Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 200. Cinta anak muda


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Max menembak semua panahnya dengan nilai sempurna. Semua mata terpana melihat permainannya, dalam keadaan terluka Max bisa melakukan semuanya dengan sempurna.


"Yang mulia Raja Maximillian adalah pemenangnya!" Seru Dorman mengumumkan pemenangnya dalam kompetisi pertama.


Sama sekali tidak ada keangkuhan dalam diri Max yang dinyatakan sebagai pemenang. Max berjalan mendekati William yang terlihat menahan kesal. "Cara seperti apapun yang kau lakukan, kau tidak akan bisa memisahkan cinta sejati yang sudah ditakdirkan. Apalagi kau menggunakan cara licik, tidak akan berhasil." bisik Max sembari melirik pria itu dengan tajam.


William tidak membalas perkataan Max, dia mengepalkan tangannya dengan gemas. Giginya gemertak!


Sial! Bagaimana bisa jadi seperti ini?


William salah memilih lawan, tentu saja dia akan gagal dalam setiap rencananya. Yang dia lawan adalah iblis medan perang, terkenal dengan kehebatannya dalam bertarung, apalagi memanah adalah hal kecil baginya. Segera setelah kompetisi memanah, Liliana menemui Max yang akan membersihkan darahnya secara diam-diam.


"Apa kau baik-baik saja---hmph--"


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, ciuman yang menuntut sudah membungkam bibirnya. "Maximilian, ini bukan waktunya untuk bermesraan. Aku tanya! Apa kau baik-baik saja?!"


Max menatap wanita itu, dia mengeratkan pelukannya hingga tubuhnya dan tubuh Liliana menempel. "Seneng sekali rasanya melihat mata yang cantik ini melihatku dengan cemas. Aku merasa sangat dicintai."


Tatapan Liliana yang cemas itu membuat Max bahagia, rasanya seperti diangkat ke langit ketujuh. Tidak ada yang lebih membahagiakan untuknya, selain dicintai oleh orang yang dia cintai. Di khawatirkan seperti ini, tentu membuat Max tidak menginginkan apapun lagi di dunia ini. Hanya Liliana seorang yang dia inginkan.


"Aku kan memang mencintaimu," Liliana mengakuinya tanpa ada drama basa-basi. Dia tidak bersikap sok jaim lagi didepan Max.


"Ya aku juga mencintaimu," balas Raja Istvan itu dengan senyuman bahagia menyungging dibibirnya.


Liliana mendorong tubuh yang memeluknya itu, kemudian dia menadahkan tangannya. "Sudah cukup ungkapan cintanya! Sekarang, aku ingin kau menunjukkan tanganmu padaku!"


Dengan pasrah Max menunjukkan tangan kirinya, yang tidak terluka sementara tangannya yang terluka, dia sembunyikan di belakang tubuhnya. "Maxim, bukan tangan yang itu! Yang satunya!" serunya, seraya meminta tangan Max yang satunya.


"Bagaimana kalau aku serahkan jantungku saja?"


"Yang mulia Raja yang terhormat, dimohon untuk tidak bercanda!"


Wajah cantik Liliana cemberut masam, keningnya berkerut. Dia terlihat sangat mencemaskan keadaan kekasihnya itu. Tapi Max malah mengajaknya bercanda. "Aku akan benar-benar marah padamu, kalau kau--"


Mendengar ancaman itu, Max langsung menyodorkan tangannya yang terluka. Liliana memegang tangan itu, dia menghela nafas lalu mengajaknya untuk duduk di kursi panjang yang tak jauh dari lorong istana putri.


"Kita pergi ke tabib ya? Lukamu cukup dalam dan harus segera di obati." ucap wanita itu cemas melihat darah segar masih mengucur di sana. Dia membalut tangan Max dengan sapu tangannya.


Sayang sekali, aku tidak punya kekuatan untuk menyembuhkannya.


"Aku tidak perlu tabib, ini bukan luka yang parah." Max menggelengkan kepalanya.


"Kau selalu saja sok kuat begitu, sudahlah aku panggilkan tabib ya!"


"Daripada tabib, lebih baik kau saja yang mengobatiku." rengek pria itu manja.


