Pulang

Pulang
Rindu Jakarta


__ADS_3

Renjana Kanya


Rumah ini tak lagi terasa hangat sebagaimana yang kurasakan saat tinggal bersama ayah dan... Hah, susah sekali rasanya menyebut sosok wanita itu sebagai... mama. Masih ada perasaan nyeri yang mengganggu hati dan juga pikiranku. Dua tahun berlalu, tapi rasa sakit itu tak juga hilang meski aku sudah pergi sejauh mungkin dari kota ini. Lebih tepatnya dari rumah ini.


Tak ada yang salah dengan kota kelahiranku. Yang salah hanyalah peristiwa yang menyebabkan luka hingga membuatku susah bernapas jika mengingatnya. Bahkan kini aku kembali ditarik oleh waktu untuk mengingat masa lalu.


Huft... Aku menghembuskan napas panjang sebelum keluar dari kamar Putra menjelang pukul 04.00 pagi. Kupandangi cukup lama pintu bercat putih di samping kamar Putra. Dulu, itu menjadi kamarku sebelum semua prahara di rumah ini terjadi.


Sudut bibirku tertarik saat ingatan itu mengusik kepalaku. Selalu saja aku tersenyum sinis jika mengingat bagaimana egoisnya orang-orang dewasa itu hingga rela mengorbankan kebahagian anak-anak mereka. Beranggapan cinta mereka paling suci dan tidak ada yang mampu mengalahkannya termasuk anak mereka sendiri.


Terdengar kejam bukan? Bukankah orang tua akan melakukan segala cara agar anak mereka bahagia? Nyatanya itu tidak berlaku dalam keluarga ini. Mereka lebih memilih mencari kebahagian mereka sendiri dan memaksa anaknya terbang dari sarang. Seperti induk rajawali mengajari anak-anaknya terbang dengan cara menjungkirbalikkan sarang dari ketinggian. Sedangkan di bawah sarang itu berbagai bebatuan tajam siap menyambut tubuh sang anak kapan saja. Tanpa memikirkan risiko jika suatu saat anak-anak itu bisa saja terjatuh, lalu mati.


Ambil saja sisi baiknya. Bukankah dengan begitu menjadikan rajawali sebagai penerbang yang hebat. Suara-suara itu terkadang muncul dalam kepalaku. Berbicara sok suci tentang kehidupan yang tak mudah dilewati. Namun lagi-lagi aku hanyalah anak yang terkadang masih butuh nasihat orang tua meski aku menyangkalnya.


Huft... Lagi-lagi aku menghela napas. Membiarkan paru-paruku penuh dengan oksigen sebelum akhirnya menjadi CO2. Aku melangkah menuruni anak tangga. Tugasku sudah selesai. Kini saatnya menagih, bayaran apa yang sanggup diberikan pria itu atas kesembuhan anaknya.


Pasangan suami istri itu masih duduk di ruang keluarga sambil berpelukan. Entah apa yang mereka tunggu. Ah ya, tentu saja kabar bagaimana kondisi sang anak setelah kedatanganku. Bagaimana bisa aku melupakan hal sepenting itu baginya. Atau sekarang justru bagi mereka?


"Saya tak suka basa-basi. Apa yang Anda tawarkan untuk membayar saya? Saya tidak menerima bayaran murah," kataku membuat wanita di samping pria itu melirik tajam. Aku justru tertawa sinis menanggapinya.


Ini yang dia sebut kangen? Batinku dalam hati.


"Saya bisa berikan apa pun yang kamu mau, Nak." Bahkan mendengarnya memanggilku nak, membuat telingaku terasa panas. Aku bukan anaknya dan aku tak pernah mau menganggap dia ayah.


"Ceraikan Ibu saya. Biarkan kami hidup tanpa berurusan dengan keluarga kalian lagi," pintaku membuat suasana semakin dingin meliputi kami.


"Kanya..." Wanita itu akhirnya bersuara meski hanya memanggil namaku. Namun aku cukup tahu jika dia menahan amarahnya. Aku yang paling tahu bagaimana wanita itu akan bersikap. "Mama tidak bisa, Nak."


Aku tersenyum mendengar jawaban wanita itu. Di hari yang sama ketika aku pergi dari rumah ini pun, wanita itu juga mengatakan hal yang sama. Dia sudah terlanjur hamil dan mencintai pria yang akan dinikahinya. Apa lagi alasannya kali ini? Apakah hal yang sama terulang lagi? Melihat bagaimana pucatnya wanita itu, aku yakin kali ini pun hamil akan menjadi alasan wanita itu tak bisa meninggalkan suaminya.


