
Kenyataan yang tidak sengaja dipikirkan Araz pada akhirnya membuat laki-laki itu semakin gelisah. Selama bertemu pihak sponsor, dia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Beberapa kali dia terbengong dan harus membuat pihak sponsor menjelaskan ulang tentang apa yang mereka inginkan. Jika bukan karena kolega lama dan sudah cukup mengenal Araz, pasti mereka akan segera mundur dan membatalkan kerja sama dengan MediaPena. Araz beruntung, mereka tidak melakukan hal itu dan kembali mengulang dengan jelas apa yang sudah mereka sampaikan.
Selepas bertemu dengan pihak sponsor, Araz memilih berdiam diri di kedai kopi sambil memikirkan hal-hal yang belum bisa dia pahami. Secangkir cappucino tanpa gula di depannya membuat laki-laki itu semakin tenggelam dalam kepahitan yang dia rasakan. Baru saja permasalahannya dengan Putra selesai, meredam semua luka, juga memeram cemburu pada kakak tiri Kanya yang juga mantan pacar gadis itu, kini muncul lagi cerita-cerita miring yang makin santer terdengar di MediaPena. Persoalan Kanya yang memiliki hubungan diam-diam dengan Hanung.
Ya, bayangkan. Itu Hanung. Sahabatnya sendiri. Sebagaimana sahabat, Araz tahu betul sifat Hanung. Dan, bagaimana Araz tidak semakin khawatir dan was-was, mengingat reputasi buruk sahabatnya itu sebelum bertemu dengan Sinta yang kini menjadi istri Hanung. Dulu, Hanung dikenal sebagai playbay flamboyan akibat ulahnya yang sering berganti pacar atau jalan dengan dua sampai tiga orang gadis sekaligus dalam waktu bersamaan. Bahkan, Hanung pernah nekat mengencani ibu dari salah satu cewek yang dia taksir. Lantas, bagaimana bisa Araz tidak khawatir jika sudah demikian?
Lagipula, bagaimana bisa muncul isu miring tentang mereka berdua di saat kekasih Kanya yang sebenarnya juga berada di kantor yang sama. Apa pesonanya masih terkalahkan dengan Hanung, sampai orang-orang berpikir jika laki-laki itu lebih menarik untuk jadi bahan gosip? Atau orang-orang MediaPena selama ini juga bergosip tentang dirinya, tetapi dengan pembahasan yang berbeda?
Semakin Araz memikirkan hal-hal yang berputar dalam kepalanya, semakin dia tidak memahami dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa mereka memang sering bertemu atau semacamnya?"
Pertanyaan itu masih juga mengganggu Araz.
"Jelas saja mereka sering bertemu. Pekerjaan mereka mengharuskan kerja sama tim," bantah suara lain dalam pikiran Araz.
"Lalu bagaimana bisa muncul pemberitaan miring tentang mereka? Apakah mereka terlalu intens bertemu hingga menyebabkan kecurigaan pada yang lain?"
"Kanya bilang, Hanung sudah dianggapnya guru sekaligus kakak. Tidak mungkin 'kan seorang kakak tega mengencani adiknya sendiri?"
Araz tertampar kenyataan bahwasanya Putra dan Kanya juga memiliki hubungan kakak-adik yang tidak biasa. Apalagi Hanung dan ...
Kepala laki-laki itu penuh dengan suara yang membuatnya semakin menderita.
__ADS_1
Jika Araz bisa, ia ingin sekali menutup telinga. Menafikkan semua pemberitaan miring tentang Kanya. Tapi, hati kecilnya tidak bisa berbohong jika dia gelisah. Araz memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang terjadi di antara mereka berdua. Terlebih saat mengingat kenangan lama yang sempat ia obrolkan dengan Hanung soal Kanya. Bagaimana Araz meminta dikenalkan pada Kanya dan baru terwujud setelah beberapa lama. Itu pun dengan desakan sebab Araz harus meliput ke daerah yang belum pernah dia kunjungi sama sekali dan kebetulan Kanya mengenal dengan baik daerah yang akan Araz kunjungi, sebab dia berasal dari sana.
"Ini nggak bisa dibiarkan berlarut-larut. Gue harus segera cari tahu jawabannya," gumam Araz sambil bangkit dari tempat duduknya. Namun, sebelum dia beranjak pergi, sepasang laki-laki dan perempuan beserta anak laki-laki yang baru masuk ke dalam kedai kopi, membuat Araz mengurungkan niatnya. "Mereka ngapain di sini?"
"Abi mau makan apa? Biar Tante Anya yang pesankan."
"Abi mau nasi goreng, Tante. Oh iya, sama susu cokelat."
"Oke, lo kayak biasa 'kan, Mas? Espresso sama roti bakar selai nanas."
"Good choices. Lo emang yang paling tahu apa mau gue."
"Oke, gue pesan dulu, Kapten!"
"Apa ini? Mereka bahkan janjian di luar tanpa sepengetahuan gue? Damn!" Suara hati Araz berteriak.
