Pulang

Pulang
Season 2 #Amarah


__ADS_3

Menjelang magrib, Kanya masih duduk gelisah di lobi MediaPena seorang diri. Suasana semakin sepi. Hanya tersisa penjaga malam dan seorang staf dari divisi marketing yang tampaknya masih harus menyelesaikan pekerjaannya. Sesekali dia berdiri untuk memastikan apakah mobil Araz sudah terlihat atau belum. Sementara tangannya tidak henti mengecek gawai apakah sudah ada balasan dari laki-laki itu.


Sejak pukul lima sore, Kanya mengirimkan pesan pada Araz dan sama sekali tidak ada jawaban. Jangankan balasan, pesannya pun hanya berakhir dengan dua centang abu-abu yang membuatnya semakin gelisah. Dia takut telah terjadi sesuatu pada Araz. Sedangkan telepon pun tidak diangkat olehnya.


Ingin rasanya Kanya bergerak ke mana pun, untuk mencari dan memastikan jika Araz baik-baik saja. Namun, harus ke mana Kanya pergi, dia pun tidak tahu. Maka satu-satunya hal yang dia lakukan hanyalah menunggu. Araz tidak mungkin membiarkannya terlantar semalaman di lobi kantor 'kan? Itulah pikiran yang terus Kanya yakini. Sebab, dia kini mulai ketakutan.


Bukan, Kanya tidak takut pada penjaga malam yang lebih dianggapnya sebagai kakek. Atau Rizal anak marketing yang masih terlihat sibuk di ruangannya. Kanya hanya takut jika tiba-tiba muncul sosok berjubah putih dan membuatnya pingsan. Apalagi kalau bukan para memedi yang katanya menghuni gedung MediaPena. Bagi Kanya itulah hal yang paling menakutkan saat ini. Seandainya benar-benar muncul, Kanya tidak bisa menggunakan kekuatan fisik untuk melawan mereka dan jelas, itu pasti sangat melelahkan.


"Neng, belum pulang?" sapa Pak Rozak selepas beliau memastikan seluruh penerangan kantor MediaPena sudah menyala. Beliau menyapa Kanya yang masih saja tampak gelisah di lobi tempat kerjanya.


"Iya ini, Pak. Masih nunggu jemputan."


"Memang Pak Araz, ke mana?" tanya Pak Rozak kemudian dengan suara pelan.


Memang tidak banyak yang tahu hubungan spesial antara Kanya dengan Araz. Hanya beberapa orang saja yang mengetahui jika mereka sepasang kekasih dan menjamin kerahasiaannya. Pak Rozak salah satunya.


Kanya hanya tersenyum lemah menanggapi pertanyaan Pak Rozak. Entah bagaimana dia harus menjawabnya. Sebab, hampir semua karyawan MediaPena tahu, Araz termasuk orang yang terstruktur dan tepat waktu. Semua terperinci dengan jelas dalam agendanya. Dan, seharusnya menjemput Kanya memang masuk dalam agenda laki-laki itu pada pukul lima sore tadi. Namun, sampai saat ini, dia masih juga belum terlihat.

__ADS_1


Sebenarnya, Kanya tidak ingin diantar-jemput oleh Araz setiap hari. Apalagi harus bangun dan berangkat terlalu pagi, agar kemunculan mereka tidak diketahui oleh yang lain. Begitu pula ketika pulang. Mereka harus menunggu sampai kantor sepi. Kanya pun sudah mengatakan berulang-ulang pada Araz agar membiarkannya membawa mobil sendiri, tetapi laki-laki itu bilang, biar dia yang menjadi tangan kanan Kanya untuk urusan yang satu itu. Kanya tidak bisa lagi menolak.


"Neng, kok malah bengong? Pak Araznya, ke mana?"


"Nggak tahu ini, Pak. Susah juga dihubungi dari tadi," jawab Kanya pada akhirnya.


Laki-laki itu mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Katanya kemudian,"Kok tumben telat banget jemputnya. Biasanya kalau dari tugas luar pun, pasti on time jam lima sudah sampai kantor. Sekarang sudah mau magrib, Neng."


"Iya, makanya itu, Pak. Kanya juga nggak tahu kenapa dia belum datang juga. Pesan Kanya juga belum ada dibalas."


