Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 99. Akhir Ratu?


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Max dan Liliana terlihat senang karena Ratu yang berbuat jahat pada Liliana akan mendapatkan hukuman.


BRUGH!


Ratu berlutut didepan Raja, lagi-lagi dia menyangkal semua bukti dan fakta yang nyata didepannya itu.


"Yang mulia.. saya mohon, yang mulia!" Pinta sang Ratu sambil memelas pada suaminya itu.


"Pengawal! Bawa Ratu ke penjara!" Raja memerintahkan pengawalnya membawa Ratu, tanpa melihat ke arah istrinya.


"Baik!" jawab para pengawal patuh.


"Mohon, ikut dengan kami yang mulia Ratu!" kata seorang pengawal.


"Tidak! Aku tidak mau! Aku ini Ratu, siapa yang berani menyentuhku?!" Ratu kembali berdiri, di memegang tangan Raja. Wanita cantik berambut perak itu mulai meneteskan air matanya. "Yang mulia, ini semua tidak benar.. anda percaya pada saya kan?"


"Benar atau tidaknya, biar hukum yang menentukan itu.. Ratuku." Raja menatap tajam ke arah Ratu, entah dia bersungguh-sungguh atau berpura-pura didepan semua orang. Raja terlihat dingin dan tidak peduli pada Ratu.


Ratu menahan amarah saat dia melihat sikap Raja kepadanya. Mendengar ucapan Raja yang dingin, membuat Ratu sedih.


Di ranjang saja kau sangat baik padaku, kenapa sekarang kau sangat dingin?


Laura yang melihat ibunya akan diseret ke penjara, tentu tidak diam saja. Walaupun Ratu hanya memanfaatkan Laura untuk kepentingan politiknya dan sering berlaku tak adil padanya. Namun Ratu tetaplah ibu kandungnya, ibu yang telah melahirkannya.


Gadis itu maju ke tengah aula, menghampiri ayahnya sang Raja. "Ayah! Aku mohon pada ayah, jangan membawa Ibunda kepenjara. Ibunda.. memang terkadang tak bersikap baik, tapi dia tidak mungkin mencelakai putri mahkota." Laura membela ibunya.


Ratu menatap putrinya dengan haru. Tak menyangka bahwa Laura akan membelanya.


"Putriku, kau tenang saja. Jika Ratu terbukti tidak bersalah, dia pasti akan dibebaskan. Ratu akan di interogasi saja dan tidak akan terjadi apa-apa padanya." Jelas Raja bijak pada putrinya. Statusnya sebagai raja, harus mengedepankan keadilan daripada perasaaan.


Melihat sikap Raja yang dingin terhadap Ratu di hadapan semua orang. Membuat Liliana was-was dan berfikir, apakah suatu saat nanti Max juga akan bertindak seperti itu apabila dia melakukan kesalahan?


"Ayah.. aku mohon.." ucap Laura memohon.


Raja tidak mendengar ucapan Laura,"Pengawal, bawa dia ke ruang interogasi!" Ujar Raja pada para pengawalnya.

__ADS_1


Ratu diseret dari pesta itu oleh para pengawal. Laura sedih melihat ibunya dibawa pergi oleh pengawal ke penjara istana, tempat interogasi. Semua orang di pesta itu berbisik-bisik membicarakan Ratu yang baru saja dibawa pergi oleh pengawal.


Pesta ini sudah tidak kondusif lagi. Sepertinya aku harus membubarkannya.


Raja menghela nafas, dia mengatakan pada Max dan orang kepercayaannya untuk membubarkan pesta. Akhirnya pesta itu dibubarkan bahkan sebelum dimulai.


Setelah hampir semua orang bubaran, hanya tersisa tiga nona bangsawan yang ingin memberi salam pada Liliana dari dekat. Sementara Max berbicara dengan Laura ditempat lain, karena Laura mengajaknya bicara.


"Salam hormat kami yang mulia putri mahkota," ucap Keira, Shopia dan Arina dengan sopan sambil membungkukkan setengah badan mereka.


"Ya.." jawab Liliana sambil tersenyum ramah.


Ketiga nona bangsawan itu kembali berdiri tegap, namun masih dengan menundukkan kepalanya. "Maafkan kami yang mulia, karena baru sempat menyapa yang mulia putri mahkota.." ucap Keira sopan.


"Selamat atas upacara penobatan yang mulia," ucap Shopia memberi selamat.


"Selamat untuk yang mulia putri mahkota!" Keira dan Arina kompak memberikan selamat pada putri mahkota kerajaan Istvan itu.


