
Baca pas buka puasa ya, 👍👍
...🍀🍀🍀...
"Lily, kembalilah!" Seru Duke Geraldine yang masih melihat putrinya berada didalam kamar itu.
"Baiklah Ayah," Liliana menghela napas, pada akhirnya dia patuh pada duke Geraldine. Dia melangkah pergi, sambil curi-curi pandang pada Max.
Liliana mengisyaratkan gerakan bibir tanpa suara pada pria itu, "Go," yang artinya pergi. Max paham apa maksudnya, tapi dia pura-pura tidak lihat dan memalingkan wajahnya.
Dasar si gila keras kepala!
Akhirnya ada makian didalam hati Liliana untuk Max. Dia pun pergi meninggalkan kamar itu. Duke Geraldine kembali meminta Max untuk kembali.
"Yang mulia, ini sudah larut.. lebih baik anda segera kembali, atau orang-orang di mansion ini akan tau!"
"Baiklah, aku tidak bisa menang melawanmu kali ini. Aku akan datang lagi dan menjelaskan semuanya dengan baik, lain kali aku akan datang melalui pintu bukan melalui jendela. Jadi, jangan marah lagi ya?"
Apa kau pikir aku marah karena kau masuk melalui jendela kamar putriku saja?
Tentu saja pertanyaan itu hanya ada didalam hati Duke Geraldine dan tidak terucap dimulutnya.
"Saya tidak akan berani marah kepada yang mulia," ucap Duke Geraldine sambil menghela napas.
"Jelas kau marah Duke. Baiklah aku pergi," Max pamit dengan senyuman pahit dibibirnya.
Pria itu keluar melalui jendela kamar lalu menghilang dalam sekejap mata. Duke Geraldine menutup jendela itu, dia terlihat tidak senang dengan kehadiran Max sebelumnya.
"Jika kau terlibat dengan keluarga kerajaan, akan banyak yang menjatuhkanmu Lily. Ini tidak akan baik untukmu. Haahh... sepertinya keamanan di kediamanku ini sangatlah buruk hingga putra mahkota bisa menembusnya. Eh tidak! Tunggu, ini pasti karena putra mahkota yang terlalu kuat.." ucap Duke Geraldine bergumam sendiri.
Max kembali ke istananya dengan wajah galau, dia tidak melihat Eugene ditempat. Padahal dia ingin bercerita pada pengawal setianya itu. "Kemana dia? Apa dia sedang sakit perut? Kemana dia saat aku membutuhkannya?"
Eugene bukan sakit perut, tapi dia sedang menikmati surga dunia bersama Laura di salah satu ruangan istana yang terbengkalai itu. Tidak cukup satu atau dua jam, mereka masih terus melakukannya. Eugene sudah berhenti, tapi Laura terus menggodanya.
"Eugene... kumohon, kau mencintaiku kan? Lakukan ini untukku? Kumohon.." Laura membelai dada bidang Eugene dengan jari jemarinya yang lentik itu.
"Tidak yang mulia, kita harus menghentikan semua ini. Anda harus segera kembali ke istana anda, Baginda Ratu akan-"
Laura mencuri bibir Eugene dengan agresif, entah apa yang dia inginkan dengan melakukan itu berkali-kali. Padahal dirinya sudah tampak lelah karena tak bisa mengimbangi stamina Eugene.
Tubuhnya saja sudah berkeringat, napasnya terengah-engah. Tapi dia masih meminta Eugene menjamah tubuhnya dan menghujani dirinya dengan banyak cinta.
"Yang mulia, maafkan saya.. kita harus berhenti," Eugene kembali memakai bajunya, dia menolak Laura yang bergerak agresif mengajak pergulatan itu lagi.
*Aku tidak bisa menahan ini lagi, jika aku terus melakukannya. Mungkin putri Laura akan mengandung*.
"Eugene.. aku mohon, jangan pergi sekarang. Aku mohon Eugene.." Laura memeluk tubuh kekar itu dengan lembut, seraya memohon pada Eugene untuk tidak pergi dari sana.
Tubuh Laura tanpa sehelai benang, rambut peraknya menjuntai panjang dan indah. Siapapun yang melihatnya pasti akan tergoda. Termasuk kaum Adam seperti Eugene.
"Tuan putri...saya mohon," Eugene mendesah, dia berusaha menahan hasrat didalam jiwanya untuk menyentuh Laura. Hasrat terlarang yang bahkan belum pernah dia rasakan.
