Pulang

Pulang
Semua yang Terencana


__ADS_3

Renjana Alcatraz


"Ma, Araz boleh minta bantuan Mama?"


Pagi itu aku bertanya pada Tante Sukma yang sudah menyiapkan sarapan di dapur. Agak canggung sebenarnya, memanggil wanita itu dengan sebutan Mama. Namun, beliau memintaku memanggilnya dengan sebutan Mama seperti Kanya dan Putra saat memanggilnya. Dengan harapan di masa depan, aku benar-benar akan memanggilnya Mama.


"Apa yang bisa Mama, Raz?" tanya wanita itu dengan senyum yang serupa senyum Kanya. Aku baru menyadari, dari mana Kanya mewarisi senyuman sehangat matahari pagi itu.


"Gimana kalau kita bikin pesta sambutan buat, Kanya. Aku nggak tahu dia bakal seneng atau justru sebaliknya, tapi kayaknya kita perlu bikin kejutan buat dia. Maksudku, Kanya selama ini begitu keras kepala dan nggak mau pulang. Lalu, dia bisa mengalahkan egonya sendiri. Aku ingin kasih Kanya semacam reward atas apa yang udah dia capai. Tapi, ini nggak mungkin berhasil tanpa bantuan Mama," kataku berusaha untuk sehati-hati mungkin agar tidak melukai perasaan Tante Sukma. Bagaimanapun alasan Kanya tidak mau pulang juga salah satunya karena wanita yang telah melahirkannya itu.


"Mama sebenarnya juga kepikiran hal yang sama sih, tapi apa nggak terlalu telat kalau kasih kejutan sekarang?"


"Kalau menurutku nggak sih, Ma. Namanya juga kejutan. Toh ini juga bukan ulang tahunnya kan?"


Wanita itu tersenyum menanggapi pernyataanku. "Makasih ya, Raz," ucapnya kemudian.


"Makasih buat apa, Ma?"


"Om Eka sudah cerita sama Mama, kalau kamu yang membujuk Kanya buat pulang. Mama nggak tahu gimana caranya balas kebaikan kamu."


"Mama cukup kasih restu Araz sama Kanya aja," candaku membuat tawa wanita itu semakin lebar.


"Kalau itu sudah pasti, Nak. Mana ada Mama lepasin calon mantu kayak kamu. Tapi beneran deh, Mama penasaran, apa yang bikin kamu suka sama Kanya? Dia banyak manjanya, keras kepala, nggak mau diatur, suka seenaknya sendiri, udah gitu jutek lagi. Kamu kok bisa tahan sama sifat dia yang begitu. Apalagi dia anaknya nggak suka sok jaim, pasti dari awal juga udah nunjukin sikapnya itu kan ke kamu?"


Aku menerawang memikirkan ucapan Tante Sukma. Mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaannya. Tidak mungkin aku mengatakan jika semua ini bermula dari kutukan bocah sialan yang seenaknya saja mendonorkan jantungnya padaku kan? Jika aku ceritakan dari peristiwa itu, kisah ini tak akan pernah selesai dan mengulang lagi dari awal.

__ADS_1


"Banyak hal yang membuat aku jatuh cinta sama Kanya, Ma. Mungkin juga salah satunya sifat jutek, keras kepala, kadang juga sifat manjanya yang bikin aku jatuh cinta sama Kanya."


"Kamu yakin bakal tahan sama semua sifat Kanya yang kayak gitu?"


"Ya kadang, kalau sifat keras kepalanya muncul bikin aku pengen banget cubit dia sih, Ma. Mau gimana lagi, udah terlanjur sayang. Belum tentu juga lainnya ada yang kayak Kanya."


Apalagi kalau tahu sebenarnya dia hanya pura-pura sok tegar selama ini. Seolah sanggup melewati semua rintangan sendirian, padahal aslinya nggak sekuat itu. Gimana aku bisa tega buat nggak mendampingi dia,Ma. Mungkin hanya secara fisik saja Kanya mirip sama Mama, tapi di banyak hal kalian benar-benar berbeda. Meski aku pun cuma melihat sebagian lukanya, rasanya aku nggak tega membiarkannya terluka lebih dari apa yang selama ini dia rasakan, imbuhku dalam hati.


"Makasih ya, Raz. Mama udah pernah begitu egois sama Kanya sampai harus pisahin dia sama orang yang disayanginya. Mama tahu ini pasti juga akan sulit buat kamu, tapi terima kasih udah memilih Kanya. Dia memang bukan perempuan yang sempurna, tapi Mama yakin, dia punya hati yang baik melebihi siapa pun yang mungkin pernah kamu kenal," ucap Tante Sukma berlinang air mata. Akibat obrolan kami, aktivitas memasak wanita itu menjadi terganggu. Sebagai gantinya, aku mengambil pisau dan membantu melanjutkan pekerjaan Tante Sukma sambil terus mengobrol. "Kalau boleh Mama tahu, apa kamu nggak keberatan dengan status Kanya dan Putra yang ... ."


Tante Sukma menjeda kalimatnya. Aku tahu apa yang dimaksud wanita itu tanpa perlu melanjutkan perkataannya. Sudut bibirku mengembang.