"Haishh...baiklah, aku yang akan mengobatiku. Mari kita pergi ke ruangan yang lebih tertutup."


"Hah? Ruangan tertutup?" Max menatap Liliana dengan tatapan menggoda.


"Apa yang kau pikirkan? Dasar mesum! Aku mengajak ke ruangan tertutup karena aku takut ada yang melihat kita disini, apalagi para kandidat calon suamiku. Mereka akan berpikir bahwa aku tidak adil!" jelas Liliana secara singkat, padat dan jelas.


Mereka pun pergi ke ruang istirahat tamu, tidak hanya mereka saja yang berada di sana. Ada juga beberapa pengawal yang berjaga dan dua dayang disana. Dengan telaten, Liliana mengobati luka di telapak tangan kekasihnya itu. Dia mengoleskan obat, lalu membalutkan kain perban untuk menutupi lukanya. Tak lupa dia meniup-niup luka itu dengan penuh kasih sayang.


Max menatap kekasihnya itu dengan penuh cinta, dia tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan kembali bersatu dengan Liliana. Sungguh perjalanan mereka begitu berliku, apakah ini yang namanya cinta sejati? Harus melalui berbagai macam cobaan dan ujian agar bisa bersama.


Tentang Liliana, dia pernah mati dua kali. Pertama saat dia menjadi Adaire, dia dibunuh oleh suami dan adik tirinya dengan kejam. Semasa hidup sebagai Adaire, gadis itu selalu menderita. Tapi Tuhan memberikannya kehidupan kedua, dia menjadi Liliana. Seorang gadis cantik dan memiliki kepribadian yang berani. Dia membalas dendam menggunakan tubuh Liliana, membuat suami dan adik tiri yang menyesal telah membunuh dirinya di masa lalu.


Saat itu tak pernah sedikitpun terpikirkan oleh Liliana untuk memulai cinta yang baru, karena dia pernah terluka oleh cinta. Dia pernah dikhianati oleh cintanya. Namun di saat itulah Maximillian datang, dia mendobrak pintu hati Liliana yang terluka dan dingin itu. Maximilian, yang dulunya seorang yang suka bermain dengan wanita. Mendadak jatuh cinta pada Liliana, wanita itu tidak bisa lepas dari pandangannya. Dia selalu terbayang dengan sosok Liliana yang dapat menggetarkan hatinya untuk pertama kali. Liliana, gadis itu membuat dia merasakan kembali yang namanya kasih sayang. Setelah kehilangan ibunya, Max selalu merasa kesepian dan sendirian di dunia ini. Tapi sejak kehadiran Liliana, dia mempunyai tujuan untuk hidup. Liliana bagai cahaya putih yang menerangi hidupnya yang gelap.


Mereka pun menjalin cinta, hingga melalui berbagai ujian. Raja iblis, restu orang tua, Aiden, sampai kematian kedua Liliana. Akan tetapi, semua itu membuat hubungan mereka menjadi semakin kuat. Terbukti, kepercayaan, kesetiaan dan kejujuran telah menjadi bagian dari diri mereka.


Tidak mau saling kehilangan, tidak mau berpisah lagi, itulah cinta.


Tiba-tiba saja Max mengecup punggung tangan Liliana dengan lembut. "Maximilian..." lirihnya.


"Terima kasih, kau sudah hadir di dalam hidupku yang kelam ini. Kau adalah cahaya dalam hidupku, kau adalah bintang bersinar di kegelapan malam. Lily, aku mencintaimu..."


Liliana tersenyum, seraya menatap pria itu dengan sendu. "Maxim, kau sudah mengatakan kata-kata itu berulang-ulang."


"Kenapa? Kau bosan karena aku mengatakan cintaku setiap hari?"


"Tidak, aku malah bahagia. Karena aku memiliki cinta seperti dirimu. Kau yang rela berkorban untukku, tidak ada di dunia ini orang yang akan rela berkorban sebesar itu untuk orang yang dicintai. Kau tidak egois dan aku suka itu. Mana mungkin aku akan bosan dengan pernyataan cintamu, karena setiap hari setelah kita menikah... setiap kita bangun dari tidur, atau sebelum kita tidur, aku akan selalu mengucapkan kata cinta kepadamu juga..."

