
Renjana Alcatraz
Nasi padang di depanku sama sekali tidak menggugah selera. Padahal, Hanung dengan lahap menyuapkan nasi berlemak itu ke mulutnya. Dia bahkan sesekali melirik ke arah nasi yang sama sekali belum kusentuh. Mengincar rendang yang menjadi makanan kesukaannya.
"Gue tahu sih lo kangen sama Kanya, tapi nggak harus kayak remaja lagi jatuh cinta juga dong. Sampai nggak doyan makan gitu." Celetukan Hanung membuatku meringis. Istilah remaja jatuh cinta yang dia gunakan membuat perutku terasa geli.
"Entahlah, gue nggak tahu sama perasaan gue saja. Lagi malas mikirin cinta, tapi di satu sisi juga kangen sama dia."
Mendengar ucapanku yang tidak seperti biasanya, Hanung hanya melongo. Lantas ucapnya,"Lo lagi sakit, Raz? Bukannya beberapa bulan lalu lo niat banget deketin Kanya, sampai mohon-mohon buat ngenalin ke dia. Kok sekarang beda banget responnya?"
Aku tertawa kecut. Apa seperti itu yang terlihat oleh Hanung? Jujur saja, aku mencintai Kanya. Aku menginginkan perempuan itu lebih dari siapa pun bahkan apa pun yang ada di dunia ini, tetapi mengetahui fakta bahwa masih ada nama yang belum terlupakan dalam hatinya membuat perasaanku nyeri. Meski aku sudah mengatakannya untuk menunggu sampai Kanya benar-benar sanggup melupakan Putra sepenuhnya. Nyatanya perasaanku tidak mudah menerimanya begitu saja.
"Gue sebenarnya penasaran saja sih Raz, hubungan lo sama Kanya lagi nggak baik ya?" tanya Hanung tiba-tiba saat melihatku hanya terbengong di hadapannya sambil sesekali memainkan s-pen. Tangan kiriku sibuk mencoret-coret di atas tablet. Sedangkan mataku fokus pada nasi padang yang belum mengugah selera. Meski sebenarnya perutku sudah terasa perih karena lapar.
"Kenapa sih lo? Nggak biasanya banget kayak gini. Bahkan sampai nggak hubungin Kanya sampai tiga hari. Itu sesuatu yang langka loh. Lo sakit saja yang ada dipikiran lo cuma Kanya. Sebentar-sebentar tanya Kanya gimana, Kanya lagi ngapain. Ya meski lo suruh gue buat mastikan dia ada di mana sih. Nah ini, sama sekali nggak kasih kabar. Perlu gue garis bawahi. Sama sekali nggak kasih kabar."
Ucapan Hanung yang panjang lebar hanya kubalas dengan senyuman masam. Aku malas menceritakan pada laki-laki itu, jika aku cemburu pada kakak sambung Kanya. Alias Putra, sejak laki-laki itu mengakui bahwa dirinya masih menyimpan perasaan pada Kanya sebagai mantan kekasih. Pun kenyataan yang sama jika Kanya juga masih belum sepenuhnya melupakan Putra.
Aku tahu, perasaan ini bisa jadi merenggangkan hubunganku dengan Kanya. Alih-alih membuat perempuan itu jatuh cinta, justru yang ada bisa jadi membuatnya semakin menjauh. Dan itu membuat kesempatan Putra mendekatinya semakin terbuka lebar.
Heh, aku bahkan lebih sering berpikiran buruk tentang mereka. Apalagi saat aku berjauhan dengan Kanya. Sementara mereka berada di waktu dan tempat yang sama. Bahkan bisa jadi lebih sering melewatkan momen bersama.
Aku menghela napas panjang. Membuang jauh perasaan yang menyiksa itu. Walaupun tidak sepenuhnya berhasil.
