
Renjana Putra
Nada Sumbang baru saja menyelesaikan shooting untuk video music single pertama yang mereka luncurkan satu minggu lalu, ketika hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Beruntung shooting yang sudah mulai sejak selepas Subuh tadi, sudah selesai sesuai target. Vika yang berperan sebagai manajer Nada Sumbang langsung meminta mereka ke mobil untuk kembali di hotel. Sedangkan kru yang lain mengemasi barang-barang yang digunakan selama shooting.
Putra yang merasa tubuhnya lelah memilih untuk memejamkan mata selama perjalanan. Sejak single pertama mereka rilis dan mendapat sambutan baik dari masyarakat, banyak sekali tawaran manggung baik on air maupun off air. Selama di Bandung pun mereka masih sempat menerima tawaran off air di sela-sela shooting video music. Belum lagi promo single yang cukup menguras tenaga. Ditambah masalahnya dengan Kanya yang tak juga menemukan ujung pangkalnya sebab sudah terlalu usang.
Saat Putra memutuskan memejamkan mata, yang lain sibuk saling melempar candaan dan sesekali mengomentari apa pun yang mereka lihat. Mulai fashion hingga cewek-cewek Bandung yang main hujan-hujanan sambil mengendarai motor dan tidak memilih untuk berhenti sejenak. Meski mata Putra terpejam, ia bisa mendengar semua obrolan anggota Nada Sumbang. Termasuk saat Arlan berteriak yang menyebabkan kesadarannya pulih seketika.
"Kanya! Itu beneran Kanya 'kan?"
Mendengar teriakan Arlan, refleks Putra mencari sosok yang ditunjuk oleh keyboardist Nada Sumbang itu. Benar saja, Putra melihat tubuh kurus Kanya menggigil karena hujan.
"Pak, berhenti. Itu teman saya!" pinta Putra pada sopir yang mengantar mereka selama di Bandung sejak tiga hari lalu.
"Eh Putra..."
Sebelum Vika sempat protes, lelaki itu sudah keluar mobil dan menerabas hujan. Ia menghampiri Kanya yang masih terpaku menatap rumah yang entah milik siapa di Jalan Tamansari itu. Sesaat tatapan mereka bertemu. Perempuan itu menangis. Air matanya bercampur hujan yang semakin deras mengguyur bumi. Ia bahkan diam saja dan tak menolak saat Putra menuntun tubuhnya masuk ke dalam mobil.
Batin Putra mendadak perih. Kalau kamu memutuskan pergi, setidaknya kamu harus bahagia sama pilihan kamu, Kanya. Bagaimana bisa aku berhenti peduli jika seperti ini?
Suasana mobil yang semula riuh, mendadak hening saat Kanya duduk di samping Putra. Apalagi saat tahu wajah sembab Kanya yang tak bisa disembunyikan. Meski Arlan sudah gatal ingin menyapa mantan kekasih Putra yang menyebabkan lelaki itu menjadi bucin selama bertahun-tahun. Sebab begitulah Arlan, paling tidak bisa diam.
Sementara di jok depan, Vika menatap tidak suka saat melihat artis yang menjadi tanggung jawabnya berbuat seenaknya. Apa pun yang terjadi pada Nada Sumbang, dialah orang pertama yang akan dipanggil oleh manajemen. Apalagi jika sampai muncul skandal di awal karier mereka. Maka Vika orang pertama yang harus bertanggung jawab karena dianggap tidak becus mengurus artis.
"Sori, gue janji nggak bakal bikin keributan atau nyusahin lo. Dia orang penting buat gue," kata Putra saat menyadari lirikan sinis Vika. Perempuan yang lebih muda tiga tahun dari Putra itu, hanya mengalihkan pandangan. Mengamati bulir hujan yang jatuh membasahi jendela.
"Gue yakin dia tuh sebenarnya cemburu," bisik Arlan di telinga Putra yang tentu saja berakhir dengan pelototan tajam mata lelaki itu.
