
Renjana Kanya
Hampa. Satu kata yang bahkan tidak tepat untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Rasanya hariku lebih dari sekadar hampa. Bahkan tidak ada kata pas untuk menggambarkannya. Terlalu rumit. Dan, hampa hanya sebagian sempit dari sebuah rasa.
Awalnya aku merasa biasa saja saat Araz sama sekali tidak mengirim kabar sejak kepulangannya ke Jakarta. Aku bahkan tidak berniat untuk mengiriminya pesan lebih dulu, sebab beranggapan bahwa laki-laki itu sibuk dengan proyek yang sedang dikerjakannya bersama Hanung. Namun, dua hari berlalu dan dia sama sekali belum berkirim pesan. Aku mulai gelisah. Pikiranku tidak tenang. Mungkinkah telah terjadi sesuatu pada laki-laki itu? Maka aku memutuskan untuk mengiriminya pesan.
Anya
Hei kamu, apa kabar?
Apakah harimu baik-baik saja tanpa aku?
Apakah ada hal menarik saat kita tidak bertemu?
Untuk kamu, aku ingin mengucapkan bahwa aku rindu
Tidak ada jawaban. Aku menunggu sampai berjam-jam dan tetap tidak ada balasan. Sepanjang hari aku tetap menanti. Berharap notifikasi chat yang kukirim berubah menjadi biru, tapi hingga menjelang tengah malam pun masih tetap abu-abu.
Anya
Mas Araz, sibuk kah seharian ini?
Centang dua, tapi tetap tak kunjung berubah biru.
Anya
Semangat ya Mas, selesaikan proyeknya. Mas Hanung kemarin telepon aku, katanya dia resmi mengundurkan diri dari kantor. Yah, nggak punya pimred yang bawel lagi deh. π
Sayang nggak bisa kasih ucapan perpisahan dengan benar. Bagaimanapun bawelnya Mas Hanung, dia tetap guru yang terbaik buat aku.
Oh iya, keadaan Mama sudah mulai membaik meski beliau masih tetap tidur panjang. Tapi kata dokter, Mama sudah melewati masa kritisnya. Ini sebuah keajaiban buat seseorang yang sebelumnya tidak memiliki harapan hidup. Ternyata Tuhan dengar doa aku, Mas. Tuhan tetap kasih aku kesempatan untuk lebih lama bersama Mama.
Mas Araz jaga kesehatan ya. Jangan sampai kelelahan beraktivitas.
Aku masih rindu.
Beginikah rasanya dilema atas sebuah rasa yang tak juga terbalaskan? Hingga hari berganti, aku tak bisa memejamkan mata dan masih menatap layar gawai yang sesekali berkedip. Sayangnya bukan notifikasi yang kutunggu sejak kemarin.
Jam di dinding kamar menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Perasaan gelisah belum juga pergi. Demi mengusir pikiran buruk yang menghantui, aku bangun dari tempat tidur dan menuju dapur. Berniat membuat mie instan dengan harapan bisa mengobati hatiku yang gundah.
"Kebangun?" tanya Putra saat kami bersisipan di anak tangga paling dasar. Di tangannya membawa secangkir coklat yang masih mengepulkan uap panas. Rupanya dia pun juga merasakan gelisah dan memutuskan mencari ketenangan lewat secangkir coklat. Kebiasaan yang belum berubah.
"Iya, kenapa lo?" jawabku sekaligus bertanya sambil menunjuk ke arah coklat panas di tangannya. Laki-laki itu tertawa.
"Anggap saja sok banyak pikiran terus terserang insomnia. Kamu sendiri? Mau bikin mie instan?" komentar Putra sambil membuntutiku dari belakang dan melihatku membuka lemari tempat penyimpanan bahan makanan. Laki-laki itu tidak jadi kembali ke kamarnya demi melihatku sibuk di dapur.
__ADS_1
"Iya. Anggap saja insomnia karena lapar."
"Itu perut atau bak tampungan? Bukannya sebelum balik dari rumah sakit tadi habis makan?"
Putra mempertanyakan perutku yang sudah terisi nasi goreng sebelum kami pulang dari rumah sakit beberapa jam yang lalu. Sebenarnya bukan lapar yang membuatku memutuskan memasak mie instan. Hanya saja gundah yang berlebihan membuatku merasa lapar dan membutuhkan sesuatu untuk meredakannya. Seperti halnya coklat panas bagi Putra yang bisa meredakan mood-nya yang buruk. Bagiku makan juga bisa mengurangi mood-ku yang memburuk.
"Kayaknya lebih besar dari tampungan sih ini. Gimana, lo mau juga?"
"Nggak. Aku menghindari makan mie instan akhir-akhir ini."
"Kenapa? Percaya kalau mie instan bisa menyebabkan berat badan jadi berlebih?"
"Nggak, bukan itu juga."
"Lalu?"
"Hemm ... entahlah, aku juga nggak tahu penyebab pastinya, cuma badan jadi gatal-gatal kalau habis makan mie instan. Mungkin sejak beberapa bulan yang lalu. Lupa juga kapan pastinya."
"Alergi?"
"Mungkin."
Aku mengangguk-angguk menanggapi cerita Putra. Lelaki itu duduk di meja makan dan memperhatikanku mulai dari merebus air, sampai memasukkan mie dan menuang bumbu ke dalam piring.
