
...🍀🍀🍀...
Lily? Apa dia mengingatku? Tapi...apa ini mungkin?
Max memegang tubuh Liliana, lalu gadis itu jatuh tidak sadarkan diri. Niatnya membawa Liliana pergi dari sana, harus batal karena Aiden sudah datang lebih dulu dan merebut Liliana darinya.
"Apa yang kau lakukan padanya?!" Teriak Aiden tiba-tiba datang dan memarahi Max, sudah jelas dari nada suaranya bahwa dia menuduh pria itu melakukan sesuatu kepada Liliana.
"Heh! Memangnya kau siapa berani membentakku seperti ini?! Kau siapanya dia?" Max bertanya balik dengan suara yang keras, dia tak mau kalah dengan Aiden yang menyalahkan dirinya.
"Kau! Kau selalu saja membuat Liliana terluka, entah dalam kehidupan yang lalu maupun kehidupan saat ini! Aku tidak akan membiarkanmu untuk menyakitinya lagi!"
Aiden tercengang ketika dia menyadari bahwa ia telah mengungkapkan dirinya sendiri didepan Max.
Sial! Kenapa tiba-tiba aku bicara seperti itu? Padahal aku hanya ingin mengucapkan itu di dalam hati! Mengapa suaraku bisa terdengar keluar?
Putra mahkota kerajaan Istvan itu terbelalak begitu mendengar pengakuan Aidan secara tidak sengaja. Jelas! Bagaimana perasaan Max saat ini, apa yang dikatakan oleh Brieta ternyata memang benar. Aiden dia mengingat masa lalu sebelum dirinya memutar waktu dan sudah ada buktinya dari pengakuan itu.
"Kau.... ternyata kau tahu tentang masa lalu. Kau...apa kau dalang dibalik semua ini?" Tanyanya sarkas dengan kapan mata yang tajam kepada raja Gallahan itu.
Terlihat jelas, Aiden mulai ketar-ketir dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Max. Demi mengalihkan perhatian, Aiden menggendong Liliana yang tidak sadarkan diri dan dia pun pergi dari sana. "Hah! Apa dia benar-benar ada kaitannya dengan ini semua? Jika benar...aku akan membunuhnya." Desis Max emosi.
Tanpa Max sadari, sedari tadi Brieta terlaksana dan memperhatikan tiga orang yang terlibat dalam cinta segitiga itu. Brieta lah sudah membuat lidah Aiden berkata jujur.
Wanita tua itu mendekati Max, lalu dia berkata. "Yang mulia, apakah sekarang semua sudah terbukti? Lalu, bolehkah saya meminjamnya?" Brieta menadahkan tangannya seraya meminta kalung berbentuk hati berwarna merah itu dari Max.
Tadinya Max ingin mengejar Aiden yang membawa Liliana pergi, akan tetapi Brieta datang menghampirinya dan sepertinya ia harus bicara dengan wanita tua itu lebih dulu.
Tanpa banyak bicara, Max langsung merogo saku celananya, lalu dia memberikan kalung tersebut kepada Brieta. "Kau harus mengembalikan kalung itu segera!" Ujar Max pada Brieta tegas.
"Baiklah yang mulia, Saya hanya butuh waktu dua hari untuk meminjam kalung ini." Brieta melihat kalau gitu lalu dia tersenyum senang.
"Hey! Wanita tua...apa mungkin Liliana bisa kembali mengingat masa lalunya?"
Brieta sedikit bingung dengan pertanyaan Max padanya. "Setahuku itu tidak mungkin, bukankah yang mulia sudah melakukan perjanjian dengan iblis dan salah satu dari iblis tersebut, adalah hilangnya ingatan nona Liliana."
"Kau? Kau juga tau tentang perjanjianku dengan raja iblis Utara?" Tanya Max terperangah.
"Tentu saja, saya kan seorang peramal. Jadi saya tahu apa yang akan terjadi di masa lalu dan di masa depan."
Max menatap tajam dan suram ke arah Brieta, "Kalau kau semuanya tentang masa lalu dan masa depan. Lalu mengapa kau tidak memberitahukan kepadaku tentang kematian Liliana?" Suara pria itu terdengar keras seperti marah.
