Pulang

Pulang
My Guardian Angel


__ADS_3

Renjana Kanya


Bahagianya kupunyamu


Berharganya bersamamu


Selalu kan menjaga


Semuanya ini


Semoga kan abadi


Akhirnya kutemukan


You're my guardian angel


Ku mohon selamanya


Seindah ini


Akhirnya kumiliki


You're my guardian angel


Terjawab segalanya


Kau yang kunanti


Baby, I love you


Bahagianya ada kamu


Berharganya cinta kamu


Selalu kan menjaga semuanya ini


Semoga kan abadi


Akhirnya kutemukan


You're my guardian angel


Kumohon selamanya


Seindah ini


Akhirnya kumiliki


You're my guardian angel


Terjawab segalanya


Kau yang ku nanti


Baby I love you *


 


“Putra, coba dengar lagu ini deh.”


Siang itu kami menghabiskan waktu di studio musik di rumah kakek Putra. Nada Sumbang ada jadwal latihan dan aku diminta menemani cowok itu. Katanya ada undangan untuk mengisi acara saat pergantian tahun. Dia meminta saranku, sebaiknya lagu apa saja yang bagus dinyanyikan ketika performance.

__ADS_1


Selain itu, aku dapat tugas tambahan dari Nada Sumbang. Mereka selalu menjadikanku kritikus atas penampilan mereka. Kata Anggit maupun Danu, aku punya telinga yang bagus untuk mendeteksi kesalahan yang mereka lakukan. Apalagi pada dasarnya, aku pun mencintai musik sebagaimana aku mencintai kata-kata.


“Kamu minta aku nyanyikan lagu ini waktu manggung?” tanya Putra tidak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya. Dia selalu terlihat geli ketika harus menyanyikan lagu dari penyanyi perempuan. Apalagi dengan nada dan melodi yang begitu melankolis.


“Nggak gitu juga, Putra. Aku nunjukkin lagu ini tuh buat kamu. Ngerti nggak sih maksudku?”


Tawa Putra semakin lebar. Cowok itu mengacak-acak rambutku yang tidak pernah lebih dari pundak sejak dulu.


“Nggak ngerti. Coba kasih tahu dong. Apa maksudnya kamu kasih tahu aku lagu ini? Kamu lagi menyatakan cinta ya? 'Kan kita sudah jadian Anya, ngapain pakai acara menyatakan cinta segala sih?” komentar Putra ngasal.


Cowok itu selalu begitu. Sering kali mengucap hal-hal absurd yang ada di dalam pikirannya. Terkadang sikapnya yang seperti itu membuatku gemas dan ingin sekali mencubitnya.


“Ish, gitu banget sih. Pura-pura nggak tahu, tapi sendirinya ketawa. Ngeledek nih ceritanya.”


“Nggak, sumpah. Aku beneran nggak tahu maksud kamu, Anya. Memang kenapa sih kamu nunjukkin lagu ini buat aku? Cinta Laura bukan sih? Memang cantik sih, suaranya juga bagus. Kamu mau nyanyi juga? Suara kamu juga bagus loh.”


Aku memutar bola mata menanggapi pernyataan Putra. Cowok itu selalu begitu. Pura-pura tidak memahami apa yang aku katakan, padahal dia yang paling paham dengan apa yang ingin aku sampaikan.


“Lirik lagunya, Putra. Ish, ngeselin banget sih.”


Senyum mengembang di wajah Putra. “Iya, memang kenapa sama lirik lagunya?”


Pertanyaan Putra membuat wajahku terasa panas. Aku tahu, wajahku pasti memerah saat dia mengajukan pertanyaan itu. Bukan pertanyaan Putra yang membuatku tersipu, tetapi jawaban atas pertanyaan itulah yang membuatku malu.


“Ini tuh kayak gambarin posisi aku sama kamu. You're my guardian angel. Rasanya aku beruntung ketemu sama kamu lagi setelah lama pisah, nggak ada kabar, ngilang begitu saja, dan tiba-tiba kamu balik terus kita jadi makin dekat.”


“Hemm ... kalau aku guardian angel kamu, berarti kamu jiwa yang harus aku jaga dong.”


Aku tersipu. Senyumku malu-malu mendengar Putra menyebutku sebagai jiwa yang harus dia jaga.


“Itu sih ... terserah kamu mau anggap aku apa.”


“Loh, kok gitu. Ya kalau aku malaikat penjaga, berarti sudah tepat kalau kamu itu jiwaku dong.”


