Pulang

Pulang
Tentang Araz


__ADS_3

Renjana Kanya


Keceriaan anak-anak korban banjir cepat sekali menular saat rombongan La Femmes tiba di lokasi. Mereka berlari-lari menyambut kedatangan kami dan membantu membawakan kardus-kardus sembako, buku-buku pelajaran hingga cerita, maupun pakaian layak pakai.


Tawa tak juga lenyap dari wajah mereka meskipun beban yang dibawa cukup berat. Justru mereka melakukannya seolah tanpa beban dan bahu membahu dengan teman sebaya maupun orang yang lebih tua, saat mengangkat kardus-kardus itu.


Tanpa sadar, aku ikut tertawa ketika melihat keceriaan mereka yang tak juga surut. Meski banjir masih enggan pergi dan merendam rumah-rumah mereka sejak satu minggu yang lalu.


Harusnya tahun baru menjadi harapan baru bagi orang-orang yang rata-rata memiliki ekonomi ke bawah ini. Namun banjir justru menggenang tempat tinggal mereka dan membuat mereka tak bisa beraktivitas seperti biasa. Sedangkan hujan masih saja sering bercengkrama dengan bumi. Membuat pemukiman padat penduduk itu semakin tergenang air.


"Kita kumpul dulu bentar yuk. Gue bakal ingetin lagi tugas masing-masing. Terutama buat kawan-kawan relawan yang nggak gue sangka bakal sebanyak ini," kata seorang lelaki 45 tahunan.


Meski hampir menjelang setengah abad gaya berpakaiannya tetap trendi. Benar-benar menunjukkan kualitas LF yang hingga cara berpakaian pun diperhatikan.


Lelaki itu mengenalkan diri sebagai Mas Andre. Dia tidak mau dipanggil om, apalagi pak. Katanya biar tidak ada kesenjangan yang begitu mencolok kepadanya. "Toh gue masih keliatan seperti anak muda 'kan?" begitu kelekarnya saat memperkenalkan diri.


Setelah tim di lapangan - yang dipimpin langsung oleh Mas Andre si redaktur pelaksana - membagi tugas di barak pengungsian, kami segera berpencar sesuai tugas masing-masing. Ada yang membagikan sembako, ada yang mengarahkan warga agar cek kesehatan gratis dengan tiga dokter relawan, dan ada pula yang bertugas membagikan pakaian layak pakai sesuai umur.


Aku dan Mbak Sazkia - dia yang memintaku memanggil mbak, saat awalnya aku memanggil kak - kebetulan mendapat tugas yang sama dengan empat relawan lainnya. Kami mendapat tugas mengajar anak-anak agar tak ketinggalan pelajaran meski tidak masuk sekolah.


Sedangkan khusus aku, harus membacakan dongeng untuk anak-anak yang lebih kecil - usia balita hingga kelas 2 sekolah dasar - untuk menyembuhkan trauma mereka. Sebab kita tidak pernah tahu, apa yang dirasakan anak-anak berwajah ceria itu di tengah bencana banjir yang mengepung mereka. Begitu kata Araz saat meyakinkanku agar mengikuti kegiatan LF.


Ah ya, lelaki itu. Sejak sampai, aku sudah tidak melihat Araz kerena dia mendapat tugas dokumentasi yang mengharuskannya selalu berpindah tempat. Meski dibantu relawan lain.


Terakhir, aku melihatnya berada di kerumunan ibu-ibu yang justru mengajaknya berswafoto. Aku sempat mendengar mereka berteriak "Artis Korea, artis Korea" dan bergerombol di sekitar Araz. Saat melihat wajahnya yang mendadak pias, tawaku tak sanggup kucegah.


"Dia emang selalu begitu, di mana pun pasti jadi pusat perhatian. Bukan karena wajahnya yang ganteng sih, tapi sikapnya juga selalu membuat orang lain nyaman di dekatnya. Apalagi ibu-ibu. Nggak usah cemburu, lo tetep satu-satunya cewek yang pernah dia dekati kok," kata Mbak Sazkia membuatku terkejut. Perempuan berkacamata itu tersenyum lebar saat aku diam-diam memperhatikan Araz.


"Eh nggak gitu Mbak, justru gue pengen ketawa liat dia di antara gerombolan ibu-ibu gitu."


Tawa Mbak Sazkia justru semakin lepas. Sambil menyiapkan materi pembelajaran, kami menggosipkan Araz.


"Yah mungkin nggak sekarang, tapi nanti bakal ada masanya lo bakal cemburu sama cewek di dekat Araz."

__ADS_1


"Dih, kok yakin banget sih?"


"Gue tahu Araz. Dia bukan orang yang mudah jatuh cinta, bahkan terkesan dingin sama cewek. Lo pasti orang spesial buat dia, sampai dikenalkan di lingkup pertemanan kerjanya. Seperti deklarasi terbuka buat AFC," kata Mbak Sazkia mulai bercerita.


"AFC? Jangan-jangan Mbak Sazkia juga anggota AFC ya?" tanyaku bermaksud menggoda. Namun justru perempuan itu melotot kepadaku.


"Sembarangan, gini-gini gue udah nikah. Anak gue dua. Umur gue udah 40 tahun Nya. Masa iya masih lirik-lirik brondong macam Araz?"


"Oh iya? Serius?"


"Kenapa, nggak keliatan kalo gue udah punya anak dua?"


Aku tersenyum malu menanggapi pertanyaan Mbak Sazkia. Jika melihat bentuk tubuhnya yang bagaikan model meski tidak lebih tinggi dari aku, siapa yang menyangka kalau Mbak Sazkia sudah memiliki dua anak. Dia bahkan terlihat lebih muda dari usia sebenarnya.