__ADS_1
"Nggak usah ngaco deh kalo ngomong."
"Sori, gue ngerepotin kalian," kata Kanya sesaat ketika menyadari Putra bersama anggota Nada Sumbang dan dua orang lainnya yang tidak ia kenal. Sesekali Kanya melirik ke arah jok penumpang di samping sopir.
"Santai aja Nya. Lo suka banget sih main hujan-hujan. Udah gede juga," goda Arlan memancing senyum Kanya meski samar. "Eh, kenalin dia Vika, manajer Nada Sumbang. Mumpung kita belum begitu terkenal, mau minta tanda tangan dulu nggak lo?"
"Otak butuh dimandiin biar gak meledak kepanasan. Ntar aja deh nunggu kalian punya album. Biar gue sekalian jadi fangirling," kata Kanya setelah berkenalan dengan Vika. "Oh ya, hujan sepertinya juga ampuh menghapus kenangan," imbuh Kanya, membuat Putra urung menyampirkan jaket untuk menyelimuti tubuh Kanya. Entah mengapa Putra merasa tertohok oleh kalimat perempuan itu.
Lelaki itu menyerahkan jaket pada Kanya dan memintanya untuk memakai sendiri agar tidak kedinginan. Sebab tubuh Kanya semakin menggigil dan Putra tahu, perempuan itu paling tidak betah dengan hawa dingin meski ia menyukainya.
"Sa ae lo, Nya. Bukannya hujan dan kenangan jatuhnya bersamaan ya? Btw, lama nggak ketemu, makin cantik aja lo." Arlan masih menggencarkan godaan pada Kanya.
"Oh ya? Makasih deh, nggak rugi perawatan gue selama ini," kata Kanya mulai narsis. Tanda apabila ia sudah mulai nyaman dengan keadaan sekitar.
Diam-diam Putra tersenyum lega. Ia bersyukur ada Arlan yang mampu menghangatkan suasana. Putra yakin, jika ia hanya berdua dengan Kanya dalam mobil ini, perempuan itu pasti tak akan segera menemukan senyumnya.
"Btw, makasih loh Nggit, udah cari tahu alamat gue ke Audya. Berkat lo, gue sering dapat kiriman nggak terduga."
"Sama-sama, Nya," balas Anggit sebab tak tahu harus menanggapi bagaimana sindiran Kanya. Ia mati kutu menghadapi Kanya yang pandai bermain kata-kata. Alfian dan Danu yang melihat ekspresi Anggit tak bisa menyembunyikan tawa mereka.
"Kan, gue bilang juga apa, hati-hati lo kalau berurusan sama Kanya. Ini malah seenaknya kasih alamat ke singa yang sok jinak," kata Arlan di antara derai tawa. "Tuh, lihat sendiri 'kan dia nggak bisa bantu lo kalau udah diposisi kayak gini."
Senyum Kanya semakin lebar. Membuat hati Putra merasakan kehangatan meski ia menjadi bahan sindiran teman-temannya. Lelaki itu rela asalkan Kanya kembali tersenyum seperti semula. Sebab batinnya ikut tersiksa jika melihat mendung di wajah Kanya.
"Kangen gue sama kalian, sumpah. Berapa tahun sih kita nggak ketemu?"
"Seabad kali, nggak ngerasa lo?" komentar-komentar tajam Arlan hanya dibalas senyuman oleh Kanya. Bahkan perempuan itu kini tertawa lebar. Tak lagi menanggung sendu seperti di awal bertemu.
__ADS_1
"Thanks, Ar. Perhatian banget lo sama gue, sampai seabad nggak ketemu masih lo ingat juga. Btw, selamat ya buat single perdana kalian. Gue udah dengerin, masih aja bucin nih." Komentar Kanya, lagi-lagi membuat Putra merasa tersindir.
