Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 62. Adaire masih hidup


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Saya tidak tau bagaimana caranya, saya mengungkapkan terimakasih pada yang mulia putra mahkota," ucap Duke Geraldine sangat berterimakasih pada Max atas semua bantuannya.


"Tidak perlu. Mari kita selesaikan penyelidikan ini sampai tuntas," ucap Max tegas.


Tadinya aku ingin melamar Liliana secara langsung lewat tuan Duke. Namun sepertinya waktu ini bukanlah waktu yang tepat. Baiklah selesaikan saja dulu satu-satu.


Ketika Max sedang sibuk mengurus para kstaria pengawal keluarga Duke Geraldine yang terlibat dengan kematian Adaire. Ratu sibuk memanas-manasi Raja di dalam kamarnya.


"Yang mulia," Ratu Freya bicara dengan suara lembut, dia menghampiri Raja yang sedang duduk diatas ranjang. Kemudian Ratu Freya memeluknya.


"Ada apa Ratuku?" tanya sang Raja yang usianya sudah tidak muda lagi.


"Banyak yang terjadi hari ini yang mulia, kejadian yang tidak baik." gerutu sang Ratu dengan wajah cemberut.


"Kejadian apa?" tanya Raja sambil memegang tangan Ratunya yang masih muda dan masih cantik itu.


"Pertama pertunangan putra mahkota batal dan membuat kegaduhan didepan semua orang, lalu lamaran putra mahkota kerajaan Lostier juga ikut batal karena dia menolak menikah dengan putri Laura. Sebenarnya apa yang terjadi? Aku sangat tidak berguna jadi ibu," kata Ratu Freya memelas.


"Sayang.. apa yang kau bicarakan? Kenapa kau bicara seperti ini? Kata siapa kau tidak berguna jadi ibu?" Raja Alberto membelai lembut pipi sang Ratu.


"Yang mulia, aku benar-benar tidak berguna. Buktinya rencana pertunangan yang sudah aku atur semuanya berantakan. Putri Laura juga.. dia ditolak oleh putra mahkota kerajaan Lostier.. Bagaimana dia akan menikah nanti?" Ratu Freya merengek nasib Laura.


Aku tidak terima anakku dihina begitu saja oleh putra mahkota kerajaan Lostier.


"Kerajaan Lostier ya? Aku akan membuat perhitungan dengannya. Tapi aku harus mengirimkan utusan dan surat kepada pihak kerajaan Lostier, apa alasan yang membuat mereka mempermalukan putriku. Jadi kau tenang saja Ratu, aku akan mendapatkan keadilan untuk putri kita." Raja tersenyum sambil menenangkan Ratu yang resah.

__ADS_1


"Baiklah Baginda, tapi bagaimana dengan Putra mahkota? Dia menolak bertunangan dengan putri Duke Norton didepan semua orang..."


"Ratuku, kita sudah membicarakan masalah ini sebelumnya kan? Aku dan kau sudah sepakat agar menjadikan nona Julia sebagai putri mahkota, walaupun ada pemilihan putri mahkota. Pasti nona Julia akan terpilih menjadi putri mahkota jika dia memang pantas menjadi putri mahkota," jelas Raja sambil merebahkan tubuhnya di ranjang empuk itu.


Ratu Freya tercengang mendengar ucapan Raja yang berbeda dari sebelumnya.


Kenapa jadi begini? Bukankah tadinya si tua bangka ini mau membantuku menjadikan Julia sebagai putri mahkota? Kenapa dia jadi adil seperti ini?


"Yang mulia, bukankah sebelumnya yang mulia mengatakan padaku. Kalau yang mulia akan tetap menjadikan nona Julia sebagai putri mahkota? Kenapa sekarang yang mulia tidak mau membantuku?" tanya Ratu Freya dengan suara yang sedikit meninggi.


Raja terbangun dari rebahan nya, dia menatap Ratu Freya dengan tajam, "Ratu, masalah pemilihan putri mahkota harus dilakukan secara adil. Aku sudah membantumu untuk mengadakan pertunangan itu, tapi Max sudah menolaknya. Maka aku hanya bisa melakukannya secara adil, kita harus melihat opini rakyat.. ratuku." kata Raja Alberto, dia terlihat tak terpengaruh pada ucapan Ratu Freya yang ingin menjadikan Julia sebagai putri mahkota.


Sial! Ini akan semakin sulit, kalau begini caranya. Aku harus mencari tau tentang wanita yang telah dipilih putra mahkota secara langsung, lalu menyingkirkannya. Dia pasti akan berpartisipasi dalam acara pemilihan itu.


