Pulang

Pulang
Perempuan dari Luka


__ADS_3

Renjana Alcatraz


Aku tahu, hati perempuan itu terbuat dari luka. Bahkan kini dia sama sekali tak bisa menyembunyikan luka itu dari wajahnya. Tercetak jelas di wajah ayunya, beban yang ia tanggung entah berapa lama. Ia hanya duduk membisu di ruang makan sambil menatap meja yang kosong. Sementara aku mengamatinya sambil menggoreng martabak mie untuk mengganjal rasa lapar.


Setelah menata balkon kamarnya hingga sedemikian rupa, Kanya mengeluh jika perutnya lapar. Namun, sejak mendengar kabar jika ibunya sedang tidak baik-baik saja, perempuan itu lebih banyak membisu. Tatapannya nanar. Aku tahu banyak hal yang sedang ia pikirkan. Berusaha sok tegar padahal ada darah yang terus mengalir dan coba ia seka di dalam hatinya.


Aku tak tahu pasti apa yang membuat Kanya begitu dalam menyimpan dendam pada wanita yang telah melahirkannya. Yang kutahu, ibu perempuan itu menikah dengan ayah pacarnya. Mereka terpaksa mengalah dan saling bermusuhan saat mengetahui fakta bahwa ibu Kanya telah hamil terlebih dahulu sebelum keduanya resmi menikah.


Pikirku waktu itu, jelas, anak mana yang tidak kecewa jika sosok yang menjadi panutan justru melakukan hal yang dianggap memalukan. Namun, kini aku berpikir, ini bukan lagi perkara ibu Kanya menikah dengan ayah Putra. Pasti ada hal lain yang membuat Kanya begitu lama menyimpan dendam. Dan perkara itu, aku tak pernah tahu apa penyebabnya. Perempuan itu bukan hanya terbuat dari luka, melainkan juga kumpulan rahasia-rahasia.


"Nya, makan dulu yuk. Kamu harus tetap punya tenaga buat hadapi ini semua," kataku tak dipedulikan Kanya. Perempuan itu masih saja melamun. Aku yakin betul indera penciuman maupun perasanya, tidak difungsikan dengan baik kali ini.


Aku tahu, ada hal yang ia pikirkan hingga membuatnya bimbang. Mungkin urusan pekerjaan. Maka, aku menawarkan untuk mengizinkannya pada Hanung. Meski aku tahu, dia pasti akan menolaknya. Dan, dugaanku tepat. Kanya memang benar-benar menolak tawaranku.


Lantas, apa yang bisa kulakukan? Hubunganku dengan ayah pun tak selayaknya anak dan bapak pada umumnya. Kami terlibat perang dingin yang tak berkesudahan. Meski kami masih sering bertukar kabar, tetapi pada kenyataannya pasti diakhiri dengan perdebatan panjang. Bagaimana aku bisa memberikan masukan pada Kanya jika keadaanku pun sama saja dengannya?


Hingga aku mengingat penyesalan terbesar dalam hidupku saat kehilangan Adhyaksa. Aku bercerita pada Kanya, betapa menyesalnya aku saat satu-satunya adik lelakiku terbujur kaku ketika aku sampai. Eomma menangis tersedu. Memukuli pundakku mengapa aku tak juga segera datang saat Aksa memintaku datang. Padahal aku yang dia tunggu. Aku yang dia harapkan sampai akhir hidupnya.


Ayah semakin meradang. Dia mengusirku di hari pemakaman adikku sendiri. Awalnya dia tak mengizinkan aku melihat jasad Aksa untuk terakhir kali ini. Namun, sikapnya melunak saat mengingat aku memiliki riwayat penyakit yang sama dengan Aksa. Ayah mengizinkan aku menemui Aksa untuk terakhir kalinya, tetapi penyesalan tak mengizinkan aku lari bahkan sampai detik ini.

__ADS_1


Aku tidak ingin Kanya mengalami kejadian serupa. Oleh sebab itu, bagaimanapun caranya aku harus berhasil mengajaknya pulang. Tak mengapa jika ia tidak mau bercerita padaku apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan mamanya. Tak mengapa jika Kanya ingin menyimpan luka itu dalam hatinya. Namun, bagaimanapun aku harus bisa mengajaknya pulang. Segera.


Gawai milik Kanya berdering. Panggilan dari Putra. Mungkin, aku bisa mencari informasi dari lelaki itu. Setidaknya cara agar Kanya mau menuruti keinginanku untuk kembali pulang.


"Boleh aku yang bicara sama Putra?" tanyaku. Tanpa berpikir dua kali, Kanya menyerahkan benda pipih itu padaku. "Halo Putra, ini Araz."


