Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 155. Pengorbanan


__ADS_3

...Alur time travel dimulai dari sini!...


...🍀🍀🍀...


Di sebuah ruangan yang sepi dan tidak ada siapapun disana selain Max, Liliana dan penyihir agung. Mereka akan memulai ritual untuk melaksanakan pilihan kedua Max, yaitu memutar kembali waktu agar Liliana bisa kembali hidup.


"Yang mulia, saya akan menjadi perantara yang mulia untuk memanggil iblis...iblis itu akan melakukan perjanjian dengan yang mulia."


"Baik, lakukan." Mata sang Raja penuh tekad untuk mengorbankan dirinya. Dia melihat ke arah jasad Liliana yang terbaring diatas batu.


Penyihir agung mengeluarkan sihir dari dalam tangannya. Dia membuat sebuah lingkaran hitam di dekat Liliana terbaring. "Yang mulia, saya akan mengingatkan anda sekali lagi. Jika anda mengulang waktu, maka semua masa lalu bisa saja berubah."


"Aku tidak masalah!" katanya tegas.


"Yang mulia, anda benar-benar yakin?"


"Cepat lakukan dan jangan banyak bicara!" Teriak Max, putusannya sudah tidak bisa diganggu gugat. Ia sudah yakin, akan menukar hidupnya untuk menghidupkan kembali wanita yang dia cintai.


Apapun akan lakukan....apapun resikonya aku akan menanggungnya. Asalkan aku bisa melihatmu lagi, tidak peduli kau melupakanku. Yang penting kau bisa hidup.


Penyihir agung melakukan apa yang diperintahkan oleh sang raja, dia membuka portal yang menghubungkan antara dunia iblis dan dunia manusia. Pria itu mengucapkan mantra, mulutnya komat-kamit dan tidak terdengar jelas apa yang dia ucapkan.


Tak lama kemudian keluarlah dari lubang hitam itu sesosok makhluk bertubuh besar, setengah manusia dan setengah ular. Dia adalah iblis yang akan melakukan perjanjian dengan raja Istvan.


Kini mahluk itu mengubah wujudnya menjadi seperti manusia, terlihat wajahnya yang tampan dan dia memiliki mahkota di kepalanya. Sebuah bola kristal ungu ada ditengah keningnya.


"Siapa yang berani memanggil Raja iblis Utara?!" Tanya pria itu dengan suara menggelegar.


"Raja iblis, akulah yang memanggilmu...atas perintah yang mulia Raja Istvan."


"Raja Istvan? Pria yang memiliki darah setengah iblis? Pria yang menyegel saudaramu sendiri? Kenapa kau memanggilku kemari? Apa kau mau menyegel aku juga sama seperti kau menyegel saudaramu?" Tanya Raja iblis Utara itu.


"Aku ingin meminta bantuan padamu."


"Bantuan? Hahaha..." Raja iblis Utara terkekeh,karena seorang manusia yang diberkahi kekuatan sihir luar biasa bahkan bisa membunuh dirinya. Kini mengatakan bahwa dia meminta bantuan padanya.


"Aku sedang tidak bercanda dan aku tidak mau banyak berbasa-basi, apa kau bisa menghidupkan wanitaku?" Tanya Max dengan suara tegasnya.


Raja iblis Utara melihat ke arah Liliana dan dia duduk di batu yang ada disana. "Dia cantik, sayangnya dia sudah mati."


"Aku ingin kau menghidupkannya kembali." kata Max tegas.


"Raja Istvan yang terhormat, Aku bukan Tuhan yang menentukan hidup dan mati seseorang."


"Penyihir agung, kau bilang dia bisa bantu!!!" Seru Max emosi.


"Yang mulia, anda harus dengarkan dulu penjelasan Raja iblis Utara." Kata Penyihir agung


"Wah...tidak ku sangka, kau mau meminta bantuanku untuk membangkitkan wanitamu?" Tanya Raja iblis Utara dengan tersenyum menyeringai.


Max menatap tajam kepada Raja iblis Utara itu. "Baiklah baiklah, aku bisa bantu...tapi kau tau syaratnya bukan? Apa kau akan menjual jiwamu padaku sebagai gantinya?" Tanya Raja iblis Utara.


Max mengangguk yakin. "Ya,"

__ADS_1


"Sungguh cinta yang ironis, kau rela mengorbankan dirimu untuk wanita yang dicintai. Manusia memang punya hati, ya."


"Lakukan saja! Aku tidak mau berpidato lagi!"


