Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 123. Dilema


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Mendengar kata adik, membuat kepala Max terasa sangat pusing. Dia mengingat sebagian memory Lucifer, mereka seperti berbagi memori yang sama.


Apa yang dialami Lucifer, Max bisa melihatnya. Begitu pula sebaliknya. Setelah ingatan itu perlahan menghilang, Max menatap Lucifer dengan tajam.


"Bisa kau katakan dengan jelas padaku? Kenapa kau ingin menghancurkan negri ini?!" tanya Max pada Lucifer.


"Kenapa kau masih tanya? Bukankah kau punya sebagian ingatanku.. kau bisa melihatnya disitu." Lucifer menatap tajam pada saudara kembarnya itu.


"Mungkinkah kau ingin menjadi Raja di negri ini? Atau kau ingin menjadi satu-satunya anak Raja di negri ini?" Max langsung mengatakan pada intinya. Bagaimana dan apa keinginan Lucifer, tujuan pria itu menghancurkan negeri Istvan.


"Putra mahkota, apa yang kau katakan? Aku hanya punya satu putra dan calon raja negeri ini adalah kau saja!" Raja menatap Maximilian dengan penuh keyakinan.


"Ayah, apa kau tidak pernah memikirkan bagaimana perasaannya? Dia anakmu juga," ucap Max dengan wajah dinginnya.


Dia tetap tidak menganggapnya Lucifer sampai akhir. Lucifer yang tidak punya hati, merasa heran karena dia merasakan sakit didalam dadanya saat Raja tidak mengakuinya sebagai anak.


Dia memegang dada dengan mata penuh amarah pada Max dan Raja yang terlihat dekat. Selama ini Lucifer selalu hidup sendirian tanpa kasih sayang dari kedua orang tua. Memang harusnya iblis seperti itu, hidup tanpa orang lain dan tanpa kasih sayang. Tapi entah kenapa Lucifer ingin sekali kasih sayang dari keluarganya.


Apa ini karena dia terlahir dari manusia biasa? Ataukah dia memiliki perasaan seperti manusia walau hanya sedikit?


Mengapa ada perasaan sakit di dadanya? Mengapa ada rasa iri pada Maximilian?


"Kalian ayah dan anak sangat serasi...tapi aku tidak menyukainya.." Lucifer menyerang Raja dengan membabi buta, Max dan pendeta membantu sang Raja untuk lepas dari cengkraman Lucifer.


Iblis iblis berdatangan lebih banyak dari sebelumnya dan menyerang kerajaan Istvan. Orang-orang mulai kehilangan harapan hidup mereka ditengah perang yang tidak bisa mereka menangkan.


Korban-korban banyak yang berjatuhan, sebagai seorang putra mahkota dan calon Raja. Max sakit hati melihat rakyatnya berada dalam kesengsaraan dan penderitaan. Mungkin dia sendiri bisa melawan iblis tapi bagaimana dengan rakyatnya yang tidak memiliki kemampuan melawan iblis.


"Hentikan semua pertumpahan darah ini! Kau tidak boleh menjadikan warga yang tidak bersalah sebagai korban! Katakan apa yang kau inginkan Lucifer? Akan ku kabulkan semuanya! Kecuali menjadi Raja." Raja menatap Lucifer penuh kemarahan.


Dia tidak tahan melihat pertumpahan darah lagi di tanahnya. Dia sudah menyadari semua ini adalah kesalahannya.


"Hahaha.. jadi kau akhirnya menyerah juga ayah? Tapi.. aku sudah tidak tertarik dengan penawaranmu, aku ingin kalian semua mati saja dan ikut bersamaku ke neraka." Lucifer tertawa-tawa melihat darah di sekelilingnya.


Semakin banyak nyawa melayang, kekuatan Lucifer semakin bertambah kuat. Jeritan dan tangisan terdengar di kerajaan yang hampir mati dan musnah rakyatnya itu.

__ADS_1


Lucifer tak dapat dihentikan, Max dan Raja tidak tahu bagaimana caranya menghentikan kekejaman Lucifer.


"Pendeta agung! Ayah, bagaimana kita bisa menghentikan semua ini? Apa kalian punya cara?" tanya Max sambil melawan iblis iblis yang tidak ada habisnya itu. Dia sedih melihat rakyat negerinya yang tidak bersalah mati begitu saja oleh Lucifer.


"Ada cara.. tapi...." Raja terlihat bingung saat akan mengatakannya.


"Tapi apa ayah?"


