
Renjana Alcatraz
Kanya benar-benar begitu panik saat menyusuri koridor rumah sakit menuju IGD. Bahkan dia menyingkap satu per satu tirai di ruang IGD yang memisahkan setiap pasien demi menemukan Putra. Meski aku sudah mencegahnya, tetap saja dia keras kepala. Sementara aku menuju meja resepsionis untuk menanyakan tempat Putra ditangani, Kanya masih saja panik mencari lelaki itu. Sampai seorang suster menghampirinya dan menanyakan keperluan Kanya. Tepat saat aku mendapat informasi letak kamar Putra dirawat.
"Putra udah dipindahkan ke ruang rawat. Ayo."
Tanpa membantah, Kanya mengikuti langkahku menuju ruang rawat VIP yang sudah tak asing bagiku. Sebab di rumah sakit inilah aku menghabiskan separuh hidupku setiap saat, setiap waktu. Ya, rumah sakit milik keluarga Arez. Dan kini aku kembali dengan tujuan berbeda. Meski jantungku berdetak cepat tanpa bisa kukendalikan. Menyisakan rasa nyeri dan sesak yang tak sama.
Kami berbelok ke kanan sebelum akhirnya sampai di ruangan VIP yang berderet di lantai tiga. Suster di meja resepsionis tadi mengatakan jika Putra dirawat di kamar 315. Padahal kamar itu tak pernah diperuntukan bagi sembarang orang. Kecuali bagi pasien yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan pemilik rumah sakit atau tokoh-tokoh penting negeri ini. Kamar yang sama yang selalu ditempati Arez ketika dirawat di rumah sakit ini.
Mungkin ini hanya kebetulan, tapi entah mengapa aku merasa semua kejadian saling berikatan. Dan hal itu semakin membuatku tidak nyaman. Apalagi saat menyadari jika hubungan Putra dan Arez tidak pernah baik sejak awal. Terlebih kini posisi Kanya sudah menjadi pacarku. Meski Putra dan Kanya sudah terikat sebagai saudara, tetap saja fakta mereka pernah menjadi pasangan tak bisa dihindarkan.
Ragu-ragu aku mengetuk pintu. Namun, sebelum sempat menyentuh handel Kanya sudah mendorong hingga pintu terbuka. Perempuan itu memburu ranjang tempat Putra berbaring lemah dengan balutan perban di beberapa bagian tubuhnya. Sementara seorang lelaki - mungkin sebaya Kanya - dan perempuan yang lebih muda, segera bangkit dari kursi saat Kanya tiba. Wajah perempuan itu bercampur antara panik, khawatir dan juga marah.
"Ini gimana bisa jadi kayak gini? Lan, dia berantem sama siapa sih?"
Pertanyaan Kanya membuatku tak memahami keadaan. Jelas seseorang yang meneleponku mengatakan jika Putra mengalami kecelakaan, tapi mengapa Kanya menyebutnya berantem? Ah, tentu saja makna kecelakaan di sini bukanlah baku hantam antar kendaraan. Baku hantam sesama manusia juga bisa dibilang kecelakaan. Namun, menyadari kenyataan jika Kanya bisa membedakan dua hal itu dalam sekali tatap membuatku tidak terima. Sungguh aku tak bisa menerima kenyataan jika Kanya masih begitu peduli pada Putra. Lagi-lagi ada yang berdenyut nyeri dalam dadaku.
Sementara Kanya menuntut jawab atas kondisi Putra, seorang perempuan yang berdiri di sisi kiri ranjang lelaki itu terlihat pucat. Tubuhnya gemetar ketika Kanya bertanya pada lelaki lain yang dipanggil Lan. Mungkin dia Arlan, keyboardist Nada Sumbang. Sudah kubilang bukan, Putra dan bandnya menjadi artis pendatang baru yang sedang naik daun. Sekalipun tak pernah melihat wajah mereka, aku beberapa kali mendengar performa sekaligus wawancara bersama Nada Sumbang di radio lokal.
"Gue bisa jelasin, lo tenang dulu."
__ADS_1
"Gimana bisa tenang, badan dia lebam semua gini? Gimana juga cara kalian sembunyikan ini dari media?"
"Kanya, plis. Dengerin penjelasan gue dulu," kata lelaki itu sambil menyentuh pundak Kanya. Dia menuntun Kanya agar duduk di sofa ruang rawat inap tak jauh dari tempatku berdiri. Lagi-lagi denyut aneh di balik tulang rusukku membuatku merasa sangat tidak nyaman. "Nya, lo nggak masalah kalau..."
"Nggak apa-apa," tegas Kanya saat Arlan melirik ke arahku. Entah apa maksud lelaki itu.
