
Renjana Kanya
"Ada yang kalian sembunyikan dari Mama? Kalian nggak sedang merencanakan buat kabur berdua atau semacamnya 'kan?"
Pertanyaan Mama yang penuh selidik membuatku dan Putra saling berpandangan. Mungkin, intuisi seorang ibu yang membuatnya waspada. Meski Mama menyesali tindakan egoisnya di masa lalu, dia tetap tak ingin anak-anaknya melakukan kesalahan yang sama yang pernah dilakukannya. Terlebih dengan status mereka yang sudah terikat sebagai saudara tiri. Memang tak ada larangannya jika kelak pun mereka memutuskan menikah, tetapi pandangan masyarakat tentang hal itu masih dianggap tabu. Hal itulah yang membuat Mama maupun Ayah Eka bersikeras bahwa kami harus berpisah.
"Ma, jangan berlebihan gitu dong mikirnya. Kenapa kita mesti kabur coba? Kalau niatnya kabur sedari awal, udah kita lakuin dari dulu kali. Bener nggak Kak?" kataku mencari dukungan Putra. Laki-laki itu hanya tertawa membalas pertanyaanku.
"Kita nggak mungkin lakuin itu, Ma. Nggak dulu ataupun sekarang. Apalagi nanti. Kanya udah punya laki-laki yang bertanggung jawab, sayang sama dia, dan masuk kualifikasi menantu idaman. Mana bisa Putra jadi prioritas. Hahaha ... rasanya kok aneh ya, ngomongin mantan yang sekarang jadi adik dan udah punya pacar." Celetukan Putra membuat air muka Mama berubah mendung. Dipandangnya aku dan Putra bergantian.
"Maafin kami ya, Nak."
"Ma, kita udah pernah bahas ini 'kan? Kita pasti tumbuh mendewasa dengan perkara ini. Mama nggak perlu merasa bersalah."
Putra cepat-cepat meralat ucapannya. Dipeluknya tubuh Mama yang kurus dengan erat. Seolah takut jika ia lepaskan, tubuh wanita itu akan ambyar.
"Iya, sekali lagi, maafkan keegoisan kami," ucap Mama dengan mata berkaca-kaca.
"Ma, banyak cara yang membuat kami semakin dewasa. Termasuk dengan cara seperti ini. Jadi Mama nggak usah merasa bersalah ya. Yang penting sekarang, kita semua bisa berkumpul jadi satu keluarga. Putra bisa jagain Mama, Kanya, dan Victor juga."
Adegan mengharukan di dekat anak tangga itu membuatku tak kuasa menahan air mata. Aku membaur dalam pelukan mereka.
"Udah dong, kok kalian jadi nangis sih. Nya, hei, jangan nangis gitu dong."
"Iya siapa suruh kalian bikin terharu," ucapku menyalahkan Putra. Laki-laki itu justru tertawa.
"Iya, maaf. Udah, jangan nangis lagi ya."
Putra mengusap rambutku sambil tetap memeluk Mama. Ayah Eka yang baru saja keluar dari kamar Victor bersama bayi mungil itu, menatap kami dengan heran. Apalagi saat melihatku dan Mama sembab oleh air mata.
"Kalian kenapa nangis gitu?" tanya Ayah Eka sambil berjalan menghampiri kami. Mama yang melihat laki-laki itu menggendong Victor, lantas melepas pelukan Putra dan mengambil alih si baby boy. Sedang aku berusaha menghapus air mata agar segera mengering. "Kenapa, Nya?"
__ADS_1
"Kak Putra tuh Yah, bikin Kanya sedih."
Ayah Eka menoleh pada anak sulungnya saat mendengar ucapanku. Raut wajahnya menyiratkan tanya.
"Nggak Pa, Kanya ngaco tuh. Mana ada Putra bikin sedih sih. Dia aja yang terlalu sensitif," dalih Putra. Sementara Ayah Eka melihatnya dengan tatapan tidak percaya.
"Terus itu kenapa Kanya bisa nangis?"
"Elah, kan Putra bilang kalau Kanya aja yang terlalu sensitif. Makanya dia nangis."
"Iya pasti karena sebabnya, Putra."
"Mas, udah nggak apa-apa. Kanya aja tuh yang terlalu cengeng." Mama ikut membela Putra.
"Kanya?"
Tak puas dengan jawaban Putra dan Mama, Ayah Eka masih saja memintaku untuk menjelaskan padanya apa yang telah terjadi.
"Mas Araz, sudah bangun?"
Aku mengalihkan perhatian tepat saat Araz keluar dari kamar tamu. Dia terlihat salah tingkah begitu melihat kami berkumpul di dekat tangga. Laki-laki itu tersenyum simpul sambil mengangguk kepada Ayah Eka dan Mama.