"Terimakasih, kalian sudah hadir di pesta ini. Terimakasih juga karena sudah bersaksi didepan semua orang," ucap Liliana sambil tersenyum.


"Yang mulia, kami tidak menyangka bahwa Baginda Ratu akan melakukan semua ini." Kata Arina ikut bicara mengomentari tentang Ratu.


Liliana mengalihkan pembicaraan agar mereka tidak membicarakan Ratu lagi. Liliana meminta dayangnya untuk menjamu dulu ketiga nona itu. Namun mereka menolak dengan sopan dan memilih untuk pulang karena hari sudah malam.


Setelah ketiga nona bangsawan itu pulang, tinggallah Liliana sendirian di tengah aula istana yang kini sudah sepi.


Didalam suasana sepi itu, Liliana merenung. Dia teringat sedikit dari masa lalunya sebagai Adaire. Kematian Arsen, Adara yang dipenjara, Ratu sedang dalam dalam proses hukuman. Semua orang yang jahat padanya mendapatkan karmanya.


"Yang mulia," ucap Adrian yang tiba-tiba mendekat ke arah Liliana yang sedang duduk di kursi.


"Sir Adrian, ada apa?" Tanya Liliana.


"Yang mulia putra mahkota, menyampaikan pesan pada saya untuk yang mulia. Bahwa yang mulia diminta untuk pergi terlebih dahulu dan beristirahat."


"Baiklah, aku akan pergi ke kamarku terlebih dahulu. Kau sampaikan ini padanya," ucap Liliana sambil beranjak dari tempat duduknya.


Semua perhiasan ini sangat berat. Dan sepertinya Maxim, masih berbicara dengan putri Laura.

__ADS_1


"Baik yang mulia," jawab Adrian sopan.


"Daisy, ayo." Ajak Liliana pada pelayan setianya itu.


"Ya, yang mulia.." jawab Daisy patuh.


Liliana dan Daisy berjalan menuju ke kamar tempatnya dan Max tinggal bersama. Sesampainya di kamar itu, Liliana melepas aksesoris yang ada di tubuhnya.


"Haahhh.. aku sangat lelah," Liliana menghela nafas.


...*****...


Di dekat balkon istana, Laura dan Max sedang bicara disana. Laura meminta kakaknya untuk membujuk Raja agar membebaskan Ratu Freya.


"Kau sangat tidak masuk akal Laura. Mengapa kau meminta padaku untuk membebaskan ibumu?" Tanya Max sambil berkacak pinggang. Dia menatap adik tirinya dengan kening berkerut.


"Kakak...aku mohon, hanya kakak yang bisa bicara dengan ayah."


"Laura, ibumu akan bebas kalau dia tidak melakukan kesalahan. Tapi, aku tidak yakin kalau Ratu akan bebas. Jangan memohon padaku karena itu tidak berguna," ucap Max yang sama sekali tidak peduli pada Laura maupun ratu.


"Kak...apakah ibu benar-benar mencelakai putri mahkota?" Tanya Laura.


"Menurutmu? Apa kau tidak percaya? Kau sudah mendengar kesaksian, kau sudah melihat bukti dan kau sudah melihat korban. Apalagi yang perlu ditanyakan? Itu semua sudah jelas." Max tersenyum menyeringai.


"Haahh..apa ini bukan rencana kakak untuk-"


Max langsung emosi, dia mengangkat jarinya pada wajah Laura. "Hentikan tuduhan mu itu putri Laura! Meskipun aku membenci ibumu, aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh yang bisa membahayakan nyawaku. Justru ada apa dengan ibumu itu, kenapa dia terus mengusik orang yang aku cintai? Kali ini aku tidak akan melepaskannya Laura!" Ancam Max dengan mata melotot ke arah Laura.


"I-ibu memang selalu bersikap tidak baik pada kakak, tapi dia tidak mungkin berbuat jahat!" Laura yang polos, dia tidak tahu kejahatan ibunya.


"Kau sangat polos atau bodoh? Kenyataan sudah ada didepan matamu. Sudahlah Laura, aku malas bicara denganmu!" Kata Max sambil tersenyum sinis, kemudian dia berjalan pergi meninggalkan Laura sendirian disana.


Laura terlihat sedih, dia tak bisa bicara dengan Max. Seburuk apapun ibunya, dia tetaplah orang yang mengandungnya. "Kakak tidak bisa diajak bicara, aku akan bicara dengan kakak iparku!"


Laura berencana untuk menemui Liliana. Sementara itu Ratu dan dayang istana yang bernama Marry itu berada di ruang interogasi.


...---****---...

__ADS_1


__ADS_2