"Kan lo juga tahu, gue bukan orang yang setengah-setengah kalau lagi fokus sama sesuatu. Nah kebetulan saja fokus gue lagi tercurahkan ke proyek kita," kataku mencari alasan.
"Halah, licin amat lo kayak pemegang kekuasaan. Kayak gue baru kenal sama lo saja. Raz, gue kenal betul siapa lo ya. Sudahlah, nggak usah ngeles. Gue tahu, sibuk itu cuma alasan lo menghindari sesuatu. Coba sini bilang. Apa sih yang membuat sikap lo kayak gini? Semakin lo menghindar, masalah yang lo hadapi nggak akan cepat selesai."
Hanung menatapku tajam. Sementara aku pura-pura sibuk menggambar di atas tablet yang sebenarnya semakin tidak berbentuk apa yang aku gambar. Hanya coretan garis tidak berwujud yang makin mirip dengan perasaanku saat ini.
"Serius lo nggak mau cerita sama gue?"
"Bukannya gue nggak mau cerita. Gue cuma nggak tahu meski gimana mengawali ceritanya. Terlalu rumit, Nung. Lo pernah dengar nggak sih gimana kondisi keluarga Kanya?" kataku pada akhirnya setelah tercipta kesunyian cukup lama di antara kami. Mendengar pertanyaanku, Hanung tampak merenung. Seolah memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Gue nggak pernah dengar langsung dari Kanya, sih, tapi beberapa waktu lalu lagi ramai dibicarakan anak-anak kantor kalau dia saudaraan sama vokalis Nada Sumbang. Tahu nggak lo, band yang lagi naik daun gitu katanya. Gue nggak begitu mengikuti musik akhir-akhir ini. Kata mereka juga bukan saudara kandung. Jadi ibunya Kanya nikah lagi sama bapaknya di vokalis itu. Kalau nggak salah sih gitu. Gue juga dengar dari anak-anak yang suka gosip. Entah deh benar nggaknya."
Cerita Hanung membuatku lagi-lagi menghela napas panjang. Bahkan isu tentang Kanya bersaudara dengan Putra lebih dulu menyebar ketimbang perempuan itu diisukan jika sudah memiliki kekasih. Lagi-lagi perasaan nyeri itu menampar hatiku. Aku dikuasai cumburu.
"Iya, gue tahu. Gue juga sudah ketemu sama dia. Dia juga yang beli apartemen gue waktu bokap maksa buat jual hasil jerih payah gue selama ini."
Betapa dunia ini begitu sempit bukan? Bahkan kisah kami saling terhubung dan tidak bisa dihindarkan. Seolah semesta memang sengaja mendekatkan kami dengan kisah rumit yang tidak biasa.
"Serius? Terus kaitannya sama mood lo yang rusak banget ini apa?"
Aku tak juga menjawab pertanyaan Hanung dan justru memilih merebahkan badan di punggung sofa di lantai dua. Tempat yang sengaja disediakan khusus untuk bersantai bagai para karyawan nantinya.
"Mereka dulu pernah pacaran."
"What? Serius lo?" teriak Hanung saat mendengar komentarku. Laki-laki itu bahkan sampai tersedak saat meminum air mineral dan menyebabkannya terbatuk-batuk.
"Terus gue mesti bohong sama lo biar apa?"
"Demi apa pun, gue berharap kali ini lo bohong sih, Raz."
"Sayangnya gue nggak minat bohong kali ini," kataku malas. Hanung semakin heboh begitu mendengar jawabanku.
"Jadi gimana ceritanya bisa gitu? Kok Kanya nggak pernah cerita sama gue sih?"
"Ya mana gue tahu kenapa Kanya nggak pernah cerita."
"Terus, lo juga nggak mau cerita sama gue?"
Aku menghela napas panjang. Rasanya menyesal telah bercerita pada Hanung tentang apa yang kurasakan sekarang. Laki-laki itu terus saja memburuku dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin membuatku malas menanggapinya.