"Mama kamu sedang mengandung anak saya, Kanya. Jika memang itu keinginanmu, saya bisa kabulkan saat bayi ini sudah lahir," kata Eka membuatku memicingkan mata.


"Mas, kamu sudah berjanji kalau tidak akan meninggalkan aku lagi."


"Tidak ada yang bisa kulakukan selain mengabulkan permintaan Kanya, Sukma. Dia sudah menyelamatkan Putra."

__ADS_1


Ujung bibirku berkedut saat melihat drama percintaan mereka di depanku. Ironis sekali. Ketika si wanita tak sanggup meninggalkan prianya, si pria justru berniat pergi dari si wanita demi anaknya. Demi janji yang sudah diucapkan jika dia akan melakukan apa pun ketika Putra sembuh setelah kedatanganku.


"Tapi aku nggak bisa, Mas. Kanya, tolong ngertiin perasaan Mama."


"Heh, memang Anda mau ngerti perasaan saya? Sifat manusia itu memberi-diberi. Kalau Anda saja tidak mau mengerti perasaan saya, mengapa saya harus memahami Anda? Oh, saya tahu. Memang, saya tidak akan pernah bisa membalas waktu dan tenaga Anda mulai mengandung, melahirkan, hingga merawat saya sampai seperti sekarang, tapi bukankah itu memang tugas seorang ibu? Apakah dengan begitu saya harus memahami semua perasaan Anda ketika menikahi ayah dari orang yang saya sayangi juga?"


"Kanya, tetap Mama tidak bisa meninggalkan Papa Eka, Nak."


Wanita itu tetap bersikeras. Sedangkan aku hanya bisa tersenyum sinis. Kini aku tahu dari mana sifat keras kepala dan terbudak cintaku itu menurun.


"Baik kalau itu keputusan kalian, maka jangan pernah cari atau memintaku pulang. Saya tahu Anda diam-diam mengirim orang untuk memata-matai saya. Jika kalian tetap memutuskan bersama, biarkan saya yang pergi dari kehidupan kalian," kataku berusaha menyembunyikan getar yang mulai mengoyak pangkal tenggorokanku. Mataku mulai panas. Sebelum benar-benar menjadi hujan, aku memutuskan pergi. "Saya permisi. Jangan bilang pada Putra jika tadi malam saya menemaninya."


Dengan wajah sembab menahan air mata, aku pergi dari rumah itu. Dalam kepenatan seperti ini, aku tiba-tiba rindu pada Jakarta dengan segala keruwetan dan belantara manusianya yang menyesakkan. Aku sudah memutuskan. Hari ini aku akan kembali ke ibu kota bersama Aldo dan menghabiskan sisa cutiku dengan menyusuri kota yang selalu padat itu.


***


Aldo menatapku heran saat kami bersisipan di ruang keluarga rumah Almira. Lelaki itu baru saja dari dapur jika melihat air mineral di tangannya. Wajahnya terlihat ragu saat bertanya aku dari mana pagi-pagi buta. Bahkan ini belum ada pukul 05.00 pagi. Di luar masih gelap dan berkas cahaya matahari pertama pun belum tampak.


"Pamit sama orang rumah kalau hari ini aku balik sama Mas Aldo," jawabku sekenanya saat lelaki itu bertanya.


"Ada yang harus aku kerjakan, Mas. Nggak bisa kalau raganya masih di sini, tapi pikiran udah ke mana-mana. Masih keburu nggak ya Mas Aldo kalau cari tiketnya sekarang?"


"Aku coba bantu deh. Btw, jangan panggil Aldo lagi ya. Nama itu punya sejarah cukup kelam. Panggil Araz aja kalau Alcatraz terlalu panjang."


"Oh ya? Kalau gitu aku justru makin pengen panggil Aldo nih," kataku mulai merasa lebih baik.


Selama perjalanan kembali ke rumah Almira aku tidak berhenti menangis. Bertemu Aldo dan saling bertegur sapa sedikit mengobati nyeri yang tiba-tiba datang mengintip.


"Yah jangan dong," kata Aldo dengan wajah memelasnya yang terlihat lucu. Tanpa sadar aku tertawa saat melihatnya. Sedikit gundah lenyap dari hatiku ketika lelaki itu pun ikut tersenyum. "Ternyata kamu memang semakin cantik kalau tertawa."


"Eh?"


Senyum Aldo mengembang. Ia menepuk pucuk kepalaku sebelum masuk kamar. "Aku carikan tiket pesawatnya, jadi kamu bisa siap-siap."