Apakah memang orang-orang LF semua seperti itu? Penampilan mereka menutupi usia sebenarnya. Bahkan Mas Andre sang redaktur pelaksana pun terlihat masih begitu muda meski garis kerutan tak bisa dihindarkan.


"Sori Mbak, kadang gue suka menilai penampilan seseorang tanpa sadar."


"Manusiawi itu Nya. Ironisnya, kadang kita ngelakuin itu untuk menjatuhkan perempuan lain dengan mencela fisiknya. Pertama gue lihat lo juga gitu kok. Gue sempet mikir, apa yang bikin Araz antusias ngajak lo ke kantor. Gue pikir karena lo cantik, tapi nggak mungkin. Lo cantik, bahkan wajah lo terbilang manis, tapi jauh kalau dibanding sama Bianca."


Lagipula aku tak pantas merasa sakit hati dengan ucapan Mbak Sazkia. Bukankah sebelumnya aku juga menilai Mbak Sazkia dari penampilan fisiknya?


"Tapi gue sadar satu hal, ada hal dalam diri lo yang Bianca nggak punya. Apa pun itu, gue yakin pasti Araz melihatnya lebih dulu sebelum melihat penampilan fisik lo," kata Mbak Sazkia memutus lamunan dalam benakku. Aku hanya sanggup tersenyum lebar sebab tak menyimak obrolannya dengan serius.


"Aku sama Mas Araz nggak ada hubungan apa-apa, Mbak. Jangan salah paham loh."


"Belum. Kan gue udah bilang, gue kenal siapa Araz dan seperti apa pemikiran cowok itu. Kalaupun sekarang lo nggak suka sama dia, belum tentu lo bakal nolak dia suatu saat nanti. Gimana, apa perlu bantuan gue biar kalian makin dekat?"


"Eh? Nggak perlu Mbak. Aku belum tertarik buat pacaran."


"Siapa yang nawarin Araz buat jadi pacar lo? Dia itu suami impian setiap perempuan Kanya."


"Nah apalagi itu. Aku belum kepikiran buat nikah dalan waktu dekat."

__ADS_1


"Poor Araz, sekalinya suka sama cewek kok nemu yang model gini sih."


"Lah, emang Mas Araz suka sama aku?"


Mendengar pertanyaanku, Mbak Sazkia justru menepuk jidat dan kembali fokus menyusun materi yang akan disiapkan. Seorang relawan yang bertugas membuka materi sudah memberi tanda agar kami segera bersiap.


Jika aku tidak salah ingat, namanya Dimas. Lelaki yang lebih muda dua tahun dariku dan masih menyandang gelar mahasiswa itu, juga sudah mengelompokkan anak-anak kampung sesuai dengan umur dan jenjang pendidikannya.


"Kalau urusan dia suka atau nggak sama lo, cari tahu sendiri aja ya. Btw, kalau lo nggak nyaman ngobrol sama gue pakai aku-kamu, nggak usah dipaksa Nya. Kalau lo ngomong lo-gue sama gue, bukan berarti kesannya jadi nggak sopan. Santai aja."


Lagi-lagi aku hanya tertawa menanggapi pernyataan Mbak Sazkia. Perempuan itu begitu bersemangat mencomblangkan aku dengan Araz yang menurutku tidak perlu. Sudah kubilang kan, masih ada luka dalam hatiku yang belum sembuh.


Aku tak akan pernah mengizinkan siapa pun melihat bagaimana remuknya hatiku. Jangankan melihat, mengintip pun tak akan kuberi celah. Biarkan ia pulih dengan sendirinya dan siap menerima cinta yang baru. Entah siapa kelak, tapi tidak saat ini. Aku tak mau terluka lebih menyakitkan lagi.


"Oh pantes, ternyata kalian yang lagi ngomongin gue. Dari tadi mata kanan gue berkedut terus. Ada yang lagi gosipin gue ternyata."


Tiba-tiba Araz muncul di antara kami. Senyum lelaki itu mengembang sebelum mengarahkan kamera dan menangkap momen kebersamaanku dengan Mbak Sazkia.


"Kalau mau tentang aku, kamu boleh kok Nya tanya sama Sazkia. Dia itu bagaikan ibu aku kalau di Jakarta," kata Araz disambut pelototan tajam Mbak Sazkia.


"Ogah gue punya anak kayak lo. Nyusahin. Udah gitu jadi target AFC mulu tiap hari." Mbak Sazkia bersungut. Namun kalimat terakhirnya justru membuatku penasaran.


"Target AFC gimana Mbak?"


"Ya itu, sering ditanya-tanya soal Araz. Udah gitu sering dijadikan kurir tanpa tanda jasa sama mereka. Gue sih ogah digituin terus."


Mendengar pengakuan Mbak Sazkia, wajah Araz berubah merah. Lelaki itu malu saat Mbak Sazkia menumpahkan kekesalannya akibat ulah Araz Fans Club yang beranggotakan cewek-cewek La Femmes penggemar Alcatraz. Ia bahkan segera berlalu dari hadapan kami saat Mbak Sazkia mulai mengungkit apa yang sudah perempuan itu lakukan demi Araz. Sepertinya lelaki itu benar-benar malu dengan Mbak Sazkia akibat ulah para fansnya.


"Tapi tenang aja, gue pastiin Araz bakal jadi milik lo, Nya."


"Kok gue lagi sih Mbak?"


"Ya gue maunya lo yang jadi mantu gue," kata Mbak Sazkia sambil berlalu dari hadapanku.

__ADS_1


"What?"


Gue nggak salah denger 'kan?


__ADS_2