"Dasar tidak sabar! Baiklah kalau kau sudah yakin."


Tangan Raja iblis itu mengeluarkan cahaya hitam, lalu tiba-tiba saja ada secarik kertas dan sebuah kuali berisi air berwarna hitam yang entah apa.


"Berikan darahmu. Mari buat kontrak!" Ujar raja iblis itu tegas.


Tidak bicara apapun, Max menggores tangannya dengan belati. Max mengucurkan darahnya ke dalam air hitam itu. Kemudian munculnya cahaya hitam pekat, secarik kertas itu juga bercahaya. Itu adalah surat kontrak antara bangsa Max dan Raja iblis.


"Jangan lupa, jiwamu milikku." Ucap Raja iblis Utara menyeringai. Dia mengambil surat kontrak itu. Sementara ditangan Max kini sudah ada tanda ular dengan cahaya merah.


Penyihir agung menatap Raja iblis, dia merasakan bahwa hal ini buruk untuk Max. Walaupun begitu, dia janji membantunya dan dia tidak bisa melarang apa yang diinginkan oleh dirinya.


"Lalu, kapan Liliana akan kembali hidup?" Tanya Max pada Raja iblis Utara. "Kau tidak bohong, kan?" Max menatap raja iblis Utara dengan ragu.


"5 menit lagi, waktu akan kembali."


"Kau harus tetap disini, sebelum waktu kembali!!" Ujar Max pada Raja iblis itu.


Max mendekati Liliana yang masih terbaring lemah. Dia memegang tangan wanita itu, "Lily, aku minta maaf di kehidupan ini, aku tidak membuatmu bahagia. Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama, tapi...aku janji. Di kehidupan selanjutnya, kau akan bahagia tanpa diriku, tanpa mengenalku. Aku juga tidak akan mendekatimu lagi, aku janji...jadi kau juga harus berjanji padaku untuk hidup bahagia. Aku mencintaimu," Max memasangkan sebuah kalung permata merah ke leher Liliana, kalung yang pernah diberikan olehnya kepada Liliana sebagai hadiah pertama saat mereka meresmikan hubungan sebagai pasangan kekasih.


Pria itu menangis, lalu dia menciumi wajah Liliana dengan penuh kasih sayang. Dari mulai kening, kedua kelopak mata, hidung, pipi dan terakhir bibir.


Mungkin setelah kita bertemu lagi di kehidupan yang nanti, kau tidak akan mengingatku. Tapi, aku harap kau memiliki hidup yang bahagia dan kau selamat.


Tiba-tiba saja sebuah cahaya yang menyilaukan muncul entah darimana. Membuat Max, penyihir agung dan raja iblis Utara terkejut.


Max melihat Raja iblis itu tersenyum, namun dirinya malah menangis karena takut akan kehidupan yang akan di hadapi nantinya. Cahaya itu menyinari tubuh Liliana yang tidak bernyawa.


Aku harap kau bahagia, Lily...


*****


Disebuah rumah kumuh, tepatnya desa kecil dipinggir pantai.


"Hey! Bangun! Apa kau akan terus tidur seperti itu? Ayo cepatlah kerja!" Pria paruh baya terus membangunkan seorang wanita berambut merah yang masih tidur di ranjangnya.


"Hem.." Gadis itu mengerang, dia membuka matanya perlahan-lahan. Melihat pria yang bangunkannya membawa dua botol minuman keras. "Kau...kau siapa? Dimana ini?" Tanya wanita itu linglung sambil melihat kesana kemari.


"Liliana! Apa kau masih belum sadar? Cepat bangun,siapkan makanan untukku, lalu pergilah bekerja!" Titah pria itu padanya.


"Maaf tuan, tapi saya tidak mengenal anda!" Kata Liliana tegas, dia memegang kepalanya.


Plakk!!


Tamparan keras melayang di pipi Liliana. "Dasar anak kurang ajar! Aku adalah ayahmu, apa kau paham?!"


Liliana terkejut karena dia dipukul oleh pria yang tidak dia kenal. Wajahnya masih bingung, tidak tahu dengan keadaan sekitar.


"Jangan diam saja! Ayo cepat siapkan makanan dan pergilah bekerja seperti biasa di restoran. Jangan pura lupa ingatan hanya karena kau tidak ingin pergi bekerja!" Bentak pria itu pada Liliana.

__ADS_1


Dia tidak tahu apa-apa dan akhirnya hanya menurut saja pada pria yang mengaku sebagai ayahnya itu.


