Pulang

Pulang
Season 2 #Kembali ke Rutinitas


__ADS_3

Kanya kembali bersitegang dengan Hanung. Raut keduanya terlihat tak ada yang mau mengalah satu sama lain. Sama-sama keras kepala mempertahankan argumen masing-masing. Mereka mendebatkan bentuk tulisan yang akan ditampilkan di laman media daring yang berusia belum genap satu bulan itu. Hanung sebagai redaktur pelaksana bersikeras harus mengutamakan mengejar peristiwa – yang terpenting 5W 1H terpenuhi. Sedangkan Kanya yang sudah terbiasa menulis mengutamakan isi berita tak bisa dengan mudah menerima saran seniornya itu. Padahal sebelum Kanya resmi bergabung dengan MediaPena, semua berjalan lancar-lancar saja dan berita mereka tetap banyak yang membaca karena mengutamakan peristiwa.


Sementara itu, empat reporter lainnya – yang benar-benar baru di dunia jurnalistik dan direkrut bersamaan dengan peresmian MediaPena – hanya saling mencuri tatap dengan raut muka ketakutan. Tidak menyangka jika anak baru yang muncul belum genap satu minggu sudah berani membantah perkataan redaktur mereka.


"Kalau gaya kita kayak gitu apa bedanya sama media daring lainnya, Mas? Katanya mau bikin media anti mainstream?" Pertanyaan Kanya telak membungkam Hanung. Laki-laki itu tak sanggup membalas. Bapak satu anak itu tampak merenung setelah memikirkan kalimat Kanya.


Memang perkataan Kanya ada benarnya. Media daring selama ini hanya fokus pada peristiwa yang terjadi saja. Penulisannya pun terkadang terkesan terburu-buru demi siapa yang paling cepat mengunggah berita dan menarik minat pembaca. Bahkan tidak jarang judulnya dibuat begitu bombastis yang bahkan sama sekali tidak ada dalam berita. Jarang sekali menyuguhkan liputan peristiwa yang lebih mendalam. Deep news.


Begitu juga yang terjadi di bagian media daring di kantor Hanung yang lama. Itu sebabnya dia tak pernah mau saat ditawari untuk memegang media daring. Dia lebih suka berkecimpung di media cetak agar bisa menyuguhkan berita yang juga mencerdaskan bagi pembaca. Tidak melulu soal 5W+1H yang terkesan digarap asal-asalan.


Dan, bagi Kanya yang sudah terbiasa menggali informasi sedetail-detailnya tentu hal itu mematikan karakter tulisannya. Selama ini dia dikenal sebagai reporter yang cakap melalui tulisannya yang tajam dan tidak seperti kebanyakan jurnalis lainnya. Dia sudah terbiasa menulis panjang dan tiba-tiba harus dipangkas demi tampilan web yang tidak seberapa. Dia sudah terbiasa menuliskan setiap detail hasil wawancaranya dengan narasumber hingga selalu mendapat pujian dari mereka.


Hanung memahami situasi Kanya lebih dari siapa pun. Sejak awal Hanung jugalah yang mendidik Kanya hingga seperti saat ini. Dalam dua tahun kemampuannya berkembang pesat. Apalagi kecerdasan perempuan itu didukung oleh kerja keras, rasa tak kenal lelah, juga ingin tahu yang tinggi. Oleh sebab itu pula Hanung bersikeras mengajak Kanya ikut serta ketika dirinya membangun MediaPena bersama Araz. Hanung tidak ingin kehilangan aset berharga.


Jika sekarang Kanya menuntutnya untuk sebuah media daring yang berbeda dengan kebanyakan, tentu Hanung juga memahami hal itu. Bahkan dia sendiri yang dulu mengatakannya pada Kanya jika ingin membuat media daring dengan konsep yang berbeda. Namun, pada kenyataannya dia sendiri terlena akibat ingin menaikkan rating pembaca.


"Kalau kita mau naikin rating pembaca jangan tiru yang udah biasa dong, Mas. Kayak nggak ada ide lain saja," ucap Kanya semakin pedas. Seorang reporter yang satu tim dengannya bahkan dengan terang-terangan menunjukkan keterkejutannya.


"Oke, jadi kamu punya rencana apa? Nggak mungkin kamu ngomong tanpa perencanaan ‘kan?"


Senyum mengukir di bibir Kanya. Kesempatan yang ditunggu perempuan itu sejak tadi akhirnya terbuka juga. Dipandangannya satu per satu raut wajah para reporter yang duduk melingkar di ruang redaksi.


"Kita nggak boleh abai soal liputan deep news, Mas. Produk berita berupa features harus ada. Kalau dalam sekali tulis, kita bisa biki beberapa part menyesuaikan halaman web. Kalau kita nggak menawarkan hal yang beda, justru lama kelamaan akan dianggap remeh."

__ADS_1


Hanung lagi-lagi mengakui jika perkataan Kanya memang benar. Media tidak bisa sepenuhnya bergantung pada peristiwa saja. Itu sama halnya mendoakan terjadi peristiwa setiap hari agar tetap ada bahan untuk menulis berita. Maka satu-satunya cara hanyalah meliput lebih mendalam sebuah peristiwa agar tidak berhenti pada informasi yang hanya sekadar menyajikan 5W+1H.


