
Renjana Putra
Hampir menjelang pukul sebelas malam, tetapi Kanya belum juga sampai rumah. Hujan deras selepas Isya membuat Putra semakin khawatir. Terlebih saat mencoba menghubungi Kanya, nomor yang ditujunya sedang tidak aktif. Tidak biasanya HP perempuan itu mati. Kanya tipikal orang yang mempersiapkan segalanya saat perjalanan jauh. Bahkan keperluan sekecil apa pun itu. Jadi jika sampai HPnya mati, pasti ada alasan lain.
Apa? Itu yang Putra tidak tahu dan sedang memikirkannya. Padahal hari ini Sukma juga sudah diizinkan pulang, tetapi perempuan itu justru tidak ada untuk menyambut mamanya. Sukma memang memahami jika putri semata wayangnya itu sedang menjemput Araz ke bandara. Namun, Putra yang tak bisa menerimanya. Harusnya Kanya ada di rumah saat Sukma telah diizinkan pulang dari rumah sakit.
Putra marah. Perasaannya semakin berantakan. Walaupun dalam hati dia juga bertanya, pantaskah dia marah pada Kanya yang sudah memiliki kehidupannya sendiri?
Laki-laki itu semakin gelisah. Secangkir cokelat panas tak bisa menghalau perasaan galau. Dia mondar-mandir di ruang keluarga. Telinganya tajam mendengarkan deru kendaraan. Sesekali, dia keluar rumah demi mengecek jika ada suara mobil mendekat dan memastikan apakah itu Kanya atau bukan. Namun, hingga jam mendekati tengah malam, perempuan itu masih saja belum terlihat.
Eka yang belum tidur pun turut mengkhawatirkan Kanya dan meminta Putra untuk bertanya sudah sampai mana mereka.
“Nomor Kanya nggak aktif, Pa. Udah Iky telepon dari tadi.”
“Coba tanya Araz. Sudah hampir tengah malam, tapi mereka belum sampai juga. Papa khawatir terjadi sesuatu.”
Dengan malas, Putra menuruti perkataan Eka. Sebenarnya laki-laki itu tak ingin berurusan lagi dengan Araz setelah kejadian beberapa hari yang lalu. Rasanya dia masih malu mengakui ketololannya saat mengakui jika dia masih memiliki perasaan lebih dari seorang saudara terhadap Kanya kepada Araz. Entah apa yang Putra pikirkan saat itu. Mengakui kelemahannya di hadapan lawan.
Putra Mahameru
Hei Bang, gue cuma mau memastikan sampai mana kalian? Papa khawatir. Di sini hujan lebat dan kalian belum ada sampai rumah.
Tak lama, balasan Araz muncul di layar gawai Putra.
Alcatraz
Udah masuk kota. Nggak lama lagi kami sampai. Sori udah bikin khawatir.
Putra tak membalas pesan Araz. Dia hanya menyampaikan pada Eka jika mereka sebentar lagi akan tiba. Sebelum pertemuan dengan Araz tak bisa dihindarkan, Putra memilih menyingkir ke dapur dan duduk dalam gelap. Memainkan cangkir cokelat ketiganya yang masih mengepul. Setidaknya dia ingin tetap rileks sekalipun pikiran serta perasaannya terbakar amarah.
Benar saja, tak lama terdengar deru mobil memasuki garasi rumah. Suara Eka saat menyambut mereka pun tertangkap jelas oleh telinga Putra meski suara hujan tak kalah keras. Meski tahu Kanya tak mungkin melewatkan tempatnya bersembunyi, Putra masih tetap tak beranjak dari dapur. Memang itulah tujuannya. Dia perlu bicara berdua tanpa harus didengar oleh siapa pun.
"Astaga!" teriak Kanya saat Putra mengejutkannya dengan sebuah pertanyaan mengapa baru pulang menjelang tengah malam.
__ADS_1
Namun, jawaban Kanya justru menyulut amarah Putra. Laki-laki itu khawatir pada Kanya. Dia belum tidur sampai saat ini pun demi menunggu Kanya pulang dengan selamat. Walaupun niatnya tidak benar-benar tulus dan akibat cemburu pada Araz, tetapi Putra sungguh mengkhawatirkan Kanya. Dia tidak mau sampai hal yang buruk terjadi pada perempuan itu.
"Cara lo peduli udah kelewatan," kata Kanya menyisakan perih dalam hati Putra.
Laki-laki itu tersenyum sinis. Lantas jika status mereka berbeda sekarang, apa benar Putra tak boleh peduli pada Kanya? Dengan cara yang dianggapnya berlebihan atau bukan?
"Terus seperti apa yang lo anggap nggak berlebihan?" tanya Putra menanggalkan penggunaan istilah aku-kamu seperti yang biasa dia gunakan.
Putra marah pada Kanya. Terlebih dia marah pada dirinya sendiri yang tak sanggup berbuat apa pun. Sedang di hadapannya, Kanya berdiri ketakutan. Perempuan itu terus membalasnya dengan ucapan kasar dan mendorongnya agar menjauh. Padahal Putra tak hendak melakukan apa pun. Mungkin memang benar dia cemburu pada Araz. Mungkin memang benar dia marah pada Kanya ataupun dirinya sendiri. Namun, tak lantas dia sanggup melukai Kanya. Meski begitu, tetap saja mata perempuan itu menyorotkan luka yang tak sanggup ditatapnya.