Demi menghindari pertanyaan Ayah Eka yang belum terjawab, aku menghampiri Araz dan menuntunnya mendekati Mama. Victor tertidur dalam gendongannya. Terlihat begitu damai dalam dekapan wanita itu.
"Ma, kenalin, dia Araz. Laki-laki yang ... ." Kalimatku terjeda. Aku merasakan suaraku tercekat di kerongkongan. Sementara Putra yang masih berdiri di dekat tangga mengulum senyum mencurigakan. " ... pernah Anya ceritain waktu Mama belum sadar pascaoperasi."
"Oh, kirain bilang kalau dia "laki-laki yang bakal jadi suami aku". Yah, jadi nggak seru deh," olok Putra membuat pipiku memanas. Tanpa melihat pun aku tahu, pasti pipiku sudah bersemu merah. Apalagi saat melihat Araz tersenyum menatapku setelah bersalaman dengan Mama.
"Jadi ini orangnya yang kata Putra menantu idaman itu?" Mama ikut menggoda. Pipiku semakin terasa panas mendengar ucapan wanita itu.
"Ma ... ." Aku merengek menanggapi pertanyaan iseng Mama. Wanita itu tersenyum lalu merangkulku setelah memberikan Victor pada Ayah Eka.
__ADS_1
"Kalian sudah pacaran?" tanya Mama lagi sambil menatap kami bergantian.
"Sudah Tante, maunya saya langsung lamar Kanya, tapi dia inginnya kita jalan dulu."
"Loh, kenapa nggak mau dilamar langsung?"
Kini, semua mata tertuju padaku. Aku melirik Araz yang hanya tersenyum simpul. Sedangkan Putra satu-satunya orang yang tak sanggup menahan tawa, meski sedang berusaha.
"Ya kan ... Anya ... nggak tahu deh. Anya belum siap aja kalau nikah sekarang," jawabku pada akhirnya. Araz tersenyum lebar. Begitu juga Putra yang pada akhirnya melepaskan tawanya. Pasti mereka menertawakan perubahan raut wajahku yang semerah kepiting rebus.
"Ya kan enak nikah di usia muda, Anya. Lagian kamu udah 25 tahun loh. Itu usia yang matang buat menikah," ucap Mama membuatku ngeri. Pada kenyataannya tak semudah itu mengatakan iya ketika Araz memutuskan untuk melamarku. Aku terlalu takut menghadapi kenyataan tentang pernikahan.
"Saya nggak apa-apa kok, Tante. Mau selama apa pun, asalkan Kanya terima saya jadi calon suaminya, pasti bakal saya tunggu."
"Hati-hati tikungan tajam, Bang."
"Kak, nggak usah bicara aneh-aneh kamu," tegur Ayah Eka membuat Putra tak lagi berkomentar. Laki-laki itu hanya memasang wajah cemberut. Protes atas sikap Ayah Eka yang lebih membelaku.
"Papa sih sekarang lebih sayang sama Kanya daripada sama aku."
"Ya kalau sikap kamu kayak gitu, siapa yang mau belain coba. Mesti dipikir kalau ngomong itu, Kak. Adiknya diajak serius sama laki-laki yang bertanggung jawab juga."
"Udah, udah, jangan berdebat mulu. Buruan mandi terus ganti baju, Kak. Kanya juga. Anak perempuan jam segini baru bangun. Belum mandi juga. Nggak malu sama, Araz? Udah, buruan ke atas sana."
"Ma ... ," protesku pada Mama yang mengucapkan jika aku baru saja bangun dan belum juga mandi di hadapan Araz yang sudah rapi dengan sweater hitam polosnya dipadu dengan celana jeans putih.
"Kenapa? Malu sama Araz yang udah ganteng dan rapi gini? Makanya anak perempuan itu rajin ... ."
"Bangun pagi, terus mandi ... Ma, Anya udah ingat di luar kepala. Cuma tadi Anya capek banget. Bisa 'kan untuk hari ini dispensasi. Toh udah kelewat juga."
"Iya kalau gitu, makanya cepat mandi sana. Kasihan Araz nungguin dari tadi sampai belum sarapan jam segini."
__ADS_1
Tanpa membantah perkataan Mama, aku menaiki anak tangga setelah sebelumnya meminta Araz agar menunggu di ruang makan bersama Mama dan Ayah Eka. Atau di ruang keluarga jika dia ingin menonton TV. Ritual yang tak boleh dilewatkan di rumah ini, seluruh penghuni wajib sarapan dan makan malam bersama selama berada di rumah. Dan, itu tak bisa diganggu gugat sejak dulu. Aturan ketat yang dibuat dan disahkan oleh Mama.