Kanya mengecek gawainya sekali lagi. Masih centang dua abu-abu.


Beruntung, saat dia memutuskan untuk ke kedai kopi terdekat, dia bertemu Hanung dan Abi yang kebetulan sedang ingin makan siang di tempat favorit mereka. Mulanya Kanya juga tidak tahu kalau ada kedai kopi yang memiliki menu lengkap dengan makanan berat. Terlebih kedai kopi itu menjadi tempat favorit kepala redaksinya. Yang pasti tidak mungkin meragukan soal rasa. Sepiring mie goreng jawa dan segelas jus stroberi bisa mengembalikan mood-nya yang berantakan. Dari pertemuannya dengan Hanung pula Kanya tahu jika hari ini Araz berulang tahun.


Dengan semangat yang diwariskan para pemuda bangsa ini sejak tahun 1928, Kanya bergegas menyiapkan kejutan kecil untuk Araz. Dia membeli cake di toko langganannya dan pergi ke mall untuk membelikan kado bagi Araz. Tidak lagi peduli soal mood-nya yang berantakan akibat gagal memperoleh hasil wawancara yang sudah dia nantikan. Tidak apa, toh masih banyak topik menarik yang bisa dia bahas untuk bahan berita. Namun, di tengah semangat Kanya mempersiapkan segalanya, justru dia yang terkejut sebab sampai saat ini laki-laki itu belum muncul juga.


"Tunggu saja di dalam, Neng. Nanti saya kasih tahu Pak Araznya kalau sudah sampai. Udah mau gelap ini. Nggak baik perempuan di luar rumah jam segini. Pamali," ucap Pak Rozak.

__ADS_1


"Tunggu dulu deh, Pak. Kali aja sebentar lagi sampai."


Dan, benar juga tebakan Kanya. Tak lama, mobil yang dikendarai Araz memasuki halaman kantor MediaPena dan langsung menuju lobi tempat Kanya menunggu. Setelah berpamitan pada Pak Rozak, Araz segera meninggalkan kantor MediaPena tanpa banyak bicara. Bahkan meminta maaf atas keterlambatannya menjemput Kanya pun tidak.


Tanpa sadar, air mata mulai berlinang di pipi Kanya. Dia tidak pernah menghadapi Araz yang terlihat begitu tempramen. Bahkan amarah terlihat jelas di kedua mata laki-laki itu saat ia menatapnya pertama kali ketika bertemu. Kanya tidak tahu apa yang menyebabkan laki-laki itu begitu marah. Ingin rasanya Kanya bertanya, tetapi bibirnya terlalu kelu. Ia terlalu penat sampai tak ingin berdebat. Ketika sampai di basment apartemen Kanya pun, Araz tak juga bersuara.


"Mas Araz, ada masalah apa?" tanya Kanya pada akhrinya setelah dia mengumpulkan keberanian untuk menatap kedua mata Araz yang menyimpan bara.


Tidak ada jawaban. Mulut Araz membisu.


"Kanya ada salah sama Mas Araz?"


Laki-laki itu masih saja tak mau bicara.


Kanya menghela napas lelah. Diserahkannya paper bag berisi tart ulang tahun yang seharusnya mereka rayakan berdua. Namun, ternyata mood Araz lebih berantakan daripada yang Kanya kira.


"Maaf, aku nggak tahu kalau Mas Araz hari ini ulang tahun. Harusnya ini bakal jadi kejutan buat Mas Araz begitu kita sampai di atas. Tapi kayaknya Mas Araz lagi nggak mood ngobrol sama aku. Jadi, aku kasih tart-nya sekarang aja. Selamat ulang ... "

__ADS_1


Sebelum Kanya sempat menyelesaikan kalimatnya, Araz memeluk tubuh perempuan di depannya itu. Erat. Begitu hangat. Sangat berbanding terbalik dengan bara yang semula menari di kedua matanya. Kanya tersenyum di balik punggung Araz.


Memang, kalau sebuah hubungan selalu dilewati dengan momen manis setiap saat, kapan mereka akan sama-sama belajar memahami dan mengolah rasa. Meskipun Kanya masih belum tahu apa yang menyebabkan Araz begitu marah, setidaknya lewat pelukan itu dia tahu, bahwa lelakinya memiliki rasa cinta yang luar biasa.


__ADS_2