
Kanya baru saja menyelesaikan ketikannya saat Carol dan Carmen mendekati meja perempuan itu. Wajah keduanya sudah jelas ingin membuat masalah. Namun, Kanya memilih untuk tidak peduli dan tak melepaskan tatapannya dari layar komputer.
Dia sengaja tidak menghiraukan kedua perempuan itu dan berpura-pura mengerjakan sesuatu di komputernya. Padahal semua pekerjaan Kanya sudah rampung tepat waktu.
"Heh," bentak Carol sama sekali tidak mendapat respon dari Kanya.
"Woi, kita lagi ngomong sama lo bego!" Mulut tajam Carmen menambahkan ketika Kanya memilih untuk tidak peduli pada gertakan perempuan itu.
Suasana ruang redaksi sedang sepi. Hanung sedang izin untuk merokok di rooftop. Sementara reporter yang lain belum balik dari tugas liputan yang diberikan sang kepala redaktur pagi tadi.
Tidak ada orang lain selain mereka bertiga dan hal itu membuat Kanya yakin, apa yang hendak dilakukan Carmen dan Carol kepadanya.
Yah, apalagi kalau bukan dengan niat merundung Kanya? Terlebih dengan sikap mereka menggertak Kanya, sudah sangat jelas apa tujuan mereka.
Bahkan dari wajahnya saja sudah terbaca jelas niat jahat mereka.
"Langsung aja ke intinya, apa yang kalian mau?" tanya Kanya tanpa basa-basi.
Perempuan itu malas berdebat apalagi mencari perkara. Namun, kalau tidak dihadapi dengan berani, hanya akan membuat ulah mereka kian menjadi-jadi.
"Heh, mentang-mentang jadi kekasih bos, udah berani sok nih cewek!" ucap Carmen dengan nada sinis.
"Perlu lo tahu ya, Pak Araz tuh cuma main-main sama lo. Karena jodoh laki-laki itu udah disiapkan keluarganya."
Sesaat Kanya terkejut saat mendengar pengakuan Carmen. Ia menatap perempuan yang balas memandangnya dengan sorot mata sinis.
"Oh ya? Tahu dari mana?" tanya Kanya mencoba untuk tidak terpengaruh oleh ucapan Carmen.
Senyum perempuan itu semakin sinis. Dia merasa menang atas Kanya.
Dengan Kanya bertanya, dia tahu bahwa perempuan itu mulai terpengaruh oleh ucapannya.
"Iyalah gue tahu. Karena orang tua kami berteman baik dan mereka udah menyiapkan pertunangan kami berdua," imbuh Carmen seketika membuat Kanya menahan tawa.
"Oh ya? Masa sih? Memang orang tua Mas Araz tinggal di mana? Kok bisa temenan sama ortu lo?" Kanya sengaja memancing Carmen yang jelas-jelas sudah berbohong.
Bagaimana perempuan itu bisa dengan sangat percaya diri mengatakan, bahwa orang tua keduanya sedang mempersiapkan pertunangan? Sementara dengan sepupu yang sudah diatur sangat ketat saja, kedua orang tua Araz sangat menentang.
__ADS_1
Mereka membebaskan sang anak dengan siapa ingin menjalin hubungan atau kelak akan menikah.
"Lo nggak tahu orang tua Pak Araz, tinggal di mana?" tanya Carmen mencibir.
"Nggak. Memang mereka tinggal di mana?" Kanya bersikap masa bodoh.
Hal itu sengaja dia lakukan agar Carmen berpikiran jika Kanya tidak tahu apa pun tentang Araz. Meski pada kenyataannya lelaki itu sudah mengajak Kanya pulang dan mengenalkan dirinya pada kedua orang tuanya.
"Gimana sih, katanya lo pacar Pak Araz. Kok nggak tahu ortunya tinggal di mana? Udah pasti mereka tinggal di Jakarta lah."
"Ohh...baru tahu gue kalau ortu Pak Araz tinggal di Jakarta. Gue kira mereka di Jogja," ucap perempuan itu semakin ngarang.
"Yah, itulah maksud gue. Ortu gue temenan sama bokap Pak Araz waktu SMA."
Begitu juga dengan Carmen, perempuan itu pun ikut menanggapi karangan Kanya dengan kebohongan.
