
...🍁🍁🍁...
Max dan Liliana jalan bersampingan bukan berdampingan saat mereka menghadiri pemakaman Raja Alberto. Semua orang disana menatap mereka dengan heran, karena Liliana dan Max yang biasanya jalan dengan berpegangan tangan. Kini keduanya tampak dingin dan mereka terlihat seperti pasangan kerajaan yang terikat dengan politik. Bukan dengan cinta.
Max menatap Liliana dengan tatapan sedih, perasaan bersalah menyelimuti hatinya. Wanita yang dia cintai itu terlihat dingin dan tidak punya perasaan.
Ya, ini memang salahku...Lily seperti ini adalah kesalahan ku.
Prosesi pemakaman Raja berlangsung sampai Ratu datang dan membuat gaduh disana. Dia langsung membahas soal kursi Raja. "Karena Baginda raja telah tiada, maka aku sebagai Ratu dinegeri ini akan mengambil alih kepemimpinan tertinggi di kerajaan Istvan." ucap Ratu tegas.
"Maaf Baginda Ratu, tapi yang mulia tidak melakukan itu." ucap Gustaf, orang kepercayaan Raja.
"Beraninya kau menyela ucapan seorang Ratu, tuan Gustaf!" Ratu menatap tajam ke arah Gustaf seraya meremehkannya.
"Mohon maafkan saya yang mulia. Tapi.. anda tidak bisa mengambil kursi pimpinan tertinggi di kerajaan ini." Gustaf menundukkan kepalanya dengan penuh hormat didepan Ratu.
"Atas dasar apa kau bicara seperti ini?" tanya Ratu tajam.
Beraninya dia meremehkanku... manusia rendahan!
__ADS_1
"Atas wasiat dari baginda Raja, setelah Baginda Raja wafat. Baginda menyerahkan semua wewenang kepada yang mulia putra mahkota. Yang mulia putra mahkota, adalah calon raja berikutnya."
Semua orang disana tercengang mendengarnya. Ratu tidak terima begitu saja, dia bahkan tidak mendapatkan dekrit kekuasaan sementara dari suaminya. Semua kekuasaan itu langsung diberikan pada Max. Bahkan dengan surat tertulis yang tidak bisa dibantahnya.
Ratu amat kesal, semua rencananya tidak berjalan lancar. Membunuh Eugene, menyingkirkan bayi Laura dan bahkan membuat Max mundur dari kursi pimpinan. Ratu kembali ke istananya dengan perasaan kesal setelah pemakaian suaminya itu.
Sementara semua orang memberikan selamat padanya. "Selamat yang mulia putra mahkota!"
Liliana pergi lebih dulu dari sana, sementara Max masih berbicara dengan beberapa bangsawan disana. Termasuk Duke Norton salah satu pendukung terbesar di kerajaan Istvan.
Setelah bicara sedikit dengan para bangsawan, termasuk bangsawan dari kerajaan lain. Max kembali ke istananya, dia ingin bicara dengan Liliana.
"Yang mulia Duke, apa kabar itu benar?"tanya salah seorang pejabat pemerintahan.
"Apa?"
"Bahwa putri mahkota dan putra mahkota sudah bercerai?"
"Benar," jawab Duke Geraldine jujur apa adanya.
__ADS_1
Mendengar jawaban Duke Geraldine, semua bangsawan disana mengejek Liliana. Mereka juga mengatakan sambil tertawa, bahwa putri dari keluarga terpandang pasti akan masuk ke dalam istana sebagai putri mahkota yang baru.
Sakit hati Duke Geraldine, mendengar anaknya di ejek seperti itu. Apalagi posisi Liliana diceraikan oleh suaminya, dia menjadi terhina dihadapan semua orang. "Lily, ayah akan membawamu pulang. Ayah tidak akan membiarkan kau terluka lagi!" ucap Duke Geraldine penuh keyakinan.
🍁🍁🍁
Di kediaman Duke Norton.
"Ayah sudah pulang?" sambut Julia pada ayahnya sambil tersenyum. "Bagaimana keadaan putra mahkota dan istana, ayah?" Julia masih memikirkan putra mahkota.
Duke Norton tersenyum lalu memeluk putrinya. "Persiapkan dirimu putriku.. kau punya kesempatan besar saat ini."
Jika putriku menjadi Ratu negeri ini, maka aku akan memiliki kekuasaan yang semakin besar. Aku akan menjadi mertua kaisar.
"Kesempatan besar apa, ayah? Dan mengapa ayah terlihat sangat bahagia?" tanya Julia pada ayahnya keheranan.
"Putri mahkota dan putra mahkota telah bercerai.Dan ini adalah kesempatanmu untuk menjadi putri mahkota bahkan calon Ratu berikutnya. Ayah telah bicara dengan Ratu tentang hal ini. Ayah pastikan kau akan menjadi Ratu!"
Julia tersenyum bahagia mendengar berita baik untuknya itu. Kesempatan untuk Julia menjadi Ratu dan menjadi pendamping Max kini terbuka lebar.
__ADS_1
...****...