"Yang mulia...saya emang bisa melihat masa lalu dan masa depan, Tapi saat itu pernyataan saya tentang nona Liliana terhalang oleh penyihir hitam dan anda tahu siapa kan, penyihir hitam itu?"
Memang benar, bahwa Brieta bisa melihat masa depan dan masa lalu. Akan tetapi soal kematian Liliana, dia tidak bisa melihatnya karena pengaruh sihir hitam Julia. Max tidak berkomentar lagi sampai dia bicara bahwa tadi Liliana sempat mengatakan sesuatu yang aneh padanya. Yang membuat Max berasumsi bahwa wanita itu akan kembali mengingatnya.
Brieta, tidak ingin memberikan harapan kosong kepada Max. Dia mengatakan bahwa kemungkinan yang sangat kecil Liliana bisa mengingat masa lalu. Namun, Max membulatkan tekadnya meski dengan harapan kecil dia akan membuat Liliana bisa mengingatnya kembali.
Usai bicara dengan wanita tua itu, Max menyusul Aiden dan Liliana yang ternyata pergi ke penginapan yang tak jauh dari sana. Tidak sulit menemukan keberadaan Aiden dan Liliana, karena Max sudah menyuruh izin untuk mengikuti mereka berdua.
Tanpa mengetuk pintu, tanpa bicara banyak, tanpa izin, Max masuk ke dalam kamar yang ada Liliana dan Aiden disana. Dia ingin meminta penjelasan dari Aiden dan tentunya masih banyak yang ingin ditanyakan oleh pria itu kepada raja Gallahan.
BRAK!
__ADS_1
Tatapan mata tajam mengarah pada Aiden yang baru saja membaringkan Liliana di tempat tidur.
Dia benar-benar menyusul kemari. Sial! Aku harus bilang apa? Apa aku masih bisa berpura-pura lagi?
Aiden mengepalkan tangannya dengan kuat, dia bingung. Harus bagaimana dia menghadapi Max setelah tadi dia sempat keceplosan tentang masa lalu dan masa sekarang. "Aku perlu bicara denganmu, pergilah keluar!"
"Tidak! Kenapa saya harus bicara dengan anda?"
"Haaahh! Aku tau kalau kau akan menolak seperti ini. Baiklah, mari kita bicara di sini saja dan biarkan Liliana mendengar semuanya." Ucap Max tegas seraya mengancam pria itu dengan membawa bahwa nama Liliana.
Pria yang bergelar raja kerajaan Gallahan itu mendengus kesal, sungguh dia sangat gelisah. Lalu ia pun berjalan keluar dari kamar itu mengikuti Max, dia tidak mau Liliana sampah mendengar semuanya.
Kini Max dan Aiden saling berhadapan dalam keadaan yang panas. Tatapan curiga Max tak lepas dari sosok Aiden, pria berambut pirang itu. Tak lama setelah saling berdiam diri, Aiden memulai pembicaraan. "Ada apa anda mengajak saya bicara?"
"Raja Rayden, anda ingat semuanya kan? Semua masa lalu antara kita?"Tanya Max sarkastik.
Aiden menatap Max dengan mata melebar. Dia berusaha menyingkirkan rasa tidak tenang didalam hatinya. "APA? Mengapa anda bisa tau kalau saya adalah seorang Raja?"
"Hah! Jangan berpura-pura lagi Raja Rayden, aku sudah mendengar semuanya apa yang kau katakan tadi di taman itu! Jangan mengelak lagi dan katakan yang sebenarnya!"
"A-apa maksud anda? Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau katakan? Ingatan masa lalu apa?" Aiden mengelak, dia masih berada di dalam kepura-puraannya.
"Baiklah kalau kau memutuskan untuk seperti ini. Aku akan beritahukan pada Liliana tentang masa lalunya denganku!" Ancam Max sambil tersenyum menyeringai.
Max melangkah pergi menuju ke kamar Liliana, namun Aiden menahan tangannya. "Kau...jangan berani-beraninya mengatakan masa lalumu itu!"
Pria itu tersenyum menyeringai, dia menepis tangan Aiden. Wajah takut Aiden, ucapan Aiden membuatnya semakin jelas. Bahwa Aiden ada kaitannya dengan masa lalu.
