Second Life Liliana

Second Life Liliana
Bab 179. Dayang pribadi


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Gustaf melatih pada calon dayang istana dengan teliti. Gustaf memulainya dengan pengenalan lebih dahulu, kemudian dia memberikan tutor menjadi dayang istana.


Dari mulai etika, tatakrama dan lain sebagainya. Menjadi dayang istana tentulah tidak mudah, harus sempurna dan harus belajar lebih dahulu. 4 orang dari mereka akan di pisah, 2 dayang di bagian istana putra mahkota dan 2 orangnya lagi akan menjadi dayang istana putri Laura.


Beruntunglah seleksi itu tidak berlangsung lama, Liliana dan Chloe terpilih menjadi dayang istana putra mahkota. Sedangkan Keyra dan satu orang lagi yang tidak tahu namanya, akan bekerja di istana putri Laura.


Mereka berempat pun pergi ke kamar mereka untuk beristirahat lebih dulu karena mulai besok mereka akan menjalankan tugas sebagai dayang istana.


"Woah...sayang sekali aku tidak menjadi dayang istana putra mahkota." Keyra tersenyum masam, sedari tadi dia mengeluh karena ingin menjadi dayang di istana putra mahkota. "Ah...sial! Aku itu padamu dan pada Liliana!" Gerutu Keyra sambil menatap kedua temannya itu.


"Kalau kau ingin menjadi dayang putra mahkota, kau boleh bertukar posisi denganku!" Kata Liliana sambil tersenyum.


"Liliana, terimakasih...kau baik sekali! Aku ingin sekali jika itu bisa dilakukan, tapi peraturan istana tak bisa dilanggar." Keyra mengangkat dan menghentakkan kakinya dengan kesal.


"Hehe, memangnya kenapa kau sangat ingin menjadi dayang di istana putra mahkota?" Tanya Liliana penasaran.


"Liliana, apa kau tidak tahu apa tujuan kami kemari?" Chloe mendekat ke arah Liliana yang sedang membereskan barang bawaannya.


"Apa?"


"Kami kesini untuk melihat yang mulia putra mahkota setiap hari," jawab Chloe semangat dengan mata yang berbinar-binar.


"Memangnya ada apa dengan putra mahkota?!"


"Kenapa kau terlihat biasa aja? Ini tentang putra mahkota! Dia adalah pria yang paling tampan di negri ini, di ibaratkan bulan di malam hari, di bersinar menyinari gelapnya malam. Tubuhnya kekar dan aku ingin memeluk tubuh kekarnya itu...huhu..." Keyra mulai dengan sikap lebaynya yang berlebihan.


Dia sangat ingin berdekatan dengan putra mahkota kerajaan Istvan, apalagi katanya putra mahkota ini baru saja kembali dari medan perang. "Hem...aku jadi penasaran seperti apa dirinya," pikir Liliana sambil meletakkan tangannya di dagu.


"Baiklah, besok kita akan lihat sama-sama. Karena kami juga belum pernah melihatnya!" Kata Chloe dan Keyra kompak.


"Wah....aku kira kalian sudah pernah melihatnya?" Pikir Liliana.


"Aku juga belum pernah lihat." Timpal seorang gadis berambut pendek yang akan bekerja di istana putri bersama Keyra.


"Ya sudah besok kita akan melihatnya bersama!" Kata Chloe mengajak gadis itu. "Oh ya tadi siapa namamu?"


"Amber," jawab Amber sambil tersenyum.


Keempat gadis itu terkekeh sambil tertawa-tawa di dalam kamar berbincang tentang kehidupan mereka masing-masing.


*****


Keesokan harinya, pagi itu semua orang berkumpul di dapur istana. Gustaf mengumpulkan mereka semua terutama dayang baru di istana itu dan menunjukkan pekerjaan mereka di sana.


"Nah, disinilah kalian akan bekerja dan nona Daisy adalah kepala dayang di istana putra mahkota!" Gustaf memperkenalkan Daisy sebagai kepala dayang istana.


Jika dulu di masa lalu, Daisy adalah pelayan setia Adaire dan Liliana. Di masa sekarang dia adalah kepala dayang.


"Saya Daisy, kepala dayang di istana putra mahkota. Jika tidak ada yang kalian mengerti, kalian bisa minta bantuan saya, atau bertanya pada saya." Kata wanita itu tegas dan lugas.


"Baik nyonya Daisy." Semua dayang di istana putra mahkota memberi hormat padanya dengan sopan, termasuk Liliana.