Ratu Freya melihat suaminya sudah tertidur pulas diatas ranjang. Diam-diam dia pergi keluar dari kamarnya tanpa sepengetahuan sang Raja, dia menemui pengawal setia sekaligus orang kepercayaannya.


...****...


Sementara itu Arsen masih menemui Adara dipenjara. Arsen belum tau bahwa dirinya juga dicurigai oleh petugas penyelidik atas kematian Adaire.


Saat itu Adara berada di sel tersendiri, karena dia selalu disiksa oleh tahanan lain. Walaupun dipisahkan, Adara tetap disiksa secara mental oleh para penjaga disana.


Arsen sedih melihat Adara yang terlihat menyedihkan dibalik jeruji besi. Dia tak percaya bahwa salah satu gadis paling cantik di negeri itu akan berada didalam penjara dengan kondisi tidak berdaya. Meski Arsen merasa Adara sudah tidak berguna, tapi Adara tetaplah istrinya dan dia masih ada cinta dihatinya untuk sang istri.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Seperti yang kau lihat, bagaimana aku didalam sini? Aku sudah mendekam selama 3 hari disini dan hidup menderita, tapi tak ada seorangpun yang datang. Kau bahkan ayahku tidak datang menjengukku, sepertinya kalian sibuk dengan Liliana yang palsu!" keluh Adara sambil duduk di bawah tanah. Bajunya terlihat lusuh, rambutnya yang cantik tampak kusut sama dengan wajahnya yang sudah tertutupi oleh kotoran.

__ADS_1


Arsen miris melihatnya. "Maafkan aku sayang, bukan seperti itu. Kami sibuk memikirkan cara bagaimana mengeluarkan mu dari sini, jangan salah paham. Tapi kenapa kau mengatakan kalau Liliana itu palsu? Apa maksudmu?" tanya Arsen sambil menatap istrinya dengan tajam.


"Ya Liliana memang palsu, kau pasti tidak akan percaya apa yang aku katakan. Setelah aku cerna baik-baik, aku melihat semua perilakunya. Aku yakin Liliana adalah kakakku Adaire yang masih hidup," jelas Adara langsung pada intinya.


Arsen tercengang mendengar ucapan Adara, tapi beberapa detik kemudian dia tertawa. Arsen menganggap ucapan Adara adalah sebuah candaan. "Haha, sayang bagaimana bisa kau bicara seperti ini? Apa karena kau berada di penjara, makanya kau berhalusinasi?" tanya Arsen.


Adaire masih hidup? Itu tidak mungkin.


Adara tersenyum kesal, dia sudah tau bahwa suaminya tidak akan percaya omongannya begitu saja. "Haahh.. Arsen, seharusnya kau sadar bagaimana sikap Liliana dan Adaire sangatlah mirip! Dia bahkan mengaku-"


"Adara! Cukup! Jangan mengatakan hal yang mustahil seperti itu, tampaknya berada didalam penjara membuatmu sedikit sakit. Aku akan meminta tabib istana untuk mengobati dirimu dan kau tenang saja. Aku pasti akan mengeluarkanmu dari sini," ucap Arsen pada istrinya sambil tersenyum. Arsen melangkah pergi darisana.


"Arsen aku serius! Liliana adalah Adaire! Dia masih hidup!" Teriakan Adara membuat suaminya kembali berbalik badan.


"Adaire sudah mati, bahkan mayatnya sedang diperiksa saat ini." Kata Arsen.


Deg!


Adara tercengang mendengarnya. Jantungnya seakan berhenti saat itu juga, rasanya semua ini tak masuk akal. Jika tubuh Adaire ditemukan, maka Liliana siapa? Adara menjadi bingung.


"Benar, mayatnya sudah ditemukan dan posisi kita berada dalam bahaya. Mungkin saja orang-orang akan mencurigai kita," ucap Arsen pada Adara.


"Ini tidak mungkin, Liliana adalah Adaire bagaimana bisa mayatnya.. tidak!" Adara menggelengkan kepalanya.


"Berhenti bicara omong kosong, Adara.. salah satu dari kita harus ada yang berkorban. Jadi kau harus mengakui semuanya sendirian, kalau kau yang sudah membunuh Adaire."


"A-Apa yang kau katakan Arsen?!" Adara berteriak.

__ADS_1


Adara meledak, dia emosi mendengar ucapan Arsen yang ingin menumbalkan dirinya atas semua kesalahan.


__ADS_2