“Lah, gimana sih. Kok jadi malu-malu. Jiwaku, lihat sini dong.”


"Apaan sih, Put. Aneh tahu nggak."


“Ihh, kok aneh. Yang pertama cari istilah guardian angel ‘kan kamu, kok malah jadi aku yang aneh sih.”


“Iya sudah, tapi nggak usah digodain gitu juga kali.”


“Sini, pinjam HPnya.”


“Buat apa?”


“Sudah sini, pinjam dulu HPnya.”


Putra merebut handphone dari tanganku dan membuka penyimpanan kontak. Setelah menemukan yang dia cari, cowok itu mengganti nama kontaknya dengan nama My Guardian Angel.


“Mulai sekarang, nama kontak kamu juga bakal aku ganti jadi Jiwaku ❤. Impas ‘kan?”


Senyum kami sama-sama merekah. Di mataku hanya Putra yang sosoknya aku harapkan selalu bisa mendampingi sampai kapan pun itu.


***


Bohong jika aku bilang sudah tidak lagi memiliki perasaan cinta pada Putra. Sungguh, pacaran delapan tahun itu bukan waktu yang sebentar. Apalagi kami sama-sama tumbuh menjadi dewasa berdua. Kisah kami yang tak selalu manis mengajarkan banyak hal dalam proses pendewasaan. Namun, kukira itu semua telah mati saat aku memutuskan pergi. Pada kenyataannya aku masih terjatuh dalam api yang membara meliputi kami.


Aku memang tertidur saat Putra menggendong tubuhku ke kamar. Meski begitu, indera pendengaranku selalu lebih peka bahkan saat memejamkan mata sekalipun. Semua ucapan Putra tertangkap jelas di telingaku. Bahkan ketika dia mengatakan jika masih menyimpan perasaan sayang padaku dan memanggilku dengan sebutan “jiwaku”. Sebutan yang sebenarnya membuatku terjaga saat itu juga.


"Mimpi indah juga my Guardian Angel," kataku tanpa sadar terbawa suasana.

__ADS_1


Panggilan itu, dulu begitu dekat dengan kami. Guardian Angel. Malaikat penjaga dan jiwa yang dijaga. Aku tidak tahu jika Putra masih mengingat panggilan itu. Kupikir dia sudah lama melupakannya sejak memutuskan untuk mendukung Mama dan Ayah Eka bersatu. Lagipula, dia yang mendorongku pergi. Dari awal aku selalu berpikir jika laki-laki itu tidak lagi memiliki perasaan kepadaku. Itulah yang membuatku marah padanya. Itulah yang membuatku membencinya dan tidak pernah ingin bertemu dengannya.


Pun saat dia meminta maaf, tak pernah sekalipun dia mengatakan jika ingin kembali padaku. Tak pernah dia mengakui jika masih menyimpan perasaan cinta kepadaku. Dia selalu memintaku untuk menerima kenyataan jika Mama dan Ayah Eka telah bersatu dan tidak ada hal yang bisa kami lakukan selain menerima keputusan itu.


Namun, setelah aku berdamai dengan rasa sakitku, setelah aku mencoba menerima Araz dengan separuh hatiku yang tersisa, tiba-tiba Putra mengatakan jika masih menyayangiku dan memanggilku dengan sebutan yang seharusnya tidak boleh dia lakukan sekarang.


Tanpa sadar air mataku menggenang. Terlebih saat dia menempelkan bibirnya di bibirku. Aku tak bisa menolak ciumannya. Kami bertukar ciuman dengan derai air mata. Dadaku terasa sesak. Tidak pernah aku merasakan jatuh cinta sedalam perasaanku pada Putra. Dia yang mengajarkan hal pertama tentang cinta, juga tentang lara.


"Harusnya lo nggak usah bilang. Harusnya lo diam sejak awal," kataku lirih masih menahan tangis. Putra membawaku dalam pelukannya. Dia berdiri di samping tempat tidur dengan posisi aku terduduk di atas ranjang.


"Maafin aku, sudah bersikap egois. Aku cuma nggak bisa bohongi perasaanku sendiri kalau aku masih sayang sama kamu, Nya. Aku bisa membohongi semua orang kalau aku baik-baik saja tanpa kamu. Aku baik-baik saja mendukung Papa dan Mam Sukma, tapi aku nggak bisa bohongi diri aku sendiri. Maafin aku, Nya. Aku minta maaf."


