Pulang

Pulang
Mengumpulkan Kepingan Puzzle


__ADS_3

Renjana Kanya


Januari kian menua. Hujan semakin kerap bercengkrama dengan bumi dan mengakibatkan banjir semakin meluas. Sedang aku sudah kembali ke rutinitasku yang biasa. Berkejaran dengan peristiwa dan deadline yang ketat demi menyuguhkan informasi yang aktual sekaligus terpercaya. Melupakan sejenak urusan hati, sekalipun tak dapat kupungkiri jika masih sering terbawa mimpi.


Heh, Araz, lelaki itu benar-benar menghilang selama dua minggu sejak peristiwa pembatalan kencan secara sepihak. Sejujurnya aku tak begitu mempermasalahkan tentang kencannya. Hanya saja aku menunggu pengakuan lelaki itu tentang hubungannya dengan Arez.


Bahkan sejak terakhir kali Damar bertemu dengan Arez tiga tahun yang lalu, tak ada lagi kabar yang terdengar. Arez seakan menghilang. Atau memang sengaja menyembunyikan diri. Tak ada yang tahu pasti tentang keberadaan lelaki itu.


Padahal ada begitu banyak hal yang ingin aku ceritakan. Ada banyak peristiwa yang ingin kubagi dengannya. Juga ada setumpuk penyesalan karena menolak ajakannya bertemu tiga tahun lalu. Seperti kata Damar, harusnya aku tak boleh menyesal sekarang atas kesalahan yang sengaja kuperbuat. Namun Arez tetap memiliki tempat tersendiri dalam hatiku. Sebab dialah yang mengajarkan aku untuk memaknai hidup.


Huufftt... aku menghela napas panjang. Apakah ketakutanku beberapa hari terakhir ini benar terjadi? Di masa lalu Araz dan Arez pernah terlibat pertengkaran atau apa pun itu, hingga membuat Arez terluka parah. Kemudian mati?


Tidak, tidak. Aku tak bisa semudah itu membayangkan Arez sudah pergi selamanya. Lelaki itu selalu percaya diri layaknya Chairil Anwar yang akan hidup seribu tahun lagi. Tidak mungkin 'kan, dia hanya tokoh yang sekadar mampir dalam drama kehidupanku?


Jika memang tidak tepat begitu cerita yang kubayangkan tentang mereka, harusnya Arez masih bisa dihubungi atau paling tidak memberi kabar. Lelaki itu justru tak pernah ditemukan jejaknya. Jika memang aku alasan dia pergi, setidaknya dia bisa memberi kabar pada Damar.


Huufftt... sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka berdua? Araz yang bisa memberi jawaban pun, kini entah di mana. Bahkan ujung hidungnya pun tak terlihat. Padahal sebelum saling mengenal, ia sering main ke tempat Mas Hanung hampir seminggu sekali.


"Nya, bengong mulu. Ditanya Mas Hanung tuh." Vina menyenggol lenganku. Menarik kesadaranku untuk kembali ke ruang rapat yang mendadak bisu.


"Astaga Kanya, sempat-sempatnya kamu ngelamun waktu rapat. Jatuh cinta lo?" sindir Mas Hanung hanya kubalas cengiran. "Jadi gimana, lo mau nggak?"


"Apanya Mas?" tanyaku bingung.


Rasanya seperti deja vu ketika Mas Hanung bertanya begitu. Mengingatkan aku pada momen yang membawaku kembali pulang dan bertemu... Araz, untuk pertama kalinya. Mengapa menyebut namanya menjadi sangat menjengkelkan sekarang?


"Kanya Gayatri! Astaga, bener-bener deh ni anak. Jadi gimana, lo mau nggak akhir pekan ini ke Bandung hadiri undangan presiden? Ada peresmian acara yang dihadiri langsung oleh beliau."


"Kenapa saya, Mas?"


Aku balik bertanya kepada Mas Hanung dan bukannya menjawab pertanyaan lelaki itu. Meski terlihat jengkel ia tetap menjawabnya dengan menahan kesal. Reaksinya yang seperti itulah yang kutunggu.


"Lo ngapain aja sih selama rapat hampir 30 menit?"


"Loh, 'kan Mas Hanung yang bilang kalau aku ngelamun."


"Heran gue, lo abis cuti kok bisa jadi lemot gini sih. Udah gitu jadi sering ngelamun kalo diajak rapat. Lo tinggal di mana sih pikiran lo itu?"


Amarah Mas Hanung yang sudah lama tak kudengar, kini dengan lancar berhamburan dari mulutnya. Seperti awal aku menjadi reporter dan sering kali berbuat kesalahan. Namun kemarahan Mas Hanung selalu bertingkat. Sesuai kesalahan yang diperbuat anak buahnya. Dan aku anak buah yang sering membuatnya marah dengan sengaja.


