
Renjana Alcatraz
Penat. Perasaan itu terus menumpuk dalam pikiranku. Rasanya aku ingin sekali berhenti sejenak dari rutinitas yang membuatku lelah akhir-akhir ini. Apalagi jika bukan urusan tentang MediaPena yang akan kami luncurkan pekan depan. Terlebih rinduku pada Kanya semakin menggebu. Perasaan cemburu pun diam-diam membakar hatiku.
Bagaimana tidak, Kanya jauh dariku dan dia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Putra. Hah, nama itu lagi. Sungguh, rasanya menyebalkan harus cemburu pada kakak tiri Kanya. Sekalipun dia mengatakan jika sudah rela melepaskan Kanya, tetap saja membuatku tidak tenang. Perasaan itu pula yang mendorongku untuk mengatakan yang sebenarnya pada Kanya atas saran dari Hanung.
Alcatraz
Maafkan aku, Kanya. Ternyata aku nggak bisa. Aku nggak bisa menerima kenyataan jika kamu masih menyimpan nama Putra di hati kamu. Namun, bagaimanapun itu, aku akan berusaha menerima kenyataannya. Meski begitu, maaf, aku nggak bisa menahan rasa cemburu aku. Aku nggak bisa menerima kenyataan saat memikirkan kalian semakin akrab, tapi gimana bisa hal itu nggak mungkin terjadi? Sedangkan kalian terikat sebagai saudara tiri.
Maafkan aku, Kanya. Aku sayang kamu. Maaf jika perasaan ini egois hanya ingin kamu memilikiku saja. Bukan yang lainnya.
Setelah mengirim pesan yang agak panjang itu, Kanya meneleponku. Kami membicarakan banyak hal tentang kita. Juga bagaimana Kanya mengakui perasaannya pada Putra. Jika perempuan itu memang masih menyimpan perasaan sayang pada sang mantan, tetapi tidak lantas membuatnya tetap tinggal dalam bayangan. Dia juga ingin berlari menyambut matahari.
Lalu, kukatakan padanya jika aku sanggup menjadi matahari atau apa pun itu untuknya. Seperti yang selalu aku bilang. Namun, aku juga tak bisa memaksanya tetap tinggal jika memang bukan itu yang dia inginkan. Perempuan itu menangis. Dia merasa bersalah, sebab telah menyeretku terlalu jauh dalam palung yang dia cipta. Meski semua itu keinginanku dan bukan salahnya.
Kukatakan pada Kanya, bahwa aku akan menerima semua risikonya. Bahkan jika dia memutuskan tetap tinggal dengan hanya separuh hatinya untukku. Sebab aku yakin, separuh hati itu akan tetap menjadi utuh jika dia bersamaku. Toh mereka memutuskan untuk sama-sama berjalan maju dan tidak tertawan satu sama lain bukan? Oleh karena itu, aku pun percaya pada Kanya jika dia bisa menerimaku sepenuhnya. Suatu saat nanti.
Lagi pula bukankah pasang surut dalam sebuah hubungan itu hal yang wajar? Untuk menguji seberapa sanggup kita bertahan dalam pusaran.
"Raz, masih mau di sini lo?"
"Iya, ada kerjaan Lea yang mau gue cek dulu," kataku pada Hanung yang sudah bersiap pulang sambil mengecek ulang daftar undangan yang dikerjakan bagian administrasi umum yang sudah mulai bekerja hari ini.
Beginilah jadinya jika Hanung mempercayakan posisi direktur utama kepadaku. Semua urusan harus aku koreksi terlebih dahulu sebelum akhirnya berjalan sesuai rencana. Paraf dariku menjadi kunci utama untuk semua akses.
"Ya sudah, gue balik dulu ya. Masih pulang ke hotel lo?"
"Kayaknya gue bakal tidur sini deh. Males balik gue. Oh ya, Lea sudah balik belum?"
"Buset. Segitu cintanya lo sama tempat ini. Pulang gih. Jangan tidur sini lo. Jaga kesehatan. Belum lagi mau jemput Kanya lo. Lea tadi kayaknya masih di ruangan deh. Nggak tahu tuh, katanya ada yang mesti diselesaikan. Apalagi sih yang kurang? Anak orang sudah lo lembur saja di hari pertama."
__ADS_1
"Iya, bawel. Gue bisa jaga diri kok. Ada proposal kerja sama yang mesti dikirim besok. Makanya gue minta selesaikan sekarang."
"Gila, sudah kayak robot lo kalau lagi serius gini. Awas saja lo, kalau sampai KO sebelum peluncuran. Eh ya, ngomong-ngomong gimana Kanya? Dia jadinya mau gabung sama kita nggak? Masa lo nggak bisa bujuk dia sih?"
Aku menghela napas panjang. Jangankan menanyakan kesediaan Kanya untuk bergabung dengan MediaPena, untuk bertanya dia sedang apa pun, belum sempat kulakukan sehari ini. Pekerjaan terlalu menyita waktuku. Padahal aku berjanji pada Kanya untuk tidak membuatnya menunggu lagi.
