
Dering telepon membuyarkan lamunan Kanya. Bar notifikasi menampilkan nama Araz. Namun, perempuan itu tak langsung menjawab panggilan tersebut.
Perempuan itu menatap hampa keluar jendela. Pikirannya penuh sejak beberapa hari terakhir. Di tangannya ada sebuah amplop yang bisa ditebak, apa isinya.
Meski begitu, ia tetap tak tergerak untuk membuka amplop ataupun mengangkat panggilan telepon dari sang kekasih.
Ya, Kanya melarikan diri. Sejak tiga hari yang lalu, ia sengaja menghindari Araz. Lebih tepatnya saat lelaki itu menyerahkan amplop yang kini berada di tangannya dan menyertakan sebuah pesan.
"Ini, tiket penerbangan dan passport. Aku sudah mengurusnya. Seperti yang kubilang, kamu tinggal terima jadi dan hanya perlu ikut pulang bersamaku."
Lidah Kanya terasa kelu. Ia tak sanggup mengatakan apa pun. Bahkan ketika Araz memeluk tubuhnya yang kaku.
Pikiran Kanya kembali berkecamuk. Obrolan lebih dari seminggu sebelumnya kembali terlintas.
"Pulang? Ke Seoul? Nemuin kakek, Mas Araz?" tanya perempuan itu dengan suara hampir tersekat di kerongkongan. Tak bisa keluar.
"Ya, apa kamu nggak masalah kalau kita pulang ke Seoul? Bagaimanapun kita harus menjelaskan pada pria tua itu, kalau kita serius dan nggak bisa terpisahkan."
Kanya tersenyum sumir. Ia tak bisa memberikan tanggapan dalam waktu yang lama.
"Apa ... kamu keberatan?" tanya Araz terdengar ragu-ragu. Menatap wajah sang kekasih yang tampak pucat.
Seolah memikirkan hal yang tak tertembus oleh Araz.
Memang begitulah fakta yang ada. Kanya menyimpan sebuah rahasia dalam pikirannya. Bahwa perempuan itu dilema kebimbangan untuk menerima ajakan Araz.
Hingga akhirnya, ia hanya tersenyum hambar dan mengiyakan saja ajakan Araz. Hanya demi melihat lelaki itu tersenyum.
Dan, di sinilah Kanya saat ini. Menatap keluar jendela di salah satu kedai kopi dan membiarkan dirinya melamun. Memikirkan apakah ia harus menerima ajakan Araz atau menolaknya.
Di hari yang seharusnya menjadi keberangkatan mereka ke Korea.
Ponsel Kanya kembali berdering. Dari nomor kontak yang sama.
Mungkin ini panggilan kelima yang dilakukan oleh Araz sejak beberapa waktu yang lalu. Kanya hanya melirik ponsel yang tergeletak di atas meja. Tanpa minat menjawab panggilan telepon tersebut.
__ADS_1
Pikiran perempuan itu benar-benar kacau. Setelah tenggelam dalam lamunan ketika panggilan itu berakhir, peristiwa lain menyusul. Bercokol dalam benaknya yang kian terasa sesak.
"Apa sih yang bikin lo ragu?"
Kenangan itu tentang Almira. Tepatnya, seminggu setelah ajakan Araz pulang ke Korea.
Kanya dilanda kegalauan yang akhirnya membuat perempuan itu menyerah. Ia menelepon sahabat karibnya yang sedang bedrest di rumah sakit menunggu kelahiran anak pertamanya.
"Nya, gue mau lairan ya. Kalau lo telepon cuma mau bikin gue emosi gara-gara lo diem mulu, mending tunda dulu deh. Mules perut gue."
Kanya tahu Almira tak sungguh-sungguh saat mengatakan kalimat tersebut. Namun, Kanya justru baper dan menanggapi serius ucapan Almira.
Tanpa mengatakan apa pun, Kanya menutup telepon. Tak lagi mengangkat panggilan telepon Almira ketika perempuan itu kembali melakukan panggilan suara. Bahkan panggilan video.
Tak lama, sebuah pesan masuk ke ponsel Kanya. Melalui bar notifikasi, Kanya bisa membaca pesan itu sambil membayangkan ekspresi wajah Almira.