Laura mendorong pria itu kembali ke ranjang, kini dia terbaring dibawah tubuh Laura. "Yang mulia!"
"Eugene, diamlah...kumohon.. jangan bergerak,"
"Yang mulia, jika anda melakukan ini.. anda akan-"
"Tenang saja, ini bukan masa subur ku. Kau tidak usah cemaskan itu. Lakukanlah sepuasnya malam ini," ucap Laura memotong kata-kata Eugene.
*Maafkan aku Eugene, hanya ini satu-satunya cara agar kita bersama. Aku harus memiliki bayi darimu*.
Pada akhirnya mereka sama-sama tenggelam dalam cinta tanpa tau waktu dan tempat. Sampai fajar, barulah Eugene sadar sepenuhnya bahwa dia telah bersalah dengan menodai kesucian Laura.
__ADS_1
"Yang mulia, apa yang kita lakukan ini..." Eugene tampak linglung.
"Eugene, tenanglah. Kau tidak bersalah, kita kan melakukannya atas persetujuan masing-masing. Dan lagipula aku lah yang menggoda mu," ucap Laura sambil memakai kembali gaun yang dia pakai semalam. "Kita sama-sama menyukai nya,"
"Yang mulia, anda harus meminum obat pencegah ke..." Eugene tidak sanggup meneruskan ucapannya karena malu.
"Tidak usah khawatir, aku akan baik-baik saja Eugene.." ucap Laura sambil tersenyum dan memeluk Eugene.
*Maafkan aku karena membohongimu Eugene*.
Setelah itu diam-diam Laura kembali ke kamarnya tanpa sepengetahuan pengawal lain, itu karena Eugene mengantarnya dengan memakai ilmu bela diri tanpa ketahuan siapapun di istana putri.
"Yang mulia, beritahu saya jika yang mulia mengalami sakit atau-"
Cup!
Laura mengecup bibir Eugene. "Sudah cukup, aku akan baik-baik saja. Aku hanya pegal," ucap Laura seraya menenangkan Eugene.
"Saya akan kembali, anda beristirahatlah.." ucap Eugene perhatian.
*Kali ini aku tidak akan mundur yang mulia, aku akan memperjuangkanmu*.
"Kau juga," ucap Laura sambil tersenyum.
Eugene kembali ke istana putra mahkota setelah mengantarkan Laura ke istananya. Penampilannya acak-acakan, terutama baju dan rambut.
"Darimana saja kau Eugene?" tanya Max yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Eugene.
"Dimana kau semalam saat aku mencarimu?".
"Sa-saya tidak kemana-mana. Saya berada di istana, yang mulia yang tidak ada."
"Oh begitu ya? Aku heran, siapa yang sudah membuatmu berani membohongiku, Eugene? Beraninya kau membohongiku!" Max terlihat sinis dan lebih tajam dari biasanya.
*Enak saja dia tidak ada waktu aku sedang sedih, dan sekarang dia terlihat senang*.
"Yang mulia saya-"
"Hentikan!" Max meminta agar Eugene berbicara. Dia mendekati Eugene, mengendus-endus tubuh kstaria pengawalnya itu. "Kau bau parfum wanita! Dan juga..." Max melirik ke arah leher Eugene. "Astaga! Apa akhirnya kau sudah tidak perjaka lagi?"
Kedua mata Eugene yang berwarna hitam itu melebar. "Ke-kenapa yang mulia bertanya seperti itu?"
"Rambut acak acakan, baju berantakan, ada banyak jejak merah di lehermu. Kau juga terlihat bertenaga, aku bisa tebak yang dengan melihatmu sekilas...bahwa kau habis bercinta!" Kata Max menganalisa.
Deg!
Eugene gemetar ketakutan mendengar analisa dari Max tentang dirinya yang memang semuanya benar. Malam tadi dia habis bercinta dengan seorang wanita.
"Dengan siapa kau melepas keperjakaanmu itu?" tanya Max sambil tersenyum menyeringai dan tatapan tajam.
__ADS_1
Glup!
Eugene kenalan salivanya, dia menahan rasa gugupnya. Bibirnya kaku tak bisa menjawab. Max masih dengan tatapan tajamnya.
*Tidak mungkin kan dengan Putri si nenek sihir itu*? *Jika dia tidak takut mati.. haha*.