Tanpa menoleh sedikit pun ke arah mereka, Araz beranjak dari tempat duduknya dan berlalu pergi. Dia tidak sanggup menghadapi mereka di saat pikiran buruk itu masih saja mengganggu. Terlebih ada Abi yang tidak berhak mendengarkan pertengkaran yang tidak seharusnya dia dengarkan. Abi masih terlalu kecil untuk melihat dunia orang dewasa yang menyebalkan. Dan, Araz benar-benar sedang sebal dengan dunia orang dewasa yang dia hadapi saat ini.
...***...
Meski jam istirahat kantor sudah lewat, Araz masih belum juga kembali. Pikiran laki-laki itu masih kacau dan dia tidak ingin hal itu mengganggu pekerjaannya. Cukup kekacauan terjadi saat dia menghadapi pihak sponsor. Araz tidak mau hal itu sampai berpengaruh pada pekerjaannya yang lain. Laki-laki itu sengaja memilih menepikan mobilnya di pinggiran Kota Jakarta yang cukup sunyi.
Bayangan peristiwa di kedai kopi tadi kembali muncul. Bagaimana Abi, Hanung, dan Kanya yang datang dengan wajah segar dan cerah. Wajah polos anak laki-laki Hanung juga tampak bersinar dan begitu manja dengan Kanya. Apa begitu caranya, harus mendekati anaknya juga dalam skenario yang sedang mereka jalani? Jika seperti itu, apa Sinta selama ini tidak tahu atau ...
__ADS_1
Sebelum Araz semakin dibuat gila karena penasaran, dia memencet sebuah nomor di gawainya dan menghubungi orang itu.
"Hallo, Raz. Tumben, ada apa nih?" sapa sebuah suara yang begitu dikenal baik oleh Araz. Bahkan dia juga yang ikut andil untuk memenangkan hati perempuan itu, saat sahabatnya sedang meyakinkan perempuan itu jika memang dirinyalah yang terbaik.
"Nggak, ini, Hanung ada di rumah nggak? Gue cari ke ruangannya nggak ada soalnya."
"Oh, Mas Hanung lagi ngajak Abi jalan, Raz. Gimana, apa ada perlu yang bisa gue sampaikan kalau dia pulang? Kayaknya Abi bakal ikut ke kantor sih. Soalnya dia bilang mau main sama Tante Anya. Mestinya bentar lagi dia bakal balik ke kantor. Cuma makan siang katanya."
"Cuma makan siang? Jadi dia nggak tahu kalau suaminya jalan sama pacar gue?"
Lagi-lagi batin Araz berteriak. Tidak mungkin 'kan, dia mengucapkan kalimat dengan nada penuh amarah itu pada Sinta? Bisa jadi kemarahannya bakal berefek tidak baik pada Sinta, dan Araz tidak mau hal itu terjadi. Bagaimanapun dia masih menghormati ranah keluarga dari sahabatnya.
"Ohh ... ya udah deh, Sin. Gue tunggu bentar lagi kali ya. Makasih, ya. Sori ganggu waktu lo."
"Apaan sih lo. Biasa aja kali. Oh iya, gue cuma mau bilang, apa pun yang terjadi nanti, lo harus percaya sama Kanya ya. Gue tahu, suasana di kantor lagi nggak bagus. Pasti lo tertekan banget 'kan sama keadaan ini?"
"Eh, ngomongin soal apa nih?" tanya Araz pura-pura tidak memahami maksud Sinta. Padahal dalam benak laki-laki itu, segala pikiran buruk masih saja bertumbuh liar.
"Ya lo tahu sendirilah. Di mana pun Hanung berada, isu itu terus yang bakal ngikutin ke mana pun dia pergi. Tapi bagaimanapun dia, gue tetap percaya sama Mas Hanung kok. Terlebih gue sangat percaya sama Kanya. So, lo nggak perlu khawatir, ya sekalipun gue tahu itu nggak bakal mudah buat lo. Jalanin aja, atau kalau lo mau, lo bisa kasih pengumuman kalau Kanya itu calon istri lo. Ya, walaupun gue nggak jamin kalau itu bakal meredakan isu yang nyebar saat ini. So, saran gue, lo harus percaya sama Kanya," ucap Sinta panjang lebar sebelum menutup panggilan dari Araz.
Selebihnya, laki-laki itu hanya bisa merenung. Apakah ada yang tidak beres dengan Sinta? Bagaimana dia bisa bilang untuk mempercayai Hanung, sedangkan suaminya itu tidak bilang kalau sedang keluar dengan Kanya. Bahkan Abi dipakai sebagai alasan untuk menutupi skenario yang mereka buat.
Araz menghela napas. Tenaganya seakan terkuras habis dalam sekejap. Pikiran-pikiran buruk itu semakin merajalela dan melumpuhkan sebagian kewarasannya.
__ADS_1
"Heh, ternyata memang gue yang nggak waras. Bukan Sinta."