__ADS_1


Pria itu menarik Liliana ke dalam pelukannya, "Bagus, kita akan segera menikah... lalu memiliki 5 anak!"


"A-apa? 5 anak?!" Pekik Liliana terkejut dengan ucapan Max, sampai dia mendorong tubuh pria itu.


"Ya, setelah kupikir-pikir aku ingin 5 orang anak." Max mengecup pipi kekasihnya dengan gemas.


"Bukankah itu terlalu banyak?" Liliana tersenyum.


"Itu cukup! Agar istana kita nantinya menjadi ramai. Dan bukankah salah satu dari anak kita harus menjadi pewaris di kerajaan Gallahan?" tanya Max.


Sebelumnya, dia dan ibu suri sempat berbicara masalah keturunannya nanti. Ibu suri memang mengatakan bahwa dia ingin salah satu anak Liliana dan Max menjadi pewaris kerajaan Gallahan. Max juga sudah setuju untuk itu. Bagaimanapun juga, Liliana bukan hanya bagian dari kerajaan Istvan tapi dia adalah bagian dari kerajaan Gallahan juga.


"Kau serius? Nanti salah satu anak kita...akan menjadi pewaris kerajaan ini? Kau tidak keberatan?" Tanya gadis itu.


"Sama sekali tidak," ucap Max sambil menggelengkan kepala. Dia sama sekali tidak keberatan dengan akan hal itu.


"Hem...baiklah." ucap Liliana sambil mendesah.


Tak terasa waktu pun berlalu, sudah 3 hari sejak kompetisi calon suami Putri itu berlangsung di kerajaan Gallahan. Max dan Wiliam selalu menjadi yang unggul diantara kandidat yang lain.


Dan hari ini adalah kompetisi terakhir, yaitu berburu di hutan dan tes pengetahuan. Siapa yang mendapatkan hewan buruan terbanyak dialah yang akan menang.


"Baiklah, tes pengetahuan sudah selesai. Tempat pertama di peroleh oleh pangeran William dan yang mulia raja Maximillian berada di tempat kedua."


Max kesal karena lagi-lagi Willian berbuat curang dengan membuang kertas yang dia gunakan untuk tes. Jadi dia kehabisan waktu untuk mengerjakan semuanya. Dia melirik Willian dengan kesal.


"Kenapa Raja Istvan?" tanya William dengan wajah tanpa dosa.


"Tidak apa-apa, hanya saja kau seperti sampah." Ejek Max pada William.


"Apa kau bilang?" William meninggikan suaranya, dia terlihat kesal pada Max.


Kemudian Dorman mengumumkan tentang kompetisi berburu, yang akan menjadi kompetisi terakhir untuk menentukan siapa yang menjadi suami Sang Putri.


Namun kali ini Liliana ingin ikut berburu juga, dia meminta izin pada ibunya untuk ikut berburu saat Max dan para kandidat lainnya sudah pergi berburu. "Lily, apa kau benar-benar bisa berburu?" tanya ibu suri ragu.


"Iya ibu, di masa lalu aku bisa berkuda, memanah, berburu, ibu tidak usah khawatir. Lagipula hutannya kan aman?" Liliana sudah dengan setelan berburunya, dia memakai celana ketat, rambut di ikat satu dan membawa busur panah di belakangnya. Dia pun menaiki kuda berwarna hitam dengan sigap.


"Baiklah, tapi Dorman akan menemanimu ya?" Ibu suri tidak bisa menghentikan keinginan Liliana.


"Iya ibu," jawab Liliana sambil tersenyum.


****


Sementara itu di kerajaan Istvan, Max palsu alias Eugene sibuk dengan urusan negara yang harusnya bukan tugasnya. Selain itu dia harus berakting menjadi Max sebaik mungkin agar tidak meninggalkan rasa curiga orang-orang di sekitarnya.


"Yang mulia, tanpa ada dirimu tiga hari di sini rasanya seperti 3 tahun!" keluh Eugene yang mulai lelah dengan semua kepura-puraannya. Apalagi beberapa kali dia melihat Laura bersedih karena ketidak hadirannya di sana.


Max membuat cerita, Eugene tidak ada karena dia disuruh oleh Max untuk pergi ke suatu tempat. Padahal Eugene menjadi Max selama ini.


