
Renjana Kanya
Aku meminta Pak Pras untuk berhenti di pemakaman sebelum menuju bandara. Ada keluh yang ingin kubicarakan dengan ayah. Ada rindu yang ingin kusampaikan sebelum aku pergi lagi dari kota ini hingga batas waktu yang tak bisa kutentukan. Sudah lama pula aku tidak bertemu dengan beliau sejak dua tahun lalu.
"Ehm, aku boleh ikut turun?" tanya Aldo saat Pak Pras menepikan mobil di tepi jalan menuju pemakaman.
"Nggak masalah sih kalau mau ikut, tapi pasti jalannya agak becek karena semalam habis hujan. Sepatu Mas Aldo ganti aja sama sandal kalau bawa."
"Araz, Kanya. Tolong singkirkan Aldo dari ingatan kamu," kata lelaki itu membuatku tertawa.
Aku belum terbiasa menyebut nama lelaki itu dengan benar. Aldo lebih mudah melekat diingatan daripada Araz atau Alcatraz. Justru aku terbayang penjara yang menyeramkan itu ketika mendengar Alcatraz.
Yah mungkin nantilah, ketika kami bisa semakin akrab. Atau mulai kubiasakan dari sekarang? Namun lucu juga melihat wajah melasnya ketika menjelaskan bahwa namanya Araz bukan Aldo.
"Baik, mari ikuti saya Tuan Araz," kataku merentangkan tangan kanan sambil membungkuk menirukan pelayan restauran.
Tiak ada salahnya membuat lelaki itu senang. Namun aku tak bisa janji jika besok-besok tetap memanggilnya Araz. Ah, tak perlu menunggu besok, mungkin beberapa menit lagi aku sudah memanggilnya dengan sebutan Aldo.
"Sori, ini makam siapa kalau boleh tahu?" tanya Aldo saat kami sampai di sebuah makam yang bersih terawat.
Aku tersenyum menatap Aldo sebelum menjawab datar,"Makam ayahku, Mas. Beliau meninggal tiga tahun yang lalu akibat kecelakaan."
__ADS_1
Lelaki itu hanya mengangguk paham dan mengeluarkan gawai dari saku kemejanya. Ia membuka aplikasi Al Quran daring dan membaca surat Yasin dengan suara lirih. Mendengar lelaki itu membacakan Yasin untuk ayah, entah mengapa membuat hatiku basah. Seakan ada air yang membasuh hatiku hingga terasa sejuk.
Tanpa sadar aku begitu terlarut pada pemandangan di depanku hingga setitik air jatuh di punggung tanganku. Buru-buru kuhapus air mata tanpa sepengetahuan Aldo dan kembali memperhatikan makam ayah.
Kuperhatikan batu nisan ayah sambil duduk berjongkok di sebelah makamnya. Ada bunga segar yang menandakan bahwa seseorang baru saja berkunjung. Mungkin Om Anas - adik bungsu ayah - atau Bude Maya - kakak sulung ayah - yang rutin berkunjung dan membersihkan makam ayah. Ayah tiga bersaudara dan beliau merupakan anak kedua.
Mereka terkadang sering mengirimiku pesan jika habis berkunjung ke makam saudara mereka. Tidak jarang pula mengingatkan aku untuk selalu mendoakan almarhum.
Setelah mendoakan ayah dan menaburkan bunga yang sebelumnya kubeli di gerbang masuk makam, aku meminta pada Aldo untuk menunggu di mobil. Ada yang ingin kusampaikan pada ayah yang orang lain tak boleh tahu. Lelaki itu baru benar-benar pergi saat menyakinkan dirinya sendiri bahwa aku akan baik-baik saja.
"Halo Ayah, lama nggak ketemu," sapaku ketika Aldo sudah berjalan pergi. Aku masih duduk berjongkok di samping makam ayah sambil membelai batu nisannya.
Hari itu, akhir bulan Januari 2017. Beberapa hari menjelang wisuda sarjanaku. Ayah baru saja menjalankan tugas dari luar kota saat mobil yang dikendarai oleh sopir pribadinya mengalami kecelakaan di jalan tol. Mobil ayah ditabrak truk dari arah belakang saat jalan menurun. Sementara bagian depannya menghantam kontainer yang melaju lambat.
Ada dugaan rem blong dari truk yang menabrak mobil ayah. Posisinya yang terhimpit di tengah sangat tidak menguntungkan. Beliau meninggal seketika di TKP. Sedangkan sopirnya meninggal ketika dilarikan ke rumah sakit.
Aku yang mendengar kabar itu hanya bisa menangis. Bahkan sebelum jenazah sampai di rumah, sudah tak terhitung aku tidak sadarkan diri. Setiap kali aku terbangun dan mendapati kenyataan jika ayah sudah meninggal, saat itu pula aku kembali pingsan. Seakan ada sesuatu yang ditarik paksa dalam diriku hingga membuatku tak bisa lagi berpikir jernih kecuali mengeluarkan air mata dan merasakan kepedihan yang teramat sangat menyakitkan.
