
...🍀🍀🍀...
Brieta tersenyum di wajah keriputnya. Dia mempunya tekad besar untuk menyatukan insan yang saling mencintai itu selamanya. "Aku akan membantu kalian untuk bersatu, secepatnya!" gumam wanita tua itu sambil tersenyum.
Setelah melalui perjalanan dengan naik kereta rakyat jelata yang jauh dari fasilitas nyaman, selama 2 jam lamanya. Akhirnya Liliana sampai di pusat kota kerajaan istvan. Ia melihat ke sekelilingnya dengan mata berbinar-binar.
"Wah...jadi ini pusat kota kerajaan istvan! Benar-benar ramai sekali." Gadis itu berjalan sambil membawa tas kecil yang berisi beberapa baju miliknya. Dia mulai mencari penginapan di sekitar sana, tapi sebelum itu dia melihat papan pengumuman di tembok.
Di sana terlihat beberapa orang berkumpul melihat kertas di papan pengumuman itu. Liliana tertarik melihatnya dan ia pun melihat ada pengumuman perekrutan dayang di istana dengan gaji tinggi.
"Bukan hanya bangsawan saja yang bisa ikut dengan perekrutan dayang istana ini, tapi kita juga punya kesempatan!"
"Ya kau benar, aku pasti akan ikut dan mengikuti menjadi dayang istana!"
Semua orang yang bergelar bangsawan maupun rakyat jelata begitu heboh saat mendengar berita perekrutan dayang istana untuk ditempat di istana putra mahkota dan putri Laura.
Semua orang boleh mengikuti pelatihan itu, baru sampai tahap pelatihan dan melalui proses seleksi sebelum benar-benar menjadi dayang istana.
Apa aku harus ikut pelatihan itu? Sebenarnya aku malas tapi melihat gajinya yang besar, mataku yang menangkap radar uang ini langsung menyala. Mata Liliana berbinar-binar melihat kertas berisi tulisan gaji 100 koin emas bagi yang terpilih menjadi dayang istana.
Selain kemampuan berbahasa, etika, kepatuhan dan kecantikan. Standar menjadi dayang istana haruslah tinggi dan syarat yang melengkapi semua itu adalah mereka tidak boleh menikah, alias lajang seumur hidup. Sungguh peraturan ini tidak boleh dilanggar oleh dayang istana.
Menjadi dayang istana, artinya harus menyerahkan seluruh kehidupan sepenuhnya pada istana (mengabdi). Apa Liliana akan melakukan itu?
Saat ini dia sama sekali tidak kepikiran menikah, walau dia sebenarnya kepikiran dengan Max. "Aish...Liliana, kenapa kau memikirkan dia? Lebih baik pikirkan uang agar kau bisa kaya! Dan walaupun kau mau menikah nantinya, kau tinggal keluar saja dari istana. Beres kan?" Pikirnya bergumam sendiri.
Seseorang dari istana datang ke pusat kota, membagikan selembaran untuk diisi oleh orang-orang yang akan menjadi dayang istana. Disanalah orang istana menyeleksi dari wajah.
"Kau terlalu gemuk!" Ucap orang istana itu tegas, menolak seorang wanita gemuk didepannya.
"Kau terlalu tua!"
"Kau...terlalu kurus..."
"Kau kurang cantik!"
__ADS_1
Lebih banyak terdengar kata tidak lolos daripada lolos. Ya, seleksi ini berdasarkan wajah dan bentuk fisik. Lalu banyaknya yang mengikuti seleksi itu adalah rakyat jelata karena jelas pada bangsawan bisa masuk ke istana dengan jalur khusus.
Antrian itu masih panjang, terlihat wajah si orang istana tampak lelah karena tidak ada yang sesuai dengan kriteria. Tiba-tiba saja pandangannya tertuju pada Liliana.
Akhirnya aku menemukan berlian ditengah tumpukan sampah!
"Nona! Kesini! Hey, nona!"
Semua orang sontak menatap Liliana, gadis itu sendiri sedang sibuk dengan lamunannya sendiri sembari menunggu gilirannya tiba. "Hey, nona! Kau dipanggil!" Bisik seorang wanita yang berada dibelakang Liliana.
"Aku?" Liliana menunjuk pada dirinya sendiri, ia terheran-heran mengapa dia sudah dipanggil? Sedangkan gilirannya masih lama.
Apa benar aku yang dipanggil? Ah mana mungkin. Gadis itu diam ditempat, merasa TIDAK mungkin dipanggil duluan.