"Nanti gue tanya deh. Kenapa nggak lo saja sih yang nawarin dia? Kesannya jadi nggak profesional kalau gue yang ngajakin dia, Nung."
"Sama saja ah. Kan lo bosnya."
"Justru itu, karena gue bosnya jadi makin kelihatan nggak profesional."
"Ya tapi kan lo nawarin dia sebagai presiden direktur MediaPena, bukan sebagai pacarnya. Gimana sih ah. Sudah deh nggak usah alasan. Gue cuma titip itu doang kalau lo ngobrol sama Kanya."
"Ya seenggaknya lo ikutan ngomong juga dong sama dia. Biar lebih meyakinkan."
"Iya deh, iya. Nanti gue bilang juga sama Kanya. Lo sih banyak alasan saja sebenarnya."
"Ya kan alasan gue jelas juga, Nung."
Setelah mengatakan kalimat itu, Hanung pamit pulang dan meninggalkanku dalam kesunyian. Rasa sepi seakan makin kuat memasungku dalam kesendirian. Walaupun kata Hanung, Lea juga belum pulang, tetapi perempuan itu bukan Kanya. Apalagi, dia sedang berada di ruangan yang berbeda denganku saat ini.
Waktu menunjukkan pukul 21.00 saat aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kanan. Sedangkan tangan kiriku meraih gawai yang tergeletak tak jauh dariku. Setumpuk pesan memenuhi layar gawai. Dari satu nama. Kanya.
Anya
Hai Mas, semangat siang!
Masih sibuk nyiapin peluncuran medianya kah? Tetap semangat ya.
Kabari aku kalau ada waktu luang.
__ADS_1
Oh ya, jangan lupa makan. Jaga kesehatan juga.
I miss u.
Aku melihat waktu perempuan itu mengirimkan pesan. 13.45. Senyumku mengembang. Ada perasaan hangat dalam hatiku. Inilah mengapa aku memilih bertahan demi perempuanku. Meski separuh hati Kanya masih milik Putra, aku selalu yakin jika ada celah yang kapanpun bisa aku rebut seutuhnya.
"Senyum-senyum sendiri, Mas. Hati-hati kesambet loh," suara perempuan menyapaku yang sedang asik menatap gawai.
"Eh, Le, mau balik lo?"
"Iya, Mas. Proposal yang Mas Araz minta sudah aku kirim email. Karena nggak ada balasan makanya aku cek ke sini. Soalnya Mas Hanung bilang, Mas Araz masih di ruangan."
"Iya, makasih ya Le. Nanti bakal gue cek. Lo boleh pulang sekarang."
"Baik, Mas. Saya pulang dulu ya," pamit Lea kubalas dengan anggukan. Sepeninggalan perempuan itu, aku menekan sederet angka yang akhir-akhir ini kuhapal di luar kepala.
Tak langsung ada jawaban. Namun, saat suara renyah itu menyapa dari ujung telepon, justru membuat hatiku berdebar. Semengerikan inikah rindu? Bahkan hanya dengan mendengar suaranya saja aku sudah merasakan kehangatan selayaknya dalam pelukan perempuan itu.
"Kok nggak langsung diangkat?" tanyaku berusaha menyembunyikan gugup. Namun, jawaban Kanya justru membuatku menyesal telah menanyakannya, sebab aku tahu apa kegiatannya sampai beberapa menit lalu.
Sungguh, tidak bisakah nama Putra tidak membuatku cemburu sebentar saja? Itu sangat menyebalkan. Dan hal yang semakin menyebalkan, aku justru bertanya tentang tawaran Hanung yang membuatku menepuk jidat. Bagaimana bisa aku segugup ini saat menelepon Kanya. Padahal ini bukan pertama kalinya. Dan pembicaraan tentang rindu menjadikanku seperti orang gila yang mendadak senyum-senyum sendiri.
"Aku boleh bacakan Mas Araz, puisi?"
Pertanyaan Kanya mengembalikan setengah kesadaranku meski membuatku semakin berdebar tak karuan. Apalagi tentang idenya membacakan puisi. Aku pernah melihatnya mendongeng, tetapi aku belum pernah melihat atau mendengarkan Kanya membaca puisi.
"Tumben? Ada apa nih?"
"Kok ada apa sih? Ya, anggap saja hadiah buat seseorang yang sedang merindu dan sabar banget ngadepin aku."
Aku tertawa. Perempuan itu, di balik sifatnya yang pendiam, ternyata menyimpan seribu kata-kata yang sanggup meluluhlantakkan perasaanku.
__ADS_1
"Iya deh, bakal aku dengerin."
Sesaat, Kanya menghela napas panjang sebelum membacakan puisi Phutut EA. Keping A : Bersama Angin (Jalan Bercabang Dua di Hutan Kesunyian).