Hanya satu yang kupertanyakan pada tuhan, mengapa semua itu terjadi empat hari menjelang kelulusanku? Mengapa tuhan tidak memberi kesempatan pada ayah untuk menyaksikan wisudaku? Padahal ayah satu-satunya orang yang begitu bangga ketika aku menyelesaikan kuliah 3.5 tahun. Padahal beliau yang begitu antusias untuk datang ke acara wisudaku. Namun aku yang dipaksa hadir lebih dulu di upacara pemakamannya.
Mengenang peristiwa itu, membuat air mata perlahan jatuh di pipiku. Aku segera menghapusnya dan kembali menatap batu nisan ayah yang beku.
__ADS_1
"Maafin Anya karena nggak pernah jenguk Ayah. Selama ini Anya sibuk melarikan diri dari rasa sakit yang nggak bisa Anya hindari. Maafin Anya yang udah tumbuh jadi anak egois dan menyusahkan Ayah. Pasti di sana Ayah juga sedih karena lihat Anya sama..." Suaraku tercekat di tenggorokan. Susah sekali rasanya menyebut panggilan ibu yang diajarkan oleh ayah sejak aku bisa berbicara.
Untuk menghilangkan perasaan tak nyaman yang tiba-tiba singgah, aku tertawa hambar. Lalu mengusap tanda dari batu itu dengan tangan gemetar. Ada air mata yang kutahan agar tidak tumpah di depan ayah. Meski aku yakin dari tempatnya berada ayah pasti bisa melihatku yang mati-matian menahan kristal bening dari mataku agar tidak menjadi tangis.
"Maafin Anya jika tidak bisa menjadi anak yang berbakti pada orang tua ya, Yah. Anya yang bodoh karena mencintai orang dengan berlebihan hingga lupa jika takdir seseorang nggak ada yang tahu kecuali Sang Pemilik Hidup. Anya udah gelap mata mencintai Putra dan pada akhirnya terluka parah saat mengetahui fakta bahwa..." Suaraku tersangkut di tenggorokan lagi. Kali ini aku harus bisa mengucapkannya di hadapan ayah.
"Mama dan Papa Putra ternyata mantan kekasih. Ayah tahu nggak hubungan mereka dulu? Katanya Mama memilih Ayah karena lebih siap menikah dibanding Om Eka. Ayah berutang cerita nih sama Anya. Nanti bakal Anya tagih kalau udah waktunya.
Hehe... Anya nyimpan ini dua tahun loh buat cerita sama Ayah. Anya sok tegar ya Yah. Padahal aslinya rapuh banget. Nggak ada teman yang bisa Anya ajak ngobrol. Kecuali Almira sama Damar sih, tapi mereka nggak bisa kasih solusi selain minta Anya sabar. Setidaknya, Anya bersyukur masih punya mereka yang sayang sama Anya."
Aku menyusut air mata yang sudah menjebol pertahananku. Tidak mudah menahan diri agar tak menangis. Nyatanya aku begitu sentimentil ketika berkeluh-kesah pada ayah tentang kesulitan yang kuhadapi selama ini.
Sejak dulu, aku memang sering berbagi resah dengan ayah. Setiap masalah selalu kubagikan dengan ayah hingga beliau mengajarkan aku harus berbuat bagaimana jika menghadapi kesulitan. Hal itu membuatku bergantung pada ayah. Aku pasti akan mencarinya untuk meminta solusi setiap masalah yang kuhadapi. Menjadikan aku begitu hancur saat kepergiannya. Seperti burung yang sayapnya dipatahkan secara paksa. Tentu akan kehilangan keseimbangan.
"Mintakan ampun sama Tuhan ya Yah, karena Anya sudah jadi anak yang nyusahin Ayah. Mungkin juga Mama. Maaf jika Anya belum bisa menerima keputusan Mama untuk menikahi Om Eka. Mungkin suatu saat. Setelah Anya bisa menata ulang hati Anya yang terlanjur hancur.
Anya balik dulu ya Yah. Ada orang yang sudah menunggu Anya. Kami harus segera berangkat ke bandara biar nanti nggak ketinggalan pesawat. Nanti Anya pasti bakal jenguk Ayah lagi. Anya nggak pernah lupain Ayah kok. Anya selalu ingat Ayah. Apa lagi kalau lagi terluka.
Hehe... Kata Damar, Anya pasti akan jadi rajawali yang cantik suatu saat. Mungkin karena udah dipaksa terbang dengan cara yang beda kali ya. Apa pun itu, Anya perlahan-lahan udah bisa menerima kok Yah. Hingga saatnya nanti, Ayah pasti akan lihat Anya tersenyum bahagia dari atas sana."
Aku segera bangkit dari duduk setelah mengucapkan selamat tinggal. Kuhapus sisa air mata di pipiku sebelum kembali ke mobil. Aku tak ingin Aldo maupun Pak Pras melihat wajahku sembab sehabis menangis.
__ADS_1