"Syukurlah lo yang angkat. Gue sudah dengar semua ceritanya dari Bokap. Barusan dia telepon gue. Dengerin gue Raz, gimanapun juga, Kanya harus pulang. Keadaan Mama semakin parah. Gue yakin banget, cuma Kanya satu-satunya orang yang bisa membuat Mama bertahan. Jadi, gue mohon banget sama lo, ajak Kanya pulang, Raz. Ajak Kanya pulang sebelum semua hal semakin menjadi rumit."


Putra bercerita tanpa perlu kuminta untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, itu belum menjawab pertanyaanku, apa yang menyebabkan Kanya begitu menyimpan dendam pada ibunya? Aku tak bisa bertanya kali ini. Sekarang yang terpenting, Kanya harus pulang!


"Ya, jangan khawatir."


"Baik. Makasih."


"Gue percaya, lo pasti bisa ajak Kanya pulang. Gue tahu kalau lo pasti bingung sama hubungan Kanya dan Mama. Memang ini nggak sesederhana orang tua kami menikah. Ada hal lain yang membuat hubungan mereka semakin renggang. Gue akan cerita nanti, seandainya Kanya nggak mau cerita sama lo. Yang terpenting sekarang, kalian harus cepat pulang. Mama menunggu, Kanya. Gue mohon, selamatkan mereka dengan kehadiran Kanya, Raz. Gue yakin cuma itu satu-satunya kekuatan buat Mama."


"Ya, kami akan segera pergi."


Putra menutup panggilan telepon setelah mengucapkan terima kasih. Sedang aku masih mencoba membujuk Kanya agar perempuan itu mau pulang.

__ADS_1


"Papanya Putra baru saja telepon dia. Putra bilang kalau kondisi mama kamu semakin menurun dan itu semakin berbahaya bagi keselamatan keduanya. Putra memohon sama kamu Kanya, kamu harus pulang kali ini. Bukan untuk mengenang atau menambah luka, tapi benar-benar pulang dalam arti sesungguhnya."


Perempuan yang tercipta dari luka itu kembali menangis. Bahkan kini semakin pilu. Ketika ia mencoba bangun dari kursi, tubuhnya limbung. Sigap, aku menangkap tubuh Kanya dan membawanya dalam pelukanku. Menepuk pundaknya pelan dan membelai rambutnya agar beban yang ia rasakan bisa berkurang.


Aku tahu, batin perempuan itu begitu tersiksa. Pun aku tahu, Kanya sedang berjuang melawan keakuannya sendiri demi hal yang telah membuatnya terluka.


Kalau saja ada hal yang bisa kulakukan selain memelukmu, Nya. Aku sayang kamu. Melihatmu sakit juga membuatku ikut tersiksa.


Kanya menangis. Sampai terisak. Entah sesakit apa luka batin yang dia rasakan. Perempuan itu tidak mengizinkan aku untuk tahu. Perempuan yang tercipta dari luka milikku. Kalau saja ia mau membagi beban itu sedikit saja padaku.


Aku menguatkan pelukan. Berharap lewat pelukan ini, Kanya bisa merasakan perasaan sayangku padanya. Bisa merasakan jika masih ada tempat bersandar. Jika masih ada aku yang sanggup menerima setiap luka yang ia rasa. Kalaupun ia ingin melabuhkan segala lelah, masih ada aku yang menjadi tempat pulang bagi seluruh perasaan.


"Kalau kamu merasa penat dan membutuhkan tempat, kamu bisa menganggapku rumah untuk pulang, Kanya. Akan selalu begitu. Aku rumah bagimu. Tapi ada rumah lain yang harus kita kunjungi sekarang, Nya. Agar kita selalu ingat, dari mana kita berasal.


Aneh ya rasanya, dengar hal semacam ini dari orang yang juga kabur dari rumah? Tapi setelah urusan kamu selesai, aku janji, kamu pun akan tahu ke mana tempatku pulang agar tahu dari mana aku berasal. Ayo, kita harus segera berangkat."


"Makasih, Mas."


Aku tersenyum menanggapi ucapan Kanya. Sebelum perempuan itu masuk ke dalam kamar, aku mengusap ujung matanya yang masih menyisakan air mata. Lalu mengecup keningnya sabil berucap,"Semua akan baik-baik saja. Aku yakin semua akan baik-baik saja. Aku akan mendampingimu untuk melewati semua ini, Nya. Aku tahu kamu perempuan yang tercipta dari luka, tapi bukan berarti nggak bisa sembuh 'kan? Dan bukankah cinta itu menyembuhkan? Maka aku yang akan menyembuhkan luka itu, Kanya."

__ADS_1


Kanya kembali memeluk tubuhku sebelum akhirnya benar-benar masuk kamar untuk mengemasi barang-barang yang ia perlukan. Sementara aku membuka aplikasi agen perjalanan untuk mendapatkan tiket kepulangan Kanya. Segera. Sebab waktu tak pernah mau menunggu. Perempuan yang tercipta dari luka itu, harus mendapat penawarnya.


__ADS_2