"Sendirinya juga belum bisa move on gitu."
"Eh, gue jomlo karena pilihan Ar, bukan kutukan."
"Oh, jadi selama ini lo ngutuk si bucin itu biar jomlo seumur hidup?" Alfian ikut berkomentar dan menahan tawa saat melihat ekspresi wajah Putra. Lelaki itu terlihat salah tingkah meski ia berusaha untuk menyembunyikannya.
"Maybe, yah walau nggak harus seumur hidup juga sih."
Sungguh, Putra yang disindir terang-terangan oleh Kanya, Arlan, dan anggota Nada Sumbang lainnya, hanya mampu terdiam. Tak ada komentar sedikit pun yang terlontar dari bibirnya. Sampai Kanya mengajukan pertanyaan yang ditujukan kepadanya dengan suara lembut yang dulu sering Putra dengar. Bukan lagi bentakan atau nada sinis yang biasa ia dengar selama dua tahun terakhir.
"Gimana, si vokalis nggak mau ngasih klarifikasi nih?" tanya Kanya dengan suara seindah lonceng angin di gendang telinga Putra. Lelaki itu bahkan mencubit punggung tangannya untuk memastikan apakah yang baru saja terjadi nyata atau hanya mimpi. "Nggak usah berlebihan gitu kali. Gue bukan orang yang nggak tahu caranya berterima kasih."
"Gue belum nemu sosok muse yang baru," komentar Putra membuat personil Nada Sumbang lainnya tak bisa menahan tawa.
"Muse? Lo kata desainer." Mulut usil Arlan tak mau berhenti komentar.
"Ya apa yang tepat coba, emang gue slalu mikirin dia kalau bikin lagu."
"Ngaku juga akhirnya. Astaga," celoteh Danu saat mendengar pengakuan Putra. Sebab di hadapan Danu lah, Putra sering menyangkal perasaannya. Kini, Putra terjebak dengan semua bualannya yang jelas-jelas masih mengharapkan Kanya lebih dari seorang adik tiri.
"Makasih pengakuannya vokalis. Gue capek. Kita damai aja yuk. Masalah yang gue hadapi nggak akan ada habisnya selama Tuhan masih kasih gue kesempatan hidup. Belom lagi ketambahan masalah lo yang udah karatan saking lamanya."
Bukan hanya Putra yang terkejut mendengar pernyataan Kanya, melainkan seluruh anggota Nada Sumbang yang berada dalam mobil van itu. Betapa mereka menjadi saksi kisah romantis dua remaja yang berakhir karena pernikahan kedua orang tua mereka. Bagaimana hancurnya satu sama lain saat tak mampu menghadapi takdir yang begitu menyiksa. Hingga akhirnya Kanya memutuskan untuk berdamai dengan rasa sakitnya ketika jauh dari rumah. Jauh dari tempatnya bersembunyi selama ini. Dengan begitu mudahnya.
"Gimana? Mumpung banyak yang jadi saksi."
__ADS_1
Putra kehilangan kata-kata. Momen ini begitu dinanti sejak dulu, tapi mengapa sekarang lidahnya kelu saat Kanya mengajaknya untuk berdamai? Seolah perempuan itu belum benar-benar rela menerima permintaan maafnya selama bertahun-tahun. Namun, mata itu terlihat tulus. Tak menyiratkan apa pun selain permintaan yang tak dibuat-buat.
Mungkinkah semesta ikut bekerja menyatukan dua hati yang saling memusuhi? Bukan, Putra tak pernah memusuhi Kanya. Lelaki itu selalu tulus menanti adik tirinya menerima permintaan maafnya. Meski terkadang ia tak sabaran dan ingin semuanya cepat berakhir. Tapi mungkin memang benar, semesta turut andil kali ini. Itu sebabnya hujan turun tepat ketika Nada Sumbang selesai shooting. Agar mereka dipertemukan di tempat paling asing sekalipun.