"Oke, usul lo, gue terima. Kita memang harus menyajikan hal yang berbeda untuk menunjukkan kualitas kita. Nanti gue akan sampaikan ke tim IT biar mereka ubah tampilan web sesuai yang kita butuhkan. Mumpung masih awal pekan, kayaknya lo bisa awali mulai minggu ini deh, Nya."


Kanya terlihat antusias menanggapi pernyataan Hanung. Ditatapnya lagi satu per satu reporter yang masih duduk melingkar di ruang redaksi. Di antara empat reporter baru, ada dua lagi perempuan yang sejak tadi terlihat begitu terintimidasi dengan keberadaan Kanya dan setiap kalimat yang keluar dari mulut perempuan itu. Bahkan mereka sama sekali tidak berani menatap Kanya yang semakin jelas menunjukkan aura permusuhan. Hanung yang menyadari perubahan sikap Kanya meminta anak buahnya segera keluar ruangan dan menahan Kanya agar tetap di tempat.


"Ada hal yang lo sembunyikan dari gue ya?" tanya Hanung begitu keempat reporter baru MediaPena keluar ruangan.


Senyum Kanya mengembang. Meski lebih terlihat kesal ketimbang senyum tulus yang biasa dia tunjukkan.


"Setidaknya mereka harus belajar menghargai orang lain dari kemampuannya, bukan dari apa kata ... ," ucap Kanya justru membuat Hanung bingung.


"Gimana sih nih bocah. Ditanya bukannya jawab yang jelas malah bikin teka-teki."


Tawa Hanung tidak bisa dia tahan begitu mendengar keluh kesah Kanya. Pantas saja perempuan itu begitu ngotot mempertahankan argumentasinya. Ya, meskipun semua yang dikatakan Kanya memang benar, tetapi biasanya perempuan itu jarang sekali menggunakan kalimat sarkas seperti yang dia lakukan beberapa menit lalu. Kanya lebih santun dan elegan jika menyampaikan pendapat. Apalagi jika di hadapan Hanung.


Lain cerita jika di luar forum seperti saat ini. Kanya lebih apa adanya dan tidak suka menutupi apa pun di depan Hanung. Toh kalaupun dia berusaha menutupi hal sekecil apa pun dari Hanung, itu tak mungkin bisa terjadi. Hanung seorang empath yang bisa merasakan apa yang dirasakan oleh lawan bicaranya. Terlebih karena Kanya sudah menganggap Hanung seperti kakaknya sendiri, meskipun juga menganggap laki-laki itu sebagai gurunya. Begitu juga sebaliknya. Hanung sudah menganggap Kanya seperti adiknya sendiri.


"Terus, sudah puas sekarang? Tumben juga lo mau balas dendam perkara kayak gini. Biasanya juga biarkan karya yang bicara."


"Nah, itu tadi juga cara buat nunjukkin ke mereka soal biarkan karya bicara, Mas. Kalau gue nggak punya ladang, terus gue mau tabur benih di mana dong? Ya Mas Hanung sih, punya alat canggih kok disia-siakan."


Tawa Hanung tak hentinya terputus menanggapi pernyataan Kanya. Perempuan itu memang paling bisa membuatnya tertawa.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong punya planning apa kamu buat isi konten baru kita?"


Wajah Kanya berangsur ceria saat Hanung bertanya tentang rencananya. Sejak kepulangannya dari kota kelahirannya, begitu banyak hal yang menumpuk dan ingin segera dia tuliskan. Namun, sebelum itu banyak hal juga yang harus dia cari tahu jawabannya.


"Soal virus yang menyebar dari daratan Cina, Mas. Kita harus bergerak cepat memberitakan masalah ini. Selengkap-lengkapnya. Sebelum media lain menulisnya mendahului kita." Mata Kanya berbinar saat mengucapkan rencananya pada Hanung.


"Masih amanlah kita soal itu."


"Nah, ini nih. Kita nggak bisa anggap enteng soal virus ini, Mas. Mbak Sinta sempat cerita ke gue beberapa waktu lalu kalau Cina sudah mulai mengetatkan wilayahnya dari penyebaran virus ini. Gue nggak berharap kalau kita juga bakal ngerasain hal yang sama sih, tapi kalau sampai virus ini menyebar ke luar dari negara asalnya ... booommm ... nggak bisa berkutik kita, Mas. Makanya sebelum semua itu terjadi, harusnya udah ada upaya-upaya yang dilakukan agar jangan sampai menyebar di negara kita."


"Yakin lo bisa dapat laporan eksklusif tentang hal ini?"


"Harus yakin dong. Ini bisa jadi bencana global kalau nggak cepat ditangani. Kita juga mesti siap kalau sewaktu-waktu hal itu yang bakal terjadi."


"Oke, kalau lo sanggup sih, gue bakal dukung aja keputusan lo. Demi berita eksklusif sih, siapa yang nggak mau coba."


"Dih, gaya lo aja sok pasrah sama peristiwa, tapi tetap aja bikin gue senggasara daripada yang lainnya."


"Mereka anak baru, Nya."


Mata Kanya melotot mendengar pernyataan Hanung. "Sejak kapan lo jadi lemah lembut sama anak baru, Mas? Gue aja yang dulu anak baru udah disuruh ngejar ******* dan kejebak di tengah baku tembakan."


Lagi-lagi Hanung tertawa. Setelah puas menertawakan Kanya, mereka keluar dari ruangan. Ada hal yang menanti mereka untuk dikerjakan.

__ADS_1


__ADS_2