Pulang

Pulang
Hanya Perlu Jujur Jika Aku Suka Kamu


__ADS_3

Renjana Kanya


Aku tak mau terkecoh kali ini. Dengan kesal aku melemparkan bantal ke arah sosok yang masih berdiri di depan pintu kamarku. Namun sosok itu masih berdiri di sana. Tak juga menghilang meski aku berkedip seratus kali pun.


Bahkan senyum yang membuat ujung matanya berkerut itu, tampak begitu nyata saat ini. Sedang dari arah dapur aku mencium aroma omelette dengan parutan keju di atasnya. Juga sandwich yang entah mengapa aromanya begitu menggoda berpadu dengan aroma coklat dan mint yang segar. Ah, aku juga mencium olahan sup hangat yang membuat perutku mendadak bergejolak.


Mengapa perutku mendadak terasa mual seperti habis menelan begitu banyak cairan alkohol? Bukankah tadi malam aku langsung tertidur sambil memeluk lutut setelah menangisi Araz? Membatalkan rencanaku untuk mengikuti Vina dan Deni yang memaksa pergi clubbing. Ah, bahkan kepalaku terasa pusing. Padahal aku merasa semua baik-baik saja ketika bangun.


Mual di perutku semakin menjadi. Seakan ada yang mendorongnya dari dasar dan membuatku ingin muntah. Sebelum tempat tidurku menjadi sasaran, aku berlari menuju kamar mandi di sudut ruangan. Memuntahkan seluruh isi dalam perut dan meninggalkan pahit di indera pengecapku. Sementara otakku masih merespon dan mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi tadi malam.


"Minum dulu. Kalau udah ngerasa enakan, kita sarapan bareng."


Heh, pagi-pagi aku sudah mulai berhalusinasi. Parahnya, bayangan itu kini sama sekali tak mau pergi. Sosok dalam khayalanku bahkan bisa mengulurkan segelas air dan menepuk lembut punggungku.


Kuamati bayangan kami yang terpantul di cermin kamar mandi. Ia masih di sana. Mengurut tengkuku dengan tatapan khawatir. Ia bahkan tak bergerak sedikit pun dari belakang tubuhku.


"Arghh... bisa gila beneran gue kalau lo terus muncul kayak hantu!" teriakku kesal sambil mengacak-acak rambut.


Bukannya menghilang, bayangan Araz justru merapikan rambutku dengan jari-jarinya yang panjang. Tampak begitu nyata. Aku bahkan juga bisa merasakan sentuhan tangannya saat mengurut tengkuku. Dan terasa hangat.


"Lo itu sebenarnya apa sih? Jelangkung? Yang bisa datang dan pergi seenaknya? Atau apa? Kenapa sekarang lo nggak ngilang kayak kemarin waktu gue kejar seperti orang gila?"


Kekesalan yang kupendam akhirnya keluar juga. Membuat bayangan Araz menunjukkan ekspresi bersalah. Namun tak juga mengucapkan apa pun selain menatapku lekat melalui cermin. Heh, sungguh aku benar-benar gila dibuatnya.


"Kenapa diem? Bukannya tadi lo bisa ngomong, bisa ngasih air, bisa..."


Kalimatku terputus. Aku tak sanggup menemukan bagian yang hilang. Sebab air mataku lebih dulu mengalir sebelum aku menemukan kata yang tepat untuk memaki bayangan itu. Aku menangis sesenggukan bertumpu pada wastafel kamar mandi.


"Maaf, bagaimanapun aku keliru udah ninggalin kamu tanpa pamit. Tanpa penjelasan." Bayangan itu menirukan suara Araz lagi. Kali ini suaranya lebih lembut dan penuh penyesalan. Sama seperti pantulan wajahnya yang tertangkap cermin. "Kanya, aku benar-benar minta maaf."


"Kalau lo cuma bayangan atau entah apa pun itu, gue mohon, pergi sekarang juga. Lo udah buat gue gila karena ngomong sama bayangan lo, Araz. Pergi!"

__ADS_1


Sosok itu masih berdiri di belakangku. Juga masih memijit leher bagian belakang demi merasakan mual yang kurasakan. Jika khayalan yang kurasakan bisa begitu nyata, lantas apa bisa menyebutnya? Sungguh ini bukan lagi hal gila. Ini...


Refleks aku berbalik dan menampar pipi lelaki itu. Jika dia bayangan dari khayalanku tentu dia akan menghilang kalau aku menamparnya bukan?


Hah, kenapa lelaki itu masih di sana? Berdiri tegak sambil memegang pipinya yang merah akibat tamparanku. Sebenarnya apa yang terjadi? Aku bahkan bisa merasakan tanganku pedih akibat menamparnya.


"Aku bukan imajinasi kamu, Kanya. Aku beneran Araz. Bukan bayangan atau apa pun itu yang kamu pikirkan."


"Heh, mana bisa gue percaya gitu aja. Tiga minggu lebih lo ngilang. Kemarin seharian lo muncul dan menghantui gue di mana pun. Bahkan gue bisa dengan jelas dengar suara lo di kepala gue. Gimana bisa lo tiba-tiba muncul?"


Lelaki itu tak menjawab. Ia justru meraih tanganku dan meletakkannya di dadanya. Degup jantung lelaki itu mengalir di ujung jemariku yang refleks membuatku menariknya.


"Keluar!" kataku tegas sambil menunjuk ke arah pintu kamar mandi. Lelaki itu tetap bergeming. "Keluar gue bilang!" tegasku dengan suara makin meninggi.