"Ini nggak adil, Putra. Ini sama sekali nggak adil. Lagi-lagi lo membuat gue terluka dengan cara yang berbeda. Kenapa nggak pernah lo akuin dari awal kalau lo juga nggak bisa terima keadaan ini. Kenapa lo nggak pernah memilih untuk berani pergi sejak awal. Kenapa ... gue harus gimana sekarang? Kenapa baru sekarang lo akuin, Putra."


Tangisku semakin pecah. Pelukan Putra semakin kencang.


"Aku hanya ingin melihat orang-orang di sekitarku bahagia, Anya. Aku ... ."


"Lantas lo ngorbanin diri sendiri hanya demi melihat mereka bahagia? Demi melihat gue bahagia dengan orang lain? Bukannya itu justru membuat lo menderita? Bukannya itu justru membuat lo sakit?"


Putra menunduk. Dikecupnya keningku dengan lembut.


"Nggak, aku hanya belum menemukan obatnya. Kalau saja aku sudah menemukan obatnya, aku yakin juga pasti bakal sembuh. Kamu tahu, satu-satunya yang aku harapkan saat ini hanyalah kamu kembali ke sini. Ke rumah ini. Di tengah-tengah keluargamu. Keluarga kita. Nggak masalah bagiku kamu menjadi apa pun itu, Nya. Asalkan kamu nggak menjauh dari aku. Cukup itu saja."


"Lo pernah mikirin perasaan gue nggak sih setiap kali ngomong hal kayak gini?" tanyaku dengan suara bergetar.


Putra menatapku dengan kedua matanya yang selembut dahulu. Bibirnya tersenyum tipis. Meski dia tidak mengucapkannya, aku tahu ada perasaan getir yang terselip di senyumnya yang terasa beku.


"Aku selalu tahu, Nya. Bahkan tanpa kamu mengucapkannya pun aku selalu tahu. Tapi bagaimanapun, aku nggak akan merampasmu atau mungkin memintamu pada Araz, bukan? Bahagialah kalian berdua. Sudah cukup bagiku, Nya. Maafkan aku, jika pada akhirnya aku tetap bersikap egois."


"Ini nggak adil, Putra. Sama sekali nggak adil."


"Sudah, aku sudah berjanji pada diriku sendiri jika ini yang terakhir. Aku nggak akan mengusikmu lagi dengan perkara kisah yang pernah terjadi di antara kita. Aku hanya ingin mengakui saja biar perasaanku lega. Nggak lebih. Aku pun nggak akan memintamu kembali padaku. Sudah cukup bagiku dengan melihatmu kembali ke rumah ini, Anya. Sebab tempatmu memang di sini. Di sinilah kamu seharusnya berada. Nggak di tempat jauh dalam pengasinganmu selama ini."


"Aku ... ."


"Tolong, apa pun itu jika tentang aku, jangan katakan, Anya. Aku nggak mau mengetahui fakta yang membuatku semakin menyesal dan terluka."


Mulutku bungkam. Kupandangi wajah Putra yang terlihat semakin terluka. Kutelan kegetiran yang selama ini selalu kusembunyikan. Bahwa aku tak bisa sepenuhnya melupakan perasaan cintaku pada laki-laki itu. Namun, lagi-lagi lelaki itu mendorongku pergi di saat yang sama dia juga memelukku.


Air mataku mengalir. Merasakan nyeri yang semakin ngilu di balik tulang belulangku.


"Ada hati yang harus kita jaga, Anya. Bukan hanya satu, tetapi akan banyak hati yang terluka jika kita memaksa menerabas batas itu. Sungguh, aku minta maaf, Nya. Aku minta maaf jika harus mengorbankan perasaanmu. Perasaan kita. Aku yakin, Araz lebih bisa membuatmu bahagia. Dia laki-laki yang baik. Percayalah."


Senyum terukir saat Putra menyebutkan nama Araz. Laki-laki itu, memang baik seperti yang Putra bilang. Bahkan dia terlalu sempurna. Tanpa celah untuk mencari cacat dalam diri laki-laki itu. Lantas, apakah jahat jika aku menerimanya sebagai kekasih, tetapi di satu sisi belum bisa melupakan Putra seutuhnya?


"Semua akan membaik, Anya. Percayalah. Aku yakin kita bisa melalui semua ini."


"Tapi bagaimana kalau aku ... ."