Kemudian semua orang mulai melakukan pekerjaan masing-masing dengan tugas yang sudah dibagikan oleh Daisy pada mereka.


"Nyonya, maaf....nyonya belum memberi saya tugas?" Tanya Liliana yang merasa heran karena semua orang sudah diberi tugas tapi dia belum mendapatkannya.


Daisy melihat Liliana terutama bagian rambutnya. Di tertegun sejenak.


#FLASHBACK


Tadi malam...


Daisy tiba di ruangan putra mahkota, hatinya berdebar kencang. Takut ada apa karena tiba-tiba saja ia dipanggil ke istana putra mahkota.


"Salam hormat saya yang mulia putra mahkota," ucap Daisy sambil membungkukkan badannya.


Ada apa ya yang mulia putra mahkota tiba-tiba memanggilku?


Terlihat Max sedang duduk di sofanya sambil membaca beberapa dokumen. Pria itu terlihat begitu maskulin tampan dan dengan rambut hitamnya dia tampak mempesona. "Kau sudah datang?"


"Ya, yang mulia...maaf tapi apa yang ingin anda bicarakan pada saya?" Tanya Daisy sambil tersenyum.


"Wanita berambut merah, dia terpilih menjadi dayang di istana ku kan?" Tanyanya yang membuat Daisy tercekat.


Tiba-tiba yang mulia menanyakan tentang dayang berambut merah?. Daisy tercekat, lantaran tidak pernah Max menanyakan masalah dayang. Malah Max selalu menolak jika dia dilayani oleh seorang ayah.


"Ya, yang mulia."

__ADS_1


"Aku ingin dia yang menjadi dayang terdekat ku."


"Hah? Maksud anda, apa yang mulia?"


"Daisy, aku tidak suka bicara dua kali. Aku ingin wanita berambut merah itu menjadi dayang pribadiku!" ucapnya tegas.


Tanpa bertanya lagi, Daisy mengiyakan semua permintaan Max padanya. "Baik yang mulia."


Aneh, yang mulia selama ini tidak pernah meminta siapapun untuk menjadi dayang pribadinya. Lalu kenapa sekarang yang mulia putra mahkota minta dayang pribadi?


#END FLASHBACK


"Nyonya?!" Liliana bersuara agak keras pada Daisy yang melamun.


Daisy tersadar dari lamunannya. "Ah! Tugas untukmu, adalah menjadi dayang pribadi putra mahkota."


"Ah...apa?!"


Aku? Dayang pribadi putra mahkota? Apa ini tidak salah?


Gadis itu terkejut, mengapa dia terpilih menjadi dayang pribadi putra mahkota. Bukankah biasanya yang terpilih menjadi dayang pribadi putra mahkota adalah dayang yang sudah senior. Sedangkan dirinya masih baru di istana itu. "Nyonya..."


"Aku sendiri yang akan membimbingmu, jadi hari ini aku akan menemanimu untuk menjadi dayang pribadi yang mulia putra mahkota." Daisy menghela nafas.


Haha...kalau sudah begini, apa aku bisa menolak?. Liliana tidak berkutik dan tidak bisa berkata apa-apa karena sebagai bawahan dia tidak bisa menentang keputusan atasannya.


Pagi itu, Daisy dan Liliana sudah berada di depan pintu kamar Putra mahkota. Sebuah pintu megah bercat putih, dengan dekorasi yang mewah tentunya.


Liliana terlihat gugup, dia bahkan menundukkan kepalanya. Daisy dapat melihat kegugupan yang ada di diri Liliana. "Tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa padamu kalau kau dapat mengerjakan tugasmu dengan baik."


Seakan mengerti perasaan Liliana saat ini, Daisy mencoba menghiburnya. "Baik nyonya... terima kasih dan saya mohon bantuannya."


"Bagus, jangan mengecewakanku karena yang mulia putra mahkota sendiri yang sudah memilihmu."


Apa?


Yang mulia putra mahkota memilihku sendiri? Apa tidak salah?


Lagi-lagi Liliana tercengang untuk kesekian kalinya. Jantungnya berdegup begitu kencang saat pintu kamar Putri mahkota itu dibuka oleh salah seorang pengawal yang ada di sana.


"Ayo, masuk!" ajak Daisy pada Liliana sambil tersenyum. Kepala dayang itu terlihat begitu menawan dan berwibawa.


Wow!


Liliana terpana melihat kamar yang mewah itu, tidak heran karena kemarin itu adalah kamar Putra mahkota seorang calon raja negeri ini. Liliana pertama penasaran karena teman-temannya selalu membicarakan tentang putra mahkota yang katanya luar biasa itu.