Terkadang aku rindu momen yang membuatku semakin cerdas lewat amarah yang disampaikan Mas Hanung. Sebab ia sering menyampaikan kebenaran ketika sedang marah. Tak jarang pula dia berbagi ilmu maupun pengalaman. Makanya aku sering memancing amarahnya agar lelaki itu banyak bercerita. Itu semua semata bentuk tanda perhatiannya.


Seperti saat ini. Aku hanya memasang wajah tak berdosa menghadapi amarahnya, meski sebagian penghuni ruang rapat telah menunjukkan ekspresi ketakutan. Sebab aku tahu, Mas Hanung tidak benar-benar marah.

__ADS_1


"Ya kan Mas Hanung yang minta saya cuti, padahal nggak lagi butuh istirahat. Jadinya gini 'kan, pikiran saya ikut tumpul karena kelamaan istirahat," ucapku membuat Vina yang duduk di sampingku menyenggol lenganku.


"Benar-benar lo itu, Nya. Setelah rapat ke ruangan gue. Dan tetep besok Sabtu lo berangkat ke Bandung liput acara presiden. Gue nggak mau dengar alasan apa pun dari lo!" perintah Mas Hanung dengan tegas.


Aku tersenyum sebelum menjawab,"Siap, Bos. Laksanakan!" seperti prajurit siap perang.


***


Mas Hanung sedang bermain puzzle saat aku memasuki ruangannya. Lelaki itu tampak serius menyusun kepingan puzzle yang berukuran kecil-kecil. Mungkin 100 atau 150 kepingan. Ia hanya sebentar menoleh ke arahku dan memintaku untuk membantunya.


"Mas Hanung minta saya ke sini cuma perlu bantuin nyusun puzzle?" tanyaku tak urung duduk di depannya dan mulai menyusun puzzle berwarna putih polos tanpa gambar itu. "Ini sih mainannya L di serial Death Note, Mas. Astaga."


"Bawel, udah bantuin aja kenapa sih? Udah selesai deadline kan lo?" tanya Mas Hanung lagi sambil melirik jam mungil di meja kerjanya.


"Udahlah, situ yang selalu bilang kalau deadline tuh harga mati buat jurnalis." Untung sebelum rapat tadi, aku sudah mengirimkan naskahku ke editor.


"Ya bagus deh kalo gitu. Setidaknya pikiran lo masih ekspres kalo disuruh nulis berita."


"Trus, sindir aja trus sampai Snow White punya anak."


"Gimana bisa, orang dia udah mati."


"Yah penganut teori konspirasi nih."


"Terkadang, kita tuh perlu tahu teori-teori konspirasi biar hidup kita nggak monoton, Nya. Gimana sih lo. Anak muda masa nggak tertarik sedikit pun sama misteri. Hidup ini tuh terlalu banyak misteri yang harus diketahui dan diungkapkan, Nya."


Aku tersenyum menanggapi pernyataan Mas Hanung. Lagaknya sudah seperti pimpinan sekte aliran sesat yang merekrut anggota baru. Lagi pula siapa yang tak tertarik dengan misteri. Aku bahkan sekarang sedang memecahkan misteri menghilangnya teman Mas Hanung itu. Ah ya, benar juga. Kenapa sebelumnya tak terpikirkan untuk bertanya pada Mas Hanung?


"Ada yang lebih misterius sebenarnya, Mas. Mas Hanung mau tahu?"


"Apaan emang?" tanya Mas Hanung memakan umpan yang kulemparkan.


"Ada cowok yang bilang ngajak kencan trus dibatalin limabelas menit sebelum berangkat. Udah gitu dia ngilang aja tanpa kabar kayak pelaku pembunuhan. Menurut Mas Hanung gimana?"


Bukannya menjawab, Mas Hanung justru tertawa menanggapi pernyataan sekaligus pertanyaanku. Lelaki itu bahkan sampai memegangi perutnya ketika tawanya berderai. Heran, apa dia tidak menyadari jika itu berkaitan dengan temannya? Atau jangan-jangan mereka sudah bersekongkol sejak awal dan saling bekerja sama?


Sungguh aku mudah sekali curiga jika diliputi pikiran buruk. Bahkan daya analisisku meningkat tajam. Seperti Miss Marple atau Hercule Poirot tokoh karangan Agatha Christie saat memecahkan kasus misteri.


"Terkadang pikiran tanpa dasar tuh mudah sekali menyesatkan. Jangan bandingkan sama Sherlock Holmes yang mudah curiga sama orang lain karena punya motif dan hasil analisisnya nggak mungkin keliru," kata Mas Hanung seolah membaca pikiranku meski mengibaratkan dua tokoh detektif yang berbeda. Itu karena dia lebih mengagumi Sir Arthur Conan Doyle daripada Agatha Christie.


