Pulang

Pulang
Season 2 #Buang Sedihmu


__ADS_3

Hanung dan Shinta langsung pamit pulang begitu hari sudah menjelang tengah malam. Mereka juga yang memaksa Araz buat tetap tinggal mengingat kondisi fisik serta pikirannya sedang tidak stabil.


"Udah lo di sini aja dulu. Lagian lagi ulang tahun, masa nggak dirayain bareng-bareng sih," goda Hanung seperti biasanya. Araz bahkan sudah kebal dengan candaan teman baiknya itu.


"Ck, memang apa sih yang lo harapkan? Kita punya anak dulu baru nikah?" ucap Araz sama sekali tanpa pikir panjang. Dia mulai terpancing dengan kesal akibat candaan Hanung.


"Haha...nggak ada yang larang tuh. Kan kalau gitu bisa lebih mudah minta izinnya ke Yang Mulia Raja."


"Sial, bener bakal dikasih izin sama Yang Mulia Raja. Tapi mana bisa gue lolos dari ujung senjata bokap kalau tahu udah ngehamilin anak orang.


Lagian, kok bisa-bisanya lo justru menjerumuskan teman lo sendiri? Heran!" Wajah Araz tampak kesal dengan ucapan Hanung yang semakin ngasal.


"Haha..." Hanung tertawa lebar. "Gue bukan menjerumuskan, tapi ngasih saran biar dapat restu dengan mudah dari Yang Mulia Raja."


"Ck, udah-udah. Makin lama makin ngasal aja nih urusan. Sana pulang!" usir Araz sambil mendorong pelan tubuh Hanung keluar dari apartemen Kanya.


"Haha...nggak sabar banget buat..."


"Shut up! Gue sambel juga nih mulut lama-lama!" sentak Araz justru membuat Bagas tertawa. Lalu, segera meninggalkan apartemen Kanya bersama sang istri dan anaknya yang sudah tertidur dalam dekapan sang ibu.


"Bye, Kanya. Jangan mau kalau Araz godain kamu buat bikin baby duluan ya!" pesan Shinta mendukung keusilan sang suami.


"Shinta!" Araz menyentak perempuan itu agar tidak mengatakan hal yang sembarangan.


Sedangkan Kanya hanya tersenyum kikuk menghadapi candaan Hanung dan Shinta yang benar-benar tidak bermutu kali ini. Dia bahkan tidak tahu harus bersikap bagaimana untuk memberikan tanggapan.


"Haha...mode singanya keluar. Yuk ah, Babe, kita pulang."


Mereka benar-benar pergi kali ini setelah membuat Araz bersikap tegas pada mereka.


"Kamu nggak harus dengerin ucapanku sama Hanung yang ngasal. Sori." Shinta yang semula sudah berjalan meninggalkan pintu Kanya, kembali menghampiri perempuan itu dan meminta maaf.


Mungkin Shinta menyadari jika bercandaannya kelewatan kali ini.


"Iya, Mbak. Aku tahu kalau Mbak Shinta cuma bercanda kok. Tapi emang agak kelewatan aja sih," ucap Kanya dengan jujur. Bagaimanapun, dia memang merasa tidak nyaman dengan ulah pasangan suami-istri itu.


Meski begitu, dia sama sekali tidak menunjukkan raut muka penuh dendam. Kanya justru tersenyum dan membuat istri Hanung menanggapi dengan eskpresi penuh penyesalan. Wanita itu memeluk Kanya sebelum benar-benar pamit pulang.


"Lain kali gue janji nggak akan bawa-bawa bercandaan kayak gini lagi," ucap Shinta sambil menepuk pundak Kanya. "Bye, kali ini gue beneran pulang," pamitnya menambahkan.

__ADS_1


Sementara Hanung yang berdiri cukup jauh dari mereka, mengangguk dengan raut muka kikuk.


Baik Kanya maupun Araz hanya membalas dengan lambaian tangan agar Hanung kian merasa sungkan dengan candaan yang baru saja dia lontarkan. Terkadang, laki-laki itu memang perlu diberikan efek jera biar tidak bercanda secara berlebihan.


Bagaimanapun mereka tetap harus memiliki batasan. Itu benar-benar membuat Kanya dan Araz tidak nyaman. Bahkan setelah pasangan suami-istri itu pulang dari apartemen Kanya.


"Sori, lain kali aku bakal kasih teguran yang keras sama Hanung," ucap Araz memecahkan kesunyian yang tercipta di antara mereka.


"Ah, iya, Mas." Kanya menjawab kikuk.


"Jadi, kamu mau aku tetap di sini atau...."