Almira: Heh, Monyet! Gue luangin waktu buat lo ya. Bisa-bisanya lo matiin telepon gitu aja?!
Almira: Gini deh, ikutin kata gue. Lo deket sama Araz biar apa? Pasti lo punya tujuan akhir kan?
Almir**a**: Kalau gitu cara lo, wajar aja sih Cassandra ambil balik orang yang harusnya jadi milik dia. Saingannya aja nggak niat.
Almira: Lo takut apa sih? Punya anak? Atau gagal? Kan lo belum coba jalanin, Nya? Ngapain sih mikirin hal yang belum tentu kejadian dan cuma ada dalam pikiran lo?
Almira: Gue tegaskan sekali lagi, kalau lo nggak serius, tinggalkan Araz sekarang juga! Biar waktu dia nggak sia-sia nungguin lo!
Pesan dari Almira menampar Kanya cukup keras. Hal itu pula yang membuatnya berpikir selama berhari-hari. Bahkan hingga saat ini.
"Benar kata, Almira. Gue nggak bisa terus menghindar. Ini waktunya buat mengakhiri!" teguh Kanya dalam hati sebelum meninggalkan kedai kopi setelah membayar pesanannya.
***
"Takut?" bisik seorang lelaki yang duduk di samping Kanya.
Senyum lelaki itu tampak hangat meski raut muka lelah tak sanggup disembunyikan dari wajahnya. Lebih tepatnya gelisah. Atau mungkin khawatir dan takut dicampakkan.
__ADS_1
Kanya balas tersenyum. Lebih hangat dan lembut dari sebelumnya atau mungkin lebih dari senyum yang pernah ia berikan selama ini.
"Nggak. Aku nggak takut," ucap Kanya dengan suara lirih.
Meski pada faktanya, jantung Kanya berdebar kencang. Ini pertama kalinya perempuan itu terbang lebih dari tujuh jam.
Kanya bukan tidak biasa berpergian menggunakan jalur udara. Hanya saja, ia belum pernah berada di atas pesawat lebih dari tujuh jam. Perjalanan paling jauh yang pernah ia lakukan hanyalah menuju Indonesia Timur yang membutuhkan waktu tidak lebih dari tiga jam.
Itu pun untuk alasan peliputan berita di media sebelumnya. Sebelum ia memutuskan untuk bergabung dengan perusahaan milik Araz dan Hanung.
Kini rasanya, jantung perempuan itu berdebar kencang. Apa lagi setelah pesawat mengalami turbulensi cukup hebat hingga menyebabkan seorang penumpang harus mendapatkan perawatan medis.
Degup jantung Kanya kian tak beraturan. Mungkin karena ia memikirkan hal lain jauh ke depan dan juga ... jauh ke belakang?
Ya, setelah memikirkan ajakan Araz selama lebih dari dua minggu, akhirnya ia berada di sini. Dalam penerbangan yang membawanya ke Seoul.
Setelah drama kebimbangan yang harus ia hadapi sebelum berada di titik ini.
"Jangan khawatir, aku di sampingmu. Dan akan selalu berada di sampingmu."
Suara Araz kembali terdengar. Lembut dan menenangkan.
Senyum Kanya mengembang. Almira benar, bagaimana mungkin ia bisa menyia-nyiakan manusia sempurna seperti Araz?
Kalau saja Kanya jatuh dalam ketakutannya, ia hanyalah seorang bodoh yang pecundang.
"Kenapa? Masih ada yang mengganggu pikiran kamu?" tanya sang kekasih saat menangkap perubahan raut muka Kanya.
Perempuan itu menggeleng. Senyum kembali rekah membingkai wajah perempuan itu.
"Nggak, justru sekarang aku lagi yakin banget sama pilihanku. Maaf harus membuat Mas Araz menunggu, khawatir, cemas, gelisah atau apa pun itu istilahnya.
Harusnya aku lebih berani menghadapi hari esok. Karena orang yang bakal menjadi teman hidupku itu, Mas Araz."
"Oh, jadi setelah bikin orang panik setengah mampus, sekarang kamu bisa ngegombal?" sindir Araz dengan ekspresi wajah yang tampak lucu.
__ADS_1
Mereka tak lama kemudian. Membuat penerbangan tak lagi menegangkan.