Raja terdiam sejenak, dia tidak sanggup mengatakannya pada Max. Max mendesaknya untuk bicara. Akhirnya Raja dan pendeta agung buka mulut soal mengembalikan Lucifer ke neraka. Max harus melawannya dengan menyerap kekuatan iblis milik Lucifer, tapi Max akan musnah bersama Lucifer jika dia melakukannya.


"Tidak masalah, aku akan melakukannya. Aku akan berkorban untuk semuanya!" Max bersedia


"Yang mulia anda tidak bisa memutuskan sendiri hidup anda!" Kata Duke Geraldine sambil menghampiri Max ditengah-tengah pertempuran berdarah.


"Ayah mertua..." Max menatap Duke Geraldine.


"Jika terjadi sesuatu pada yang mulia, apa yang akan terjadi pada anak saya? Kalian sudah terhubung oleh janji darah dan benang takdir!"


Duke Geraldine benar, jika terjadi sesuatu padaku. Maka Liliana juga akan terkena imbasnya karena ikatan diantara kami. Aku harusnya berpikir panjang.


"Pendeta agung, apa janji darah bisa diputuskan?" Max melihat ke arah pendeta agung dengan tatapan sedih.


Maksud pemutusan janji darah tak lain adalah perceraian antara Max dan Liliana. Duke Geraldine kaget dengan niatan Max untuk menceraikan putrinya.


"Putra mahkota kau tidak perlu melakukan semua ini!" Raja menentang keputusan Max yang ingin menceraikan istrinya untuk melawan Lucifer.


"Hanya aku... akulah yang bisa menyelamatkan mereka." Max berada dalam dilema saat harus mengambil keputusan besar. "Pendeta agung, jawab aku!" pinta Max pada pendeta agung.


"Bisa," jawab pendeta agung singkat.


"Yang mulia...anda akan menyesali keputusan ini.. anda akan menyesali keputusan anda melepaskan putri saya." Duke Geraldine terlihat sedih dan marah dengan keputusan yang diambil oleh Max.


Maafkan aku Lily, aku harus melakukan ini. Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu padamu kalau terjadi sesuatu padaku. Maafkan aku..


"Saya akan membantu yang mulia memutuskan ikatan itu. Tapi kita harus menemui yang mulia putri mahkota untuk memulai prosesinya." ucap pendeta agung yang juga setuju dengan keputusan Max.


Demi semua umat manusia, aku pasti akan mendukung keputusan putra mahkota.

__ADS_1


"Duke, dimana Lily?" tanya Max pada Duke Geraldine.


Duke Geraldine terlihat enggan menjawab pertanyaan putra mahkota itu. "Duke.."


"Yang mulia, setelah pemutusan janji pernikahan kalian. Saya dan putri saya adalah orang asing untuk yang mulia." ucap Duke Geraldine tegas.


Lily pasti akan sangat terluka.


"Duke..."Max menatap Duke Geraldine dengan serba salah.


"Saya paham anda melakukan ini untuk kebaikan semua orang. Tapi, perasaan putri saya yang anda sakiti." Duke Geraldine memgang dadanya, seolah dia yang sakit hati dengan sikap Max.


Max, pendeta agung, Raja dan Duke Geraldine pergi dari tengah medan perang. Mereka menemui Liliana di tempat persembunyian, dia sedang membantu orang-orang yang terluka disana.


"Yang mulia, yang mulia Raja.. pendeta agung dan ayah? Apa ada dari kalian yang terluka?" Liliana menatap empat orang pria yang berdiri didepannya itu dengan tatapan cemas.


"Kami tidak terluka," jawab pendeta agung sambil tersenyum tipis.


Liliana melihat wajah sang Raja, Max dan Duke Geraldine terlihat serius. Mereka berdiam diri, dalam kebingungan. Terutama Max yang saat ini sedang mempersiapkan hatinya untuk mengatakan tentang pemutusan hubungan itu.


Ada apa dengan semua orang? Mengapa mereka terlihat serius? Apa ada sesuatu yang terjadi?


Max tak berani menatap istrinya, mulutnya masih membeku belum berani bicara.


Bagaimana aku harus mengatakan hal yang akan menyakitimu Lily? Bagaimana ini? Tapi harus aku lakukan.


"Yang mulia, silahkan anda katakan sendiri pada anak saya!" Kata Duke Geraldine pada Max.


Liliana menangkap dan merasakan ada atmosfer yang aneh diantara ayah dan suaminya. "Ada apa? Mengatakan apa?"


"Lily, ayo kita bercerai.."


Liliana tercengang mendengar ucapan suaminya yang tiba-tiba itu.


...*****...


Apa Lily akan menyetujui pemutusan hubungan mereka? Tunggu di next episode 🥰

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan giftnya ya buat karya author 😍🤧


__ADS_2