"Nona rambut merah, kemarilah!" Ujar si orang istana itu seraya melambaikan tangannya.
Kini Liliana benar-benar yakin bahwa dirinya benar-benar dipanggil. Kemudian Liliana melangkah pergi ke depan, semua orang menatapnya. "Tuan memanggil saya?"
"Ya benar! Aku memang memanggilmu!" Seru pria paruh baya itu senang melihat Liliana. Seperti menemukan harta Karun saja.
"Kau! Ikut denganku ke istana!"
Semua orang itu melihat Liliana dengan iri, mereka terkejut karena Liliana terpilih dengan cepat dibandingkan mereka. Ya, berdasarkan wajah Liliana memang bisa terbilang cantik. Liliana sendiri tidak percaya bahwa dirinya akan langsung terpilih tanpa embel-embel apapun seperti yang lainnya, harus memohon dulu baru bisa lolos.
Aku? Aku terpilih? Jadi, aku akan masuk ke dalam istana?
Dari pusat kota, hanya 3 orang wanita yang dirasa cocok dalam hal wajah yang dibawa ke istana. Mereka adalah Liliana, Keyra dan Chloe. Disepanjang perjalanan, Liliana mengobrol dengan kedua gadis cantik itu untuk mendapatkan teman. Dan beruntungnya kedua teman itu terbuka padanya.
"Kalian benar-benar cantik," Liliana memuji kedua wanita cantik yang berada didepannya itu.
"Apa kau tidak sadar? Kalau kau lebih cantik," ucap Chloe sambil tersenyum seraya menatap Liliana.
"Aku biasa saja!" Jawab gadis itu dengan wajah polosnya.
Cekret!
__ADS_1
Pintu kereta itu terbuka lebar, ketiga gadis cantik calon dayang istana itu turun darisana. Mereka langsung dibuat takjub dengan pemandangan istana kerajaan yang megah dan mewah.
"Apa yang dikatakan ibuku memang benar? Istana sangat indah." Kata Keyra terkagum-kagum dengan kemegahan istana itu.
"Benar! Aku pasti akan suka tinggal disini, apalagi kemungkinan besar kita akan bertemu dengan yang mulia putra mahkota. Akan lebih bagus kalau kita bisa terpilih menjadi pelayan putra mahkota!" Mata Chloe berbinar-binar, ia berharap agar menjadi pelayan putra mahkota.
Ketika kedua orang itu sibuk membicarakan urusan mereka masing-masing. Tatapan Liliana tertuju pada danau yang ada di sana. Entah kenapa ia merasa begitu familiar dengan danau itu.
Tiba-tiba saja kepalanya berdenyut, "Ughh...."
Aneh, mengapa aku melihat bayang-bayangku yang terjatuh di danau itu? Padahal aku tak pernah kesini sebelumnya.
"Liliana, kau kenapa? Ayo kita masuk!" Ajak Chloe.
"Jangan-jangan di takjub juga dengan istana kerajaan, makanya dia begitu." Keyra terkekeh pelan.
Liliana tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya lalu melangkah pergi memasuki istana bersama kedua gadis itu dengan dipandu oleh orang istana yang membawa mereka kesana.
*****
Di istana putri, Laura tampak sedang duduk sendirian di dekat balkon istananya yang cukup megah. Dia memang selalu dimanjakan oleh ibunya, segala keinginannya selalu dipenuhi. Bahkan mendiang Raja juga sangat mencintai putrinya ini.
"Hormat saya yang mulia," ucap seorang pria yang membuat hati Laura selalu berdebar. Ya, pria itu adalah Eugene. Kstaria pribadi kakak tirinya, sekaligus pria yang ia cintai. Laura langsung beranjak dari tempat duduknya begitu ia melihat Eugene ada dihadapannya.
Ditatapnya pria itu dengan tajam, tidak ada senyuman di wajah cantiknya, hanya kesal saat ini yang ia rasakan.
"Setelah aku mengancammu, memberikan perintah sebagai seorang putri. Barulah kau mau datang menemui kekasihmu," ucap Laura sambil menyenangkan kedua tangannya di dada, Mana suaranya sangat tajam kepada pria itu.
Eugene yang notabennya adalah seorang bawahan, maka ia tidak boleh berani menatap anggota keluarga kerajaan sembarangan. "Maafkan saya yang mulia, apa anda punya titah kepada saya?" Tanya Eugene dengan formal.
"Hah?!" Laura menoleh ke arah Eugene dengan geram.
...****...
Hai Readers..😍 sambil nunggu up lagi novelku yuk mampir sini
__ADS_1