"Sumpah, lo kudu cerita, Raz. Seenggaknya biar perasaan lo lega." Dalih Hanung demi memuaskan rasa penasarannya. Aku tertawa sinis.
"Singkatnya mereka pacaran dari SMA, tapi putus gitu saja dua tahun lalu saat orang tua mereka memutuskan menikah."
__ADS_1
"Lah, memang orang tua mereka nggak saling kenal apa? Kalau dari SMA sampai sekitar dua tahun lalu berarti paling nggak sudah delapan tahun dong?"
"Putra kayaknya sih sudah kenal sama mamanya Kanya, tapi Kanya belum kenal sama papanya Putra. Soalnya laki-laki itu sibuk mengurus perusahaan di beberapa kota. Nah, pertama kalinya kenal papanya Putra, laki-laki itu juga mengenalkan mama Kanya sebagai calon istrinya."
"Gila. Bisa ada cerita kayak gitu. Sebentar, tapi ini belum menjawab pertanyaan gue tadi. Lo kenapa bisa se-bad mood ini? Toh mereka sudah jadi mantan ‘kan?"
"Ngomong sih gampang. Kenyataannya nggak semudah itu juga."
"Gimana memang?"
"Hufftt … lakinya kirim pesan ke gue bilang kalau masih suka sama Kanya. Bukan sebagai adik, tapi sebagai perempuan."
"Gila sih ini! Rumit banget kisah kalian. Terus, lo kepikiran sama pengakuan dia?"
"Iyalah. Gimana bisa gue lupa. Walaupun maunya juga pengen segera lupa."
"Ya tinggal gimana Kanya, dong."
Ya, seharusnya memang semudah perkataan Hanung. Namun, kenyataannya tidak bisa semudah ucapan laki-laki itu. Masih ada perasaan yang tertinggal di hati Kanya dan aku tidak sanggup menerimanya. Aku hanya ingin Kanya memikirkanku saja. Tanpa ada laki-laki lain di antara kami.
"Entahlah, gue nggak tahu mesti gimana lagi."
"Kanya belum bisa lupa juga? Tapi kalau saran gue sih, Raz, lo juga nggak bisa maksa Kanya buat sepenuhnya lupa sama mantan kekasih yang sekarang jadi kakaknya. Apalagi status mereka sekarang jadi saudara tiri. Bagaimanapun mereka akan tetap saling terhubung dan berhubungan. Kalau lo masih terbawa suasana kayak gini terus yang ada lo menyiksa diri sendiri."
"Terus gue mesti gimana? Gue ‘kan juga punya perasaan, Nung. Yah walau sekarang perasaan Kanya sudah semakin terbuka sama gue, tapi rasanya gue nggak terima setiap kali ingat kalau dia masih memikirkan Putra. Ribet nggak sih? Gini amat sekalinya pacaran."
Tawa Hanung pecah saat mendengar ucapanku yang terkesan putus asa. Laki-laki itu menepuk bahuku yang masih bersandar pada punggung sofa.
"Sudah ajak nikah saja. Siapa yang masih berani merebut Kanya dari kamu kalau statusnya sudah jelas. Selama kalian masih pacaran, juga bakal ada Putra-Putra yang lain yang bakal mendekati Kanya. Yang sudah jelas statusnya saja kadang masih ada yang mencoba godain loh. Apalagi yang masih sebatas pacar."
Hanung tertawa puas setelah mengucapkan petuahnya yang justru terkesan bercanda. Meski begitu mampu mengusir sedikit perasaan gundah dalam hatiku. Walaupun pembicaraannya perkara menikah justru menimbulkan polemik baru. Dari awal juga niatku memang mengajak Kanya menikah. Hanya saja perempuan itu memintanya agar berjalan senaturalnya saja.
Huffttt … mungkin aku memang butuh waktu untuk menepi sebelum akhirnya berjuang dan memastikan jika kutukan Arez memang tidak keliru.
__ADS_1