Pulang

Pulang
Season 2 #Jangan Jadikan Alasan


__ADS_3

Araz tak juga bereaksi setelah diserbu kenangan masa lalu. Lelaki itu terpaku. Menatap Cassandra dengan wajah kuyu. Dia tahu berurusan dengan perempuan itu hanya akan membuat lelah. Namun, ia juga tak bisa mudah patah.


"Kamu masih beranggapan permainan masa lalu sebagai janji yang harus ditepati? Jangan bermimpi, Cassandra! Semua itu nggak lebih dari ucapan bocah yang bahkan nggak tahu, apa itu arti menikah?!


Heh, dan kamu masih memercayai hal itu sebagai sesuatu yang berharga? Kamu salah!" tandas Araz dengan nada geram.


"Makanya jangan terlalu lama tinggal di dunia khayalan yang bisa menghancurkan hidupmu dari dalam!" imbuhnya sarkas.


Wajah Cassandra kian memerah. Harga dirinya sebagai perempuan terluka ketika mendengar ucapan Araz. Tidak seharusnya lelaki itu menertawakan impian yang dia bangun sejak kecil.


Memang apa salahnya tetap tinggal di dalam dunia khayalan dan berharap kisah cintanya berakhir seperti dongeng putri kerajaan seperti yang dia yakini selama ini? Apa yang salah jika dia berharap menemukan cinta sejatinya?


Apakah dia juga salah karena berharap Arazlah yang menjadi belahan jiwanya?


Cassandra tak habis pikir. Mengapa Araz begitu membencinya padahal dulu mereka begitu dekat dan saling menyayangi? Apa yang berubah dengan mereka?


Padahal selama ini, Cassandra juga tidak pernah mengganggu hubungan Araz dengan siapa pun. Kalau sekarang dia mengganggu hubungan Araz dengan Kanya, itu karena Cassandra sudah siap menikah.


Dia hanya merebut kembali lelaki yang sudah dijodohkan dengannya. Lelaki yang sudah ditakdirkan bersamanya. Apakah itu juga keliru di mata Araz?


"Kamu benar-benar sudah berubah!"


"Setiap orang memang berubah, Cassandra. Begitu juga denganmu! Apa kamu nggak menyadari hal itu?!" ucap Araz penuh penekanan.


Cassandra tersenyum sinis. Dia sama sekali tidak bisa menerima ucapan lelaki itu.


"Bagian mana dalam diriku yang berubah?" Cassandra membalikkan pertanyaan itu kepada Araz.

__ADS_1


"Heh, apa kamu nggak menyadari di mana letak kesalahanmu, Cassandra? Kamu hampir saja membuat seseorang kehilangan nyawanya!


Apa kamu pikir itu perbuatan yang bisa diterima begitu saja?! Kamu sudah mulai gila, Cassandra! Itulah yang berubah dalam dirimu!"


"Itu karena aku mengambil kembali apa yang seharusnya jadi milikku! Memang di mana letak kesalahannya?"


"Kalau kamu nggak ngerti juga, pikirkan dengan kepala dingin. Baru kamu bakal tahu di mana letak kesalahan fatalmu!" Araz menegaskan kalimatnya.


Namun, perempuan itu justru tersenyum kian sinis mendengar saran dari Araz.


"Jangan mengajariku kalau kamu sendiri masih banyak kekurangan!"


"Hah?" Araz seketika tertawa. "Aku benar-benar nggak tahu jalan pikiranmu, Cassandra! Sekarang terserah kau saja.


Aku nggak akan peduli lagi padamu! Dalam hal apa pun!"


"Sekali lagi kamu membuat masalah, aku nggak akan tinggal diam!" ancam Araz begitu sungguh-sungguh.


"Apa aku nggak ada artinya sama sekali bagimu?" Cassandra bertanya dengan derai air mata hampir jatuh dari pipinya.


"Hubungan kita nggak lebih dari sepupu Cassandra. Dan aku akan tetap melihatmu seperti itu!"


"Tapi kamu sudah janji mau nikahin aku, Raz. Kamu bahkan bikinin aku cincin dari akar-akaran dan memberikannya padaku. Apa itu juga nggak ada artinya?"


Araz menghela napas panjang.


"Sadar ini bukan dongeng, Cassandra. Ini real life yang nggak semua hal bisa sesuai dengan apa yang kamu harapkan!

__ADS_1


Dan satu lagi. Jangan jadikan masa lalu sebagai alasan untuk tetap menahanku!" tegas Araz kian terdengar tegas.


Sorot lelaki itu menatap tajam dan tak lepas dari Cassandra. Ia berusaha memberikan perempuan itu pengertian bahwa tak ada lagi kenangan masa kecil dalam dirinya.


Huft...


Araz menghela napas panjang sekali lagi. Mungkin dia bersalah karena sudah membuat Cassandra membayangkan hal indah dengannya ketika masih sangat muda. Tapi, itu hanyalah permainan anak-anak yang bakal terlupakan dengan seiring berjalannya waktu.


Kenapa kenangan Cassandra masih tertinggal pada masa itu dan membiarkan dirinya tersiksa sendirian?


Araz benar-benar tak habis pikir. Padahal perempuan itu begitu populer. Kenapa tidak menjadikan salah satu lelaki yang mengejarnya menjadi kekasih?


Bukankah di antara mereka ada yang lebih segalanya ketimbang Araz? Kenapa dia tidak memilih lelaki itu?


Araz semakin dipusingkan dengan perilaku Cassandra yang dianggapnya tidak masuk akal.


"Aku pergi dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku kalau kamu cuma berpikir buat menyakiti Kanya!"


"Memang apa lebihnya dia?! Dia bahkan sama sekali nggak cantik dan jauh dari kata sempurna!"


"Karena aku nggak butuh kesempurnaan buat mencintai, Kanya. Dialah yang menyempurnakan dirinya sendiri.


Asalkan kamu tahu itu!"


"Tapi kita ... " Kalimat Cassandra terjeda. Dia tak lagi melanjutkan ucapan yang sudah berada di ujung lidahnya.


"Apa pun yang mau kau ucapkan, aku bakal menegaskan satu hal. Jangan jadikan masa lalu untuk tetap menahanku!" tegas Araz sebelum benar-benar pergi meninggalkan kamar perempuan itu.

__ADS_1


__ADS_2