"Ah ya, ya. Bisa paham sih gue. Berarti bokap lo SMAnya di Jogja juga?" Pertanyaan Kanya menjebak.
Perempuan itu masih menahan diri agar tidak tertawa.
"Ah...itu...."
"Dahlah, kalau mau bohong, cerdas dikit dong. Biar nggak malu-maluin kalau ketahuan begonya." Kanya mencibir sambil mengetuk tempurung kepalanya.
"Lagian masih siang nih, udahan dong halunya. Nggak capek tuh mimpi mulu di siang bolong," sindir Kanya sengaja mempertegas ucapannya.
Merasa terhina, emosi Carmen meluap. Tangan perempuan itu mengepal.
"Heh, udah berani lo?!" sentak Carmen dengan suara lantang.
Tangan perempuan itu refleks hendak memukul Kanya. Namun, sebelum sempat menyentuh kulit Kanya, seseorang menghentikan ulah Carmen.
"Apa-apaan ini? Kalian kira ini area bertarung bebas yang bisa seenaknya main kekerasan?!"
Bentakan laki-laki itu membuat Carmen maupun Carol membeku di saat yang bersamaan. Mereka dengan sigap menoleh ke belakang dan mendapati Araz sedang berdiri memangku tangan. Wajah laki-laki itu merah padam.
"Ma...maaf, Pak. Sa...saya...."
__ADS_1
"Aku nggak peduli masalah pribadi di antara kalian. Tapi, aku nggak bisa menoleransi kekerasan yang kalian lakukan!"
"I...itu ka...karena Kanya...."
"Sudah saya bilang, saya nggak peduli dengan urusan pribadi di antara kalian! Kalian sudah cukup dewasa untuk mengurusi soal beginian. Yang saya pedulikan adalah sikap kalian! Paham!"
Kedua perempuan itu tak berkutik. Mereka mati kutu. Apalagi di hadapan Kanya yang menatap mereka dengan ekspresi datar.
"Kalian, ikut ke ruangan saya sekarang!" bentak Araz tak sanggup lagi menahan amarah yang sebelumnya sudah menggelegak dalam diri laki-laki itu.
"Ma...maaf, Pak. Sa...saya...." Carol yang tidak terlibat secara langsung ingin melarikan diri dari situasi tersebut.
Namun, Araz lebih dulu membentaknya sebelum dia selesai bicara.
"Saya nggak mau dengar alasan kalian berdua. Ikut ke ruangan saya sekarang!"
"Pak...."
"Kamu tetap di tempat dan biar saya yang menyelesaikan masalah ini. Ini bukan lagi urusan pribadi kalau sudah menyangkut kekerasan. Tenang saja, saya tidak sedang membelamu," ucap Araz dengan tegas, begitu Kanya ingin menghentikan tindakannya.
Perempuan itu memilih bungkam dan membiarkan Araz meninggalkan ruangan dengan amarah yang masih meledak-ledak.
Keributan yang terjadi di ruang redaksi, dengan cepat menyebar ke seluruh kantor yang hanya seukuran rumah berlantai tiga itu. Tidak hanya divisi yang terletak satu lantai dengan ruang redaksi, staf yang berada di lantai satu dan tiga pun, penasaran dengan apa yang terjadi.
Mereka berbondong-bondong ke ruangan Araz yang terletak di lantai tiga. Dalam sekejap, ruangan lantai tiga dipenuhi oleh orang-orang yang penasaran dengan peristiwa langka yang baru terjadi kali ini.
"Mereka bikin ulah apalagi sih? Ada kaitannya sama elo ya?" Destia yang baru saja sampai, berbisik pada Kanya yang semula berusaha mencegah tindakan Araz.
Namun, laki-laki itu seakan gelap mata dan tidak peduli dengan larangan Kanya.
Dengan tegas, Araz meminta Carmen dan Carol ke ruangannya setelah membuat keributan dengan Kanya.
"Nggak tahu ah. Mereka duluan yang cari gara-gara."
"Mampus. Biar tahu rasa mereka. Itu akibat ulah mereka yang suka semena-mena. Yakin sih, mereka bakal kehilangan taring setelah ini! Biar tahu rasa mereka!" Destia terlihat senang dengan sikap yang diambil oleh atasannya.
Sementara Kanya menunggu dengan gusar. Apa yang bakal terjadi pada kedua rekan satu divisinya itu?
__ADS_1