"Daisy!"


Suara seorang pria khas bariton yang rendah itu memanggil nama Daisy. Suaranya dari arah kamar mandi.


"Ya, yang mulia?" sahut Daisy tanpa berjalan mendekat ke arah kamar mandi itu.


"Kau sudah datang?"


Liliana mengurutkan kening, memicingkan matanya, dia tampak bertanya-tanya kenapa suaranya tidak asing? Dia seperti pernah mendengar suara yang tidak asing ini. Tapi dimana ya?


"Ya yang mulia, saya sudah membawa dayang pribadi khusus untuk yang mulia putra mahkota."


"Hem... tinggalkan saja dia di sini dan kau pergilah!"


Tinggalkan aku? Kenapa? Memangnya aku barang?. Liliana menatap ke arah kepala dayang itu, seolah ia tak rela untuk ditinggalkan di sana berdua saja dengan putra mahkota.


"Maaf yang mulia, karena dayang ini masih berada dalam tahap pelatihan.... saya tidak bisa meninggalkannya di sini begitu saja yang mulia, saya takut dia akan membuat kesalahan." Tentu saja Daisy bersikap profesional, dia tidak mungkin meninggalkan Liliana berdua saja bersama putra mahkota Karena Liliana masih dalam tahap pelatihan, dia takut Gadis itu akan melakukan kesalahan dalam pekerjaannya.


"Kubilang tinggalkan saja dia di sini! Apa kau tuli?!" Suaranya meninggi, dia tidak ingin perintahnya dibantah.


Huh! Putra mahkota ini begitu sombong yang tidak sopan terhadap orang tua. Maki Liliana pada Max dalam hatinya.


Merasa bicara padanya hanya akan membawa masalah dan memunculkan perdebatan, akhirnya dengan helaan nafas panjang. Daisy pun terpaksa meninggalkan Liliana di dalam sana dengan berat hati. "Maafkan aku Liliana, aku harus keluar dari sini sesuai dengan perintah yang mulia putra mahkota." Bisik Daisy pada Liliana, dia menatap gadis itu dengan cemas.


"Uh...ah... apakah nyonya akan meninggalkan saya di sini? Nyonya tega kah kepada saya?" gadis itu memelas.


"Maafkan aku, tapi ini sudah menjadi perintah yang mutlak. Jadi, jalankan perintah putra mahkota dengan baik... jangan sampai ada kesalahan, aku yakin kau bisa. Oh ya, jangan lupa....kau tidak boleh menatap wajah putra mahkota secara langsung, karena hal itu dianggap sebagai ketidaksopanan." Daisy mengingatkan Liliana beberapa peraturan yang utama dalam menjadi dayang pribadi putra mahkota.


Ya, saat ini Daisy hanya bisa menyemangati Liliana saja. Dia tidak bisa memandu Liliana, karena Max tidak ingin wanita itu berada di sana. Liliana menata punggung Daisy yang berjalan menuju ke arah luar kamar itu.


Sungguh! Dia sangat berdebar ketika pintu kamar itu tertutup rapat. Entah nasib buruk apa yang menghampirinya ini, mengapa dari sekian banyak orang dia yang terpilih menjadi dayang istana khusus putra mahkota. Dia kan dayang yang baru saja masuk, bahkan dia pun berasal dari kalangan biasa.


Dan dia juga adalah dayang pribadi yang diminta secara langsung oleh putra mahkota. Dalam hati dia bertanya-tanya, kenapa dia dipilih oleh putra mahkota?

__ADS_1


"Hey kau!"


Liliana tersentak kaget begitu mendengar suara lantang yang berasal dari kamar mandi itu. "Y-yaa...yang mulia?" sahut Liliana gugup.


"Kemarilah!"


Hah? Kenapa aku harus datang kesana?. Liliana terdiam.


Max berdiri di dekat bathub kamar mandinya, dia terlihat senyum sendiri. "Hey! Apa kau tidak akan kemari?" Tanya Max yang tidak kunjung mendengar jawaban dari Liliana.


Gadis itu patuh, dia jalan dengan gugup masuk ke dalam kamar mandi. Kamar mandi yang luas dan mewah. Sebagian hiasannya juga terbuat dari emas.


Kegugupannya semakin menjadi-jadi manakala dia melihat sesosok pria yang berdiri di dekat bathub dengan tubuh yang membelakanginya. Liliana melihat ada bekas-bekas luka di belakang punggungnya itu.