"Araz bisa terima bagaimanapun masa lalu Kanya sama Putra, Ma. Justru yang nggak mudah buat Putra ataupun Kanya. Maaf kalau kalimat Araz lancang, bagaimanapun mereka pernah punya kisah manis dan harus merelakannya begitu saja. Tapi Araz juga yakin, pelan-pelan mereka juga pasti akan sembuh."


Kutepuk pelan punggung tangan Tante Sukma untuk memberinya kekuatan. Aku tahu perkataanku kurang ajaajar - meski aku tak bermaksud melukai hati wanita itu - tetapi paling tidak, Tante Sukma harus tahu jika diam-diam Putra dan Kanya masih saling mengharapkan meskipun mereka bersikeras menyangkalnya. Terutama Putra. Mereka hanya tak ingin membuat satu sama lain terluka, terlebih orang-orang di sekitar mereka.


Diam-diam aku menghela napas panjang. Sebisa mungkin begitu halus agar Tante Sukma tak menyadarinya. Ada nyeri yang tak sanggup aku sembunyikan meski Putra sudah mengajakku berbicara bahwa dia akan benar-benar merelakan Kanya. Justru karena itulah hatiku semakin terluka. Aku tak bisa melakukan apa pun kecuali bersikap egois dengan tetap meminta Kanya di sampingku. Sebisa mungkin menyembuhkan luka perempuan itu agar sepenuhnya hanya menatapku.


Ya, meski dia sudah menatapku, tetapi aku masih bisa melihat bayang-bayang Putra di kedua matanya. Mungkin, dia pun pernah berbagi kisah manis dengan Arez, tetapi itu semua hanya semata-mata bumbu penyedap dalam kisah cintanya bersama Putra. Bagaimanapun Kanya akan terus berlari menuju Putra, hanya laki-laki itu yang sanggup membuatnya melupakan segala lara. Walaupun pada akhirnya justru yang meninggalkan bekas sayatan paling dalam dan menyakitkan.


"Pagi-pagi kok udah sendu aja sih hawanya," teguran sebuah suara memecahkan gelembung lamunanku yang melayang-layang di udara. Putra sudah berganti pakaian selepas lari pagi dan menghampiri kami di dapur.


"Hei, sudah selesai lari paginya? Udah beres semua keperluan yang mau kamu bawa buat tour? Nanti malam langsung ke hotel ya?" tanya Tante Sukma menyembunyikan perasaan sedih yang tadi sempat menghampiri wajahnya.


"Ma, satu-satu tanyannya. Putra kan bingung gimana mesti jawab." Laki-laki itu tertawa menanggapi pertanyaan ibu sambungnya. "Iya, Putra baru aja selesai lari terus mandi. Udah selesai deh. Dan, Putra udah kemasi barang-barang yang mesti dibawa. Soalnya nanti malam setelah manggung bakal langsung ke hotel. Besok mesti berangkat subuh katanya."

__ADS_1


"Eh, lo mau ke mana emang?"


"Lah, Kanya nggak ada cerita? Gue nanti malam bakal manggung, Bang. Ngawalin tour Jawa Timur. Besok lanjut ke Lamongan, terus ke beberapa kota lainnya. Nanti malam datanglah. Biar tahu penampilan keren gue."


"Berarti besok udah nggak di rumah?"


"Harusnya sih emang nggak. Kenapa sih?"


"Gue besok rencananya mau bikin kejutan buat Kanya. Semacam welcome party gitu. Gue udah tanya Damar, besok dia sama Almira bisa bantuin, tapi masa lo nggak ada?"


"Oh, gitu? Ya gampang sih kalau gitu. Gue bisa bilang sama yang lain buat mundurin jadwal berangkat. Biar kesannya beneran bikin kejutan, nanti malam gue tetep ke hotel dan baru ke sini besok pagi. Gimana?"


"Nggak apa-apa nih nunda jadwal lo?"


"Ya nggak apa-apa, Bang. Lagian Lamongan deket ini. Nggak sampe dua jam. Gampanglah soal itu. Lagian kalau sampe Arlan tahu dan dia nggak terlibat, bakal ngamuk dia. Dia kan yang lebih kayak Abangnya Kanya ketimbang gue."


Ucapan Putra membuatku terkejut. Entah dia sadar atau tidak, secara tidak langsung dia mengakui jika belum siap menjadi sosok kakak bagi Kanya.


"Thanks ya. Gue berharap dia seneng sama kejutan yang kita buat."


"Santai lah, Bang. Jangan sungkan-sungkan kalau butuh bantuan gue. Kita kan juga bakal jadi keluarga ke depannya. Iya nggak, Ma?" Putra meminta persetujuan Tante Sukma yang dibalas anggukan wanita itu.


"Bahkan sekarang udah jadi bagian dari keluarga kok."


Senyumku mengembang. Meski terjebak dalam kisah cinta yang rumit dan tak pernah sederhana ini, setidaknya aku bersyukur selalu bertemu orang-orang baik.

__ADS_1


__ADS_2