Siang itu, Eugene merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Jantungnya berdegup begitu kencang, darahnya berdesir hebat, entah kenapa. "Ada apa ini? Kenapa aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku? Ughh..."


Benar juga, apa efek ramuan itu sudah hilang? Bagaimana ini? Bagaimana kalau ketahuan?!


Eugene merasakan suaranya mulai kembali seperti dirinya yang semula. Tubuhnya ambruk, kemudian dia merasa ada seseorang yang melangkah masuk ke dalam ruangannya. Sontak saja dia bersembunyi, di bawah meja.


"Siapa yang berani masuk ke ruang kerja yang mulia tanpa permisi?" bisiknya. Eugene melihat rambutnya yang semula berwarna hitam kini sudah memudar menjadi coklat, seperti warna rambut aslinya. "Oh! Gawat!"


"Kakak? Apa kakak ada disini? Ini aku Laura..." ucap gadis itu sambil melihat ke sekeliling ruangan kerja Raja.


Putri Laura? Astaga! Kenapa harus disaat seperti ini? . Eugene masih bersembunyi di bawah meja kerja Raja.


"Aneh...padahal tadi sir Adrian mengatakan bahwa kakak ada disini. Apa dia salah?" Laura membalikkan badannya dan berniat pergi dari sana. Namun dia melihat seseorang bersembunyi di bawah meja dari cermin yang ada di sana. Laura pun berjalan mendekat ke arah meja kerja itu.


Eugene semakin deg degan karena dia mendengar suara langkah kaki mendekat. Lalu tak berselang lama, Laura melihat ke arah bawah meja. Dia melihat Eugene di sana.


Sudahlah ketahuan!. Eugene membatin.


Sosok yang sudah 3 hari tidak bertemu dengannya, sosok pria yang dia rindukan. "Eugene...aku pikir kau adalah kakak." lirih Laura saat melihat Eugene di sana.


"Hehe...iya, a-apa kabar?" Tanya Eugene gugup, dia mencoba sikap alami mungkin seperti baru bertemu dengannya lagi. Padahal hampir setiap hari dia bertemu dengan Laura.


"Eugene, aku merindukanmu..." Laura memeluk Eugene dengan penuh kerinduan. Mereka masih berada di bawah meja kerja itu dalam posisi duduk.


"Putri Laura..." Eugene merasakan ada yang hangat di bahunya, bajunya juga basah oleh bulir yang hangat itu. "Putri, anda menangis?"

__ADS_1


"Tega sekali kau pergi tanpa pamit padaku! Aku sangat merindukanmu, apa kau tau? Setiap hari aku menanyakan keadaanmu pada kakak!" oceh Laura mengeluh pada kekasihnya.


Ya, aku tau...kau selalu menanyakan keadaanku. Tentu saja Eugene tau karena dia menjadi Max selama 3 hari ini.


"Maafkan saya, saya mendapatkan tugas dari yang mulia Raja secara mendadak...jadi saya tidak bisa memberikan kabar kepada tuan putri." Eugene balas memeluk Laura, dia meminta pada pada Laura karena dia pergi tanpa mengabari dirinya lebih dulu.


"Kau benar-benar," Laura memukul-mukul dada pria itu, dia masih menangis.


Kemudian Eugene memberikan ciuman di kedua kelopak mata Laura dengan lembut seraya menenangkannya. "Maafkan saya yang mulia,"


"Aku merindukanmu!" gadis itu mencondongkan wajahnya lalu mengecup bibir Eugene.


"Saya juga," balas Eugene.


Eugene merengkuh tubuh Laura, dia memperhatikan setiap sudut wajah cantik gadis itu. Rambutnya yang berwarna perak, lehernya yang jenjang dan cantik. Membuat Eugene semakin terpesona oleh kecantikannya, sikap manja Laura juga menjadi daya tariknya. Tindakan yang cukup berani memang, Eugene membenamkan bibirnya pada bibir cantik nan ranum milik Laura. "Hemphh--"


Awalnya mereka hanya mengecup biasa, namun lama kelamaan berubah menjadi ciuman basah dan liar. Eugene menekan tengkuk Laura semakin dalam, guna memperdalam ciumannya. Mereka berdua hanyut di dalam penyatuan bibir itu.