"Kau...benarkan kau ingat??!" Tanya Max sekali lagi menegaskan.
Tersirat wajah jijik dan kecewa teramat dalam pada Aiden. Max tidak menyangka bahwa Aiden akan melakukan sesuatu yang sangat ekstrem dan di luar batas. Keinginannya terhadap Liliana teramat besar, mungkin mendekati ke arah obsesi. "Lalu...apa benar kau ada kaitannya dengan diriku yang menjual jiwa kepada iblis?!"
Aiden tidak langsung menjawab, dia malah memalingkan wajahnya. "Aku memang ingat tentang masa lalu tapi aku tidak tahu tentang dirimu yang menjual diri pada iblis."
"Bohong sekali! Abartia...dia kan temanmu? Awalnya aku tidak terpikir kalau kau adalah dalang dibalik semuanya, tapi sekarang semuanya masuk akal. Abartia, raja iblis Utara, kau, semuanya saling berhubungan! Kalian yang menjebakku!" Seru Max emosi, inilah asumsinya setelah menyatukan beberapa potongan teka-teki tentang Aiden dan semua yang terjadi padanya setelah Liliana meninggal.
"Raja Istvan, anda tidak bisa menuduhku seperti ini?!"
"Ini bukan tuduhan, tapi fakta!" Max melirik ke arah gelang yang terpasang di pergelangan tangan Aiden. Gelang berwarna hitam yang menjadi komunikasinya dengan iblis.
Aiden lagi-lagi mengelak ucapan Max. Namun Max terus saja bicara untuk mendesak Aiden mengatakan yang sebenarnya. "Kau benar-benar sangat licik, aku tidak menyangka kau akan melakukan hal yang sejauh ini hanya untuk mendapatkan wanitaku!"
"Tidak...kau salah! Aku tidak licik sama sekali, aku hanya ingin membuat wanita yang kucintai bahagia karena aku tahu dalam kehidupan pertamanya dia sama sekali tidak bahagia. Aku hanya ingin--"
BUGH!
Bogem mentah menempel pada pipi Aiden sampai membuat pria itu jatuh terjengkang ke belakang. Aiden mengusap bibirnya yang berdarah, ia menatap Max dengan tatapan penuh kebencian. Namun ia tidak merasa bersalah karena sudah melakukan hal sejauh ini.
"Aku tidak akan mengampunimu!" Max dengan murka.
Aiden kembali berdiri dengan kedua kakinya. "Kenapa? Kenapa kau marah? Apa kau menyesal Liliana hidup kembali karena pengorbananmu? Bukankah kau harusnya bahagia karena Liliana kembali hidup. Lalu...kenapa kau marah? Kenapa kau seperti menyesal? Kau saja tidak bisa membuatnya bahagia dan kau masih sibuk menyalahkan tindakan yang aku lakukan! Kau harusnya tetap saja pada janjimu untuk menjauhi dirinya, lalu kenapa kau malah mendekatinya lagi!"
Max merasa tertohok mendengar kata-kata dari aidin yang memang menusuk ke dalam hatinya. Ia tidak mengelak, tidak membela dirinya sendiri, ketika dia memang salah karena selama ini dia memang tidak bisa membuat Liliana bahagia. Walaupun begitu, Max tetap ingin bersama Liliana dengan mengingkari janjinya.
__ADS_1
Kini persetan dengan janji! Max akan melanggar semua janji itu dan mengambil kembali hati Liliana, karena ia yakin dan percaya diri bahwa gadis itu memang diciptakan Tuhan untuknya.
"Aku tau...aku tidak akan menyangka semua ucapanmu yang memang benar. Aku memang tidak bisa membuat Liliana bahagia di masa lalu, tapi mungkin ini cara Tuhan agar aku bisa kembali menebus kesalahanku padanya. Dalam kehidupan kali ini, aku akan membuat Liliana bahagia!"
"Tidak! Kau tidak bisa melakukan semua itu! Dalam kehidupannya kali ini, akulah yang akan membuat dia bahagia!" Aiden dan Max bersitegang sama-sama tidak mau kalah.