"Gimana Araz, sudah kasih kabar?"
Rasanya mukaku mendadak kusut saat Putra mempertanyakan tentang Araz. Laki-laki itulah yang membuatku tidak bisa tidur sampai menjelang pagi. Lalu, Putra justru bertanya saat aku ingin sejenak melupakan gundah yang kurasakan.
"Belum, lagi banyak kerjaan mungkin. Kan nggak gampang kalau mau bikin perusahaan media. Mesti banyak yang diurus. Belum lagi persiapan waktu launching. Kayaknya dalam waktu dekat ini sih," jawabku seolah paham betul apa yang dikerjakan Araz. Padahal dalam hati aku juga bertanya, kira-kira apa yang dilakukan laki-laki itu sampai tidak sempat mengirimkan pesan.
"Ya sudahlah maklumi saja. Bagaimanapun 'kan itu juga buat masa depan kalian," kata Putra sukses memancing tawa yang sejak kemarin tak mau singgah barang sejenak saja. Petuahnya seperti orang tua, tetapi justru terdengar sok bijaksana di telingaku.
"Iya, iya, Opa. Makasih sudah diingatkan."
Senyum Putra mengembang. Matanya yang seteduh telaga ikut tersenyum menenangkan.
"Seterusnya kita seperti ini ya, Nya. Saling melengkapi sebagai saudara. Maaf, kalau sempat menyeretmu dalam posisi sulit. Seharusnya aku sadar diri. Seharusnya aku melindungimu, bukannya justru mempersulit keadaan kamu."
"Iya, janji kalau kita bakal sembuh sama-sama ya?" Aku mengulurkan jari kelingking. Sambil tersenyum, Putra meraihnya dan mengikrarkan janji bahwa kami akan sama-sama berjuang untuk sembuh dari sakit yang menyiksa perasaan ini.
"Iya, aku janji. Kita harus sama-sama sembuh!"
Senyum kami merekah. Sedang aroma mie instan yang baru saja kutuang ke dalam piring beberapa saat lalu menguar menggugah selera makanku.
***
__ADS_1
Anya
Selamat pagi, Mas Araz. βΊπ€
Gimana semalam? Tidurnya nyenyak?
Demi apa aku bangun pagi setelah baru bisa tidur saat jam menunjukkan pukul 03.15, jika bukan untuk menyapa Araz yang sudah tiga hari menghilang tanpa kabar. Namun, tetap saja tak ada respon. Pesan yang aku kirim masih centang dua abu-abu. Menandakan jika belum terbaca.
Menyusul pesan sebelumnya, aku mengirimkan pesan singkat selanjutnya.
Anya
Mas Araz, apa kabar? Baik-baik saja 'kan? Sungguh, aku kangen. Kabari segera kalau sudah baca chat dariku ya, Mas. π₯°π€
Pesan terkirim. Dan lagi-lagi belum ada tanda jika akan segera terbaca.
Sungguh, aku kesal laki-laki itu mengabaikanku. Tidak biasanya dia bersikap seperti ini. Kecuali saat dia masuk rumah sakit dan sengaja menghilangkan jejak sebab takut aku tidak bisa menerima keadaanya. Namun, saat ini kondisinya berbeda. Atau jangan-jangan dia mengalami hal serupa seperti beberapa waktu lalu?
Pikiran buruk dengan cepat menguasaiku. Aku keluar dari room chat-ku dengan Araz dan menekan nomor telepon laki-laki itu. Namun, hingga empat kali aku mencoba menghubunginya, tetap tidak ada jawaban.
"Hah, sebenarnya dia kenapa sih? Suka banget main ilang-ilangan kayak gini!" umpatku kesal sambil membanting gawai di atas tempat tidur. Masih dengan amarah yang memuncak, aku kembali merebahkan tubuhku ke kasur. "Gini yang katanya mau bikin jatuh cinta setiap hari? Orang dia saja malah ngilang tanpa kabar? Oh, atau dia sengaja mau bikin aku rindu? Kalaupun iya, jelas ini bukan perkara lucu."
"Ngapain sih ngomong sendiri gitu? Sampai aku ketok-ketok pintu nggak ada respon."
Tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan Putra melongokkan kepala dari luar. Saat dia melebarkan daun pintu, terlihat jika sudah siap dengan pakaian joging-nya.
"Daripada bad mood mulu, ikut joging yuk."
"Boleh deh! Yuk!"
Ajakan Putra segera kuiyakan. Setelah mengusir laki-laki itu dari kamarku, aku segera berganti pakaian. Mengabaikan rasa kantuk yang masih menggantung di mataku. Juga pada benda pipih yang tak juga berdering di atas jasur.
"Memang kamu doang yang boleh abai. Aku juga bisa kok!"
Pada kenyataannya, aku masih meraih gawai dan sekali lagi mengirim pesan pada Araz meski masih belum mendapat respon yang kuharapkan.
Anya
Apa kabar, Mas? Aku rindu.
Sudah, itu saja yang mau aku sampaikan buat Mas Araz.
Selamat beraktivitas ya. Jangan lupa jaga kesehatan! π€
Ini bukan seperti diriku. Namun, aku tak sanggup jika harus terus menunggu.
__ADS_1