"Ya siapa yang nggak mikir gitu kalo sebelumnya dia ninggalin teka-teki yang aneh. Bilang mau bikin orang jatuh cinta, tapi ngilang tanpa kabar. Supaya apa? Cariin dia? Kalaupun cariin dia bukan karena kangen, tapi karena dia punya utang yang harus dibayar."


"Ya ampun Kanya, gengsi lo tinggi banget sih. Apa susahnya ngaku kalau lo emang beneran kangen sama dia?"

__ADS_1


"Bentar deh, ini Mas Hanung tahu siapa orang yang saya sebut dari tadi?"


"Ya siapa lagi kalau bukan Araz 'kan?"


Wajahku terasa panas saat Mas Hanung dengan gamblangnya menyebutkan nama temannya itu. Bahkan tubuhku menjadi kaku dan susah digerakkan. Tanganku mengambang di udara sambil menggenggam potongan puzzle. Sedangkan Mas Hanung menatapku sambil tertawa.


"Lo masih terlalu cepat untuk bisa mengorek informasi dari gue dengan cara licik, Nya. Setidaknya lo harus ketemu politisi atau pejabat korup yang suka sekali berkelit. Lo tahu caranya agar mereka percaya sama lo kalau lo bukan orang berbahaya? Cari tahu dulu kesukaan orang itu. Baru lo bisa menjebak mereka dan menceritakan kehidupannya tanpa curiga. Itu cara menggiring orang paling halus."


"Lah, ini kita kan udah main mainan kesukaan Mas Hanung. Kok Mas Hanung nggak kejebak?"


"Ya kan gue udah bilang kalau lo masih terlalu awal buat mengorek informasi dengan cara licik. Gini deh, kalau Araz kita ibarat puzzle, ada bagian dari dirinya yang berserakan. Seperti ini."


Mas Hanung membalikkan puzzle yang sudah tertata rapi hingga membuatnya kembali berantakan. Sedang aku hanya bisa melongo mengingat menyusunnya tidak mudah dan membutuhkan banyak waktu. Sementara Mas Hanung merusaknya tak sampai satu menit. Bahkan hanya sepersekian detik.


"Kesel kan lo, sama gue juga. Abi belum bisa diajak main puzzle yang kepingannya sekecil ini. Makanya gue panggil lo sini."


"Ya trus kenapa diancurin lagi? Astaga!"


"Lah, gue kan mau ibaratin Araz pake puzzle, Nya. Gimana sih lo. Jadi gini, kotak ini tuh Araz. Fisiknya, wujudnya, apa pun itu orang menyebutnya. And you know this?" Mas Hanung mengambil kepingan puzzle dan menunjukkannya ke arahku. Aku hanya menggeleng sebagai jawaban. "Itu tuh jiwa Araz. Terpencar-pencar. Nggak beraturan juga bentuknya. Dan lo tahu apa artinya itu?"


Kali ini Mas Hanung menunjuk ke arah kepingan puzzle digenggamanku. Ia meraih tanganku dan membuka telapak tanganku menghadap ke atas. Dengan gerakan dramatis ia menghujani kepingan puzzle lainnya.


"Cuma lo yang bisa menyatukan kepingan jiwa Araz biar kembali utuh."


"Udah kayak Voldemort aja jiwanya dibagi-bagi." Aku berkomentar masih menahan kesal akibat Mas Hanung merusak hasil karya yang sudah susah payah kami susun.


"Sstt... Dilarang menyebut "Kau Tahu Siapa" di sini. Gue nggak mau mati gara-gara mantra avada kedavra. Kembali ke Araz, pada intinya separuh jiwa Araz itu udah dititipkan sama lo. Jadi, kalau lo bisa bersatu sama Araz, jiwa dia bakal kembali utuh."


"Beneran deh, apa di masa lalu saya hampir dibunuh Araz dan memindahkan separuh jiwanya ke saya? Lagian, kenapa mesti saya?"


"Besok Sabtu lo harus ke Bandung. Menurut lo, gue nggak punya alasan kenapa nunjuk lo?"


"Ya pastinya ada, tapi..."


"Siapa tahu 'kan lo punya kepentingan di Bandung?" ucap Mas Hanung menyela kalimatku yang belum tuntas. "Kalau gue kasih tau semua klu-nya, apa enaknya mecahin misteri? Itu pun kalau lo emang beneran penasaran sama Araz kenapa dia menghilang."


Sudut bibirku mengembangkan menanggapi pernyataan Mas Hanung. Aku tidak menyangka jika lelaki itu begitu perhatian kepadaku.


"Jangan lupa traktir! Enak aja lo mau gratisan," komentar Mas Hanung lagi saat aku memutuskan keluar ruangan masih dengan senyum mengembang.


"Iya, ntar saya bawain manisan pala dari Bandung."


"Nggak usah balik sekalian!"

__ADS_1


Tawaku semakin lebar menanggapi ucapan Mas Hanung.


__ADS_2