"Tidak! Kau tidak boleh mendekatinya lagi, orang licik seperti dirimu tidak pantas bersamanya!" Seru Max tegas.
Apalagi Aiden, dia yang sudah terlanjur basah dengan gelar liciknya. Mana mungkin akan membiarkan Liliana untuk bersama dengan Max. Keduanya hampir saja berkelahi, namun Liliana datang ke sana dan mereka pun berhenti.
"Tuan Aiden, tuan Maximilian?" Tanya Liliana kepada kedua pria itu.
Kedua pria itu menoleh ke arah Liliana dan melihat wajahnya yang pucat. "Lily, apa kau baik-baik saja?" Tanpa sadar Max memanggil Liliana dengan nama yang selalu dia sebut, yaitu Lily.
Jantung Liliana berdebar kencang, mendengar namanya dipanggil seperti itu oleh Max. Ada rasa yang tidak dapat dijelaskan ketika dia dekat dengan pria itu, mendengar suaranya saja sudah membuat dia jantungan.
"Nona Liliana, apa kau baik-baik saja?" Tanya Aiden yang tidak mau kalah memberikan perhatiannya pada Liliana.
Liliana tidak langsung menjawab, ia terdiam sesaat dan menatap ke arah Max dengan pandangan aneh.
Lily? Apa kau sudah ingat aku? Kau bisa ingat aku, kan?
"Tuan Aiden, aku minta maaf...aku tidak bisa ikut bersamamu ke kerajaan Gallahan." Ucap Liliana yang tiba-tiba saja berubah pikiran, tatapan matanya masih tertuju pada pria berambut hitam itu.
Sontak saja ucapan Liliana membuat Aiden tercengang, ia tak percaya bahwa Liliana akan berubah pikiran untuk kedua kalinya. Padahal sudah susah payah ia membujuk gadis itu.
"Nona Liliana, kenapa tiba-tiba kau seperti ini?!" Tanya Aiden meminta penjelasan.
Apa jangan-jangan tadi sebelum dia jatuh pingsan, Raja Istvan mengatakan sesuatu kepadanya?
"Aku hanya ingin tinggal disini,"
"Yang mulia!" Tiba-tiba saja Dorman datang menghampiri Rajanya itu dengan tergesa-gesa.
"Ada apa? Kau tidak lihat ya aku sedang apa?" Aiden mendelik sinis pada Dorman yang dianggap telah menganggunya.
"Mohon ampuni saya, yang mulia...saya ingin menyampaikan sesuatu yang penting." Dorman mendekatkan wajahnya ke telinga Aiden. Lalu dia membisikkan sesuatu disana.
Sementara Liliana masih menatap Max dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan. Max juga bingung, menerka apa yang dipikirkan oleh Liliana saat ini.
Beberapa saat kemudian, Aiden menundukkan kepalanya, tangannya mengepal dengan erat. 'Sial! Aku tidak bisa berada lebih lama disini. Baiklah, anggap saja kau beruntung kali ini Maximilian. Aku akan kembali lagi'
"Baiklah, kalau kau tidak bisa ikut denganku. Tidak apa-apa. Aku akan kembali lagi nanti menemuimu disini, kau jangan kemana-mana...ingat kau masih punya hutang padaku dan aku akan menagihnya." Aiden mengingatkan Liliana akan hutang yang telah menolongnya saat diganggu preman.
"Tenang saja tuan, aku bukan orang tidak tahu balas Budi. Aku pasti akan membayar hutangku padamu." Kata Liliana sambil tersenyum tipis.
Tiba-tiba saja Aiden memeluk Liliana didepan Max dan sontak membuat Max membelalak melihatnya. "Aku akan segera kembali..."
Aiden tersenyum menyeringai, dia puas melihat wajah terbakar api cemburu itu. Setelah puas memeluk Liliana, Aiden pun bersiap pergi dari negri Istvan bersama dengan Dorman dan tiga pengawalnya yang lain.
Liliana mengantar kepergian Aiden saat itu, bersama Max juga. Max terlihat lega melihat rival liciknya meninggalkan kerajaan Istvan.
"Tuan Maximillian, ada yang ingin aku bicarakan denganmu..."
__ADS_1
"Aku juga." Ucap Max sambil tersenyum.
...****...