Senyum sinis mengembang di wajah Putra. Setelah mengucapkan hal yang membuat air mata Kanya mengalir, dia pergi meninggalkan dapur. Mungkin memang sekarang waktunya untuk benar-benar merelakan Kanya. Menyerah dengan segala kerumitan demi menyelamatkan hubungan yang masih terjalin saat ini. Sebelum Putra, benar-benar kehilangan Kanya dalam wujud apa pun itu. Baginya justru itu akan lebih terasa menyakitkan.
***
Putra sengaja bangun pagi. Dia punya misi yang harus segera dituntaskan. Selepas Subuh, dia sudah siap dengan pakaian olahraganya dan menunggu Araz bangun. Meski dia tak tahu pasti jam berapa jadwal bangun laki-laki itu, setidaknya dia sudah bersiap lebih awal kalau saja Araz keluar dari kamar tamu.
Dugaan Putra tak meleset. Araz keluar dari kamar tamu sesaat setelah dia menunggunya di ruang keluarga. Pandangan mereka bertemu. Saling melempar senyuman kaku dan sapaan canggung.
Sekarang bukan waktunya mengedepankan ego, Putra. Lo harus bisa. Demi Kanya. Demi masa depan lo yang harus berjalan tanpa perempuan itu sebagai pendamping.
"Bang, ada yang mau gue obrolkan sama lo. Ada waktu? Kalau boleh, sekalian kita lari pagi," ajak Putra saat Araz berdiri tak jauh darinya.
Laki-laki itu mengerutkan kening menerima ajakan Putra. Setelah menunjukkan gelas kosong di tangannya dan mengatakan jika haus, baru Araz menjawabnya.
"Boleh aja sih, tapi gue nggak bawa celana olahraga."
"Gue ada banyak. Ada yang belum gue pakai juga kok. Jangan khawatir. Bakal gue ambilkan. Sebentar."
Putra bergegas ke kamarnya di lantai dua. Tak lama dia turun sambil membawa celana olahraga dan diserahkannya pada Araz.
Huufftt ... Dia menghela napas panjang berulang-ulang. Menguatkan diri dan menghalau cemburu yang diam-diam mengintip di balik pintu hatinya.
Lo harus bisa, Putra. Lo harus pastikan sekarang juga kalau ingin semuanya tuntas.
__ADS_1
"Gue udah siap. Yuk," ajak Araz mengagetkan Putra yang sedang mengatur napas.
Mereka berjalan beriringan keluar dari rumah di kawasan perumahan elit itu. Penampilan mereka yang terlalu mencolok membuat beberapa orang yang melakukan aktivitas pagi pun menoleh. Dua laki-laki dewasa. Yang satu berpenampilan apa adanya layaknya warga lokal, tetapi bisa merebut perhatian semua orang dengan wajahnya yang tampan serupa sang vokalis Sheila on Seven.
Dan, laki-laki di sampingnya memiliki wajah impor dari Korea Selatan dengan ciri khas matanya yang sipit, juga kulitnya yang putih bersih. Wajahnya yang ramah dengan kerutan di sekitar matanya saat tersenyum membuat orang yang berlalu-lalang terpaku padanya. Kombinasi yang pas bagi siapa pun yang bersimpangan dengan mereka.
"Pasti ada hal yang perlu lo tahu tentang Kanya, ya?" tanya Araz di sela-sela lari pagi mereka. Tidak seperti Putra, ritme lari Araz lebih pelan dan tertata dibanding Putra yang tergesa. Namun, tetap saja sejajar sebab langkah Araz lebih panjang.
"Ya, ada hal yang masih ganggu pikiran gue."
"Tanyakan aja. Pasti bakal gue jawab."
Langkah mereka semakin pelan, sebelum akhirnya benar-benar berjalan santai di jogging track di taman perumahan tak jauh dari rumah Kanya.
"Apa yang bisa lo tawarkan buat bahagiakan, Kanya?"
Araz tak langsung menjawab pertanyaan laki-laki itu. Dia pun tak tampak berpikir. Justru Putra yang terlihat was-was menunggu jawaban Araz.
"Nggak ada yang bisa gue tawarkan. Apalagi gue janjikan. Kanya yang berhak memilih dia bahagia bersama siapa."
"Gimana kalau ternyata dia lebih bahagia saat bersama gue?"
"Kanya yang berhak menentukan bukan? Kalau ternyata dia lebih bahagia sama lo, ya gue bisa apa. Tapi gue bakal pastikan satu hal, gue nggak akan semudah itu melepaskan Kanya demi siapa pun. Termasuk lo."
Kata-kata Araz terdengar lembut, tetapi jelas nada ancaman dalam ucapannya. Namun, bukannya gentar, Putra justru tertawa. Lepas. Sangat lepas. Beban yang sedari pagi begitu berat di pundaknya, seakan lepas. Tanpa sisa.
"Makasih, Bang. Gue lega dengar omongan lo. Sori kalau gue pernah mengacau hubungan kalian. Tapi sekarang, kalau itu lo, gue benar-benar rela. Dan gue yakin, Kanya juga pasti bahagia bareng sama lo. Makasih sekali lagi," kata Putra tulus. Meski air mata menggenang di pelupuk matanya. Namun, itu bukan air mata kesedihan. Ada beban yang dia lepaskan diam-diam.
Kanya.
Sebuah nama dalam hatinya, kini serupa partikel mampat yang kian terurai.
Untuk pertama kalinya, Putra benar-benar menyerah dengan keadaan dan melepaskan Kanya seutuhnya. Biarkan dia menjadi apa pun, selama masih berada di samping perempuan itu. Sebab, dibenci olehnya lebih menyakitkan daripada sakit apa pun yang ada di dunia ini. Putra tak ingin mengulanginya sekali lagi.
__ADS_1