Kalimatku terjeda. Rasanya aku ingin mengatakan pada Putra, bagaimana jika aku tak bisa melupakan perasaanku pada laki-laki itu. Namun, lidahku kelu. Aku tak mau menambahkan beban pikirannya. Bagaimanapun, Putra telah berkorban banyak pada perasaannya sendiri. Demi melihat orang-orang di sekitarnya bahagia. Mungkin memang benar, jika itu tentang perasaanku padanya, sebaiknya aku tak perlu mengucapkannya jika tidak mau membuat Putra merasa menyesal.


"Percayalah, Anya. Lembaran kisah kita memang sudah usai, tapi nggak ada kisah yang benar-benar selesai di antara kita. Kita bisa melanjutkan kisah dengan alur cerita yang berbeda 'kan? Aku nggak mau memaksamu untuk tetap bersamaku menjalani kisah yang romantis. Aku hanya mau berjalan beriringan denganmu menjadi sosok yang lain. Kakak terbaik buat kamu sama Viktor. Walau begitu, percayalah, aku tetap your guardian angel yang akan selalu melindungi kamu. Melindungi keluarga kita. Tumbuhlah dengan baik, Anya. Sungguh, kamu berhak bahagia atas hidup yang kamu jalani."


Jika Putra boleh bersikap egois, maka apakah aku juga boleh melakukan hal yang sama? Tanpa persetujuan laki-laki itu, aku memeluk tubuhnya erat. Sebelum akhirnya mencium bibirnya. Sebagai seorang lelaki yang pernah kucintai. Sebagai laki-laki yang masih menyisakan luka juga bahagia di waktu yang bersamaan. Juga sebagai salam perpisahan untuk benar-benar mengakhiri kisah romantis di antara kami.


"Maafin aku, Putra. Maaf jika aku memutuskan pergi dari kisah yang begitu rumit. Jujur aku nggak sanggup harus melanjutkan perjalanan tanpa kamu. Dua tahun ini bukanlah waktu yang mudah untuk menata ulang semua dari awal tanpa kamu, tapi aku lupa jika tingkat adaptasi manusia itu sangat tinggi. Pada akhirnya, mungkin aku akan benar-benar terbiasa tanpa kamu. Sebagai kekasihku. Walau begitu, aku minta maaf jika kelak, pada suatu waktu aku tiba-tiba memeluk bukan sebagai adik, melainkan orang yang mencintaimu. Huuhh, tapi siapa yang tahu 'kan akan gimana perasaan orang nantinya. Toh sekarang aku bisa menerima Araz jadi kekasihku. Mungkin ini juga nggak adil buat Araz, tapi selama dia sanggup menunggu, ini nggak apa-apa 'kan? Aku nggak jahat 'kan? Aku nggak bermaksud mempermainkan perasaannya kok," ucapku tanpa jeda.


Mata seteduh telaga itu menatapku. Dibelainya wajahku dengan lembut. Senyum yang terukir di bibir Putra lebih hangat dari sebelumnya.


"Aku yakin, Araz nggak mungkin bisa berpaling dari kamu. Laki-laki itu tulus mencintai kamu, Anya. Dan aku yakin, pada akhirnya kamu juga akan mencintainya. Mungkin, aku akan tetap menyerupai bayang-bayang, tapi ia nggak akan muncul jika nggak ada sinar yang meneranginya bukan? Maka yang perlu kulakukan hanyalah menghindari sinar itu sebisa mungkin. Percayalah, kita bisa melewati ini semua."

__ADS_1


Aku menghela napas panjang. Putra benar, tidak ada gunanya juga menyesali semua yang terjadi saat ini. Kami hanya perlu terus melangkah menatap masa depan. Menjadikan hal yang sudah pada tempatnya sebagai acuan untuk meraih kebahagiaan.


Ya, semuanya akan membaik. Semuanya akan baik-baik saja. Semuanya hanya butuh waktu untuk kembali sembuh. Semuanya hanya butuh obat dengan dosis yang tepat. Dan, aku sudah menemukannya. Tidak mungkin aku mengkhianatinya. Sebab aku memilihnya bukan untuk mempermainkannya. Aku memilihnya karena memang ingin berubah menjadi lebih baik dibanding sebelumnya. Terlebih lagi, aku memilihnya karena tidak ada drama rumit yang mengikat kami. Kecuali kisah rumit kami sendiri tentang masa lalu yang bisa dimaklumi.


__ADS_2