Gerakan Eugene semakin nakal, manakala tubuh Laura bergerak naik ke pangkuannya. Tangan Eugene menyentuh pinggul Laura dan memeganginya.


Tepat di titik tengah itu, Laura merasakan ada yang mengeras di sana. Gairah anak muda memang bisa memuncak dengan mudah.


A-apa ini?


"Eungh..." lenguh gadis itu menikmati ciuman dan gerakan yang di berikan Eugene padanya.


Eugene sadar, bahwa dia tidak hanya menginginkan ciuman saja. Akhirnya dia melepaskan pelukannya dan pagutan bibir dari kekasihnya.


"Eugene..."


"Sudah, cukup! Kita tidak boleh meneruskannya," ucap Eugene menahan hasratnya.


"Tapi bagian itu, pasti sangat menyiksa untuk menahannya bukan?" Laura melirik pada bagian yang dilindungi oleh celana bahan Eugene, tepat di bawah perutnya.


"Tidak apa-apa, saya bisa menahannya. Putri Laura, setelah yang mulia kembali, kita akan menikah."


Raut wajah gadis itu tampak bahagia mendengarnya. Dia tidak sabar menantikan kakaknya pulang. "Eh, tapi apa maksudmu kakak pulang? Kakakku pergi kemana?!" Tanya Laura yang menyadari ada yang salah dengan ucapan Eugene.


"Hehe, putri...karena anda sudah tau. Saya akan ceritakan semuanya. Bahwa sebenarnya saya berpura-pura menjadi yang mulia selama 3 hari ini," ungkap Eugene pada Laura.


"Hah? APA?!" Pekik Laura terkejut.


"Yang mulia Raja, dia sedang pergi ke kerajaan Gallahan untuk menjemput putri Liliana."


"Oh begitu... tapi benarkah yang dikatakan kakakku kalau dia akan menikahkan kita?*


"Ya, dia sudah berjanji pada saya bahwa setelah yang mulia kembali...dia akan menikahkan kita berdua." ucap Eugene, lalu memeluk Laura lagi.


Keduanya tersenyum bahagia, mereka tak sabar menunggu Raja Istvan kembali setelah membawa cintanya.


*****


🍁Hutan tempat berburu, di kerajaan Gallahan 🍁


William dengan liciknya menjatuhkan semua lawan, membuat kedua duke itu terjebak dan terluka sampai mereka tak bisa mengikuti kompetisi lagi. Max tau akan hal itu dan dia tidak tahan dengan sikap curang William.


"Cukup pangeran William! Kau sudah sangat keterlaluan, kau mencelakai semua orang. Tindakanmu sangat tidak baik dan tidak fair!"


"Hai Raja Istvan! Taukah kau? Semuanya adil dalam cinta dan perang!"


"Cih! Itu menurutmu saja. Dengan cara seperti ini walaupun kau memang sekalipun, kau tidak akan mendapatkan putri Liliana, karena kau tidak pantas untuknya!" tegas Max pada William.


"Kau lah yang tidak pantas untuk putri Liliana! Hey Raja Istvan, tinggal kita berdua disini, kan? Bagaimana kalau kita berduel saja?" tantang William pada Max.


"Maaf, bukannya aku takut. Tapi aku tidak mau berduel dengan orang licik sepertimu yang mentalnya lemah!" desis Max meremehkan.


"Apa kau bilang?!"


"Mentalmu lemah." ulang Max sekali lagi.


Tanpa ancang-ancang, William memanah Max tepat ditangannya dan pria itu tak sempat menghindar. Panah itu menancap di tangannya. "Hah! Sial! Meleset, harusnya mengenai jantung." gumam William kesal karena dia ingin panahnya menusuk jantung Max, tapi malah mengenai tangannya.


"Kau sudah gila ya?" Max melepaskan anak panah itu dalam sekali tarikan.


"Ya, tidak ke jantung juga tak apa...karena panah itu beracun, jadi sama saja kan?" kata William sambil tersenyum sinis, dia pun pergi meninggalkan Max sendirian di sana.

__ADS_1


"Hey! Mau kemana kau sialan!" Teriak Max sambil memegang tangannya yang berdarah-darah akibat panah itu.


...*****...


__ADS_2