Blackey pun muncul dia membantu Max mengendus bau tubuh Eugene. Karena Blackey sangat peka dengan bebauan. Apalagi bau tubuh manusia. "Yang mulia, ini bau putri Laura!" kata Blackey yakin.
Max terpana, dia tak percaya bahwa Eugene dan Laura sudah melakukan hubungan itu. "Blackey, apa kau serius?"
"Yang mulia, anda bisa melihat dari wajah sir Eugene saat ini." Kata Blackey sambil melirik ke arah Eugene.
Wajah pria itu pucat pasi, dia gugup dan gemetar. Mengatakan bahwa semua itu benar.
"Hahaha.. ini benar-benar gila. Bagaimana bisa kau mengkhianatiku seperti ini?" Max tertawa sinis. "Eugene kau curi start duluan?
"Yang mulia, mohon ampuni saya. Saya dan putri Laura kebablasan!" Eugene langsung memohon ampun sambil membungkukkan badannya didepan Max.
"Aku tidak masalah kau mau kebablasan atau melakukannya dengan siapapun. Tapi yang membuatku marah, mengapa kau yang duluan dan kenapa kau mendahuluiku dan Liliana!" bentak Max kesal karena merasa Eugene mengkhianatinya. Dia masih perjaka, sedangkan Eugene sudah buka perjaka lagi.
Padahal dia dan Liliana ingin lebih dulu melakukannya. "Oh...bagaimana bisa ini terjadi? Kau mengkhianatiku seperti ini?" kata Max dengan gaya lebaynya. Seolah dia sakit hati dan tersakiti oleh kstaria pengawalnya itu.
Eugene langsung menengadah melihat si putra mahkota itu. "Yang mulia, anda tidak marah karena saya melakukan itu bersama putri Laura.. tapi anda marah karena saya mendahului anda?"
"Hey! Untuk apa aku marah, aku yakin suatu saat nanti kau tidak akan tahan dengan Putri si nenek sihir itu. Tapi aku tidak percaya kau melakukan ini lebih dulu dari pada aku, kau sungguh membuatku kecewa!" Max menggeleng-geleng, mendesah kecewa dengan Eugene.
*Tunggu,tunggu.. bukankah harusnya yang mulia putra mahkota marah karena*...
"Tapi Eugene, sepertinya kau cari mati ya? Bagaimana bisa kau dan Putri si nenek sihir itu memiliki hubungan bahkan kalian sudah melakukan itu. Kalau si nenek sihir itu tau, dia pasti akan-" Max khawatir akan keselamatan Eugene.
"Saya sudah tidak peduli dengan semua itu, saya hanya ingin memperjuangkan cinta saya yang mulia. Saya mencintai putri Laura dan saya tidak bisa menahannya lagi." Kata Eugene penuh tekad untuk bertahan bersama Laura.
"Aku memang tidak bisa ikut campur dalam masalah hati. Tapi kau tenang saja, aku tidak akan memberitahukan ini pada siapapun. Jagalah hubungan kalian baik-baik, karena rintangan kalian tidak akan mudah!" Kata Max menasehati. Bagaimana pun juga hubungan pengawal dan seorang putri pasti akan melalui pertentangan yang sulit
*Dan jika terjadi sesuatu padamu, aku akan melindungimu Eugene. Aku bersumpah*!
"Saya akan ingat nasehat anda baik-baik yang mulia, tolong dukung saya," ucap Eugene seraya meminta dukungan pada Max.
"Baiklah, aku akan selalu mendukungmu," ucap Max sambil tersenyum bijaksana.
"Terimakasih yang mulia," ucap Eugene dengan senyuman bahagia. Max merestui hubungan keduanya karena dia merasa kalau Eugene dan Laura memang berjodoh.
*Melihat semangat Eugene, aku juga jadi semakin semangat ingin meluluhkan hati Duke Geraldine. Ya, aku akan berjuang sama seperti dirinya*.
Siang itu, tepat pada hari yang terik ditengah hari. Arsen diseret dengan kasar keluar dari penjara. Ya, inilah saat dimana dia akan di eksekusi di alun-alun kota kerajaan itu.
"Apa kau ada permintaan terakhir?" tanya Max pada Arsen.
"Ada yang mulia, saya ingin bertemu dengan Nona Liliana," jawab Arsen tegas.
Kenapa Arsen ingin bertemu dengan Liliana di saat terakhirnya dan bukan Adara, istrinya?
__ADS_1
...----\*\*\*\*----...