"Nggak apa-apa. Mas Araz di sini aja. Tapi bener juga kok yang diomongin, Mas Hanung. Kondisi Mas Araz sedang nggak fit buat nyetir.


Jadi, lebih aman kalau Mas Araz di sini aja malam ini," ujar Kanya memotong ucapan Araz dengan cepat.


"Oke, kalau gitu. Kalau kamu merasa nggak keberatan, aku bakal stay di sini malam ini."


Senyum membingkai wajah Kanya. "Tentu saja Mas Araz nggak apa-apa kalau mau di sini. Selamanya juga boleh," bisik perempuan itu dalam hati.


Namun, dia memilih untuk tidak mengatakan kalimat itu pada Araz. Dia tidak ingin laki-laki itu salah paham dengan keinginannya.


Suasana di antara mereka kembali kaku setelah terjadi jeda cukup lama.


"Nggak apa-apa nih? Rasanya emang lengket banget sih."


"Ya, tentu saja. Aku bakal siapin baju ganti yang bisa dipakai Mas Araz. Tenang aja, aku punya baju ganti yang oversize kok. Pasti muat kalau dipakai sama Mas Araz, juga."


Araz tersenyum membalas perhatian Kanya. Laki-laki itu mengusap rambut perempuan yang tampak selalu cantik dan menarik di matanya.


"Oke deh, kalau gitu aku mandi duluan ya."


Kanya mengangguk sebagai jawaban. Lelaki itu lalu pergi ke kamar mandi setelah Kanya memberikan sebuah handuk kering yang masih baru.fresh.


Ternyata membutuhkan waktu lama bagi Araz untuk menuntaskan rutinitas mandi malamnya. Kanya curiga, laki-laki itu tidak cuma mandi. Tapi juga melampiaskan kesedihan yang dia rasakan. Atas fakta yang baru saja diketahui tentang sang adik.


Bagaimanapun, jika Kanya menjadi Araz pun, pasti akan mengalami kesedihan serupa.


Bertahun-tahun Araz memupuk rasa bersalahnya pada sang adik. Dan, hal itu semakin membuatnya menyalahkan diri sendiri saat mengetahui betapa sang adik ingin selalu didekat sang kakak.

__ADS_1


Sementara Araz selalu berdalih dan membuat alasan agar mereka tidak bertemu. Alasan yang pada akhirnya membuat Araz menyesal sampai detik ini.


Meski tubuhnya sendiri merasa lengket, Kanya memilih untuk menunggu sampai Araz menuntaskan rutinitasnya. Dia tidak mau mengganggu laki-laki itu menikmasti waktunya.


Mungkin saja dengan cara seperti yang dia lakukan saat ini, bisa membuat pikiran Araz menjadi lebih fresh. Meringankan sedikit penat dan beban pikiran yang mengumpul di kepalanya.


Kanya memilih tiduran di sofa ruang tamu mungilnya sambil menonton siaran TV yang dia putar secara random. Dia hanya tidak menginginkan suasana sunyi dan suara yang berasal dari TV cukup membuatnya terhibur.


Sampai dia tidak menyadari jika Araz sudah selesai mandi dan mengamatinya dari pembatas ruang tamu dan pintu kamarnya.


"Nya," panggil Araz tidak mendapat jawaban.


"Kanya," ulang Araz sekali lagi. Namun, tetap saja dia tak mendapatkan jawaban dari sang kekasih.


"Kanya Gayatri," panggil Araz ketiga kali.


Barulah Kanya tersentak dan terbangun dari posisi berbaring di atas sofa.


"Kamu ketiduran?"


"Ah, nggak Mas. Tapi, kayaknya aku lagi ngelamun deh. Aku nggak dengar Mas Araz, panggil."


Tawa membingkai wajah Araz yang sudah lebih tampak cerah.


"Aku kira kamu tidur. Udah selesai nih. Kamu mandi gih sekarang."


Bukannya menjawab, Kanya justru terpaku menatap Araz yang masih mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.


"Kenapa?" tanya laki-laki itu ketika Kanya melihatnya tanpa berkedip.


"Nggak apa-apa. Gimanapun perasaan Mas Araz saat ini, Mas Araz berhak buat bahagia. Buang sedihmu ya, Mas," ucap Kanya tanpa sadar.


Seketika, wajah perempuan itu memerah ketika menyadari ucapan yang baru saja terungkap dari bibirnya.


\=============================


Hai...lama juga Yoru nggak menyapa kalian lewat karya ini. Selanjutnya bakal berusaha update cerita ini sampai tamat.


Terus dukung Yoru dengan membaca kisah Kanya dan Araz sampai ujung perpisahan nanti ya.

__ADS_1


Love, Yoru


__ADS_2