"Aku tunggu kamu buat sarapan. Ada banyak hal yang harus kujelaskan Kanya," kata Araz sebelum meninggalkanku sendirian.


Air mataku semakin deras mengalir. Ada nyeri yang semakin menghimpit dada hingga membuatku kesusahan bernapas. Meski aku juga lega melihatnya baik-baik saja.


Sepeninggalan Araz, aku merendam tubuhku dalam bathtub. Masih lengkap dengan baju yang kupakai semalam. Bahkan yang melekat di tubuhku masih pakaian yang sama dengan yang kugunakan saat bekerja kemarin.


Wajahku masih terasa panas akibat malu bercampur amarah yang menjadi satu. Aku tak menyangka jika lelaki yang kini berada di apartemenku benar-benar Araz. Wujudnya sebagai manusia. Bukan bayangan ataupun khayalan dalam benakku. Lantas bagaimana lelaki itu bisa masuk ke dalam apartemenku?


Kurendam sekali lagi kepalaku dalam bathtub. Mengusir penat sekaligus pusing akibat efek alkohol yang baru terasa. Bahkan aku lupa, kapan aku meneguk minuman itu hingga membuatku mabuk seperti ini. Apakah Vina dan Deni memaksaku tadi malam dan berhasil menyeretku keluar rumah? Atau…


Semakin aku berusaha mengingatnya, kepalaku semakin pusing dan ingatan tentang kejadian semalam justru makin kabur.


Tok… tok…


Ketukan halus di pintu kamar mandi membuatku menegakkan tubuh. Apakah lelaki itu benar-benar menunggu untuk sarapan bersama seperti yang ia katakan?


"Nya, apa kamu baik-baik aja?" suara Araz terdengar khawatir di balik pintu. Aku tak bermaksud membalasnya. Membiarkannya merasakan apa pun itu yang ia pikirkan saat ini. "Kanya, plis jawab aku kalau kamu baik-baik aja."

__ADS_1


Pintu kamar mandi digedor dari luar. Iramanya semakin cepat diiringi suara khawatir Araz yang semakin keras. Sebelum ia benar-benar mendobrak pintu kamar mandi dan melihat keadaanku, aku membalas panggilannya jika aku baik-baik saja.


"Syukurlah, aku tunggu di ruang makan ya."


Suara Araz tak terdengar lagi, tapi pikiranku justru mengulang kejadian yang terjadi lebih dari tiga minggu lalu. Malam ketika usai melakukan kegiatan bakti sosial bersama LF. Malam ketika aku menyadari jika ada perasaan yang berbeda pada lelaki itu. Perasaan yang bermula ketika Mbak Sazkia mengajakku mengobrol tentang Araz.


"Huuffttt... lumayan capek juga ternyata," keluhku saat masuk dalam mobil.


"Iyalah, kamu nurutin semua keinginan anak kecil segitu banyak. Sori ya, harusnya ada komunitas marionet yang bisa ringanin beban kamu. Eh, mereka malah batal ikut karena ada urusan mendadak yang lebih penting."


"Nggak apa-apa Mas, daripada aku nggak ngapa-ngapain trus jadi stres. Kan mending juga waktunya digunakan untuk hal yang bermanfaat."


Sesekali aku menguap dan mulai menyandarkan kepalaku di sandaran jok penumpang di samping Araz. Rasanya memang letih usai bakti sosial yang diselenggarakan LF. Aku tidak menyangka jika anak-anak korban banjir menyukai dongeng yang kubawakan dan memintaku mengulang dongeng lagi dan lagi.


Sesekali aku bergerak tak nyaman merasakan hawa dingin dari AC mobil Araz. Aku meminjamkan cardiganku kepada Mbak Sazkia saat perempuan itu mendapatkan haid di hari pertama dan lupa tidak membawa cadangan pembalut. Jadilah aku menahan hawa dingin.


"Nya, cardigan kamu di mana? Biar nggak kedinginan," kata Araz terdengar sayup-sayup di telingaku.


Meski tertidur, entah mengapa aku tak bisa kehilangan pendengaranku. Mungkin sudah terlatih sejak dulu. Apalagi ketika ayah tugas keluar kota dan belum sampai rumah ketika malam. Aku pasti akan menunggu ayah pulang sambil setengah terjaga dan akan segera bangun ketika mendengarnya datang.


"Tadi dipinjam Mbak Sazkia. Dia lagi dapet haid pertama dan lupa nggak bawa pembalut. Jadi aku pinjemin buat nutupin nodanya," jawabku menjawab pertanyaan Araz.


"Nya, mau burger nggak? Aku masih lapar kayaknya. Gimana kalau drive thru?"


"Boleh deh Mas, beef burger ya. Nggak usah pakai mentimun.


"Kalau jadi pacarku mau nggak?"


"Nggak ah Mas, ntar aku jadi bahan perundungan AFC lagi. Aku masih mau minta traktir Mas Andre," jawabku lagi masih dengan mata terpejam. Padahal sebenarnya aku sudah sepenuhnya terjaga saat araz sesekali menoleh ke arahku.


Lelaki itu menahan tawa. Tanpa mengalihkan fokus pada jalanan di jam macet, Araz mengambil jaket yang tersampir di bangku belakang. Perlahan dia menyelimuti tubuhku yang pura-pura tidur.

__ADS_1


"Have a nice dream, Nya. Semoga ada aku dalam mimpimu," ucapnya sambil mengelus anak-anak rambut yang menutupi mataku. Detik berikutnya, lelaki itu mengecup kening dan kedua mataku yang masih pura-pura terpejam tanpa ia sadari jika jantungku berdegub kencang.


__ADS_2