicara dengan Putra. "Lo mau terima apa pun keputusan gue 'kan? Mulai saat ini, tolong jangan anggap gue pernah ada dalam kehidupan lo. Kalaupun nanti takdir mau bermain-main dan mempertemukan kita, lo bakal ketemu Kanya yang baru. Bukan Kanya yang pernah lo kenal. Itu kesempatan yang bisa gue berikan sama lo."


Telepon segera terputus saat Kanya menyelesaikan kalimatnya. Membuat luka dalam hati Putra semakin parah. Kalau saja ada hal yang bisa ia lakukan dengan benar sekali saja.


__ADS_2