"Aku tidak suka bicara dua kali, kemarilah! Jangan sampai aku yang datang ke sana. Kemari dan layani aku!"


Layani? Apa katanya? Apa dia sudah gila?


Max tersenyum, dia masih membelakangi gadis itu. Membayangkan bagaimana ekspresinya saat ini. 'Dia pasti marah, bibirnya akan mengerucut, matanya akan menatapku dengan tajam. Bahkan aku bisa merasakan dingin di belakang punggungku ini.'


Benar saja apa yang katakan oleh Max di dalam hatinya, saat ini gadis itu tengah berdiri dengan kesal. Wajahnya cemberut, bibirnya mengerucut, matanya menatap tajam ke arah pria yang membelakangi itu.


"HEY!"


"Ya yang mulia?"


"Kemarilah dan bantu aku,"


"Ya yang mulia, mohon maaf saya masih baru di istana ini. Jadi saya mohon bimbingannya.."


Suaranya benar-benar mirip dengan...siapa ya?


"Kemari! Jangan banyak bicara!"


Liliana mendekati Max, pria itu sudah bertelanjang dada. Bersiap untuk masuk ke dalam bathub. "Apa yang harus saya lakukan yang mulia?" Liliana menundukkan kepalanya, dengan sopan.


Dia ingat benar, bagaimana nasihat dari Daisy. Bahwa dia tak boleh menatap wajah putra mahkota dan harus selalu menundukkan kepalanya. Kini Liliana sudah berada di depan pria itu, namun dia belum melihat wajahnya.


"Periksalah air yang ada didalam bak mandi ini, apakah suhunya panas atau sudah tidak panas." Perintahnya pada Liliana.


"Iya, yang mulia..." Liliana dengan patuh memeriksa suhu air itu dengan tangannya. Beberapa saat kemudian Liliana mengatakan bahwa suhu airnya sudah pas. "Yang mulia, airnya sudah tidak panas lagi... yang mulia sudah bisa mandi."


"Baiklah," Max melangkahkan kakinya masuk ke dalam bak mandi yang sudah diisi oleh air hangat.


Byur!


Liliana masih belum menatap Max, sedangkan atensi pria itu tertuju padanya. Liliana tak lepas dari pandangannya. Sekarang dia masa bodo dengan segel iblis ataupun janjinya, yang penting dia puas bisa melihat wanita itu berada di sisinya. Keinginan untuk memilikinya bertambah semakin kuat.


"Kau...jangan diam saja. Lakukan sesuatu!"


"Hah? Yang mulia, saya harus melakukan apa?" tanyanya dengan suara polosnya.


Mau apa dia?


"Masuk ke dalam bak mandi ini lalu layani aku!"


Liliana tercengang mendengar ucapan tegas dari sang putra mahkota, lagi-lagi tentang melayani. Apa yang dimaksud melayani itu?


Dalam hati Max merasa gemas melihat wajah panik wanita itu yang seperti sedang dikejar setan. "Sa-saya masuk?"


"Iya! Apa kau tidak tahu tugas sebagai dayang pribadi istana putra mahkota? Tentu saja, kau harus melayaniku luar dan dalam."


Hah? Perkataan mesum macam apa ini?!


Hihihi...gemasnya kau Lily.


Senang sekali Max menggoda Liliana, tak hentinya dia tertawa dalam hati. Walaupun Liliana sama sekali tidak mengingat masa lalu, namun sikap dan perasaannya sepertinya masih sama seperti dahulu.


Dengan ragu, dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Liliana duduk diatas bak mandi itu dan Max berada di hadapannya dengan posisi memunggungi. "Cepat! Layani aku!"


Tiba-tiba saja Liliana melempar sebuah kain lap basah ke tubuh kekar pria itu dengan kesal, "Kurang ajar! Kau pikir aku gadis macam apa? Kenapa aku disuruh melayanimu?! Hanya karena kau seorang putra mahkota, bukan berarti kau bisa menggodaku seperti ini!"


Liliana sudah tidak peduli lagi dengan dirinya yang akan dihukum atau dipecat, yang jelas dia sangat tidak suka dengan sikap dan perkataan mesum dari pria yang berada di hadapan yaitu, tidak apa statusnya.


Max membalikan tubuhnya karena dia tidak tahan ingin melihat wajah Liliana saat ini. Lalu sepasang mata saling ketemu dalam gairah yang menggelora. Gairah itu bernama rindu.


"Kau....kau...." Liliana menatap sendu ke arah Max.


Sementara pria itu mengembangkan senyum manisnya.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2