"Lo inget Vika?" tanya Arlan membuat sosok Kanya menoleh ke arah perempuan lain yang berada dalam ruangan itu. "Putra nolongin Vika dari ayahnya yang pemabuk. Pria itu suka main pukul dan..."
Tanpa menunggu penjelasan Arlan lebih lanjut, Kanya menghampiri perempuan yang kini semakin berdiri gemetar. Tubuhnya yang lebih tinggi berdiri menantang seseorang bernama Vika yang dimaksud Arlan. Kanya bahkan tak lagi peduli saat Arlan mencegahnya untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan.
"Jadi lo yang udah bikin Putra babak belur kayak gini? Lo manajer Nada Sumbang 'kan, harusnya lo tahu gimana menjaga aset berharga artis lo," amuk Kanya tak mampu mengontrol emosinya. Padahal, selama kenal Kanya beberapa bulan terakhir, perempuan itu termasuk sosok yang mampu mengendalikan diri dengan baik.
"Maaf Mbak, saya..."
"Nya, stop," kata Arlan mencegah Kanya agar tidak bertingkah berlebihan.
"Kenapa harus berhenti? Dia udah lukain artisnya. Harusnya dia bisa bedain mana urusan pribadi sama urusan kerjaan. Lagian gimana sih lo, kenapa nggak bisa cegah Putra buat urusan kayak gini aja? Lo yang tahu gimana keadaan Putra, Lan."
"Sori, gue udah cegah, tapi lo tahu sendiri 'kan Putra kayak gimana?"
"Trus kalau udah kayak gini siapa yang mau tanggung jawab?"
__ADS_1
Merasa emosi Kanya semakin memuncak dan tak terkendali bahkan oleh Arlan sekalipun, aku menghampiri perempuan itu dan mengelus pundaknya pelan. Bagaimanapun Putra butuh ketenangan untuk beristirahat.
"Nya, plis. Kita cari udara segar dulu yuk."
"Nggak Mas, ini harus diselesaikan segera."
"Kanya, ini rumah sakit. Putra gimana bisa istirahat kalau kamu ribut di sini," kataku pada akhirnya membuat perempuan itu luluh. Sambil menggenggam tangannya, aku mengajak Kanya ke taman rumah sakit untuk mencari udara yang lebih sejuk.
***
Isak halus masih terdengar meski hampir setengah jam kami duduk di bangku semen taman rumah sakit. Matahari pagi semakin tinggi dan menjadikan suasana menghangat. Namun, tidak bagi Kanya yang tetap saja menangis. Entah apa yang dipikirkan perempuan itu. Dia hanya terisak dan mengabaikan semua perhatian yang kuberikan. Mulai dari mengulurkan air mineral kemasan hingga saputangan untuk menghapus air matanya.
"Nya, kalau terlalu berat ditanggung sendirian, aku siap jadi pendengar kamu. Tempat kamu berbagi. Aku sering bilang begitu 'kan?"
Kanya menghapus air matanya dan menatapku dengan wajah sembab. Meski dipaksakan senyum mengembang di bibirnya. Sama sekali tak membuatku merasa lega. Sebab aku tahu, ada luka yang diam-diam disimpan perempuan itu.
"Jangan bilang nggak apa-apa, plis. Kamu juga perlu mengakui kalau kamu emang nggak baik-baik aja. Oke?"
"Makasih, Mas. Aku emang nggak baik-baik aja. Aku udah janji sama diri aku sendiri jika nggak akan membuat Putra merasa tersakiti atau apa pun itu yang membuatnya nggak nyaman. Putra punya trauma yang bisa membuat keadaannya semakin buruk. Mungkin yang terlihat sakit cuma fisiknya, tapi batin lelaki itu begitu rapuh. Apalagi jika menyangkut kekerasan. Bisa saja hal dia lihat membangkitkan rasa sakit yang selama ini nggak pernah benar-benar sembuh. Makanya, aku syok banget saat tahu kenyataan kalau dia babak belur karena dipukuli orang."
Tanpa banyak berkomentar, aku hanya mampu mengelus punggung Kanya untuk memberinya kekuatan serta rasa nyaman. Aku tak tahu harus bereaksi bagaimana mendengar cerita Kanya. Menyadari kenyataan bahwa perempuan yang kucintai masih begitu peduli pada lelaki yang pernah menjadi kekasihnya.
__ADS_1
Ya, mungkin hubungan mereka saat ini sebatas saudara tiri, tapi tetap saja tak bisa menghilangkan rasa nyeri yang diam-diam bergelayut dalam dada. Meski seharusnya aku sadar, aku tak boleh membiarkannya tumbuh semakin merajalela.