Liliana memasak makanan untuk ayahnya, rumah itu terlihat kumuh dan banyak botol minuman keras didalam rumah itu. Setelah selesai makan makanan sisa dari ayahnya, Liliana mencuci piring dan disuruh ayahnya untuk bekerja.


"Sudah sana, cepat pergi! Kau harus bekerja, nanti kau terlambat bekerja!" Seru Robert pada Liliana.


"Bekerja? Tapi aku bekerja dimana?" Tanya Liliana bingung.


"Kau jangan pura-pura bodoh lagi, cepat pergi!" Robert melempar kain pada wajah Liliana.


Gadis itu pun pergi keluar dari rumah itu dengan bingung, dia tidak tahu siapa dia dan dimana dirinya bekerja. Didalam perjalanan, dia bertemu seorang wanita seumuran dengannya dan dia memanggil Liliana. "Lily, Liliana! Hey!"


Liliana acuh saja tak menghiraukan panggilan itu. Kemudian wanita itu menghampiri Liliana dan tersenyum ceria padanya. "Lily, kenapa kau diam saja? Aku memanggilmu dari tadi! Ayo kita berangkat bekerja bersama."


"Maaf, tapi kau siapa?" tanya Liliana dengan tatapan aneh kepada gadis berkepang dua itu.


"Hah? Lily, apa kau sedang berakting? Aku Nancy, aku temanmu."


"Nancy?" Kening Liliana berkerut dan menaikkan alisnya.


"Lily, ada apa denganmu? Kau jadi seperti ini karena dipukuli ayahmu lagi kan? Apa kau kehilangan memorymu?" Tanya Nancy cemas.


"Sepertinya begitu..."


Kenapa aku merasa kalau ada sesuatu yang aku lupakan? Tapi, apa itu? Aku bingung.


"Astaga...tenang saja, setelah kita berhasil mengumpulkan uang. Kita akan pergi dari pulau ini, jauh dari ayahmu."


"Apa ayahku adalah orang yang jahat?"


"Ya, dia bukan ayah yang baik. Kau bahkan sempat mengeluh padaku bahwa kau sudah tidak mau untuk tinggal bersama dengannya lagi. Kau selalu dipukuli dan dia selalu memaksamu bekerja, sedangkan dia sendiri hanya tinggal di rumah dan minum minuman keras lalu berjudi. Ya, begitulah caranya menghabiskan uang hasil keringat dan jerih payahmu." Jelas Nancy pada sahabatnya itu.


Liliana masih mencerna apa yang dikatakan oleh Nancy, dia terlihat bingung apa yang terjadi kepada dirinya?


Beberapa menit kemudian Nancy dan Liliana sampai di sebuah restoran kecil di pulau itu. Sesampainya di sana mereka langsung bekerja, Nancy bertugas di bagian dapur sedangkan Liliana bertugas sebagai pelayan di bagian depan karena wajahnya yang cantik mampu menarik perhatian pelanggan yang datang ke sana.


"Semakin hari kau semakin cantik saja ya Liliana, apa kau ada niat untuk menikah muda?" Tanya seorang pria paruh baya berjanggut hitam, sambil memegang tangan Liliana.


Gadis itu risih dengannya, tapi dia takut dimarahi oleh bosnya karena dikira dia kurang ajar pada pelanggan. "Aku ingin sekali memukul pria ini."


"Ya benar, kalau kau ada niat menikah muda. Maukah kau menikah denganku? Menjadi istri kedua tentunya. Aku memberikanmu perhiasan baju yang mewah dan tempat tinggal yang layak untukmu."


"Jangan menikah dengannya, lebih baik kau menikah denganku saja. Kalau kau menikah denganku, aku akan menyingkirkan semua istriku dan hanya menjadikan kau seorang ratu di dalam hidupku. Sungguh!" Seru si pria satunya menggoda Liliana.


Liliana melepaskan tangannya dari pria itu. Dia tidak bicara dan memilih pergi dari sana. Namun pria-pria itu masih terus mengganggunya. "Tolong lepaskan saya!"


Hingga datanglah salah satu rekan Liliana yang bekerja disana menolongnya. "Jangan ganggu dia!"


*****


Sementara itu di dalam sebuah kapal laut, Max dan pasukannya baru saja pulang dari perjalanan menumpas pasukan pemberontak.


Max masih memandang lautan luas itu. "Bagaimana keadaannya? Apa Liliana sekarang bahagia? Pasti dia bahagia kan?" gumam Max resah.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2