"Makasih, Mas," jawabku kikuk diperlakukan manis dengan begitu tiba-tiba.

__ADS_1


***


Hampir pukul 07.00 pagi saat aku selesai berkemas. Semalaman tidak tidur membuat badanku terasa lelah. Aku melewatkan sarapan karena perutku tidak nyaman. Jika dipaksakan justru akan membuatku mabuk selama perjalanan. Begitulah, aku sering berpergian dengan perut kosong demi menghindari mabuk darat, laut maupun udara jika makan berlebihan.


Almira membantuku berkemas meski dengan sedikit drama jika ia tidak mau ditinggalkan dengan wajah hampir menangis andalannya ketika akan berpisah dengan seseorang. Ia baru benar-benar rela aku pergi ketika sebelumnya aku berjanji akan kembali jika ia melahirkan nanti. Itu berarti sekitar tiga bulanan lagi.


Sedangkan Damar dengan ajaibnya sudah senyum-senyum lebar kepadaku saat kami berpapasan di ruang makan. Bahkan saat aku berpamitan dia memelukku lama.


"Kalau lo kelak tumbuh jadi rajawali, lo akan tetap cantik dengan cara lo sendiri Nya. Sori kalau sifat gue kekanak-kanakan ya. Gue bukan lo, mana bisa gue bilang seenaknya sendiri lo harus ini-itu," kata Damar panjang lebar sambil memelukku. Pelukan hangat Damar membuatku sadar jika sahabatku itu sudah benar-benar kembali. "Btw, gue nemu alamat rumah Arez di Bandung dari teman Mapala dulu. Kalau lo sempat main-main lah ke sana. Nanti gue kirim WA."


"Thanks, Bro. Kalau lo suatu saat pengen nonjok gue karena susah move on juga, tinggal tonjok aja. Mungkin gue setelahnya bisa sadar kalau keliru."


Ucapanku disambut tawa oleh Damar. Aku dan Aldo benar-benar pamit saat jam bergerak ke pukul 07.00. Jika tidak segera berangkat, bisa-bisa ketinggalan penerbangan mengingat jarak tempuh menuju bandara butuh waktu empat jam.


"Mas Aldo, titip Kanya ya. Jagain biar selamat sampai tujuan," kata Almira saat lelaki itu akan masuk mobil. Ia mundur lagi dan berdiri kikuk di depan Almira serta Damar.


"Ehm, gue keliru saat mengenalkan diri sebagai Aldo pada Kanya, so, kalian bisa panggil gue Alcatraz atau Araz. Itu nama gue sebenarnya, bukan Aldo," jelas lelaki itu membuat Almira dan Damar mengerutkan dahi. Mereka saling menatap satu sama lain.


"Lah terus bedanya apa? Aldo juga nama yang bagus kok," komentar Almira membuatku tertawa.


"Aldo tuh artinya Alcatraz Dodol, Mir. Dia..."


Sebelum aku sempat melanjutkan kalimatku, Aldo sudah membungkam mulutku dan menarik tubuhku agar masuk mobil. Lelaki itu segera meminta Pak Pras untuk melajukan mobil tanpa sempat berpamitan pada Damar dan Almira.


"Plis, Nya jangan bocorkan apa pun tentang Aldo oke. Itu aib," kata lelaki itu memelas. Aku hanya bisa tertawa.


"Kenapa, kan lucu?"


"Mana ada. Tahu dari mana sih kamu, aku kan nggak cerita tentang Aldo?"


Aku hanya mengendikkan bahu. Pagi tadi aku sempat mengirim pesan pada Mas Hanung dan bertanya perihal mengapa Araz dipanggil Aldo. Tak menyangka jika lelaki itu akan membocorkan rahasia temannya sendiri. Dan melihat sikap Araz yang salah tingkah membuatku semakin tertawa puas. Lelaki itu tampak menggemaskan di mataku.


Jika begini, bagaimana aku tidak semakin merindukan Jakarta? Ada orang-orang yang selalu mampu berbagi tawa meski jarak sedang memisahkan. Juga berbagai cerita yang hanya bisa ketemukan saat berada di jantung negara kepulauan ini.


Senyumku mengembang. Jakarta memang bukan rumah, tapi selalu bisa menjadi tempat pulang. Ah, apa memang demikian? Entahlah, rumah dan pulang bukanlah perkara mudah untuk disimpulkan. Setidaknya aku masih punya tempat melabuhkan segala resah dan penat.

__ADS_1


__ADS_2